Narasi Global: Rebooting
Pandemi sebagai titik reboot narasi besar peradaban global
Pada tahun 2008 terjadilah sebuah musibah yang merontokkan perekonomian global, Great Recession1 namanya. Selayaknya sebuah musibah, maka ketika ia berlalu, banyak yang perlu dievaluasi, terutama sistem ekonomi itu sendiri. Akan tetapi, perekonomian dunia toh kembali berjalan seperti biasa, seakan-akan musibah itu hanyalah sebuah cubitan kecil untuk sistem yang bernama kapitalisme. Hal itu membuat Mark Fisher kemudian menuliskan, “It is easier to imagine an end to the world than an end to capitalism.”2 Pandangan ini bukan sekadar pendapat kecil seseorang, tapi benar-benar sebuah paradigma yang cukup menancap secara global, yang lebih dikenal sebagai capitalist realism3, yaitu pemikiran yang memastikan bahwa memikirkan alternatif selain kapitalisme adalah mustahil.
Jauh sebelum capitalist realism sendiri dipopulerkan, Francis Fukuyama pada 1992 sudah dengan berani mengatakan bahwa kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal merupakan “titik akhir dari evolusi ideologi umat manusia” dan “bentuk final pemerintahan manusia”, sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah”4. Setangguh apapun kritik yang diberikan terhadap demokrasi liberal, ia selalu bisa menyesuaikan diri, karena basisnya adalah kebebasan individu, dan semua individu menginginkannya. Demikian juga kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang berpusat pada kebebasan individu, di mana pasar menentukan segalanya tanpa intervensi. Memang banyak kritik dan argumen penyangkal, termasuk terjadinya resesi pada 2008, namun entah bagaimana narasi global tetap kembali melaju di jalur yang sama. Fukuyama mengatakan bahwa sesungguhnya semua bentuk ketidakadilan, resesi, dan berbagai permasalahan sosial yang serius masih terjadi di negara liberal seperti Amerika Serikat karena “permasalahan-permasalahan itu merupakan implementasi yang tidak lengkap dari prinsip kebebasan dan persamaan dimana demokrasi dibangun, bukan karena kekurangan-kekurangan dalam prinsip-prinsip itu sendiri.”
Konvergensi Narasi Global
Pendapat Fukuyama maupun Fisher sayangnya seakan didukung oleh realita itu sendiri. Terjadinya Arab Spring5 dan mulai terbukanya Cina pada pasar global menunjukkan satu per satu porsi dunia ini mengarah pada satu sistem yang sama. Fenomena ini bahkan menghasilkan satu istilah khusus: convergence6. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, ditambah dengan kemajuan-kemajuan ala revolusi industri 4.0 yang mengarah pada interkonektivitas segala sesuatu, globalisasi seakan-akan masuk jalur bebas hambatan, dan dengan itu, narasi global bergerak perlahan konvergen menuju satu titik tunggal. Konvergensi ini bukan sekadar khayalan atau angan-angan, apalagi bualan orang-orang, namun sebuah implikasi langsung yang riil dari keterhubungan global di semua sektor7. Aspek-aspek divergen akan perlahan terasimilasi, jika tidak tenggelam, oleh arus konvergen yang ada8. Aspek-aspek ini termasuk budaya, standar pendidikan, gaya hidup, cara berpikir, bahasa, pemikiran, dan bahkan sikap dan perilaku. Sebagai contoh, budaya meme, terlepas dari mana ia bermula, sudah menjadi suatu budaya yang mendunia.
Meskipun memang dunia belum sepenuhnya berada dalam satu kerangka narasi tunggal, namun inti dari gagasan tentang konvergensi adalah bahwa dunia memang tengah bergerak menuju kesana. Pertanyaan pentingnya adalah di mana letak titik tunggal yang dituju itu. Banyak di antara masyarakat dunia yang secara tidak sadar mulai meyakini bahwa titik itu adalah kapitalisme dan demokrasi. Sebagai contoh, standar maju-tidaknya suatu masyarakat sekarang kerap dinilai dari aspek-aspek tertentu saja, seperti bagaimana demokrasi diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat tersebut.
Pertanyaan yang kemudian selalu menjadi tantangan terbesar dekade terakhir adalah: apa yang ada setelah kapitalisme? Ketika Hegel sendiri mendefinisikan sejarah sebagai akumulasi resolusi konflik antara suatu narasi dengan alternatifnya9, maka perjalanan narasi itu seakan berhenti saat ini, dengan tidak (atau belum) adanya alternatif yang bisa melawan, menantang, dan menandingi narasi global saat ini, baik kapitalisme maupun demokrasi liberal, beserta semua hal yang mengikutinya. Kenyataannya, pemikiran secanggih Marx yang mengritik kapitalisme dengan sangat rinci10 pun gagal menjadi alternatif. Mungkin sebenarnya banyak alternatif lain yang bisa menjadi penantang narasi global, namun dibutuhkan sebuah konflik besar untuk bisa menghasilkan resolusi baru. Sayangnya, belum ada disrupsi yang cukup besar yang bisa menggoyangkan kapitalisme sehingga alternatif lain bisa mengajukan penentangannya.
Dengan demikian, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: disrupsi seperti apa yang bisa menggoyangkan kapitalisme sehingga alternatif lain bisa masuk ke ring dan bertarung secara setara?
