Dunia Pasca Sains: Menelisik Posisi Sains di Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan
Menelisik posisi sains di masa lalu, masa kini, dan masa depan
Pada setiap detik di era ini, selalu ada ribuan atau lebih manusia menggunakan berbagai gawai dan instrumen terkoneksi jaringan internet untuk beraktivitas. Hampir tidak ada aktivitas manusia secara publik saat ini yang tidak membutuhkan jaringan internet. Dalam titik seperti ini, manusia sudah tidak dapat lagi memiliki bayangan sedikitpun mengenai bagaimana hidup tanpa adanya semua instrumen-instrumen itu, tanpa kendaraan, tanpa listrik, tanpa telepon, tanpa internet, tanpa teknologi. Manusia sudah begitu meleburkan teknologi bersama kehidupannya sehingga teknologi seakan menjadi background dalam keseharian, begitu wajar sebagaimana sinar matahari dan hujan rintik-rintik. Tak banyak yang menyangka, dibalik semua eksistensi fisik teknologi yang menjamur hampir ke semua sektor, ada entitas bernama sains yang menyangga dan menjadi pijakan kasat mata.
Berbicara mengenai teknologi saat ini sudah seakan berbicara mengenai hal yang benar-benar berbeda dari sains. Sains seringkali hanyalah konsep yang dibenturkan dengan pencarian kebenaran, dan dengan itu, agama. Sains hanyalah dianggap sebagai sekumpulan teori yang berbicara mengenai semesta dan fenomena, sehingga satu-satunya pengaruh sains dalam kehidupan manusia adalah bagaimana manusia itu sendiri melihat dan memahami alam. Ujung-ujungnya, ini menjadi hanya masalah kepercayaan, dan sebagaimana sekularisasi yang meluas, kepercayaan hanyalah wilayah privat dan tidak akan mengubah bagaimana mekanisme pasar bekerja atau bagaimana pemerintah menetapkan kebijakan. Apa artinya mengetahui umur alam semesta, atau memahami terjadinya supernova, atau mengetahui apa yang membentuk kesadaran? Bagaimana sebenarnya posisi sains saat ini dan ke depannya? Apakah sejak dulu seperti demikian? Sains bukanlah sebuah entitas yang sederhana, maka kita perlu melihatnya dengan lebih seksama.
Meninjau Sains Masa Klasik
Sains bukanlah konsep yang well-defined. Ia punya beragam arti bergantung konteks. Ruang lingkup sains itu sendiri dilematis, karena ia bisa mencakup hampir semua aspek di alam semesta. Bila kita lihat secara historis pun, sains baru mulai populer digunakan pada abad ke-19. Sebelum itu, ilmu dilihat dalam satu kesatuan yang belum banyak dikategoriasasi dalam suatu struktur pengetahuan yang jelas. Saintis atau ilmuan bukanlah suatu profesi khusus dalam masyarakat, namun merupakan pekerjaan sampingan dari orang-orang yang ingin memuaskan rasa ingin tahunya, dan dengan itu ilmu berkembang meskipun lambat. Dalam hal ini, penulis menyebut ilmu, sebagai konsep yang lebih general dari sains, sebagai segala bentuk aspek kesadaran kognitif manusia dalam mengolah semua informasi yang ia tangkap melaui indranya.
Memang, bila kita tarik mundur jauh ke pra-klasik, ketika peradaban pertama muncul di Mesir, Cina, dan Babilonia, ilmu seringkali berada di wilayah sakral kalau tidak praktikal. Di wilayah sakral, ilmu didasarkan pada pengamatan yang dinarasikan bersama mitologi atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat untuk kemudian menjadi suatu standar kebenaran tertentu yang harus diyakini. Adanya wilayah sakral ini muncul disebabkan belum adanya metodologi penentuan kebenaran objektif tertentu. Kebenaran masih berada dalam suatu otoritas, dimana otoritas ini bisa berupa petinggi keagamaan atau kerajaan. Hal ini juga dipengaruhi masih tingginya kesenjangan dalam hal literasi di awal terbentuknya aksara, dimana akses terhadap tulisan hanya dikhususkan pada elit-elit tertentu.
Di wilayah praktikal, ilmu digunakan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan tertentu dari aktivitas bermasayarakat manusia. Ilmu dalam konteks ini pun bisa dikatakan sebagai keterampilan yang berkembang secara bertahap melaui kumpulan pengalaman kolektif masyarakat. Keterampilan manusia dalam melelehkan logam (besi dan tembaga) untuk menciptakan instrumen atau perkakas tertentu menjadi ilmu sendiri yang berkembang. Di atas narasi ini, ilmu abstrak seperti matematika dasar (geometri dan aljabar) juga turut berkembang dari kebutuhan untuk melakukan perhitungan sederhana dalam perdagangan ataupun pengukuran bangun tertentu.
