Ekonomi Pasca Pandemi
Disrupsi ekonomi akibat pandemi dan penanganan dampaknya
Covid-19 mungkin hanya sebuah masalah yang disebabkan suatu strain virus, namun ia cukup untuk menggoyangkan bangunan besar perekonomian dunia, dan dengan itu seluruh kestabilan aspek-aspek lainnya. Kenapa? Karena pandemi (apapun) pada dasarnya tidak punya banyak alternative solusi, selain pembentukan imunitas dan pencegahan penularan. Untuk yang pertama, pelayanan kesehatan yang baik akan selalu bisa mendukung semakin terbentuknya imunitas di masyarakat dengan perawatan intensif mereka yang terkena penyakitnya tanpa harus menjadi korban jiwa. Iya, itu kalau solusi yang kedua juga terimplementasi dengan baik, karena pelayanan kesehatan akan burnt out, kelelahan, apabila yang sakit melebihi kapasitas pelayanan. Sayangnya, solusi yang kedua ini bukan lah hal sesederhana membalikkan telapak kaki.
Disrupsi Ekonomi
Untuk mencegah terjadinya penularan virus (apapun), prinsip dasarnya adalah jangan sampai virus dapat berpindah dari satu host ke calon host lain. Akan tetapi, untuk memungkinkan hal itu, setiap individu tidak boleh terlalu dekat dengan individu lainnya. Konsep ini, yang dikenal sebagai social distancing, menghambat semua proses dan interaksi social di masyarakat. Aspek paling dasar yang terkena dampak utamanya adalah ekonomi, sebagai kegiatan social utama yang terjadi di masyarakat. Apalagi bila bentuk ekstrim dari social distancing dilakukan dalam bentuk lockdown atau karantina, maka sebagian besar kegiatan ekonomi akan macet total. Mengingat ekonomi merupakan salah satu fondasi dari bangunan besar masyarakat, maka gangguan atau disrupsi pada ekonomi akan menggoyangkan banyak aspek kehidupan masyarakat lainnya.
Memasuki kuartal kedua tahun 2020, tidak ada tanda-tanda pandemi Covid-19 akan segera berakhir, bahkan puncaknya pun belum terlihat. Hal ini cukup meresahkan, dan banyak pihak mulai melihat adanya kemungkinan resesi global, bahkan menjadi salah satu yang terbesar. Resesi sendiri pada dasarnya merupakan penurunan umum aktivitas ekonomi, yang biasanya terlihat dari PDB (Produk Domestik Bruto), tingkat pengangguran, pendapatan per kapita, dan lainnya. Resesi global terakhir terjadi pada tahun 2008 yang berpusat di Amerika, namun tidak terlalu berdampak di Indonesia. Di Indonesia sendiri, resesi yang paling terasa adalah krisis moneter tahun 1998. Salah satu penyebab utama resesi adalah adanya gangguan / ketidakseimbangan ekstrim pada rantai permintaan-penawaran, yang kemudian berefek pada banyak hal. Gangguan ini bisa berbentuk macam-macam. Dalam kasus 2008, resesi terjadi karena adanya penjualan KPR besar-besaran di Amerika yang menyebabkan harga properti jatuh drastis.
Dalam kasus Covid-19, fakta bahwa solusi dari pandemi ini memberi kewajiban mutlak untuk adanya pembatasan aktivitas sosial, jelas akan mengganggu jarring-jaring aktivitas perekonomian. Dalam skala mikro, hal ini bisa kita lihat secara sederhana dari bagaimana restoran-restoran atau tempat makan tutup, yang membuat arus suplai bahan makanan terganggu, dimana restoran-restoran berkontribusi cukup besar dalam porsi permintaan bahan makanan. Hal ini bisa berdampak hingga ke produsen di hulu, yakni para petani. Akan tetapi, karena di hilir setiap individu tetap butuh untuk makan sehari-hari, maka suplai makanan akan bergeser, baik dalam bentuk bahan mentah dengan berpusat di supermarket atau pasar yang masih berpoperasi, atau dalam bentuk makana n jadi yang dipesan secara daring. Ini di sisi lain akan meningkatkan dalam porsi tertentu permintaan terhadap aplikasi-aplikasi daring. Ini baru satu contoh dalam skala mikro. Bila kita ingin berbicara terkait dampak global, maka kita harus melihat aspek-aspek besar yang terpengaruh banyak dari pandemi ini. Secara umum, bagaimana siklus ekonomi terganggu oleh Covid-19 bisa dilihat dari Bagan 1.