Kedua pertanyaan itu terlihat sederhana, tapi pada dasarnya pertarungan narasi dalam sejarah tidak pernah terjadi dengan mudah. Narasi besar global di sini tentu tidak hanya mengenai kapitalisme saja, namun juga seluruh sistem yang ada di dalamnya, mulai dari aspek hubungan internasional, pertahanan, pendidikan, kesehatan, bahkan termasuk pandangan metafisis11 yang berada di baliknya. Peradaban modern sekarang dianggap sudah begitu mapan seakan sudah ‘selesai’ dengan semua dialektika internalnya. Negara-negara berkembang yang masih belum bisa mengikuti tinggal menunggu waktu. Semuanya sudah hampir final dan hanya butuh penyempurnaan. Tapi, benarkah?
Semua pertanyaan itu dijawab di awal 2020 ini, ketika datang sesosok tamu yang tak pernah diduga, dari arah yang tak pernah disangka, SARS-CoV-212.
Disrupsi dan Penyingkapan
Sebuah pepatah mengatakan, “Watak sesungguhnya seseorang hanya bisa dilihat ketika ia berada pada titik terendah hidupnya.” Pepatah ini sepertinya berlaku universal, berdasarkan dari apa yang bisa kita lihat pada dunia saat ini. SARS-CoV-2, sebagai salah satu strain dari virus Corona13, virus penyebab influenza, mulai menarik perhatian ketika ia memperlihatkan laju penyebaran yang sangat tinggi. Sejak mulai muncul di Cina pada akhir tahun 201914, virus ini dengan cepat menjadi sebuah bencana internasional sehingga akhirnya pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan bahwa Covid-14, nama penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebagai sebuah pandemi15.
Hanya waktu dalam tiga bulan, virus ini sudah memasuki mayoritas negara di muka Bumi dengan jumlah terinfeksi yang terdeteksi mencapai 1.6 juta jiwa sampai tulisan ini dibuat16. Bahkan, dengan angka fantastis seperti itu pun, belum ada tanda ataupun indikasi bahwa wabah ini telah mencapai titik puncaknya. Laju penularannya yang sangat tinggi tidak memberi banyak alternatif dalam penanganannya, selain sebuah kewajiban mutlak untuk menerapkan ‘penjarakan sosial’ (social distancing) untuk memutus rantai penularan17. Kelihatannya sederhana, namun penjarakan sosial bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan, karena dengannya, semua bentuk aktivitas sosial harus dikurangi, bahkan ditiadakan sama sekali. Dalam kondisi tertentu, tindakan yang lebih ekstrim bahkan harus pula dilakukan, seperti isolasi total terhadap seluruh aktivitas dalam suatu kota. Hal ini berdampak pada banyak hal, terutama pada kegiatan ekonomi, sebagai pengambil porsi terbesar aktivitas manusia.
Dengan sebuah gerakan yang solid, rapi, serentak, dan terkoordinasi, pada dasarnya Covid-19 bisa cukup mudah ditangani, karena kunci dari penanganan pandemi hanya pada pencegahan penyebaran18. Akan tetapi, herannya, justru seakan-akan terjadi chaos dan miskoordinasi secara global atas apa yang tengah terjadi dan apa yang harus dilakukan. Ketika Cina mulai bisa mengambil tali kekang kendali dari pandemi ini setelah beberapa pekan, seharusnya sudah menjadi hal yang lumrah untuk setiap negara berguru padanya, termasuk juga pada Italia, Korea Selatan dan Iran yang terkena pukulan telak beberapa saat setelah wabah itu keluar dari Cina. Untuk sebuah musibah yang mendunia seperti ini, di mana hampir tidak ada negara yang tidak terdampak olehnya, tentu sebuah koordinasi yang baik pada level dunia internasional sangat diperlukan. Apa yang terjadi pada suatu negara pada suatu hari selalu akan bisa jadi pelajaran buat negara lain di hari berikutnya. Koordinasi terkait informasi, tenaga kesehatan, logistik, penelitian, lalu lintas, teknologi, dan segala hal lainnya akan membantu penyelesaian wabah ini. Akan tetapi, yang terjadi tidaklah demikian, karena setiap negara seakan sibuk dengan dirinya sendiri, dengan egonya sendiri, keputusannya sendiri, dan pertimbangannya sendiri.
Setelah tiga bulan merajalela, dunia seakan masih belum siap. Ibarat dalam perang, musuh sudah menyerang selama tiga bulan, tetapi kita masih dalam keadaan kacau balau dan tak mampu mempersiapkan diri, apalagi untuk menyerang balik. Dunia seakan tidak berdaya di hadapan 7.000 kematian yang terjadi setiap harinya19. Tidak ada tindakan yang jelas atas apa yang harus dilakukan oleh setiap negara, bahkan ketika Cina dan Korea Selatan sudah dapat dijadikan contoh sebagai negara yang berhasil menekan penyebaran dengan sangat signifikan. Beberapa pemimpin negara bahkan tidak melakukan pemenjaraan sosial yang berarti dengan beberapa alasan politis dan ekonomi. Salah satu alternatif penanganan pandemi, herd immunity19, menjadi pilihan yang cukup favorit. Alternatif ini berorientasi pada penyembuhan ketimbang pencegahan, di mana output yang diharapkan adalah masyarakat yang imun terhadap virus tersebut, dengan catatan penanganan setiap kasusnya dilakukan dengan baik. Akan tetapi, alternatif ini pun tidak lepas dari masalah, karena kecepatan mutasi virus SARS-CoV-2 sangat cepat20, dan katalis mutasi mereka adalah proses reproduksi melalui sel yang dijangkiti. Semakin banyak yang terjangkit virus ini, maka semakin besar peluang ia bermutasi. Selain itu, alternatif ini akan membuat pelayanan kesehatan burnt out dengan semakin banyaknya pasien yang membutuhkan perawatan sedangkan jumlah tenaga dan peralatan medisnya terbatas.21
Semua perkembangan ini seakan menyingkap satu persatu kelemahan peradaban manusia kini. Narasi global, dalam bentuk apapun itu, diuji satu persatu, dihantam, dibongkar, dan ditelanjangi. Dunia sekarang berada dalam kondisi terlemahnya. Semua keburukan, masalah dan cacat dari peradaban ini muncul semua ke permukaan. Keburukan-keburukan itu di masa normal tidak akan terlihat; tertutupi oleh citra tawaran-tawaran manis peradaban yang memuaskan ego dan hasrat individual. Covid-19 membuka semua tabir dan membuat kita perlu bertanya kembali: di mana dasar dari semua narasi peradaban modern ini.