Pengetahuan kognitif manusia melebur bersama aktivitas-aktivitas keseharian manusia, baik yang sifatnya mistis maupun praktis. Di wilayah mistis, pengetahuan ini secara terus-menerus direproduksi bersama dengan narasi-narasi yang berkembang di masyarakat. Ia tidak akan banyak mengalami banyak perubahan, apalagi mengingat proses reproduksi narasi pengetahuan ini dilakukan melalui otoritas tertentu, yang notabene memiliki kedudukan lebih tinggi ketimbang masyarakat. Akan tetapi, di wilayah praktis, setiap kali pengetahuan akan suatu keterampilan tertentu berhasil berujung pada suatu invensi atau penemuan perkakas tertentu. Penggunaan perkakas ini dalam keberjalanannya akan mempengaruhi pikiran dan bisa memicu penemuan lain. Ketika manusia berhasil menemukan roda, maka penemuan kendaraan yang ditarik oleh hewan atau penemuan tenaga giling dengan menggunakan aliran air akan mengikuti, dan seterusnya. Proses ini terjadi secara siklis dan terus menerus membangun satu per satu bangunan pengetahuan manusia, meski masih dalam ranah keterampilan praktis. Dalam hal ini, ilmu secara implisit berkembang.
Hingga era klasik peradaban Yunani, ilmu dalam wilayah mistis masih cukup kuat mendominasi kepercayaan atau keyakinan masyarakat dalam tiap peradaban. Ketika kemudian para pemikir di jazirah Yunani bermunculan sekitar abad ke-6 SM, ilmu yang melebur bersama mitologi ini digugat dan direkonstruksi kembali melalui pengamatan yang lebih serius. Berbagai ajuan mengenai cara kerja semesta pun bermunculan, dari bagaimana setiap benda tediri dari 4 elemen, hingga bagaimana setiap fenomena memiliki 4 macam kausa atau penyebab yang mendasari. Dewa-dewa disakralisasi menjadi hanya dongeng anak-anak, dan manusia mulai diangkat menjadi pusat perhatian dan keagungan. Manusia mulai sedikit mengenal objektivitas, tentang mengenai generalisasi konsep suatu fenomena tanpa narasi searah. Diskursus berkembang, dan demikian juga ilmu sebagai satu keutuhan pengetahuan. Aristoteles melalui Organon(Ὄργανον)-nya mulai menciptakan struktur-struktur dan dengannya logika dan kategorisasi pengetahuan sebagai instrumen pikiran. Plato mengembangkan akademia (Ἀκαδημία) dan gagasan atas semesta dibicarakan dalam satu diskursus. Bukankah semesta seharusnya menerapkan aturan-aturan yang sifatnya universal?
Setelah tumbuh subur sebagai pusat gagasan dan pengetahuan, perang dan perebutan kekuasaan membuat intelektualitas Yunani klasik mengendap dan terkubur sebelum akhirnya bergeser ke peradaban Islam pada abad ke-7 M. Sitasi-sitasi terhadap karya-karya pemikir Yunani bermunculan pada literatur intelektual muslim, namun dalam koridor aqidah yang diperbolehkan. Gagasan yang bersifat metafisis dikritik dan ditolak, sedangkan gagasan yang bersifat fisis dan realistis diserap untuk dikembangkan, terutama di bidang matematika, teknik, dan kedokteran. Basis pengembangan ilmu dalam khazanah islam adalah mencapai manfaat sebesar-besarnya untuk kehidupan bermasyarakat di dunia maupun untuk bekal sebagai hamba di akhirat, sehingga jelas ilmu pun lebih terarah pada optimalisasi utilitas ataupun fungsionalitas yang bisa ditarik dari ilmu-ilmu abstrak ke wilayah konkrit. Selain itu, terkuasainya wilayah timur dekat oleh peradaban Islam membuka ruang interaksi dengan peradaban cina yang memiliki perkembangan cukup relatif lebih maju. Kehidupan intelektual yang cukup subur di peradaban islam ini bertahan hingga abad ke-11 dimana perang salib dari barat dan serangan Mongol dari timur memberi pukulan cukup keras pada peradaban Islam sehingga perkembangan ilmu terhambat hampir di seluruh dunia dan kita mengenal masa ini sebagai era kegelapan. Memang, peradaban islam tidaklah sepenuhnya mati, namun pertumbuhannya tidak sepesat masa sebelum perang salib.
Secara general, kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan masa pra-klasik dipengaruhi oleh kebutuhan praksis ketimbang sekadar rasa ingin tahu. Ilmu adalah bagaimana manusia bisa memaksimalkan hidup dan aktivitasnya. Hanya ketika kemudian kaum pemikir Yunani klasik berontak dari mitos dan mulai mencoba mempertanyakan, ilmu mulai bergerak ke wilayah fundamental dan abstrak, dan ilmu diposisikan sebagai ukuran kebijaksanaan dan kesadaran lebih. Manusia sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan kognitif memproses ilmu pun mendapat kedudukan khusus dalam perhatian paradigma pemikiran Yunani klasik. Pergeseran pusat perkembangan ilmu ke peradaban islam selanjutnya membawa pemikiran Yunani untuk lebih membumi dengan arah eksplorasi yang lebih menekankan pada utilitas yang memberi manfaat berdasarkan syariah Islam. Ilmu hanyalah media manusia untuk menghamba, untuk bisa melaksanakan tugasnya sebagai khalifah secara maksimal, dan untuk memahami ayat-ayat Allah di semesta.