Bagan 1. Gangguan yang terjadi dalam siklus ekonomi selamapandemi Covid-19
Dampak Sektoral 1. Komponen Rumah Tangga
Subjek utama social distancing pada dasaranya adalah setiap individu masyarakat. Setiap individu akan secara drastis melakukan seleksi ketat atas konsumsi. Kebutuhan yang bersifat tersier, bahkan sekunder, seperti gadget, peralatan tertentu, kendaraan, dan hal lainnya akan otomatis tertahan dan dengan itu konsumsinya ditunda. Hal demikian secara umum terjadi di setiap resesi, dibarengi dengan penghematan kritis untuk mempersiapkan keadaan yang mungkin akan lebih buruk. Hal ini akan memutus aliran dana ke bisnis dan industri yang terkait, seperti otomotif, bahan bakar, elektronik, bahkan perkakas. Akan tetapi, resesi kali tidak akan berhenti sampai di situ, karena social distancing akan juga membuat konsumsi masyarakat terhadap industri kuliner, transportasi, dan pelayanan lainnya juga menurun drastis menuju 0. Industri kuliner yang bertahan adalah yang berorientasi pada pengantaran, seperti makanan cepat saji atau beberapa lainnya yang mampu beradaptasi. Namun, hal itu hanya menyisakan sebagian kecil dari aliran dana sesungguhnya bila masyarakat dapat makan di luar. Pengeluaran masyarakat yang tersisa hanya kebutuhan dasar seperti bahan makanan. McKinsey bahkan memperkirakan sekitar 40-50 persen pengeluaran konsumsi rumah tangga akan menurun sebagai akibat pandemi ini.
Di saat yang bersamaan, pada beberapa komoditas, seperti suplemen, obat, masker, atau sabun, akan mengalami peningkatan konsumsi yang drastis. Terlebih lagi di awal pandemi ini muncul, panic buying banyak terjadi. Hal ini akan mempengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran sehingga pada beberapa kasus mengakibatkan kenaikan harga yang tidak wajar.
Terlebih lagi, social distancing akan membuat proses bekerja berubah total. Mereka yang mampu work from home (WFH) secara penuh mungkin tidak memiliki masalah. Namun hanya sebagian kecil pekerjaan yang memungkinkan WFH secara penuh. WFH parsial dapat dilakukan pada beberapa profesi namun hal itu akan mempengaruhi jam kerja dan dengan demikian honor atau gaji yang diperoleh. Belum lagi mereka yang benar-benar tidak dapat melakukan WFH sedikitpun. Aliran pemasukan akan berkurang, bahkan terputus pada sebagian masyarakat. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, dimana profesi-profesi ekonomi menengah ke bawah masih cukup banyak yang tidak memungkinkan WFH, dampaknya akan teramplifikasi.
Secara umum, rumah tangga akan mengalami financial distress, dimana setiap individu menghadapi ketidakpastian akan kehidupan perekonomian. Beberapa bahkan bisa susah payah untuk hanya sekadar dapat makan sehari-hari, belum lagi untuk mejaga keamanan keuangan pasca-pandemi. 2. Komponen Bisnis dan Industri
Dunia industri adalah yang terkena imbas paling besar dari terganggunya perekonomian oleh Covid-19. Sebagaimana yang terbahas sebelumnya, konsumsi rumah tangga akan menurun drastis selama pandemi. Hal ini akan mengakibatkan sebagian bisnis terpaksa koma tanpa bisa berbuat apa-apa. Financial distress juga terjadi secara luas di berbagai industri. Jika pandemi ini berlangsung cukup lama, koma itu akan berubah menjadi titik sepenuhnya, dimana kebangkrutan akan banyak terjadi. Belum lagi, terhambatnya aktivitas bisnis (slowdown) akan berpotensi dirumahkannya banyak pegawai yang berujung pada financial distress di sektor rumah tangga. Dalam jangka panjang, tanpa penanganan yang baik, pengangguran skala besar akan terjadi.
Ketika bisnis paling hilir terganggu, maka secara otomatis hal itu akan berdampak pada rantai suplai komoditas yang terkait. Bisnis-bisnis yang berurusan dengan industri intermediat akan turut terkena dampaknya, yang secara domino akan berujung sampai terganggunya produksi di hulu. Ekonomi sebagai sebuah jarring-jaring akan goyang secara menyeluruh seiring satu per satu sektor digerogoti oleh slowdown akibat pandemi.