Kesadaran Pascamodernitas
Masalah dunia kontemporer pada dasarnya banyak dan sangat mengakar, namun sistem yang dibangun di atasnya sudah begitu tinggi menjulang, sehingga masalah-masalah ini tidak dianggap lagi. Sistem yang ada sekarang pada awalnya berdiri di atas narasi modernisme yang terbangun sejak masa-masa renaissance22 dan menuju kejayaannya pada Revolusi Industri. Padahal, narasi modernisme sudah merupakan hal basi pada beberapa aspek fundamental, yang kemudian menghasilkan antitesis bernama pascamodernisme (post-modernism). Antitesis ini ada dimana-mana, mulai dari seni, sains, matematika, arsitektur, hingga bahasa. Semuanya berbicara hal yang sama: ada yang salah dari modernitas.
Perlu ditekankan bahwa pascamodernisme tidak bisa dipandang sebagai sebuah pemikiran, pandangan, atau ideologi yang memiliki subjek. Pascamodernisme adalah sebuah fenomena yang memperlihatkan bagaimana satu persatu aspek modernisme kehilangan maknanya, dan ini terjadi secara natural di dalam masyarakat2324. Modernisme utamanya dikritik dari lima sisi25. Pertama, pandangan dualistik modernisme mengakibatkan objektivisasi dan eksploitasi alam secara berlebihan sehingga memicu krisis ekologi. Kedua, pandangan modernis yang bersifat objektivistis dan positivistis akhirnya cenderung menjadikan manusia seolah objek juga, dan masyarakat pun direkayasa bagai mesin, sehingga menjadi kurang manusiawi. Ketiga, dalam modernisme, ilmu-ilmu positif-empiris mau tak mau menjadi standar kebenaran tertinggi, sehingga nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya dan akhirnya menimbulkan disorientasi moral-religius. Keempat, suburnya materialisme, yang menganggap materi adalah kenyataan paling mendasar, dengan aturan main utamanya adalah survival of the fittest. Kelima, bangkitnya kembali tribalisme, atau mentalitas yang mengunggulkan kelompok sendiri.
Uniknya, kelima-limanya terlihat jelas dan sangat gamblang dalam krisis global akibat Covid-19 saat ini. Pertama, dualisme manusia-alam terlihat dari awal mula munculnya virus ini sendiri, yakni perdagangan bebas hewan liar di Cina26. Terlebih lagi, adanya Covid-19 menyingkap betapa besarnya campur tangan manusia terutama dalam kondisi lingkungan, yang dalam ini konteksnya adalah atmosfer27. Keadaan atmosfer selama pandemi ini mungkin membaik, tapi akan bersifat sementara bila tidak diikuti reformasi struktural secara menyeluruh28, yang dalam konteks ini adalah narasi modernitas. Kedua, pandangan mekanistik modernis terlihat dari bagaimana beberapa kebijakan pemerintah terhadap masyarakatnya dalam penanganan Covid-1929. Reputasi banyak politisi dan pemerintah mulai runtuh dengan sikap-sikap mereka yang cenderung lambat, atau bahkan abai dalam penyelesaian pandemi. Ketiga, adanya wabah ini semakin memperlihatkan bagaimana peradaban modern memandang Tuhan30. Terlebih lagi, otoritas absolut yang ditawarkan modernitas, yakni sains dan teknologi, gagal memberikan kepastian yang dibutuhkan individu31. Keempat, ekonomi banyak dijadikan alasan utama mengapa kebijakan herd community dipilih. Ini juga terkait dengan aspek kedua mengenai bagaimana kerangka berpikir modernitas mempengaruhi sikap pemerintah-pemerintah. Kelima, alih-alih berkoordinasi secara masif, banyak pihak yang masih mementikan ego kelompok32.