Aufklärung dan Determinisme Sains
Setelah abad ke-12, Ilmu pengetahuan mengalami stagnansi cukup lama sebagai akibat dari otoritas tinggi yang punya kuasa cukup luas (Gereja Katolik dan Mongol). Di Barat, kebenaran terkait fenomena alam harus mematuhi interpretasi Gereja Katolik terhadap Alkitab, sehingga apapun yang berlawanan dengan itu akan dianggap sesat dan menyalahi aturan Tuhan. Di Timur, nafsu kesukuan Mongol untuk memperluas kekuasaan memberi hambatan tersendiri perkembangan sains. Di tengah, peradaban Islam yang sudah cukup lelah oleh perang Salib dan invasi Mongol, ditambah dengan permasalahan internal kekhalifahan, memberi penurunan signifikan dalam berbagai aspek kejayaannya. Pada masa-masa ini, catatan-catatan ilmiah pun sangat sedikit bisa ditemukan.
Staganansi dalam hal perkembangan ilmu yang terjadi hampir di seluruh dunia ini bertahan dalam jangka waktu yang sukar untuk diukur. Para sejarawan cenderung menjadikan abad ke-15 dan 16 sebagai titik berakhirnya kegelapan ilmu pengetahuan yang ditandai dengan hadirnya Renaissance. Akan tetapi, meskipun renaissance terjadi di Eropa, atau lebih tepatnya Italia, ia sendiri dipengaruhi oleh begitu banyak faktor yang terakumulasi dalam kurun waktu yang tidak singkat. Terlepas dari kontroversinya, renaissance memicu kebangkitan intelektual di Eropa dalam semangat untuk mengangkat kembali karya-karya pemikiran Yunani klasik. Sebagaimana dibahas sebelumnya, semangat pemikir Yunani, khususnya dalam masalah perkembangan ilmu, adalah penolakan kengkangan otoritas tertentu dalam penentuan kebenaran mengenai semesta, yang pada saat itu direpresentasikan oleh narasi-narasi mitologi yang diyakini masyarakat. Dalam konteks renaissance, kengkangan otoritas ini direpresentasikan oleh kekuasaan Gereja Katolik di Eropa. Dalam semangat ini, pencarian atas kebenaran dikembalikan kepada setiap subjek berpikir, dimana dalam hal ini adalah setiap individu. Segala bentuk otoritas di luar diri tidak berhak untuk menanam kebenaran dalam bentuk apapun sebelum diri itu sendiri yang memutuskan. Kaum pemikir Eropa pun mulai berteriak lantang Sapere Aude! (Beranilah berpikir!), dan lahirlah era yang mereka sebut sebagai Aufklärung atau pencerahan.
Ketika kebenaran dikembalikan kepada rasionalitas dan individu, maka bagaimana menemukan kebenaran kolektif, terutama terkait hal yang universal seperti hukum alam? Sampai aufklärung hadir, rutinitas perkembangan ilmu sebenarnya tidak akan lepas dari paling tidak dua hal: yakni pengamatan, eksperimentasi, dan rasionalisasi. Proses induktif pada dasarnya memang terjadi secara natural sebagai konsekuensi langsung adanya indera sensorik manusia. Manusia tidak pernah lepas dari proses mengamati. Adalah suatu tahap yang waajar dari pikiran manusia ketika beragam hasil pengamatan ini digeneralisasi melalui penemuan korelasi tertentu. Dan ketika generalisasi ini sudah dilakukan, maka sudah tentu, apalagi dalam wilayah praktis, untuk mengekestensi hasil generalisasi ini untuk berbagai objek lainnya, yang kita kenal sebagai eksperimen. Proses ini pada masa klasik terjadi secara terpisah dan tidak tersistemasi dalam sebuah metodologi yang rigid dan tunggal. Barulah kemudian pada era pencerahan, diinisiasi oleh Galileo Galilei, Rene Descartes, dan Francis Bacon. Ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda, namun sama-sama mengimplikasikan sebuah proses sistematis untuk mendefinisikan kebenaran dari fakta-fakta empiris.
