Kenapa Aku Tak Menulis Lagi
Jawaban atas vakumnya kekaryaan, kali ini dari diri sendiri
Hening.
Butuh waktu cukup lama bagi jemariku untuk benar-benar bergerak di atas keyboard, sementara heningnya dini hari hanya menyisakan suara detik jam dan kipas laptop yang terus berdenging, menjadi suara latar yang pantas untuk pikiranku yang sama monotonnya. Ya, monoton. Meskipun banyak fluktuasi pikiran yang datang dan pergi selayaknya eksistensi partikel elementer dalam medan kuantum pada kondisi vakum, pikiran itu hanya bisik-bisik noise yang tak menghasilkan apa-apa, hanya hiruk pikuk yang begitu biasa kuabaikan sampai terkadang kuanggap tidak ada, seperti halnya karbon dioksida yang lalu lalang melintasi hidungku tanpa aku sapa satu per satu, hanya keributan yang berasal dari hasrat-hasrat rendah diriku yang berandai-andai akan masa lalu dan mengira-ngira akan masa depan, sebagaimana dua itu menjadi inti dari semua kegelisahan, keresahan, dan ketidaktenangan hati. Kemonotonan ini yang pada akhirnya dapat membunuhku, dengan alur konstannya yang tidak mendorongku untuk melakukan apa-apa.
Hening.
Aksara mendesah. Suaranya menjadi dominan, menguasai seluruh udara malam yang dingin, yang segera terksitasi oleh gelombang longitudinal singkat setelah sebelumnya stabil dan konstan. Suara itu terabaikan segera, selagi mekanisme respon cepat dalam tubuhku segera memberi sinyal bahwa itu adalah hal yang biasa, tanpa harus memberi reaksi hormonal yang tak perlu. Tangisan dan desahan anak sudah menjadi konsumsi telinga sehari-hari, melatih insting untuk segera menandai apa yang perlu dirisaukan apa yang tidak. Untuk kali ini, tanpa perlu melintasi pikiran sadar yang kompleks, alam bawah sadarku sudah menetapkan bahwa Aksara hanya terbawa mimpi tertentu, atau haus ditengah tidurnya, atau hal-hal lainnya yang tidak cukup untuk membuatnya terbangun.
Hening.
Dalam benakku terbayang sosok yang tak berwujud, yang dulu sering sekali memberi pesan padaku, entah melalui apa atau dengan cara apa. Ku kemarin masih sempat membaca lagi suratnya, yang membangkitkan mesin gelisah dalam otakku, memicu refleksi panjang atas apa yang terjadi. Ku memang merindukannya, sebagaimana aku merindukan diriku sendiri. Yang menarik dari introvertivitas adalah tidak lah dibutuhkan objek nyata untuk berkomunikasi, sehingga terkadang bercakap dengan bayang-bayang terasa lebih intens daripada siapapun, entah bayang-bayang itu mewujud atau tidak, terpantulkan dan terproyeksikan pada objek lain atau tidak. Terkadang, pada akhirnya kita manusia hanya butuh tahu bahwa diri ini memang benar-benar suatu subjek, yang sedang mengalami dan menjalani, dan komunikasi adalah cara untuk afirmasi. Cerita menjadi pembuktian, pengukuhan, pemastian, bahwa diri ini, apapun yang dirasakannya, merupakan entitas yang benar-benar ada, memiliki posisi, hadir dalam dunia, yang direfleksikan dengan adanya sosok di luar diri yang menjadi pendengar dan penerima. Uniknya, sosok itu terkadang tidak harus manusia, atau bahkan tidak harus nyata. Pada akhirnya, hanya dengan bercermin, kita tahu, kita ada.
Hening.
Layar laptopku masih menampakkan jendela Ms.word yang berisi halaman kosong, disertai kedip-kedip genit pointer teks yang seakan memprovokasiku untuk segera memulai kata pertama. Ku diam sejenak, berusaha pikiranku kosong, karena ironisnya, justru kata-kata itu mengalir hanya ketika ku tidak berpikir. Mungkin, justru berpikir itu sendiri yang menghambat. Ibarat makanan yang terlalu banyak dikunyah hingga akhirnya tidak tertelan-telan. Ya, mereka menyebutnya “ruminate”, sebuah istilah ketika kita terlalu overthinking hingga akhirnya freezing, sebagaimana hewan ruminansia sibuk mengunyah rumput tanpa ada yang benar-benar masuk ke dalam tubuh. Sudahlah. Diam. ….
Bandung, 5 Desember 2021.