Secara sistem, kita masih berpegang pada narasi lama modernisme. Padahal, di akar, secara natural masyarakat pada dasarnya sudah mulai memperlihatkan fenomena pascamodernis. Salah satu fenomena yang terlihat jelas adalah krisis kepercayaan terhadap otoritas. Modernisme sangat mengagungkan otoritas absolut seperti keabsahan sains. Hal ini runtuh secara bertahap. Pada dasarnya, masyarakat semakin sukar percaya dengan otoritas absolut, sehingga cenderung menciptakan otoritas alternatifnya sendiri. Salah satu contoh dalam konteks Covid-19, penyadaran akan pentingnya penjarakan sosial, dan apa yang harus dilakukan untuk menghentikan wabah, semestinya menjadi prioritas, mengingat sesungguhnya masyarakat adalah garda terdepan dalam proses pencegahan penyebaran virus itu. Akan tetapi, masyarakat seperti tidak terbiasa untuk langsung taat dan patuh pada otoritas, sehingga penyadaran semakin sukar dilakukan. Masyarakat mulai mudah terbawa kebenaran-kebenaran alternatif, baik dalam bentuk teori konspirasi, mitos-mitos, atau sekadar spekulasi-spekulasi sendiri atas apa yang tengah terjadi. Masih banyak sekian contoh lainnya dimana adanya Covid-19 membuka satu demi satu fenomena, kritik, dan permasalahan yang pada dasarnya sudah emerge di bawah namun tertutupi narasi formal global yang terlanjur tegak berdiri.
Akhir kapitalisme?
Ada satu narasi global yang patut mendapat diskursus spesifik, yakni yang terbesar saat ini: kapitalisme. Sebagaimana dipaparkan di awal tulisan, kapitalisme sudah begitu kuat menancap dalam paradigma global sehingga seakan sudah final dan tidak dapat diberi antithesis lagi. Sayangnya, bukan berarti antithesis itu tidak ada33, namun antithesis itu tidak punya kekuatan atau jalan untuk bisa membenturkan diri dengan kapitalisme. Bukan karena ia memang kokoh, namun karena ia disukai. Kapitalisme dan demokrasi liberal dianggap akhir dari sejarah oleh Fukuyama bukan tanpa alasan. Penulis sendiri melihat secuil kebenaran di sana. Kenapa? Karena kapitalisme dan demokrasi liberal merupakan narasi yang mengakomodasi hasrat terbesar manusia, yakni kebebasan dan material, secara langsung, massif, luas, dan merata. Masyarakat global bukan tidak punya antithesis, tapi seakan tidak ingin antithesis. Konvergensi pada keduanya pun menjadi wajar terlihat. Paradigma umum bahwa sistem final dari suatu negara adalah demokrasi pun berasal dari argument yang sama, bahwa individu manapun menginginkan kebebasan, dan hanya demokrasi sistem yang dianggap terbukti bisa mengakomodasi itu34.
Menjadi suatu hal yang sangat sulit membayangkan apa yang ada setelah kapitalisme dan demokrasi ketika semua hasrat manusia telah tersalurkan sedemikian hebatnya dalam sistem yang mengakomidasi kebebasan individual dan dalam era dimana ilmu pengetahuan dan teknologi mampu memenuhi semua hasrat tersebut dalam bentuk kemudahan material. Ideologi-ideologi lain yang masih bertahan di tengah globalisasi ekonomi kapitalistik, kemajuan teknologi, dan demokrasi liberal hanya menjadi penghias keberagaman yang secara perlahan tapi pasti akan tergusur dan terkikis juga35.
Memang, pandemi Covid-19 memberi banyak benturan terhadap kapitalisme. Pertama, aktivitas ekonomi antar negara di negara-negara maju, dari Cina, sebagian besar negara Eropa, hingga Amerika mengalami penurunan drastis dalam rangka penanganan pandemi36. Kedua, penurunan konsumsi rumah tangga secara signifikan dari keharusan penerapan social distancing. Ketiga, rantai suplai terganggu secara masif yang berpotensi membuat beberapa bisnis dan industry mengalami slowdown37 atau bahkan bangkrut. Keempat, sebagai efek dari yang ketiga, masyarakat akan banyak mengalami financial distress38 dengan banyaknya ketidakpastian dalam hal pendapatan dasar. Secara umum, keempat hal ini dapat berujung pada pengangguran, inflasi, macetnya investasi, default-nya bank, hingga menurunnya PDB, atau bahasa lainnya, resesi39,40,41.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kapitalisme akan merespon resesi ini. Jika melihat kasus 2008, maka pasca resesi para bankir segera banyak menerbitkan banyak kredit dalam bentuk beragam untuk mengembalikan perekonomian42. Kapitalisme berjalan kembali seperti biasa. Bila dilihat dengan seksama, memang kapitalisme sebagai sistem seakan berdiri di atas mekanisme hutang bank, karena itu satu-satunya fondasi terakhir yang bisa menjaga kapitalisme tetap berdiri. Padahal, ironisnya, hampir semua krisis finansial terjadi bersumber dari permasalahan hutang. Penyelesaian krisis pun selalu berujung pada berpindahnya hutang-hutang di sektor privat itu ke pemerintah43. Pertanyaannya adalah apakah pada resesi kali ini kapitalisme bisa rise-up sebagaimana resesi-resesi sebelumnya dengan mekanisme yang sama?44
Jelas bahwa untuk menanggulangi resesi pemerintah akan menggelontorkan banyak anggaran untuk paket pemulihan, baik dalam bentuk bantuan untuk memenuhi universal basic income45 masyarakat, insentif untuk bisnis dan industri yang diambang kebangkrutan, bail-out bank-bank yang default, nasionalisasi beberapa sector vital, hingga pembangunan jangka pendek untuk merestorasi kembali perekonomian. Amerika Serikat sendiri akan mengeluarkan hingga 4 triliun dolar amerika sebagai respon terhadap masalah ekonomi yang ditimbulkan Covid-1946. Angka itu bukan angka yang sedikit. Cepat atau lambat pemerintah berbagai negara akan meningkatkan hutang negaranya untuk restorasi ekonomi. Hutang ini akan segera banyak mengambil porsi PDB yang di saat yang bersamaan juga tengah menurun. Pasca pandemi, pemerintah tidak akan punya pilihan banyak selain menekan pengeluaran melalui pemotongan berbagai anggaran dan peningkatan pajak. Hal ini tentu seakan tidak manusiawi, tapi itulah logika pasar bebas, prinsip dasar dari kapitalisme.
