Dear Corona

Surat kepada virus corona di tengah pandemi Covid-19

- 14 mins

Dear Corona, Dimanapun kau berada

Hai Corry, bagaimana kabarmu? Maaf sedikit lancang. Aku hanya ingin berbincang denganmu, meski entah kau akan membaca ini atau tidak.

Mungkin kau tak mengenal diriku, ataupun orang yang tengah kau buat batuk-batuk saat ini, ataupun orang yang memakai seragam perlindungan lengkap hanya karena ingin menghindar darimu, atau orang yang tidak bisa bertemu keluarganya demi tidak bertemu denganmu, atau bahkan seluruh manusia di bumi ini. Lagipula, kau memang tak perlu mengenal siapapun. Yang kau pedulikan adalah kau bisa bertahan hidup, bukan? Sedangkan jelas mengenal makhluk lain bukanlah syarat.

Tapi, bukankah itu juga yang kami manusia pedulikan? Bukankah apa yang kami lakukan sekarang untuk menjaga jarak sosial, rajin membersihkan diri, dan menjaga daya tahan tubuh, adalah untuk bertahan hidup? Sayangnya itu benar. Kami dan kalian, pada akhirnya tujuannya sama, bertahan hidup. Bukankah itu ironis? Kenapa kalau tujuannya sama, kita tidak berkolaborasi saja? Menyenangkan bukan? Tapi dunia sepertinya tidak seindah itu. Makhluk hidup dari abad ke abad saling menyingkirkan satu sama lain untuk bertahan hidup, karena pada dasarnya kita semua “butuh” makhluk hidup lain, meski dengan cara yang berbeda-beda. Ah, jika demikian, apakah dunia ini hanya persaingan satu sama lain? Kami manusia banyak memusnahkan, menyingkirkan, menyusahkan, mengganggu makhluk lain dengan alasan yang serupa, maka bisakah kami menyalahkanmu ketika kamu memusnahkan kami dengan alasan yang sama? Entah sudah berapa spesies kami musnahkan sejak kami berkembang dengan jargon “modernitas”. Kami adalah pemusnah massal paling baik, dan ironinya, bahkan untuk sesama kami sendiri. Pernah kah kau menyakiti sesama virus Corry? Mungkin tidak, tapi kami, ya, kami, sanggup membunuh jutaan orang hanya atas, entahlah, ego? Dengan semua yang telah kami lakukan Corry, bisakah kami menyalahkanmu ketika kamu menyakiti kami hanya karena ingin bertahan hidup?

Ah, kamu bahkan hanya segumpal RNA yang dibungkus lemak dan protein. Kami bahkan tidak bisa memutuskan kamu hidup atau enggak. Yah, minimal kamu cukup hidup untuk memperbanyak diri, tapi apakah itu bagian dari kehendakmu? Apakah kamu memang ingin memperbanyak diri, meski dalam prosesnya menyakiti, atau bahkan membunuh makhluk lain? Entahlah Corry, kami sukar mengetahuinya, seandainya kau bisa ceritakan saja langsung pada kami. Sebagian dari kami mungkin menganggap kau seperti halnya benda-benda alam lainnya, yang mengikuti begitu saja secara natural apa yang menjadi sifat alamiah zat-zat yang menyusunmu, kau tidak punya kehendak, maka dari itu kau bukanlah subjek yang bisa diberi beban tanggung jawab atas apapun tindakanmu. Kau bahkan belum tentu sadar apa yang kau lakukan. Sialnya, itu justru mengacaukan kami Corry. Kami manusia selalu butuh tempat untuk menyalahkan, untuk melampiaskan, untuk dijadikan tempat kami bisa menghujat dan mengutuk. Semua akan mudah bagi kami ketika perang atau konflik sesama kami. Ya, ada yang bisa kami salahkan, ada yang bisa kami benci, ada justifikasi untuk semua kesedihan, kekecewaan, amarah, dan kekesalan kami. Sekarang? Kami harus marah pada siapa?