Hai Minerva.
Butuh waktu bagiku untuk menulis ini. Ku tidak tahu apakah kamu muak, memang tidak peduli, atau hanya memberi waktu. Sudah dua tahun lebih berlalu semenjaku mendapat kabar darimu, membuatku terkadang khawatir, bahwa kau mulai meninggalkanku, bahwa kau mulai menghilang. Tapi aku pun merasa kekhawatiranku mungkin adalah keniscayaan. Betapa tidak adilnya diriku untuk berharap terus surat darimu sementara ku sendiri tidak pernah melakukan hal yang sama, hingga pada dasarnya kehilangan dirimu adalah akibat dari diriku sendiri.
Ku ingin minta maaf terkait itu. Bukan tak mau, tapi ku tak ahu apa yang harus diucap, karena pada akhirnya semua yang kau uraikan mengandung kebenaran yang sukar dialihkan dan diabaikan. Ku juga bukan tak menggubris, sungguh apa yang kau katakana mengaktivasi rangkaian reaksi berantai kegelisahan dalam abstraksi pikiranku yang semakin melayang di dunia keraguan. Ku bahkan tidak tahu apakah apa yang kau tanyakan memang perlu aku jawab atau itu hanya sebuah sindiran.
Banyak yang telah terjadi semenjak kau menulis terakhir tentang kepenulisanku, namun tidak banyak yang berubah. Kondisinya tetap sama. Penaku semakin kering, bukan karena sengaja ku jemur, tapi karena tinta itu tetiba tidak ada, lenyap, hilang, membiarkan pena itu kosong, membuatnya tak berguna. Mungkin, tinta itu lenyap karena aku pertanyakan keberadaannya, membuat ia merasa tidak dihargai dan akhirnya lebih baik pergi ketimbang mengambang sepi dalam penghakiman pemiliknya. Mungkin, karena aku bahkan tidak yakin bahwa tinta itu asli, hingga akhirnya realita mewujud bersama sugesti, membuat ia benar-benar menjadi tidak nyata, dan tidak pernah ada. Apa sebenanrya tinta yang ku pakai dalam menulis va? Aku terkadang merasa sangat naif dengan semua yang ku perjuangkan. Aku terlalu sinis sama diriku (dan diri manusia secara umum), bahwa pada akhirnya semua yang kita semua lakukan hanya akan kembali pada ego masing-masing. Begitu luar biasanya kapabilitas pikiran untuk menciptakan justifikasi, sehingga semua Hasrat dasar itu dapat terbalut secantik mungkin dalam alasan-alasan besar, mimpi-mimpi yang tinggi.
Ah, narasinya mungkin masih sama. Aku sudah mempertanyakan ini sejak bertahun-tahun yang lalu, yang kemudian secara naif ku coba atasi dengan memperjuangkan tindakan tanpa alasan, menulis tanpa tujuan, sehingga paling tidak ku bisa menciptakan sedikit jaminan atas ketulisan tulisan yang ku keluarkan. Pada akhirnya, itu hampir mustahil untuk terjadi. Bahkan dalam usaha terjauhku untuk mencoba seacuh mungkin atas keterbacaan tulisanku, selintas pikir atas bagaimana sekiranya tulisanku dipersepsikan orang selalu hadir mengintai, meski hanya bayang-bayang kabur yang bersembunyi. Ku tahu pada akhirnya untuk benar-benar mencapai titik itu, ego harus benar-benar tertundukkan, yang sebenarnya merupakan hal yang jauh lebih sulit dari mengubah peradaban, bahkan dapat dikatakan yang tersulit dari yang tersulit, sebagaimana melakukannya adalah jihad terbesar, sebagaimana ego adalah musuh insan terbesar, sebagaimana ego menjadi perantara awal hawa nafsu untuk termanifestasi. Ku bahkan terkadang sering terbawa hanyut atas pertanyaan sendiri va, ketika melihat orang-orang yang menampilkan dirinya secara gamblang ke publik, dalam bentuk apapun, karena ku penasaran atas apa yang ada dalam hati mereka. Apakah aku yang begitu lemah dalam menundukkan ego sehingga setengah mati sampai sekarang jatuh bangun tidak bisa kemana-mana karena begitu takutnya aku atas dominasi ego atas diriku, atau memang sebagian besar orang itu tidak menyadari, tidak peduli, atau bahkan dengan sengaja submisi diri pada ego dan harga diri?
Entah va, entah.