Hal ini serupa dengan fenomena abad ke-47 dimana pandemi Black Death48 memicu runtuhnya feodalisme. Pada saat itu, penderitaan hebat dari Black Death ditambah kebijakan feudal pasca pandemi yang tidak manusiawi memicu protes dan kerusuhan di berbagai tempat di Eropa (dikenal sebagai The Peasants’ Revolt), yang kemudian dianggap sebagai awal dari bergesernya feodalisme menuju sistem baru49. Sekarang, hal yang serupa terjadi, sebuah pandemi skala global yang menggerogoti berbagai sector kehidupan. Dalam titik jenuhnya, pandemi ini akan menimbulkan kondisi chaos yang berujung pada protes masyarakat. Akankah Covid-19 merupakan malaikat maut untuk kapitalisme seperti halnya Black Death merupakan malaikat maut untuk feodalisme? Jawabannya belum bisa dipastikan saat ini. Banyak faktor yang terlibat, namun bisa kita coba terka. Minimal, kita bisa tahu apa yang perlu dipersiapkan.
Apa Setelah Ini?
Secara umum, kita bisa katakan narasi global yang melingkupi peradaban kontemporer mengalami disrupsi besar. Ketidakberdayaan peradaban kontemporer untuk menyelesaikan pandemi Covid-19 membawa kita kepada paling tidak dua kemungkinan kesimpulan: (1) pandemi ini secara spesifik memang sukar diselesaikan, atau (2) memang ada yang salah dari peradaban itu sendiri. Masalah pandemi sukar diselesaikan adalah hal yang tidak bisa diukur, namun kita bisa yakin bahwa peradaban yang baik akan mampu untuk cepat beradaptasi pada masalah tanpa harus masuk dalam kekacauan. Melihat kondisi sekarang, yang bukannya membaik, justru titik puncak itu semakin terasa jauh, dan tidak ada indikasi tindakan-tindakan berarti yang kita lakukan sebagai satu peradaban, maka mungkin kita harus mempertimbangkan kemungkinan kedua, yakni ada yang salah dari peradaban ini. Mungkin, ini adalah titik balik bagi kita semua umat manusia untuk me-reboot narasi global kita.
Covid-19 masih penuh ketidakpastian. Tidak ada yang bisa benar-benar prediksi kapan pandemi ini berakhir dan dengan itu seberapa jauh resesi global jatuh bebas. Pada titik tertentu, resesi ini akan seperi bisul pecah untuk kapitalisme. Mekanisme pasar akan melampaui titik yang mampu ditoleransi50. Hal ini, ditambah rusaknya persepsi masyarakat terhadap banyak pengambil kebijakan, akan memicu global chaos yang luas. Minimal, keteraturan yang selama ini paling stabil ada di Eropa dan Amerika, akan goyah51. Terlebih lagi, dunia sekarang tengah mengalami kekosongan “pemimpin”, dengan Amerika Serikat yang justru jatuh lebih dalam ketimbang negara lainnya. Masyarakat sudah antipati terhadap negara-negara adikuasa, dan pada akhirnya, fenomena postmodern yang selama ini terpendam akan meletus dengan sendirinya.
Sangat bisa jadi, konvergensi yang kita pikirkan itu memang bukan menuju satu titik stabil, tapi justru suatu titik saddle52 yang akan mengantarkan kita kepada titik stabil yang sesungguhnya. Titik apa itu? Kemungkinannya terbuka luas, bergantung siapa pihak yang segera tampil di tengah reruntuhan. Ketika saatnya tiba, berbagai ideologi alternatif akan bisa berdiri tegak dan meninju kapitalisme dan demokrasi liberal.
Pertanyaan besar yang tersisa tetap ada pada apa yang menggantikan kapitalisme. Sebagai Muslim, saya cukup yakin bahwa Islam adalah sistem terbaik yang bisa menjadi substitusi. Namun, semua tetap bergantung yang bisa menegakkannya. Ketika Marx sudah dengan sangat rapih menyusun kritik terhadap kapitalisme, tetap butuh seorang Lenin untuk benar-benar mewujudkannya menjadi sebuah sistem kenegaraan. Demikian halnya dengan sistem Islam, konsepnya sudah ada, tinggal apakah ada yang dapat tampil dan memimpin? Entahlah.
Selayaknya dalam setiap kejadian selalu teruntai ribuan pelajaran, maka tidaklah pernah pantas bagi setiap insan untuk berhenti berpikir dan merenungkan. Apa yang tertulis di sini masih hanya secuil, sebutir, setetes, dari Samudra hikmah yang luas nan dalam, yang hanya bisa diarungi dengan bahtera hati dan pikir yang mulia. Mungkin adanya sang mahkota hanya sebuah badai ombak untuk menempa kita, menguji kelayakan kita sebagai nahkoda, dalam mencapai pulau impian di sebrang sana. Mungkin. Toh setiap dari kita hanya pelaut yang terombang-ambing dalam lautan dunia.