Sayangnya Corry, ego manusia itu luar biasa. Mungkin itu salah satu efek samping memiliki kesadaran diri. Kami selalu mencari rasionalisasi atas semua yang terjadi, semua yang kami rasakan, dan semua yang kami alami. Pada akhirnya, kami selalu menemukan objek untuk pelampiasan amarah kami, entah China, entah pemerintah, entah orang lain yang masih berkeliaran keluar rumah. Toh itu adalah mekanisme pertahanan hidup kami. Dengan selalu mencari kesalahan, kami selalu tahu cara beradaptasi. Meskipun begitu, pada titik tertentu, justru hal seperti ini yang menjadi penyebab konflik bahkan di antara kami sendiri. Apakah kau dan kawananmu pernah berkonflik Corry? Itu hebatnya kalian kurasa, kalian bergerak fokus dengan hanya satu tujuan, dan lihat apa yang berhasil kalian capai, hampir seluruh dunia berhasil kau jelajahi. Mungkin bila kami manusia punya solidaritas seperti dirimu, tentu banyak yang telah kami capai. Meskipun seperti berkembang, pada dasarnya peradaban kami maju-mundur. Begitu banyak energi dan waktu terpakai hanya karena pertentangan di antara kami sendiri.

Tapi, dipikir-pikir, bukankah kau juga demikian? Virus selalu mengalami siklus juga kan? Pada suatu waktu, kau diperangi habis-habisan oleh sistem imun kami, sehingga kau terpaksa bersembunyi sejenak dan beradaptasi, hingga kemudian kau berhasil bermutasi dan kembali berusaha berkembang kembali. Kau akan selalu muncul dengan bentuk yang baru, seperti halnya kami manusia pun selalu kembali Berjaya dengan bentuk yang baru. Bukankah semesta ini memang selalu berisi siklus demi siklus? Tidak ada yang monoton. Yang tinggi pasti akan merendah, yang terang pasti akan menggelap, yang mudah pasti akan menyulit, yang keras pasti akan melunak. Demikian juga berjayamu kali ini Corry, suatu saat akan berakhir. Ini hanya masalah kami manusia bisa mempertahankan diri sejauh apa. Tentu terkesan sederhana, tapi begitulah alam berada dalam keseimbangan. Tanpa berbuat apa-apa sama sekali, kami sudah memiliki mekanisme pertahanan diri yang memungkinkan dirimu tidak akan bisa menyebar lagi. Sayangnya, pertahanan diri ini tidak merata, sehingga akan selalu ada dari kami yang kalah darimu, dan itu bisa berarti kematian. Ini jadi terasa seperti perang Corry, antara kami dan kalian, walau aku benci mengatakannya. Perang bukan hanya masalah menang, tapi juga peminimalan kerugian. Syukur Corry, alat bertahan hidup kami yang utama ternyata pada dasarnya ada di kepala, dan kami bisa gunakan itu untuk semua strategi agar ketika kami berhasil menghentikanmu, kami tidak terpukul banyak.

Idealnya demikian. Namun, pada kenyataannya, segala sesuatu harus punya dua sisi. Kemampuan yang diberikan pada kami untuk membangun bisa juga digunakan untuk merusak. Akal, yang katanya anugrah, kelebihan, dari kami, manusia, pada dasarnya mengamplifikasi, meningkatkan, menajamkan, kemampuan kami secara dasar melakukan sesuatu, mulai dari sekadar bergerak, mencari makan, berbicara, hingga kemampuan membunuh, menyiksa, menguasai, dan menghancurkan. Terlebih lagi Corry, seperti yang ku katakan sebelumnya, kesadaran diri membuat kami memiliki kemampuan untuk memberi penjelasan atas segala sesuatu, apapun itu, bahkan termasuk ilusi kami sendiri, sehingga hal seburuk apapun kami lakukan, kami selalu bisa membuat alasan abstrak di balik itu, membuat kami sering kali terombang-ambing atas benar dan salah.