Beberapa orang bahkan mulai menyindirku atas keterasinganku dengan media sosial. Bukan hal yang baru sih, namun sekarang media sosial terutama Instagram menjadi sangat dominan, bukan sekadar area main sebagaimana facebook dahulu, tapi juga sebuah realita alternatif. Orang dengan keterjangkauan jaringan di media sosial yang luas bahkan memiliki istilah sendiri, yang sampai sekarang membuatku tak habis pikir siapa yang memulai menciptakan istilah demikian. Semua ini bahkan tidak menyelesaikan apa yang menjadi sumber penghambat karyaku yang terbesar: ego. Ku memang semakin seperti terasing, tapi aku pun tidak menemukan alasan kuat untuk bisa memasuki area publik. Ya, karena bayarannya terlalu besar. Bagiku sebesar apapun dampak yang bisa ku hasilkan melalui publisitas, tetap tidak bisa menandingi resiko yang ditimbulkan ketika egoku tumbuh dari sana. Ego tidak bisa diremehkan va, tidak bisa. Bagi yang menyadari betapa berbahayanya entitas itu, mungkin akan mengalami ketakutan yang sama. Semua hasrat harus melalui ego untuk bisa termanifestasi, sehingga ego yang tidak tertundukkan hanya akan membuat kita jadi budak hasrat. Orang-orang mengira hanya karena kita bisa membangun alasan yang rapih, logis, terstruktur, meyakinkan dan lain sebagainya, lantas kita bisa lepas dari ego. Padahal, pikiran memang ahlinya membangun justifikasi. Lebih tepatnya, itu hal utama yang dilakukan pikiran kita sehari-hari, membangun penjelasan dan narasi atas segala hal yang masuk ke dalam indra. Kalau kita bisa menundukkan ego, kita tidak butuh justifikasi, kita melakukan sesuatu as is, tanpa alasan, hanya dorongan murni dari apa yang perlu dilakukan. Akan tetapi, tentu, ini kondisi yang sangat ideal, sebagaimana orang bijak juga tidak banyak ditemukan dalam setiap era.
Meskipun tentu ku masih bisa menulis tanpa harus mencemplungkan diri dalam publisitas, semua ini pada dasarnya justru menjadi penekan motivasi. Pergeseran moda dalam konteks realitas digital ini menciptakan keraguan berikutnya dalam diriku atas signifikansi tulisan dalam versi aksara mentah. Ku bahkan sempat mencoba untuk menulis di Quora sebagai media baru, atau kemudian sekarang di LinkedIn. Akan tetapi, setiap media tersebut pada akhirnya memiliki pasarnya masing-masing, yang membuat aku pun harus menyesuaikan lagi ketika memang ingin menuangkan tulisan ke sana. Khusus untuk Quora, bahkan itu secara spesifik memang untuk menjawab pertanyaan yang ada di sana, sehingga secara langsung membuat ku berorientasi keterbacaan, meski kemudian sistem di Quora akan dengan mudah menyingkrikan jawaban-jawaban yang bagus tapi tidak menarik. Pikiran pragmatis sebenarnya akan dengan mudah mengarahkan pada penyerahan diri pada tren apapun itu bentuknya. Seperti membungkus tulisan dalam kutipan singkat ala ala konten media. Tapi, to what ends? Bukankah kita kembali ke awal? Mengikuti tren hanya agar terbaca justru adalah hal yang sangat ku hindari, meski sebenarnya ku tahu, ku tak bisa berlama-lama seperti ini. Tapi menundukkan ego bukan jalan yang mulus. Untuk belajar Tasawuf aja, sebagaimana ku yakin Tasawuf menyediakan penunjuk jalan kesana, semangatku kembang kempis, tersiksa oleh betapa rumitnya Tasawuf dan praktiknya. Pada akhirnya ku pun terdistraksi, maju mundur pada arah yang semakin tidak jelas. Di satu sisi ku sangat ingin segera memberi manfaat, memberi dampak, berperan sesuatu, di sisi lain ku tak mau melakukannya dengan ego, namun menundukkan ego butuh penempaan diri yang fokus, sabar, dan konsisten. Sementara itu interaksiku dengan dunia terus menyuburkan rasa ingin tahu, sedangkan menuruti semua penasaran itu membawa pada hasrat besar untuk menindaklanjuti apa yang terlanjur diketahui, melalui berbagai tindakan dan aksi nyata. Tapi, itu berarti kembali ke awal, karena terasa mustahil berusaha memberi manfaat tanpa memikirkan ketersampaian manfaatnya. In the end, aku bertahun-tahun hanya berputar-putar pada lingkaran semu ini. Semua jalan terasa perlu untuk ditempuh, sementara melakukan yang satu akan menepiskan yang lain.