(PHX)
-
Krisis finansial yang terjadi secara massif pada 2007-2008 dan berdampak di seluruh dunia. Dianggap bermula penjualan rumah besar-besaran (economic bubble) di Amerika sekitar 2005-2006. Dianggap sebagai penurunan ekonomipaling parah semenjak The Great Depression pada 1930an. Lihat International Monetary Fund, World Economic Outlook — April 2009: Crisis and Recovery. ↩
-
Fisher, Mark. Capitalist Realism, United Kingdom: Zero Books, 2009. ↩
-
Awalnya merupakan salah satu gerakan seni yang berkembang pada 1960an, dimana sangat memperlihatkan bangkitnya budaya konsumerisme di German daripengaruh Amerika Serikat pada saat itu. Lihat Maika Pollack, “Living with Pop: A Reproduction of Capitalist Realism’ at Artists Space”, https://observer.com/2014/07/living-with-pop-a-reproduction-of-capitalist-realism-at-artists-space/, diakses 27 Maret 2020. Istilah ini baru popular kembali ketika Mark Fisher mengaitkannya dengan kukuhnya kapitalisme di peradaban kontemporer. ↩
-
Dikutip dari bagian pendahuluan Francis Fukuyama, “The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal”, Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2016, dimana sesungguhnya berasal dari artikelyang ia tulis sendiri pada majalah The National Interest edisi ke-16 periode musim panas 1989 halaman 3-18 berjudul The End of History? ↩
-
Terjadinya protes dan kritik besar-besaran pada negara-negara Arab yang masih bersifat otoritarian. Hal ini menjadi bukti bahwa kekuasaan akan selalu kembali ke rakyat, yang sering disebut democratization theory. Lihat Alfred Stepan dan Juan J. Linz, “Democratization Theory and the ‘Arab Spring” dalam Journal of Democracy Vol. 24, no. 2, Th. 2013, hlm. 15–30. ↩
-
Istilah yang sudah lama muncul pada akhir abadke-20. Sebagai respon terhadap menangnya Amerika dalam perang dingin dan arus globalisasi yang mulai muncul, kapitalisme global mulai sering dibahas sebagai salah satu kemungkinan konvergensinya arah dunia. Lihat C.G. Polychroniou, “Global capitalism: A perspective of convergence”, dalam Forum for Social Economics Vol. 19, Th. 1990, hlm. 55–67 (DOI: 10.1007/BF02761439). Lihat juga Marina N. Whitman, “American Capitalism and Global Convergence: After the Bubble”, dalam Research Seminar in International Economics, Discussion Paper No. 540. Th. 2003. Ada juga yang memandang konvergensi initidak harus ke arah kapitalisme, lihat D. Heenan. “The Case for Convergent Capitalism”, dalam Journal of Business Strategy, Vol. 9 No. 6, Th. 1988, hlm. 54-57 (DOI: 10.1108/eb039272). ↩
-
Konvergensi ke arah kapitalisme sendiri sebenarnya tidak lepas dari kritik. Namun, bahwa dunia mengarah pada pada 1 titik, entah sosialisme bentuk baru, atau lainnya, menjadi diskursus yang cukup hangat. ↩
-
Fenomena ini juga sering disebut Cultural Homogenization, sebagai dampak langsung dari globalisasi. Lihat Justin Ervin dan Zachary Alden Smith. Globalization: A Reference Handbook, oleh ABC-CLIO, Th. 2008. ↩
-
Sering disebut juga dengan Dialektika Hegel, dimana dinamika sejarah selalu berbicara mengenai adanya tesis, reaksi terhadapnya (anti-tesis), dan resolusi antar keduanya (sintesis). Lebih lanjut mengenai teorinya Hegel bisa lihat Julie E. Maybee dan Edward N. Zalta (peny.), “Hegel’s Dialectics”, dalam The Stanford Encyclopedia of Philosophy, Winter 2019 Edition. ↩
-
Das Kapital, Magnum Opus dari Karl Marx, merupakan salah satu rujukan fundamental bila berbicara mengenai kritik terhadapkapitalisme. ↩
-
Bisa juga disebut worldview. Penulis lebih memilih istilah ‘asumsi metafisis’ untuk menunjukkan bahwa itu merupakan konsep-konsepaksiomatik (tidak bisa dibuktikan) yang menjadi dasar berpikir setiap orang. ↩
-
Virus Corona (CoV) kedua yang menyebabkan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), setelah yang pertama terjadi pada sekitar tahun 2003. Lihat World Health Organization, “Disease Information -SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)”, https://www.who.int/ith/diseases/sars/en/, diakses 27 Maret 2020. ↩
-
Corona sebenarnya bukan nama sebuah virus, tapi sebuah kategori virus yang berbentuk bola berduri. ↩
-
Data worldometers.info per 10 April 2020 ↩
-
World Health Organization. “WHO Director-General’s opening remarks at the media briefing on COVID-19”, rilis pers tanggal 11 Maret 2020. ↩
-
Data worldometers.info per 10 April 2020 ↩
-
Social Distancing merupakan salah satu prosedur utama pencegahan penularan selain penggunaan masker ataupun pembersihan tangan dengan sabun. Dengan social distancing, droplet hasilsekresi tubuh tidak akan bisa mencapai orang lain. Lihat LL. Maragakis, “Coronavirus, Social Distancing and Self Quarantine” oleh John Hopkins University, https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/coronavirus-social-distancing-and-self-quarantine, diakses 27 Maret 2020. ↩