Lihatlah Corry, bagaimana kami menghadapimu. Ketika semakin banyak dari kami sudah mulai tumbang oleh kawan-kawanmu, banyak dari kami masih saling curiga satu sama lain, saling menyalahkan, bermain spekulasi, bersantai-santai, terbawa kesombongan, menganggap remeh penyakit dan kematian, dan mementingkan ego. Jelas semua ini pukulan telak bagi kami. Kau menyingkap, membuka, membongkar, menelanjangi semua kelemahan-kelemahan kami, semua keburukan-keburukan kami, semua masalah yang ada pada kami, yang selama ini mungkin kami abaikan, kami remehkan, kami jadikan kebiasaan, kami anggap wajar, kami pandang normal. Ya Corry, untuk itu mungkin aku harus berterima kasih, atas nama segenap umat manusia. Seperti halnya watak sesungguhnya seseorang hanya akan terlihat jelas bila seseorang tersebut tengah lelah atau tertimpa masalah, maka demikian juga keadaan sesungguhnya peradaban kami hanya akan terlihat bila kami secara merata dan universal diberi masalah bersama. Dan itu lah yang kau lakukan Corry, kau pertontonkan kami dengan keburukan-keburukan kami sendiri. Kau ajak kami untuk sadar, meski dengan cara yang tidak menyenangkan. Tapi bukankah memang kesadaran sering kali hanya bisa datang dari kesulitan? Mereka yang nyaris mati akan lebih sadar betapa berharganya hidup, mereka yang pernah salah akan lebih sadar apa yang benar, mereka yang pernah miskin akan lebih sadar maknanya harta, mereka yang pernah kehilangan akan lebih sadar makna mendapatkan, mereka yang sukar tidur akan lebih sadar nikmatnya istirahat, mereka yang selalu kelaparan akan lebih sadar berharganya sebutir nasi. Kesadaran memang suatu hal yang mahal Corry, sangat mahal, dan kau telah memberikannya kepada kami, yang tentu, biayanya harus kami tanggung sendiri. Dan yang ku lihat, sepertinya kesalahan kami terlalu banyak, sehingga seakan biaya ini tidak ada habisnya. Aku sampai jenuh melihat angka-angka yang meningkat terus setiap harinya, angka -angka yang sudah membuat setiap individu jadi tidak ada artinya. Ya Corry, sampai detik ini aku menulis, ada sekitar 25 ribu dari kami telah kalah darimu, yang sebenarnya masing-masing memiliki nama, memori, keluarga, karya, makna kehidupan, yang sekarang hanya kami tahu sebagai bagian kecil dari statistik. Aku bahkan tidak tahu harus merasa apa lagi Corry. Ini biaya yang sangat mahal, yang tidak boleh berlalu dengan sia-sia. Kami harus belajar dari sini.