Tarikan segala arah ini terkesan sederhana. Namun realitanya, tarikan-tarikan ini menjadi sebab utama aku tak pernah bisa melakukan 1 hal pada 1 waktu, menjadi sebab aku tak pernah bisa mengatur waktuku secara rigid, dan menjadi sebab fokus is not really my thing. Mengetahui potensi simpang siur kecerdasan buatan (AI) dalam peradaban manusia membuatku ingin belajar AI, dan belajar AI membuatku ingin melakukan sesuatu terkait perkembangan AI, terutama karena aku punya basis filosofis yang kemudian bisa melihat AI dari dua sisi. Memahami secara dalam ilmu matematika membuatku ingin terus menggali ke fondasi matematika, membuatku ingin membongkar misteri dan rahasianya, terutama terkait kebenaran logika sebagaimana matematika menjadi representasi paling idealnya. Memahami ilmu fisika cukup dalam, hingga ke wilayah-wilayah yang menggelitik pikiran seperti argumen semesta holografis, teori medan kuantum, prinsip antropis, dan berbagai hal lainnya, membuatku ingin benar-benar memahami ilmu ini secara utuh dan kemudian bisa mengekstrak implikasi filosofis, terutama metafisis, darinya. Hal yang sama berlaku pada sejarah, kosmologi, ekonomi, filsafat, psikologi, dan lain sebagainya yang juga ku pelajari dalam level tertentu karena penasaran. Semuanya menginduksi hasrat untuk menindaklanjuti pengetahuan yang sudah dimiliki, tapi ku tahu semuanya butuh waktu dan jelas waktuku terbatas. Bukan berarti aku rakus, tapi secara abstrak semua terhubung dalam pikiranku, yang membuatku merasa mempelajari semua hal itu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ultima secara lebih komprehensif. Belum lagi dalam posisiku sebagai muslim, dan lingkungan baruku di dunia pemikiran Islam, membuatku ingin mengoneksikan semua itu dalam suatu kerangka berpikir lengkap, yang at least bisa membantu menjawab beberapa pertanyaan dasar juga terkait solusi untuk berbbagai permasalahan umat. Ku selama ini merasa semua bidang punya narasinya sendiri-sendiri, tanpa ada penghubung yang jelas, membuat setiap gerakan atau jawaban terisolasi dan terkotak-kotakkan. Apakah ilmuku yang belum cukup atau memang demikian kenyataannya, dua-duanya tetap mengharuskanku untuk terus belajar, dan well I’m overwhelmed va! Too much to think. Dan semuanya menarikku untuk melakukan sesuatu, sementara I know very well bahwa aku butuh untuk mundur dulu dan menenangkan egoku sebelum bisa melakukan sesuatu, sedangkan ego sendiri tidak bisa ditundukkan dengan semua hasrat yang bergejolak tak henti. Mengerti sekarang betapa itu tidak sederhana bukan va?
Mungkin, masalahnya ada pada ketidaksabaranku, pada semua jalan tersebut. Ku tidak sabar dalam menempa diri, ku tidak sabar dalam mencoba memberi manfaat, dan ku tidak sabar dalam memuaskan rasa ingin tahu. Membingungkan memang va. Entah kenapa ku selalu terasa seperti terkejar sesuatu. Pada titik tertentu, ku merasa memang tarikan dari kesuksesan orang lain seperti membakar hatiku, di titik lain, ku merasa seperti hanya terbawa hasrat singkat aktualisasi diri. Setiap kali ku lihat orang lain meraih sesuatu, ku selalu merasa ku harusnya bisa juga, dan bahkan lebih baik, jika aku memulai dan mencoba. Tapi, kau bisa tebak. Ya, ku tidak suka hal seperti itu. Hingga akhirnya berujung pada total comma. Seperti kepanikan yang berlebih justru berujung kaku. Penaku terangkat, dan semakin lama tintanya hilang. Ironis memang. Hingga akhirnya here I am, 2 tahun tidak melakukan banyak hal kecuali melakukan apa yang perlu dilakukan, dengan idealisme lama yang semakin pudar. Tentu saja sebenarnya 2 tahun ini ada hal lain yang ku hasilkan, tapi bukan hal yang benar-benar ku banggakan, hanya menjadi orang normal, yang mengejar karir, kapabilitas dalam hal teknis, keterampilan-keterampilan baru, dan lain sebagainya. Aku bisa saja fokus excellence dalam hal-hal ini, karena pada akhirnya aku benar-benar melakukan akselerasi besar-besaran dalam memasuki lebih dalam lautan manis teknologi yang menghanyutkan, merasakan bagaimana orang-orang terlena mengejar kemajuan atas nama profesionalitas, kesuksesan hidup, pembangunan, dan jargon-jargon lainnya.