Galileo, sebagai seorang akademisi, lebih secara eksplisit memperlihatkan metodenya dalam mengungkap faka-fakta ilmiah, dari mulai mengamati, baik secara langsung maupun menggunakan instrumen (seperti teleskop yang ia ciptakan sendiri), mengambil kesimpulan terhadap pengamatan itu melalui rasionalisasi induktif. Descartes sendiri lebih merupakan seorang filsuf yang mencetuskan yang secara radikal mempertanyakan seberapa kita bisa mengetahui apa yang kita ketahui. Descartes menginisiasi cabang filsafat yang dikenal sebagai epistemologi, yang pada masanya ia mencetuskan sebuah konsep bernama keragu-raguan radikal (radical scepticism / systematic doubting). Descartes menolak segala bentuk sumber kebenaran dari luar karena menganggap semuanya bisa penuh tipuan dan manipulasi, sehingga satu-satunya kebenaran pertama yang bisa diterima adalah fakta bahwa ia berpikir. Berangkat dari situ, yang ia cetuskan melalui 3 kata sederhana, cogito ergo sum, ia menyusun secara perlahan bagaimana kebenaran-kebenaran lainnya bisa diperoleh dari kebenaran awal tersebut. Francis Bacon, di sisi lain, merupakan seorang birokrat. Pendekatannya yang lebih bersifat praktis berawal dari pemahamannya yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan bisa membantu manusia untuk mengendalikan alam dalam bentuk teknologi. Hal ini membuat ia mengajukan sebuah konsep masyarakat ideal dimana dunia saintifik menjadi elemen krusial di dalamnya. Dalam konsep masyarakat utopis ini lah ia secara implisit menjelaskan pembagian kerja dalam metode pencarian kebenaran ilmiah.
Semenjak ketiganya, metodologi ilmiah terinstitusionalisasi dalam tahap-tahap yang lebih eksplisit. Perkembangan sains tumbuh pesat kembali tanpa hambatan. Ketika semua sudah dikembalikan kepada individu, apalagi yang bisa menghambat? Istilah sains pun mulai perlahan digunakan untuk mendefinisikan segala bentuk ilmu kognitif yang dapat diperoleh melalui metodologi ini. Satu generasi setelah Galileo, Descartes, dan Bacon, Isaac Newton menancapkan pijakan yang lebih kokoh dalam dunia ilmu pengetahuan. Selain bahwa ia merumuskan sebuah instrumen perhitungan yang luar biasa ampuh dan bernama kalkulus, Newton juga merumuskan mekanika klasik melalui 3 teori dasar, yang dengannya hampir seluruh konsep fisika klasik bisa diturunkan. Teori mekanika Newton mendefinisikan perilaku suatu sistem sepanjang waktu ketika diberikan suatu kondisi awal tertentu. Teori Newton begitu ampuh hingga muncul keyakinan yang sangat kuat atas determinisme sains. Paradigma deterministik ini memandang bahwa fenemona alam selalu terjadi secara pasti, dan selama kita mengetahui semua aturan yang ada di dalamnya, maka kepastian itu akan selalu bisa diprediksi. Bahkan, Pierre-Simone Laplace mengungkapkan secara eksplisit dan jelas pandangan ini dengan mengatakan bahwa selama kita bisa mengetahui seluruh kondisi awal semesta pada suatu waktu, dan bisa mengetahui seluruh aturan yang bekerja di dalamnya, maka perilaku semesta di masa depan akan bisa terlihat dengan jelas. Padahal, mekanika Newton, bersama dengan turunan-turunannya, sudah menjadi patokan aturan alam yang sangat teruji pada saat itu. Sains pun diagungkan dan dijunjung tinggi.
Terlebih lagi, bola salju perkembangan sains yang bergulir dari Newton mengarah pada penemuan teori listrik-magnet dan termodinamika, hingga akhirnya berujung pada penemuan mesin uap pada abad ke-18. Penemuan mesin-uap ini, menjadi pemantik lahirnya revolusi industri yang kemudian secara signifikan meningkatkan kualitas masyarakat Eropa. Sains kemudian menjadi simbol kemajuan masyarakat Eropa. Ia begitu sentral dan krusial hingga pada abad ke-18, kata sains begitu erat kaitannya dengan progress. Sains adalah tanda keagungan manusia, tanda kekuatan sesungguhnya kesadaran manusia, tanda superioritas manusia atas alam dan makhluk lain. Apa lagi yang tidak bisa manusia lakukan bila sains telah begitu ampuh menjadi abdi bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya?
Titik Balik: Marx, Einstein, dan Perang Dunia
Ya, semenjak Aufklärung, sains bagaikan Tuhan, atau mungkin lebih tepatnya, sains membuat manusia bagaikan Tuhan. Literally, hal ini memang terjadi karena salah satu semangat Aufklärung adalah penyingkiran otoritas di luar diri manusia dalam mengatur urusan manusia sendiri, atau dengan kata lain sekularisasi. Akan tetapi, semua berubah ketika abad ke-20 tiba.