Beberapa sektor yang terkena dampak paling besar dapat dilihat dalam tabulasi Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Data Sektor yang terkena imbas besar dari Covid-19
| Sektor | Perubahan harga saham rata-rata | Keterangan |
|---|---|---|
| Penerbangan komersial | -46% | Maskapai akan banyak kehilangan kapasitas penerbangannya, di saat yang bersamaan harus tetap melakukan perawatan dan pengelolaan. |
| Jasa perjalanan | -44% | Perjalanan domestik maupun internasional jatuh bebas dengan mulai diterapkannya karantina wilayah. |
| Migas | -42% | Ketika masyarakat dituntut untuk tidak banyak berpergian, maka konsumsi migas dari transportasi akan menurun drastis. Juga, dengan beberapa bisnis mengalami slowdown, konsumsi migas dari industri juga akan menurun. Secara umum, permintaan migas anjlok. |
| Otomotif | -29% | Konsumsi otomotif, sebagai kebutuhan tersier, ditambah dengan restriksi perjalanan, akan menurun. |
| Asuransi | -29% | Di tengah pandemi, klaim terhadap asuransi kesehatan dan jiwa akan banyak dilakukan. |
Selain kelima sektor di atas, masih banyak sektor yang terkena imbas besar dari Covid-19, seperti fashion atau infrastruktur. Terjadinya slowdown atau bahkan kebangkrutan pada banyak bisnis akan merusak spekulasi investor terhadap atmosfer ekonomi Indonesia. Aliran kredit dari bank akan ikut macet dan dengan itu juga perputaran uang di perbankan, berhubung tingkat tabungan juga akan ikut meningkat dengan perilaku rumah tangga yang menghadapi ketidakpastian. Hal ini akan berpotensi membuat banyak bank akan default.
Memang, beberapa bisnis dan industri mengalami sebaliknya, yakni pertumbuhan signifikan dari pandemi ini, terutama bisnis yang terkait dengan kesehatan atau banyak melibatkan akses daring. Beberapa contohnya adalah toko daring, aplikasi konferensi video, dan juga pengantaran daring. Industri farmasi dan peralatan medis juga termasuk yang akan mengalami pertumbuhan. Akan tetapi, porsi pertumbuhan di bidang-bidang ini masih relatif sangat kecil dibandingkan komoditas-komoditas makro seperti di atas.
Apa yang terjadi secara mengakar di rumah tangga maupun industri di atas, dalam skala dan kurun waktu tertentu akan berujung pada inflasi tinggi, pengangguran yang meluas, kebangkrutan massif, dan menurun drastisnya PDB. Dengan kata lain: resesi.
Penanganan dampak
Skala dari dampak-dampak yang terjadi di atas masih merupakan variable tak tentu. Pandemi Covid-19 masih sukar dibaca pergerakannya, apalagi menentukan kita saat ini ada di posisi mana. Satu hal yang penting adalah setiap tindakan -tindakan kita akan turut menentukan bagaimana Covid-19 ini berujung.
Paling tidak ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
- Skala disrupsi: seberapa jauh aliran ekonomi akan terganggu?
- Lamanya disrupsi: berapa lama disrupsi ini akan terjadi?
- Bentuk pemulihan: apa yang bisa dipersiapkan untuk mengembalikan keadaan?
Ketiganya sangat bergantung pada tindakan kita, terutama pemerintah negara -negara, saat ini. Disrupsi telah terjadi, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menahan agar kejatuhan ekonomi tidak terlalu dalam. Selain itu, bagaimana kita bersikap, terutama dalam menerapkan social distancing dan peningkatan pelayanan kesehatan, akan menentukan pandemi ini akan berakhir dalam jangka waktu dekat atau jauh. Terakhir, bounce-back harus dipersiapkan dan direncanakan sedini mungkin untuk bisa sigap menangani ketika pandemi akan berakhir.
Dalam hal ini, kita bisa susun sebuah matriks yang tersusun dari dua variable utama, yakni penanganan penyebaran virus dan intervensi ekonomi. Matriks ini akan membagi outcome ekonomi menjadi 4 kemungkinan. Matriks ini bisa dilihat pada Bagan 2.