-
Pandemi tidak bisa dimusnahkan, ia hanya bisa dihentikan penyebarannya. Lihat Institute of Medicine (US) Forum on Microbial Threats. “Ethical and Legal Considerations in Mitigating Pandemic Disease: Workshop Summary”, bag. 3: Strategies for Disease Containment, 2007, Washington (DC): National Academies Press (US)/ ↩
-
P. Fine, K. Eames, dan D. L. Heymann, “Herd immunity: A rough guide”, dalam Clinical Infectious Diseases, Vol. 52, No. 7, hlm. 911–916 (DOI: 10.1093/cid/cir007) ↩
-
Kayla M. Peck dan Adam S. Lauring, “Complexities of Viral Mutation Rates”, dalam Journal of Virology Vol. 92, No. 14 hlm. e01031-17 (DOI: 10.1128/JVI.01031-17) ↩
-
Hal ini akan berpotensi pada tingginya collateral damage, dimana kematian banyak terjadi justru bukan dari Covid-19, namun karena pasien dengan penyakit kritis lainnya tidak bisa dilayani dengan terbebaninya pelayanan kesehatan oleh Covid-19. Lihat Tomas Pueyo, “Coronavirus: The Hammer and The Dance”, dalam Medium, https://medium.com/@tomaspueyo/coronavirus-the-hammer-and-the-dance-be9337092b56, diakes 20 Maret 2020. ↩
-
Jejak modernitas dimulai ketika peradaban Eropa mulai melepaskan diri dari Gereja, dan dengan itu rasionalitas tumbuh subur. Meskipun definisi ‘modern’ ini terlalu Eropasentris, inti dari modernitas adalah ketika sains dan teknologi mulai berkembang dan mengubah wajah dunia, kapanpun dan dimanapun itu dimulai. ↩
-
Pada dasarnya pascamodernitas tidak punya definisi tunggal, karena ia merepresentasikan banyak fenomena, yang bisa sangat divergen. Banyak yang kemudian akhirnya cukup mengatakan bahwa pascamodernitas merupakan kritik terhadap modernitas. ↩
-
Indriyana, “Postmodernisme: Perspektif, Kritik, dan Aplikasinya”, 2007, Yogyakarta: Sociality. ↩
-
Merujuk dari Bambang Sugiharto, “Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat”, 1996, Yogyakarta: Kanisius. Sugiharto menyebutkan 6 kondisi. Satu kondisi lagi, bangkitnya militerisme, penulis anggap kurang relevan dan meragukan, mengingat kondisi itu tidak terjadi secara generaldan melibatkan situasi partikular tertentu. ↩
-
Covid-19 diduga berasal dari sebuah pasar induk di Wuhan yang juga memperdagangkan berbagai hewan liar. Lihat Therese Shaheen. “The Chinese Wild-Animal Industry and Wet Markets Must Go”, dalam National Review, https://www.nationalreview.com/2020/03/the-chinese-wild-animal-industry-and-wet-markets-must-go/ , diakses 27 Maret 2020. Lihat juga Kristian G. Andersen, dkk, “The proximal origin of SARS-CoV-2”, dalam Nature Medicine 2020 (DOI: 10.1038/s41591-020-0820-9) ↩
-
Sejak pandemi Covid-19 dimulai, kadar polusi udara di beberapa tempat di dunia menurun dengan sangat signifikan. Lihat Jacinta Bowler, “New Evidence Shows How COVID-19 Has Affected Global Air Pollution”, dalam Science Alert, https://www.sciencealert.com/here-s-what-covid-19-is-doing-to-our-pollution-levels, diakses 5 April 2020. ↩
-
Lihat Madeleine Stone, “Carbon emissions are falling sharply due to coronavirus. But not for long” dalam National Geographic, https://www.nationalgeographic.com/science/2020/04/coronavirus-causing-carbon-emissions-to-fall-but-not-for-long/, diakses 5 April 2020. ↩
-
Mayoritas pemerintah seperti bertindak hanya sesuai keadaan yang ada, sehingga kebijakan yang diterapkan cenderung parsial dan bertahap, alih-alih menyeluruh dan sekaligus. Cara pandang parsial inimempengaruhi bagaimana pada akhirnya beberapa pemerintah gagal mencegah naik drastisnya kasus Covid-19 di negaranya. T Lihat RichardPerez-Vena, “Virus Hits Europe Harder Than China. Is That the Price of an Open Society?” dalam New York Times, https://www.nytimes.com/2020/03/19/world/europe/europe-china-coronavirus.html, diakses 5 April 2020. Lihat juga Andrea Saglietto, dkk, “COVID-19 in Europe: the Italian lesson”, dalam The Lancet, Vol. 395, No. 10230, Th. 2020, hlm. 1110 – 1111. Untuk kasus di Amerika, lihat Yasmeen Abutaleb, “The U.S. was beset by denial and dysfunction as the coronavirus raged”, dalam Washington Post Investigation, https://www.washingtonpost.com/national-security/2020/04/04/coronavirus-government-dysfunction/?arc404=true, diakses 5 April 2020. ↩
-
Masalah teologi klasik yang dikenal dengan The Problemof Evil mulai menjangkiti kembalipikiran masyarakat. Masalah ini mempertanyakan kehadiran Tuhan ditengah kejatahan ataukeburukan yang terjadi menimpa manusia. ↩
-
Ini yang kemudian berujung pada krisis otoritas dalam fenomena posmodernitas. Dengan kata lain, masyarakat bingung ingin menyandarkan diri pada siapa. ↩
-