Memang, dalam ranah teknologi, sains benar-benar telah memungkinkan manusia menciptakan beragam hal, dari percetakan hingga tekstil, dari bohlam hingga kendaraan bermotor. Hal ini juga mengukuhkan paradigma deterministik yang menganggap sains mampu untuk memprediksi semua fenomena di semesta ini. Akan tetapi, sering terlupa bahwa sistem masyarakat adalah sistem yang kompleks dan berjejaring saling mempengaruhi. Pengaruh perkembangan teknologi ini, yang pada abad ke-19 direpresentasikan dengan industri dan manufaktur, tidak sekadar hanya memberi kemudahan tertentu pada masyarakat, namun memberi efek domino panjang yang mempengaruhi dinamika masyarakat secara global. Termodinamika dan listrik mungkin seperti sebuah temuan sains sederhana, namun ketika diimplementasikan dalam dunia industri, keduanya meningkatkan produktivitas komoditas menjadi berlipat ganda. Produktivitas ini mengaktivasi pasar yang secara timbal balik akan menciptakan permintaan yang juga berlipat ganda. Mekanisme pasar akan secara natural memberikan keuntungan luar biasa kepada para pemilik industri. Sayangnya, industri yang semakin membutuhkan teknologi tinggi menjadi menciptakan eksklusivitas dalam kepemilikan faktor produksi. Yang tidak bisa memiliki faktor produksi hanya bisa menerima kenyataan bahwa ia hanya akan menjadi tenaga tambahan untuk membantu produksi orang lain ketimbang sebagai yang memproduksi sendiri. Hal ini menciptakan permasalahan ekonomi baru di sepanjang Eropa, dimana tercipta dua kelas masyarakat yang terpisah sebuah kesenjangan besar, yakni borjuis dan proletar.
Kesenjangan ini dalam keberjalanannya memperlihatkan ketidakadilan yang begitu jelas antara pemilik modal dan buruh. Kualitas hidup kaum buruh cenderung rendah dan seringkali tidak manusiawi. Beragam antitesis pun bermunculan untuk melawan ‘penindasan’ baru yang muncul atas nama industrialisasi ini, salah satunya adalah dari Karl Marx yang mana beliau mengajukan pemikiran yang cukup komprehensif mengenai bagaimana sejarah selalu terkait dengan pertentangan antar kelas, sebagaimana apa yang terjadi pada masa revolusi industri tersebut, dan setiap pertentangan hanya bisa diselesaikan melalui perjuangan kelas tertindas untuk meraih hak-haknya, hingga akhirnya tercipta masyarakat utopis tanpa kesenjangan kelas sama sekali.
Di era yang masih sama, seorang fisikawan bernama Albert Einstein memberi kejutan besar dengan mengajukan apa yang dikenal sampai sekarang sebagai teori relativitas. Teori ini sebenarnya hanya merupakan koreksi dari mekanika Newton, namun implikasi jauhnya ia memberi goncangan tersendiri kepada para fisikawan, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, teori relativitas memberikan paradigma yang benar-benar baru mengenai gerak inersia benda. Untuk pertama kalinya dalam sekian dekade, kerangka pemahaman sains klasik digugat dalam sebuah konsep yang tidak terpikirkan sebelumnya. Itulah mengapa relativitas menjadi titik mula lahirnya konsep yang dinamakan fisika modern. Goncangan di tataran praktis akan dijelaskan kemudian, setelah kita bahas narasi lain yang terkait.
Sementara itu, di eropa barat, konflik antar kekuasaan memicu sebuah perang yang melibatkan Eropa plus Turki Ottoman. Perang ini, dinamakan perang dunia (PD) I, adalah perang terbesar (hingga saat itu) sejak beberapa abad terakhir dan perang yang mulai memperlihatkan kemajuan sains dan teknologi dalam mekanisme membunuh sesama manusia. Yang terpenting dalam PD I adalah bukan yang terjadi selama PD I, tapi apa yang diakibatkan oleh PD I. Hasil PD I, yang diratifikasi dalam perjanjian Versailles, mengakibatkan dua hal krusial yang akan mengubah dunia secara total. Pertama, perjanjian Versailles membuat Jerman, sebagai terdakwa utama PD I dan pihak yang kalah, terpuruk secara ekonomi yang kemudian memicu bangkitnya Adolf Hitler ke tampuk kekuasaan. Kedua, keputusan Kaisar Nicolas dari Rusia untuk mengikutsertakan Rusia dalam kancah perang menyuburkan ketidakpercayaan yang sejak sebelum itu telah terakumulasi. Ketidakpercayaan ini melemahkan Kaisar Nicolas yang berujung pada revolusi Bolsheviks yang secara resmi mengubah Kekaisaran Rusia menjadi sebuah negara Komunis. Perlu dicatat, revolusi ini tidak akan terjadi kalau bukan karena pemikiran Marx, yang tidak akan muncul kalau bukan karena revolusi industri, yang tidak akan ada kalau bukan karena perkembangan sains selama era pencarahan. Naiknya Hitler ke tampuk kekuasaan Jerman melahirkan tragedi yang sesungguhnya, karena ia lah pemantik sebuah perang global yang membuat manusia kembali harus bertanya makna kemajuan.