Bagan 2. Kemungkinan outcome ekonomi dari Covid-19
- Kemungkinan pertama, virus tertangani secara efektif, baik dengan penerapan karantina yang ketat ataupun insentif pelayanan Kesehatan yang cepat dan luas, namun ekonomi kurang diberi intervensi yang berarti. PDB akan akan segera naik pasca pandemi, namun dengan sangat lambat.
- Kemungkinan kedua, baik virus maupun permaslaahan ekonomi tidak tertangani dengan baik. Pandemi akan berkepanjangan dan di saat yang bersamaan tidak ada yang bisa menghentikan turunnaya PDB.
- Kemungkinan ketiga, perekonomian ditangani dengan efektif namun tidak dalam hal penyebaran virus. Dalam kasus ini ekonomi dapat dipulihkan namun terhambat seiring pandemic yang terus mengalami eskalasi.
- Kemungkinan keempat, baik virus maupun permasalahan ekonomi tertangani secara efektif. PDB akan segera bouncing setelah pandemic berakhir. Hal ini disebut sebagai v-shaped recession yang bersifat short term karena perekonomian bisa segera kembali dipulihkan.
Tentu kemungkinan keempat adalah yang kita harapkan, namun itu butuh komitmen tinggi dari para pengatur kebijakan untuk benar-benar secara sinergis dan menyeluruh focus untuk menangani ekonomi dan virus sekaligus. Yang berat tentu karena semuanya butuh pengorbanan tertentu, terutama dalam hal kas negara yang akan sangat terbebani, namun pada dasarnya dengan perencanaan yang baik, Tindakan yang cepat dan koordinatif, serta ketegasan tersendiri dalam pengambilan keputusan bisa mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin ada.
Untuk itu, ada 3 tahap fundamental yang perlu dan harus segera direncanakan:
1. Resolusi
Virusnya sudah ada dan sudah mengakibatkan disruspsi yang nyata. Ini adalah masalah utama yang harus dihadapi pertama kali. Dalam konteks ini, pendeteksian semua tantangan disrupsi ekonomi yang terjadi selama pandemi dan segera melakukan intervensi cepat untuk menekan penurunannya sangat perlu dilakukan. Ada paling tidak 2 hal dasar yang harus dijaga, pendapatan rakyat dan rantai suplai. Dalam hal ini, pemerintah punya kewajiban menerapkan universal basic income (UBI) untuk menjamin hajat hidup warganya. Memang akan menjadi beban berat untuk kas negara, namun dalam hal ini, keberlangsungan hidup rakyat ada lah prioritas utama.
Dalam hal rantai suplai, hal pertama yang dapat dilakukan adalah identifikasi rantai-rantai utama yang terkena dampak paling besar dari pandemi ini. Hal ini diiringi dengan perencanaan pengalokasian alternative dari aliran suplai yang terganggu tersebut. Jika perlu, pemerintah bahkan menasionalisasi sektor-sektor vital sehingga dinamika pasar tidak akan mengganggu harga. Bisnis-bisnis juga bisa diberi kredit bunga rendah untuk memastikan resiliensi dapat berjalan. Tentu ini juga harus diiringi kemampuan adaptasi tinggi dari setiap pelaku bisnis dan industri, dengan mencari berbagai alternative kreatif untuk memastikan perekonomian berjalan.
Target utama dari tahap ini adalah survive, mencegah krisis finansial untuk terjun lebih dalam. Di saat yang bersamaan, manajemen keuangan jangka pendek harus terus disiapkan untuk mengantisipasi hal terburuk, yakni ekstensi waktu dari pandemi ini. Titik ujung dari Covid-19 bahkan belum terlihat di cakrawala. Dengan tingginya laju mutasi dari SARS-CoV-2, ditambah dengan belum adanya vaksin yang bisa diimplementasikan, banyak hal buruk yang masih bisa terjadi.
2. Restorasi
Sebagaimana setiap pandemi, Covid-19 pasti akan berlalu karena virus tidak bisa menginfeksi dan mematikan semua orang. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa rusak peradaban kita pasca berlalunya pandemi ini. Seberapa jauh perekonomian kita terluka, seberapa banyak korban jiwa, dan seberapa kuat struktur sosial kita untuk Kembali bangkit. Itulah mengapa tahap kedua ini perlu dipersiapkan dengan matang.