Ya, kami harus belajar. Tapi entah kenapa, aku seperti pesimis dengan itu. Pernahkan kami benar-benar belajar Corry? Tidakkah kesalahan yang kami lakukan selalu sama dari generasi ke generasi? TIdakkan kami tetap saja kalah atas ego kami sendiri, gagal mengarahkan akal kami sendiri, terbawa kesombongan kami sendiri? Ya, bentuk masalahnya memang berubah-ubah, tapi kan itu hanya kulit, permukaan, dari masalah yang sesungguhnya. Peradaban bukankah selama ini memang hanya mengubah kulit, bukan mengubah inti, yakni manusia itu sendiri? Teknologi berkembang, sains melesat, bangunan berdiri tinggi, alat-alat semakin canggih, struktur dan sistem semakin kompleks, tapi bukankah hasrat kami untuk menguasai, untuk membunuh, untuk memiliki, sama saja? Perbedaan dasarnya hanya pada kulit, pada instrumen materiilnya saja. Jika dulu manusia hanya bisa menyalurkan Hasrat membunuhnya dengan pisau atau pedang, maka sekarang manusia bisa melakukannya dengan pistol dan bom. Jika dulu manusia hanya bisa bermewah-mewahan dengan kebun-kebun yang indah atau istana yang megah, maka sekarang manusia bisa memuaskan Hasrat memilikinya dengan setumpuk mobil berkilau atau jas mulus dengan label tertentu. TIdak ada yang berubah dari kami Corry. Kami terbawa ilusi berkembangnya peradaban dan mengira kami semakin lama derajatnya semakin tinggi, semakin bermartabat, semakin lebih dibandingkan spesies lainnya, semakin merasa punya hak untuk bertindak, padahal tidak Corry, dulu dan sekarang, Cuma berbeda fisik luarnya saja. Dalamnya? Hati manusia ya tidak pernah lebih dari hasil pertarungan melawan ego. Berulang kali kehancuran melanda kami, entah melalui pandemi atau perang tanpa henti, tapi apakah itu semua membuat kami lebih baik dalam mengendalikan diri? Ya mungkin saja, dari setiap pandemi, kami perbaiki sistem kesehatan, dari setiap perang, kami perbaiki traktat dan perjanjian. Namun bukankah itu semua apa yang tadi ku sebut hanyalah instrument fisik luar belaka? Pertarungan sesungguhnya ada di setiap individu, dan setiap manusia yang baru lahir harus memenangkan itu sendiri. Selama individu tetap kalah dari egonya sendiri, sistem kesehatan sebagus apapun, sistem kenegaraan serapih apapun, hubungan internasional sedamai selurus apapun, maka akan selalu ada celah untuk kerusakan. Mungkin kami butuh ditampar sekeras-kerasnya. Mungkin kami memang butuh membayar lebih. Mungkin hukuman atas kami masih kurang. Mungkin. Ya, mungkin. Karena satu hal yang membuatku benar-benar sadar darimu Corry, betapa terbatasnya manusia untuk mengatakan lebih dari “mungkin”. Mungkin datangnya kamu adalah pelunasan hutang, penggenapan hukuman, dan penyempurnaan pembelajaran. Mungkin Corry. Ku harap. Karena aku masih pesimis, manusia memang bisa belajar. Ketika pun pandemi ini berlalu, siapa yang bisa jamin kami tidak mengulangi kesalahan yang sama? Siapa yang jamin bumi ini tidak akan kembali rusak? Ku tak tahu, Corry. Ku harap kau bisa menjawabnya untukku. Pada akhirnya, kami hanya bisa terus berusaha. Ya, akal kami memang memungkinkan kami mengamplifikasi tindakan buruk, tapi tentu tugas utamanya adalah mengamplifikasi tindakan baik. Itu yang harus kita selalu usahakan.

Ku ingat seseorang pernah berkata padaku Corry, “Kalaupun ada sesuatu yang dikatakan mustahil, bukan berarti ia tak layak untuk diusahakan.” Toh, kami tidak punya pilhan lain. Berdiam diri hanya akan membuat semuanya semakin parah.

Wahai Corry, dipikir-pikir, dengan semua yang terjadi, cukup ironis apa yang manusia sematkan padamu. Bukankan namamu itu bermakna mahkota? Dan lihatlah dirimu Corona, bukankah kau berbentuk cukup indah? Kau memiliki simetri penuh dengan protein-protein yang menancap secara rata dan rapih di kulitmu. Untuk sesosok makhluk paling sederhana, hal itu begitu mengagumkan. Sedikit ironis memang dengan apa yang kau lakukan. Tapi, bukankah semua tindakanmu ini senatural air yang turun dari tempat tinggi ke rendah? Kau tidak punya kendali apapun. Protein di sekitar kulitmu yang secara alamiah menempelkan diri ke sel yang sesuai, dan reaksi kimia tertentu akan secara otomatis memberimu impuls untuk menginjeksi zat genetikmu ke dalam virus. Apakah semua berada dalam kesadaranmu? Senatural itu, tapi kami yang punya kesadaran dibuat gila dengannya.