PD II bukan lagi perang yang sekadar perebutan kekuasaan sesepele PD I. Hitler selama PD II memanfaatkan seluruh makna kemajuan yang diberikan oleh sains untuk mengembangkan teknik-teknik pembunuhan massal dan pembuatan senjata serta kendaraan-kendaraan perang. Jutaan Yahudi dan berbagai ras ‘inferior’ lainnya mati di tangah Hitler. Di tempat lain, perang yang dipicu Hitler bersamaan dengan keinginan Jepang untuk berkuasa di Asia, yang membuat negara samurai itu berani menyerang Pearl Harbour dan membuat Amerika turun tangan. Turunnya Amerika ke medan konflik mengakibatkan sebuah tindakan yang mengejutkan seluruh umat manusia. Karena di tangan Amerika, teori relativitas Einstein, yang dalam bentuk lebih lanjutnya mengimplikasikan kesetaraan energi dan massa (������ ������������ ) dan menjadi dasar teori fisi nuklir, diubah melalui proyek Manhattan menjadi sebuah bom atom yang meluluhlantakkan 2 kota beserta isinya. Ya, dosa terbesar yang bisa dilakukan fisikawan.
PD II adalah simbol yang membanting habis kemajuan atas nama sains menjadi sebuah kehancuran dan kebiadaban. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sains digunakan oleh manusia untuk membunuh jutaan saudaranya. Bahkan tidak ada binatang yang bisa lebih kejam daripada itu. Lantas apa artinya kemajuan sains? Apa benar peradaban manusia bisa didefinisikan dari seberapa maju perkembangan sains? Semua orang bertanya, semua orang skeptis. Dalam narasi besar abad ke-19 dan 20 ini, semakin banyak pemikir yang mulai meninjau ulang makna rasionalitas, meninjau kembali arti kemajuan sains. Revolusi industri tidak berarti semua manusia bisa menikmati kesejahteraan, temuan-temuan sains tidak berarti manusia bisa semakin bijak dalam bertindak, beragam teknologi tidak berarti manusia bisa lebih puas akan hidupnya. Kritik pesimistik terhadap progress, modernisme, ataupun rasionalitas mulai bermunculan, menghasilkan gerakan atau arus yang dikenal dengan posmodernisme.
Tidak selesai sampai di situ, fisika modern, yang sebelumnya penulis jelaskan diinisasi oleh relativitas Einstein, berkembang lebih lanjut melalui mekanika kuantum. Mekanika kuantum adalah goncangan yang sesungguhnya di wilayah teoretis sains, karena ia menghancurkan determinisme sains dengan memperlihatkan bagaimana pengamatan manusia terbatas dalam wilayah mikroskopik. Dalam sistem kuantum, kita tidak bisa menentukan salah satu dari dua variabel, momentum partikel dan panjang gelombangnya, dengan akurat secara bersamaan. Suatu objek bisa berupa partikel dan gelombang sekaligus, dimana identitas keduanya tidak akan pernah bisa ditentukan dengan pasti. Pengukuran yang dilakukan akan mempengaruhi sistem kuantum, karena ketika kita mengukur momentumnya sebagai partikel secara akurat, maka ia kehilangan sifat gelombangnya. Begitu juga sebaliknya. Dalam sistem kuantum, karena mengukur berarti ‘merusak’ sistem, maka pengamatan itu sendiri mendefinisikan kebenaran. Sistem kuantum memperlihatkan sisi probabilistik semesta, dan dengan itu determinisme sains runtuh. Pengamatan sains diberi batasan ultima yang manusia tidak akan pernah bisa tembus, karena manusia tidak akan pernah bisa melepaskan diri sebagai subjek yang mengamati. Dengan itu, sistem kuantum tidak akan pernah terungkap apa adanya.
Munculnya fisika modern menambah goncangan para saintis abad ke-20 untuk berefleksi kembali. Dunia telah menunjukkan sains bukanlah penentu peradaban, dan secara teoritis sendiri, mekanika kuantum telah menunjukkan kebenaran ultima akan selalu berjarak dari manusia. Lantas, apa artinya kebenaran?
Sains Masa Kini, Sains Masa Depan
Arus posmodernisme perlahan bermunculan pasca PD II. Kritik atas modernisme bertubi-tubi datang, dengan nuansa pesimistik dan nihilistik. Makna kebenaran runtuh dan manusia hanya bisa mengais-kais satu-satunya landasan yang ia punya semenjak era pencerahan: kemanusiaan itu sendiri. Berbagai bidang ilmu satu per satu mengikuti jejak fisika modern: mereka semakin menunjukkan keterbatasan manusia dalam meraih kebenaran absolut. Di wilayah fisika, kita tahu mekanika kuantum mencegah manusia untuk selalu bisa secara akurat melakukan pengukuran tanpa merusak sistemnya. Di wilayah linguistik, Derrida menunjukkan melalui proses dekonstruksi bahwa pemaknaan bahasa secara utuh tidak akan pernah bisa dicapai. Di wilayah logika dan matematika, Godel menunjukkan bahwa suatu sistem logika tidak akan pernah bisa lengkap dan konsisten secara bersamaan. Di wilayah komunikasi, Heidegger dan Gadamer mereduksi hermeneutika dengan melihat bahwa setiap pengetahuan hanya merupakan hasil interpretasi terhadap teks, tanpa kita bisa pernah memaknai teks itu sendiri apa adanya. Manusia kehilangan tujuan, karena apa sebenarnya yang ingin dicapai manusia? Pemikir-pemikir seperti Nietzche, Camus, Foucault, atau Baudrillard pun mulai menyampaikan wacana-wacana “jujur” mengenai manusia. Semangat Aufklärung untuk mengejar menaikkan derajat manusia melalui kemajuan sains dan teknologi pudar dengan realita menyakitkan dari PD II.