Koordinasi global adalah kunci utama penyelesaian pandemi saat ini, namun gagal dihadirkan, selain hanya koordinasi parsialantar 2 atau beberapa negara. Lihat Yuval N. Harai “The World after Coronavirus”, dalam Financial Times, https://www.ft.com/content/19d90308-6858-11ea-a3c9-1fe6fedcca75), diakses 20 Maret 2020. ↩
-
Sosialisme, Anarkisme, Sindikalisme, Komunisme, atau Agama, semua merupakan antithesis legkap dari kapitalisme. ↩
-
Aditya F. Ihsan, “Ghazwul Fikr: Perang Melawan Diri Sendiri”, makalah dalam Sekolah Pemikiran Islam Bandung Angkatan 4, th. 2018. ↩
-
Tentu saja salah satu di antaranya adalah agama. Tak heran masalah Sepilis bukan sekadar paranoidtak beralasan, tapi memang halbisa menjadi ancaman serius atas posisi agama dalam kehidupan umat manusia kelak. ↩
-
Al Jazeera, “Cornavirus: Travel Restrictions. Border Shutdowns by Country”, https://www.aljazeera.com/news/2020/03/coronavirus-travel-restrictions-border-shutdowns-country-200318091505922.html, diakses 10 April 2020 ↩
-
Masa dimana aktivitas bisnis lebih rendah secara tidak wjar dari biasanya. ↩
-
Keadaan dimana neraca keuangan hampir nol atau bahkan negatif, karena kesulitan untuk menghasilkan surplus. Istilah financial distress sebenarnya lebih sering digunakan untuk perusahaan. ↩
-
Sven Smit, Martin Hirt, Kevin Buehler, Susan Lund, Ezra Greenberg, and Arvind Govindarajan, “Safeguarding our lives and our livelihoods: The imperative of our time”, oleh McKinsey & Company. ↩
-
Innes McFee, “The Global Economy Enters a Short, Sharp Recession”, dalam Oxford Economics, th. 2020. ↩
-
Simon Mair. “How will coronavirus change the world?”, dalam BBC. https://www.bbc.com/future/article/20200331-covid-19-how-will-the-coronavirus-change-the-world, diakses 10 April 2020. ↩
-
Lisa Abramowicz, “Goldman Sachs Hawks CDOs Tainted by Credit Crisis Under New Name”, dalam Bloomberg, https://www.bloomberg.com/news/articles/2015-02-04/goldman-sachs-hawks-cdos-tainted-by-credit-crisis-under-new-name, diakses 10 April 2020. ↩
-
Brady Lavender dan Nicolas Parent, “The U.S. Recovery from the Great Recession: A Story of Debt and Deleveraging”, dalam Bank of Canada Review, Winter 2012-2013, hlm. 13-26. ↩
-
Gretchen Morgenson, “A dozen years after the 2008 recession, a different kind of debt threatens the world economy”, dalam NBC News, https://www.nbcnews.com/business/economy/dozen-years-after-2008-recession-different-kind-debt-threatens-world-n1151801, diakses 10 April 2020. ↩
-
Penjaminan pemerintah bahwa setiap warga negara dapat memperoleh pendapatan minimum dasar. Hal ini untuk memberi keamanan finansial darisetiapwarganya, terutama di tengah krisis. ↩
-
Empat triliun tersebut terbagi menjadi 2 triliun untuk penanganan langsung krisis Covid-19, dan 2 triliun sisanya untuk pembangunan kembaliinfrastruktur. Lihat Jacob Pramuk, “Trump signs $2 trillion coronavirus relief bill as the US tries to prevent economic devastation”, dalam CNBC, https://www.cnbc.com/2020/03/27/house-passes-2-trillion-coronavirus-stimulus-bill-sends-it-to-trump.html, diakses 10 April 2020. Lihat juga Jacob Pramuk, “Trump calls for $2 trillion infrastructure package as part of coronavirus response”, dalam CNBC, https://www.cnbc.com/2020/03/31/coronavirus-stimulus-trump-calls-for-2-trillion-infrastructure-plan.html, diakses 10 April2020. ↩
-
Tepatnya di kota Wuhan, daerah Hubei. Lihat laporan dari Helen Davidso, “First Covid-19 case happened in November, China government recordsshow—report”, dalam The Guardian, https://www.theguardian.com/world/2020/mar/13/first-covid-19-case-happened-in-november-china-government-records-show-report, diakses 27 Maret 2020. ↩
-
Black Death merupakan pandemi paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban, berlangsung dari 1347-1351, disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis, dan membuat kurang lebih 75-125 juta jiwa meninggal dunia. Populasi Eropa diperkirakan turun 30-60 persen pada saat itu. ↩
-
Encyclopaedia Britanica, “Peasants’ Revolt” ↩
-
Paul Mason, “Will coronavirus signal the end of capitalism?”, https://www.aljazeera.com/indepth/opinion/coronavirus-signal-capitalism-200330092216678.html, diakses 10 April2020. ↩
-
Paul Mason, “How coronavirus could destroy the Western multilateral order”, https://www.newstatesman.com/world/north-america/2020/03/how-coronavirus-could-destroy-western-multilateral-order, diakses 10 April 2020. ↩
-
Dalam sistem dinamik, titik saddle secara sederhana merupakan titik setimbang yang ‘menarik’ pada satu arah, namun ‘menolak’ pada arah lainnya, sehingga ia seakan menjadititik tujuan namun ternyata hanya pembelok yang mengarahkan pada titik stabil yang sesungguhnya. ↩