Lihatlah va, dalam 2 tahun ini aku menguasai data science, machine learning, software development, sampai cloud computing. Aku bahkan yang latar belakangnya matematika dalam satu tahun berhasil publikasi 6 paper berbeda di bidang teknis. Aku bisa saja terus seperti ini, mendaki karir profesionalitas yang akhirnya bisa membawaku pada ketenaran kemajuan dan kesuksesan. Tapi sekali lagi my friend, to what ends? Semua ini sebenarnya bila dilihat dalam kacamata yang lebih berjarak, hanya sebuah fatamorgana semu dalam kekosongan makna peradaban itu sendiri. Semua kemajuan ini tidak berdiri di atas apapun, melayang dalam hasrat dingin berbalut mimpi-mimpi palsu kemanusiaan. Meskipun pada akhirnya, aku merasa cukup terengah-engah, tertatih-tatih, terlepas dari menyenangkan atau nyamannya hal tersebut, karena aku seperi memburu bayang-bayang yang tidak akan pernah terkejar. Ironinya, yang namanya bayangan, mau kita diam atau berlari, ia tetap berada di sana. Mungkin seperti itu lah peradaban saat ini. And pada puncaknya, ku sekarang berhenti hanya untuk menyadari, aku tidak kemana-mana, selain mengalienasi diri. Ku seperti begitu saja naik suatu transportasi tanpa tau tujuan akhirnya apa, hanya untuk linglung ketika berhenti di suatu stasiun, dan bertanya “where am I?”
Somehow, banyak rangkaian kejadian yang membawaku secara perlahan ke jejak-jejak diriku yang lama. Membaca tulisan-tulisan lamaku, mengurai karya-karya lamaku, membongkar berkas-berkas lamaku, hanya untuk merasa terasingkan, seakan itu semua milik orang lain, yang bisa berbicara luas akan semesta dengan segala kompleksitasnya. Sementara aku satu tahun ini hanya berpikir bagaimana caranya teknologi-teknologi dapat diutilisasi dan diberdayakan untuk hajat peradaban, berbalut ego atas kapabilitas diri. Aku menjauhi tulisan karena ketakutan atas ego, hanya untuk menumbuhkan ego di tanah yang lain. I hate that. Dalam pikiranku sebenarnya telah terbangun berbagai justifikasi atas fakta tersebut, namun itu tidak mengubah ironi yang terkandung di dalamnya. Entah lah, semakin aku menulis ini semakin terlihat sendiri bahwa masalahnya pada akhirnya ada pada diriku sendiri. Tapi memang bukankah dasar masalah dari setiap orang adalah dirinya sendiri?
Mungkin memang ini tantangannya menjadi seorang generalis, bagaimana secara adil mengatur semua pembelajaran, sehingga teroptimalkan bahkan sampai pada aktualisasi. Bukan hal yang mudah, apalagi di era badai informasi selayaknya saat ini, dimana pengetahuan apapun berserakan tinggal menanti untuk dipungut. Abundance of information means no information, kata seseorang. Secara esensial ukuran suatu informasi ditentukan dari peluang mendapatkan informasi tersebut, atau sering disebut dengan entropi. Semakin langka suatu infomasi, semakin informatif ia. Ku membayangkan polymath di masa lampau bisa dengan serius dan sabar mendalami dan merenungi satu per satu bidang ilmu ketika akses yang dimilikinya hanya beberapa buku atau beberapa tokoh untuk diajak diskusi. Informasi masih pada level yang sangat mungkin untuk ditata. Sekarang, butuh energi dan ketahanan diri yang luar biasa untuk bisa menata informasi dan pengetahuan secara general dalam tsunami informasi yang menerjang tak berhenti. Menjadi generalis di sini yang ku inginkan pun tidak sekadar handal dalam berbagai bidang ilmu, namun bisa mengoneksikan semuanya dalam suatu kerangka berpikir yang holistik dan integratif, abstrak dan filosofis, sehingga bisa melihat segala sisi secara adil tanpa terkeucali. Penyelesaian untuk permasalahan umat pada akhirnya tidak bisa hanya melalui solusi-solusi parsial terpisah pada beberapa bagian dan aspek saja, namun harus secara utuh dalam jaring-jaring kesatuan yang terhubung kompleks satu sama lain.