Apakah kemudian sains berhenti berkembang? Untungnya tidak. PD II melahirkan sebuah dunia bentuk baru dimana tidak ada lagi idealisme dalam bertingkah-laku. Sains justru berkembang cukup pesat lagi setelah PD II, namun dengan semangat yang bisa dibilang benar-benar berbeda. Dalam arus posmodernisme, satu-satunya yang ideal adalah manusia itu sendiri dan bagaimana manusia bertahan untuk hidup dan memenuhi kebutuhannya. Tidak ada kebenaran metafisis yang perlu dikejar. Manusia hanya perlu untuk hidup. Titik. Akibatnya, sains tidak butuh banyak alasan ideal untuk berkembang. Sains hanya perlu melayani manusia. Dan yang itulah yang terjadi pada era pasca PD II. Dengan tampilnya Amerika dan Rusia sebagai negara adidaya pemenang PD II, perbedaan ideologi antar keduanya menghasilkan kontestasi tegang dalam berbagai sektor, termasuk sains. Kontestasi yang dikenal sebagai perang dingin ini memicu perkembangan sains sebagai media untuk menunjukkan ego dan harga diri sebagai negara adikuasa. Meskipun banyak rasionalisasi yang muncul untuk mendasari perkembangan sains semasa perang dingin, akan sulit membayangkan perkembangan teknologi aeronotika untuk bisa mendaratkan manusia di bulan, ataupun perkembangan teknologi nuklir, tanpa adanya kontestasi antara kedua negara tersebut.
Terlebih lagi, pada dasarnya yang berkembang pesat semasa perang dingin bukanlah sains sebagai sains, namun sains dalam bentuk implementasi teknologinya. Sains sebagai sains tidak punya banyak tempat dalam arus kompetisi global. Apalagi, berakhirnya perang dingin yang dimenangkan oleh Amerika, dan dengannya kapitalisme, semakin membawa dunia ke arah yang lebih pragmatis dimana mekanisme pasar menjadi penguasa utama. Sains tergerus oleh kompetisi dan tersingkir oleh anaknya sendiri: teknologi. Tentu saja, pengembangan sains tidak pernah benar-benar berhenti. Sebagai sumber dan landasan perkembangan teknologi, sains harus tetap ada untuk menyokong kemungkinan invensi teknologi baru. Dengan itu, sains tetaplah dijaga namun dalam kadar yang secukupnya, sebagaimana pasar membutuhkannya.
Perkembangan sains secara teoretis bertahan dengan tetap adanya kaum-kaum idealis yang secara terbatas tetap mempromosikan kebutuhan pengembangan ilmu murni. Di sisi lain, dalam area keakademikan yang lebih luas, kebutuhan masyarakat untuk mendalami ilmu semakin terdorong ke arah yang lebih pragmatis, yakni ilmu-ilmu teknik atau ilmu serupa yang memiliki prospek cukup baik di bursa tenaga kerja. Di sisi lain, sains murni semakin merangkak ke wilayah yang lebih abstrak dan konkrit yang hanya dimasuki oleh mereka yang benar-benar minat dan tidak terbawa arus pasar. Dari sini, mulai tercipta eksklusivitas dari sains dan kesenjangan antara titik terjauh perkembangan sains dan kesadaran masyarakat pun semakin berjarak. Ketika para ilmuan sains murni mulai berkutat dengan model standar partikel elementer, teori string, teori gravitasi kuantum, energi gelap, pemetaan genom, graf stokastik, dan lain sebagainya, semua teori itu seakan terisolasi dalam suatu ruang yang berjarak dengan masyarakat. Dalam aspek keseharian sendiri, masyarakat pun hanya bisa disentuh dengan hal-hal yang sifatnya pragmatis dan siap pakai, seperti smartphone atau virtual reality. Meski memang smartphone ataupun teknologi siap pakai lainnya memiliki asal usul yang selalu bisa ditarik mundur ke penemuan sains, masyarakat “posmodern” hanya peduli pada bentuk riil dan konkrit, hanya peduli pada apa yang bisa dikonsumsi, hanya peduli pada apa yang bisa memenuhi hasratnya sebagai manusia.
Sains di masa kini pun terasingkan menjadi hanya puing-puing mitos yang diterima hanya jika itu sesuai dengan keyakinan diri. Munculnya fakta alternatif yang sebenarnya telah dibantah lama oleh sains seperti apakah bumi bulat atau datar, apakah lubang hitam itu ada atau enggak, apakah kita bisa kembali ke masa lalu dengan melebihi kecepatan cahaya atau tidak, apakah bumi mengelilingi matahari atau tidak, apakah dinosaurus itu mitos atau bukan, dan masih banyak hal serupa lainnya, menunjukkan betapa sains tidak lebih dari sekedar keyakinan atau narasi yang bisa dipercaya bisa tidak. Sains semakin seperti kotak hitam yang sebenarnya menyimpan banyak kebenaran mengagumkan mengenai semesta, namun diabaikan hanya karena isi kotak hitam itu tidak jelas kegunaannya. Satu-satunya yang tersisa dari sains adalah produknya dalam bentuk teknologi.