Restorasi peradaban pasca terjadinya pandemi, dan bersamanya juga resesi global, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak alternatif, namun semua harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pemerintah harus siap dengan paket-paket bantuan ekonomi untuk restorasi. Bisnis-bisnis diberi insentif, rakyat diberi bantuan, bank diberi likuidasi, pembangunan kembali banyak sektor. Dalam hal ini, tentu pemerintah harus siap dengan dana yang tidak sedikit. Di sini kehati-hatian sangat perlu dilakukan. Karna sebagaimana resesi 2008, para bankir pasca resesi segera menerbitkan berbagai bentuk baru surat utang untuk “membantu” restorasi.
3. Reformasi
Covid-19 secara fundamental akan mengubah banyak hal, baik dalam hal kehidupan sosial, teknologi, Pendidikan, hingga ekonomi itu sendiri. Covid-19 secara tidak langsung menyingkap banyak kemungkinan yang tidak terlihat sama sekali sebelumnya. Sebagaimana krisis-krisis lainnya, perubahan yang diakibatkan Covid-19 bisa bersifat permanen, dan dengan itu butuh dikelola dengan baik. Reformasi struktur dan kebijakan periu dilakukan untuk membangun Kembali peradaban dari reruntuhan.
Kesimpulan
Resesi global bukan lagi sebuah wacana, bualan, apalagi khayalan. Resesi itu tengah terjadi sekarang dan akan terus memburuk bila tidak ada langkah signifikan dilakukan. Tentu tidak ada yang mudah dalam kasus kritis seperti pandemi ini. Tidak ada pilihan yang gampang. Namun, di antara dua hal buruk, kita tetap bisa memilih yang buruknya lebih sedikit. Dengan atau tanpa intervensi, pandemi ini akan berakhir dan perekonomian akan kembali, namun loss yang diterima bisa sangat berbeda. Yang jelas kehidupan tidak akan sama seperti sebelum pandemi. Sebagaimana setiap disrupsi selalu menjanjikan transformasi, dengan demikian juga Covid-19. Pertanyaannya adalah sejauh mana kita bisa beradaptasi dalam transformasi itu, apakah tanpa persiapan, apakah tanpa penanganan, apakah pasrah dengan keadaan. Tiga tahap dasar harus segera dipersiapkan untuk memastikan kita melewati semuanya dengan kerugian minimum, yakni resolusi masalah sekarang, restorasi kerusakan yang telah dan akan terjadi, dan reformasi hal-hal baru yang muncul dari pandemi ini. Minimal, kalaupun masih banyak dalih muncul untuk persiapan pasca pandemi, masalah yang sudah ada sekarang tetap perlu ditangani. Ya, tahap resolusi adalah tahap yang mau tidak mau harus segera kita selesaikan di depan mata.
Referensi
[1] Sven Smit, Martin Hirt, Kevin Buehler, Susan Lund, Ezra Greenberg, and Arvind Govindarajan. 2020. Safeguarding our lives and our livelihoods: The imperative of our time. McKinsey & Company.
[2] Innes McFee. 2020. The Global Economy Enters a Short, Sharp Recession. Oxford Economics.
[3] Matt Craven, Mihir Mysore, Shubham Singhal, Sven Smit, and Matt Wilson. 2020. COVID-19: Briefing Note. McKinsey & Company.
[4] McKinsey Global Health and Crisis Response. 2020. COVID-19: Briefing Materials. McKinsey & Company
[5] Goffrey H. Moore. Recessions. The Concise Encyclopedia of Economics 1st ed.
[6] Simon Mair. 2020. “How will coronavirus change the world?”. BBC. https://www.bbc.com/future/article/20200331-covid-19-how-will-the-coronavirus-change-the-world, diakses 10 April 2020.
[7] Reuters News Agency. IMF: COVID-19 may trigger global recession in 2020. Al-Jazeera. https://www.aljazeera.com/ajimpact/imf-covid-19-global-recession-2020-200323231228113.html, diakses 10 April 2020.
[8] Kimberly Amadeo. 2019. Universal Basic Income, Its Pros and Cons With Examples” https://www.thebalance.com/universal-basic-income-4160668, diakses 10 April 2020.
[9] Pueyo, Tomas. 2020. Coronavirus: The Hammer and The Dance. Medium. https://medium.com/@tomaspueyo/coronavirus-the-hammer-and-the-dance-be9337092b56, diakes 20 Maret 2020.
(PHX)