Tapi, bukankah itu sangat melelahkan? Ku terkadang sangat sangat sangat khawatir ku hanya menjadi seperti apa yang sering dikatakan oleh mentorku terkait minyak yang tumpah di lautan. Beliau berkali-kali, tanpa bosannya selalu mengangkat hal tersebut, terutama terbungkus cantik dalam pepatah Berburu ke padang datar mendapat rusa belang kaki, berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi. Tentu itu bukan sebuah larangan untuk belajar banyak hal sekaligus, namun sebuah peringatan untuk tidak setengah-setengah menempuh setiap jalan pembelajarannya. Maka ketika aku belajar fisika, psikologi, matematika, teknologi, dan lain sebagainya, jangan sampai hanya “cukup tahu”, namun harus sampai ke inti dari ilmu tersebut, agar koneksi yang tercipta utuh dan esensial. Mentorku pernah juga mengatakan bahwa kalau kita belajar ilmu sampai ke intinya, itu ibarat menggali ke pusat suatu lingkaran, yang darinya kemana-mana akan lebih mudah. Berbeda dengan hanya menggali pada berbagai titik di permukaan tapi tidak pernah benar-benar dalam, maka pemahaman kita pun akan sangat parsial. Di sini letak tantangannya pada akhirnya, tamparan keras bagiku yang sangat tidak sabaran dan mudah bosan dalam belajar.
Ku ingat betapa aku mudah sekali loncat dari belajar satu hal ke belajar hal lain murni karena otakku yang terllau terbiasa berpikir pararel sehingga mudah jenuh atas montonositas suatu hal. Tantangan berikutnya juga tentu saja masalah penataan waktu yang harus super, karena ini ibarat kuliah berpuluh-puluh SKS sekaligus, belum di tambah rutinitas wajib seperti S3, kerja, dan mengurus keluarga, belum di tambah berorganisasi dimana posisiku di Shuffah Institute semakin membutuhkan perhatian lebih. Itu baru mengatur untuk belajarnya! Untuk bisa menulis, berkarya, menciptakan sesuatu, itu butuh waktu tambahan Va. Bayangkan betapa aku terkadang lebih memilih untuk menjalani semuanya apa adanya tanpa pengaturan waktu yang rigid, karena dengan banyaknya yang harus dilakukan, fleksibilitas waktu adalah jalan termudah. Ku ingat ketika beberapa waktu lalu pernah mencoba mulai menggunakan pengaturan yang rapih dengan bantuan aplikasi seperti Trello. Ujung-ujungnya, hanya untuk mengatur Trello itu sendiri butuh waktu yang lama, ketika itu harusnya jadi penunjang efektivitas. Memang old way terkadang lebih efektif. Ya, jika banyak yang heran kenapa aku tidak pernah punya catatan, ataupun buku agenda, atau semacamnya, karena ku lebih terbiasa menjadikan kepalaku sendiri software manajemen waktu. Semua tertata dalam kepala. Kekurangannya, ya sangat bergantung pada kondisi diriku. Ketika kepalaku malas berpikir, atau mudah lupa, maka buyar. Well, pada akhirnya, ini hanya akan menjadi tantangan baru bagiku.
Sudahlah. Hal seperti ini jika diteruskan maka akan mengarah kemana-mana. Maafkan aku va, surat ini pada akhirnya hanya caraku untuk membongkar yang ada dalam diri, lagi, setelah sekian lama sepi dari perenungan dan evaluasi.
Apa aku menjawab pertanyaannya?
Entah.
Pada realitanya jawaban atas hal tersebut merupakan gabungan berbagai faktor, yang sebagian di antaranya telah kau sebutkan di suratmu va. Waktu yang semakin sempit dengan kejaran S3 dan kerja, penyederhanaan pikiran dengan berkeluarga, rasa skeptis atas signifikansi tulisan, moda literasi yang terus bergeser, semakin sedikit membaca, pengaturan waktu yang butuh upgrade, overwhelmed atas apa yang dipikirkan, kebingungan atas media kepenulisan itu sendiri, tidak sabar dan mudah bosan, dan lain sebagainya. Bila disederhanakan, paling tidak intinya ada pada waktu yang ku alokasikan, baik untuk menulis ataupun membaca, dan pada motivasi dari menulis itu sendiri.