Bila demikian, lantas akan menjadi seperti apa posisi sains ke depannya? Menerka masa depan bukanlah hal yang mudah. Namun kita bisa lihat bahwa secara global, kapitalisme telah sepenuhnya memegang kuasa tanpa ada tandingan yang memadai. Francis Fukuyama memaparkan hal ini secara komprehensif mengenai bagaimana dunia akan terus berada di bawah genggaman kapitalisme dan demokrasi liberal. Kapitalisme merupakan bentuk ultima dari pencapaian terbesar manusia untuk meraih kebebasan individu seluas-luasnya. Salah satu mimpi dari aufklarung, yakni individualisme secara luas terimplementasikan dalam bentuk sistem yang telah menancap kuat hampir di setiap negara. Meskipun kekuatan ekonomi alternatif seperti Cina mulai memperlihatkan daya saing, Cina sendiri dalam usahanya bertahan mau tidak mau tetap terbawa oleh bagaimana dinamika perekonomian diatur oleh pasar meskipun dengan level kontrol tertentu. Dengan kenyataan seperti ini, sains tidak punya banyak pilihan selain mengikuti arus. Sains membutuhkan pasar untuk bisa bertahan, selain karena para ilmuannya butuh dana dan riset-riset teoretik saat ini semakin makan biaya, dana-dana itu seringkali hanya bisa mengalir bila ada aspek aplikatif atau penerapan dari riset tersebut. Sains hanya menjadi roda bagi industri dan perkembangan teknologi, tapi di sisi lain, sains menjadi sakral, karena hanya segelintir yang memiliki kekuatan untuk meraihnya.
Ketika dulu masyarakat masih memiliki rasa wonder terhadap alam dan mulai banyak bertanya mengenai fenomenanya, mungkin sekarang alam menjadi terasa begitu biasa dibandingkan teknologi yang membuat terlena. Apalah artinya hidup mencari kebenaran bila kebenaran itu sendiri tidak bisa memberi kepuasan langsung dalam hidup? Sains mungkin suatu saat benar-benar menjadi hanya narasi mitos belaka, yang hanya diketahui segelintir elit, sementara masyarakat cukup tahu cara menjalankannya, sebagaimana para pendeta masa pra-klasik menjadi elit yang mengetahui ilmu tertentu untuk kemudian sekadar dinarasikan dalam bentuk yang diperlukan oleh masyarakat. Mungkin sudah saatnya di masa kini, kita mulai bertanya, apa sesungguhnya guna sains bagi peradaban.
Referensi
[1] Fukuyama, Francis. 2016. The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal. Yogyakarta: Penerbit Qalam.
[2] Diamon, Jared. 2013. Guns, Germs, and Steel: Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia. Jakarta: KPG.
[3] Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra
[4] Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Sleman: Kanisius.
[5] Capra, Fritjof. 2007. Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan. Sukabumi: Penerbit Jejak.
[6] Descartes, Rene. 2012. Diskursus dan Metode. Yogyakarta: Ircisod
[7] Capra, Fritjof. 2009. The Hidden Connections: Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru. Yogyakarta: Jalasutra
[8] Bacon, Francis. 1628. The New Atalantis. Incomplete work.
[9] Tjahjadi, Simon Petrus L. 2007. Tuhan Para Filsuf dan Ilmuan: Dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius.
[10] Sugiharto, Bambang. 1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
[11] Gödel, Kurt (1931). “Über formal unentscheidbare Sätze der Principia Mathematica und verwandter Systeme, I.” [On Formally Undecidable Propositions of Principia Mathematica and Related Systems I]. Monatshefte für Mathematik und Physik 38: 173-198.
[12] Laplace, Pierre Simon, (1814) [1951]. Essai philosophique sur les probabilités [A Philosophical Essay on Probabilities], translated into English from the original French 6th ed. by Truscott, F.W. and Emory, F.L. New York: Dover Publications.
[13] Russel, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[14] Lim, Francis. 2008. Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Manusia dan Alat. Yogyakarta: Kanisius.
[15] Hartanto, Budi. 2013. Dunia Pasca-Manusia: Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi. Depok: Penerbit Kepik.
[16] Leahy, Louis. 2006. Jika Sains Mencari Makna. Yogyakarta: Kanisius.
[17] Ihsan, Aditya F. 2016. Booklet Phx #15: Te(kn)ologi [daring], dapat diakses di phoenixfin.me/bookletphx-15/ .
[18] Kant, Immanuel. 1784. Answering the Question: What is Enlightenment [Beantwortung der Frage: Was ist Aufklarung?]. Berlin: Berlinische Monatsschrift.
(PHX)