Penghambat lainnya juga dari kekangan moda menulis itu sendiri. Berada di dunia akademis dan masuknya aku ke lingkungan Sekolah Pemikiran Islam membuatku terdesak seakan semua tulisan harus disertai rujukan yang rapih. Jika kau ingat va, aku orang yang paling tidak suka merujuk, karena lebih senang memikirkan sendiri. Ya, itu juga salah satu alasan aku tidak terlalu suka banyak membaca. Tentu dalam aspek tertentu aku harus merujuk, tapi dalam hal gagasan, rujukan justru mematikan orisinalitas dari gagasan itu sendiri. Menulis sesuatu dengan merujuk sana-sini mengaburkan gagasan utama sang penulis. Tidak jarang ku temukan tulisan yang hanya merangkum rujukan, tapi nihil ide. Aku sendiri sejak dulu menulis justru untuk mengabadikan gagasanku, observasiku atas dunia. Aku tidak menafikan bahwa pikiranku mungkin terpengaruh oleh gagasan orang lain, karena itu mustahil dihindari, namun aku memastikan bahwa yang ku tuliskan tetap hasil sintesis dari apa yang kupikirkan. Apakah kemudian hasil pikiran itu sama dengan suatu gagasan orang lain, itu tidak masalah. Aku lebih bangga berpikir sendiri dan kemudian menemukan bahwa hasil pikiran itu sama dengan hasil pemikir lain, daripada dari awal mengetahui hasil pemikir lain tersebut. Gagasan itu lahir melalui proses. Kalau kita peduli hanya pada produknya, maka kapabilitas kita dalam membangun gagasan tidak pernah bisa terlatih. Ku ingat ketika suatu ketika aku berusaha keras memetakan masalah umat dengan suatu pohon masalah, seseorang mengritikku dengan merujuk bahwa pemikir A sudah melakukannya dan hasilnya serupa. Justru, itu membuatku bangga dan puas karena berarti aku menyamai kapabilitas berpikirnya. Mungkin orang-orang mulai kurang menghargai proses. Menganggap pengetahuan itu sendiri cukup ketimbang proses untuk bisa menemukan pengetahuan itu. Ku ingat seseorang pernah berkata, sekarang jarang ada filsuf, yang ada ahli filsafat, yang kerjaannya merujuk sana-sini filsuf terdahulu, tanpa punya pemikiran sendiri.Kebiasaanku untuk menulis tanpa merujuk ini menyulitkan juga ternyata ketika seakan ada tuntutan informal bahwa tulisan harus bereferensi. Lagipula, itu tergantung pada produk tulisan yang ingin dibentuk. Ku bisa saja bertahan pada tulisan bebas, ala ala monolog, prosa, atau opini, toh tuntutan ini datang dari satu arah sih sebenarnya, yakni ku merasa bahwa aku juga harus jadi intelektual di bidang lain, seperti pemikiran Islam. Sedangkan, di bidang lain, ku lebih banyak berpikir dan belajar “serabutan” ketimbang seperti aku belajar matematika atau fisika yang sifatnya eksak. Apalagi, dalam aspek yang umum seperti isu sosial dan kemanusiaan, masalah ideologi, dan semacamnya, aku lebih banyak berpikir sendiri ketimbang membaca pemikiran orang lain. Hingga akhirnya dilema itu muncul dan menjadi penghambat sendiri. Ketika aku mau menulis, ku terpaku pada moda tulisan akademis yang rigid, ketika dalam hal gagasan umum, aku terbiasa menulis lepas. Menulis akademik sendiri bukan masalah bagiku dengan aku yang sudah S3 dan menjadi dosen. Hanya saja, ya itu tadi.
In the end, ketika kemarin-kemarin ku baca tulisan-tulisan lamaku, aku yang sekarang justru merasa terdevolusi, dalam keheranan sendiri atas apa yang ssebenarnya sanggup ku tuliskan di masa lampau. Ku berusaha untuk bangkit lagi. Ku ingin kembali, tapi ku hanya masih belum menemukan tintanya, yang terlanjur lenyap oleh kebekuanku. Ketika sekarang ku ingin memulai kembali, ku terdampar dalam kebingungan atas langkah pertama. Tentu aku masih menyimpan “to-write-list” yang terakhir ku perbarui 2 tahun lalu, tapi feelnya belum ada. Well, feelnya ada, apalagi setelah aku menulis panjang surat ini, namun tetap tidak seperti dahulu, dimana menulis jadi seperti bernapas bagiku. Ya, mungkin seperti halnya tubuh yang kaku setelah bangun tidur, bukan berarti tubuh tersebut mengalami penurunan kualitas dari sebelum tidur, tapi hanya butuh dipanaskan sedikit yang biasanya perlu paksaan.
Well, begitulah va. Perjalanan kepenulisanku agak sedikit aneh memang. Ku bahkan masih merasa tidak pantas disebut penulis karena entah ada pembacanya atau tidak. Ku harus kembali ke dasar bahwa menulis adalah untuk kebutuhanku sendiri, kebutuhan untuk menata pikiran dan pengetahuan. Ketika kemarin ku sempat mencoba mencari moda alternatif untuk kebutuhan itu, yakni dengan membuat podcast, tetap ada sense yang berbeda, meskipun memang podcast memiliki kelebihan lain. Berbicara langsung itu membuat semua keluar dengan lebih mengalir tanpa harus dipikirkan. Wajar saja, kelisanan memang bersifat lebih langsung dan spontan ketimbang literasi. Akan tetapi, justru karena terlalu spontan itu, tujuan penataan pikiran jadi kurang tercapai. Aku pun mempertanyakan sekarang apakah dengan mulai menulis lagi podcastnya berhenti. Yang sebaliknya pernah ku pikirkan, bahwa aku berhenti menulis saja dan cukup buat podcast. Tapi…, ya banyak alasan lain yang membuat moda podcast tidak akan bisa menggantikan tulisan. Mungkin aku akan coba mempertahankan dua-duanya, karena well, karya tidak perlu dibatasi bukan? Selagi masih bisa bicara dan mengegrakkan jemari di atas keyboard, kenapa tidak. Ini pada akhirnya fase baru, yang perlu ku rumuskan ulang, termasuk posibilitas aku untuk membuat media sosial. Itu butuh perencanaan matang. Karena pilihan seperti itu pertaruhannya ada pada perjuanganku perang melawan ego. Pertaruhan yang resikonya terlalu besar. Orang-orang bisa menyepelekan hal tersebut, tapi aku tidak bisa membiarkan, selagi aku sadar, ada hal yang ku lakukan dengan noda ego walau hanya sedikit. Ku harus keras memang, ini sambil memulai kembali secara serius perjalananku menyucikan diri, sebagaimana perjalanan ini berkali-kali naik turun, mengingat betapa rumitnya khazanah Tasawuf dan betapa kerasnya penempaan diri untuk mencapai hakikat, tapi, well, ku hanya bisa terus berusaha selagi bisa.
Sudahlah, ini sudah terlalu panjang va.
Terima kasih sudah mengingatkan berkali-kali. Teirma kasih juga sudah menjadi teman abstrak setia yang menemani pikiranku. Dan terima kasih sudah mendengarkanku kali ini.
Salam,
Finiarel
Hening.
Selama beberapa saat, pikiranku seperti vakum di semesta dalam, jauh dari kluster galaksi apapun, gelap dan kosong, sementara di kejauhan ada kilau-kilau redup cahaya berserakan. Sesaat, pikiranku seperti hidung yang telah lama menyimpan mucus dan akhirnya bersin, merasakan suatu kelegaan tersendiri, namun tetap mengandung hal tanggung. Entah berapa lama ku dalam momen seperti ini. Dentang melodi “The day when my mother was there” dari perangkat suara yang menempel di telingaku, yang tadi sempat ku pasang di tengah menulis untuk mengorkestrasi pikiran agar lebih terkonsentrasi, seperti hanya lewat begitu saja, menjadi latar ambiens yang meredup dan menyatu bersama hening, tidak sedikitpun membuat pikiranku bergeming dari kondisinya. Entahlah.
Hening.
Hening.
Kondisi itu akhirnya lepas sendiri tanpa sebab musabab. Entah apa yang ditunggunya sedari tadi, ku tak mengerti. Hela napas cukup untuk mengakhiri itu secara tuntas, menyisakan adonan sensasi yang aneh dalam kompleksitas hubungan pikiran dan hati, menyerupai determinasi namun seperti tidak sepenuhnya jadi. Masih banyak yang melekat dalam pikir, campur aduk memori, yang maju mundur tadinya untuk tertuliskan atau tidak. Mungkin akan rumit untuk mengeluarkan semua, tapi anggap saja ini cukup, paling tidak untuk langkah selanjutnya.
Hening.
Ku tak bisa berpikir jauh lagi. Tanpa proses yang melatarbelakangi, ku memilih langsung menutup laptop, dan beranjak pergi, entah ke dunia mimpi, atau langsung ke dunia esok hari.
(PHX)