Hal ini membawa pertanyaan baru Corry. Apa yang sebenarnya manusia takutkan darimu? Karena kau tentu tidak akan pernah berhenti sampai mayoritas manusia punya imunitas bukan? Pandemi selalu seperti itu. Hanya menguatnya imunitas kami yang bisa membuatmu mundur. Lantas apa yang kami takutkan? Kematian kah? Mungkin saja. Tapi nafsu membunuhmu relative rendah Corry, hanya sebagian kecil dari kami yang mungkin akan gugur. Meskipun begitu, tentu kematian tetap mengerikan. Tapi coba kau pikirkan Corry, bukankah tanpa dirimu, setiap dari kami manusia selalu sangat mungkin menemui kematian kapanpun dimanapun itu bukan? Bahkan beberapa dari kami yang muslim menekankan bahwa untuk selalu mengingat kematian setiap detiknya, sehingga selalu berusaha yang terbaik tanpa menunda. Apa yang spesial dari dirimu? Oh, mungkin karena kau membuat kami terpaksa harus mengehentikan banyak interaksi sosial, sehingga struktur kami bisa goyah dengan itu. Ya, Corry, struktur yang kami bangun, yang membuat kami berbeda dengan kamu, atau makhluk lainnya, struktur bernama ekonomi, Pendidikan, politik, atau budaya. Kami begitu bergantung dengan itu sehingga goyahnya ia akan membuat kami panik. Sedikit lucu bukan? Kami panik dengan apa yang kami bangun sendiri, yang bisa dengan mudah kau, makhluk mungil yang bahkan tak mampu kami sentuh, ganggu dan goyang. Tapi Corry, pada akhirnya apa dampak dari rusaknya struktur? Atau mungkin lebih tepatnya, apa yang sebenarnya tujuan semua struktur itu? Apa yang kami, manusia, kejar dengan industry yang berkembang, teknologi yang maju, atau nilai tukar yang stabil? Apa yang sebenarnya jadi arah peradaban kami? Entah. Sejauh ini, kurasa semua akan kembali pada hidup setiap individu, bagaimana makan, bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan tentu bagaimana bisa bertahan hidup. Semua itu menjadi seperti berputar di tempat, menutupi pertanyaan mendasar sesungguhnya.

Ya Corry, pertanyaan ultima itu. Apa yang sebenarnya manusia cari dalam hidup? Tentu kami tidak hanya hidup untuk bertahan hidup bukan? Tapi belum tentu juga sebagian besar dari kami bisa menjawab pertanyaan itu. Kami hanya menjalani hidup, dengan justifikasi-justifikasi yang akal kami bangun, yang mungkin tanpa sadar hanya menjadi selimut dari Hasrat egoistik yang tersembunyi. Apa yang sebenarnya kami cari dalam hidup? Apa yang sebenarnya kami kejar dalam hidup? Apa yan sebenanrya kami perjuangkan dalam hidup? Dan apa kaitannya denganmu sehingga kami harus takut denganmu Corry? Jika tujuan hidup adalah memaksimalkan tiap detik yang kami punya dengan aktualisasi sepenuhnya, bukankah mati kapanpun seharusnya kami siap? Bila tujuan kami a dalah berusaha sekeras mungkin dengan semua usaha, pikiran, waktu, harta yang kami miliki untuk sebuah afirmasi kebaikan, bukankah apapun hasilnya seharusnya kami tetap puas? Jangan-jangan, kami hanya takut bahwa kami tidak berusaha yang terbaik. Jangan -jangan, kami hanya takut bahwa kami memang lemah. Jangan-jangan, kami hanya takut menerima bahwa kami gagal. Jangan-jangan,ketakutan kami terhadapmu, pada dasarnya ketakutan kami untuk menerima diri sendiri. Yah, pada akhirnya, semua kembali seberapa sadar kami, atas apa yang kami perjuangkan dalam hidup. Dan ya, kurasa jawabannya ada pada individu masing-masing.

Mungkin cukup itu dulu Corry. Maaf mengganggumu. Maaf juga begitu lancang. Kau tak perlu terlalu mengenalku. Jika kelak ternyata kau berhasil mema sukiku dan bahkan merusak tubuhku, aku terima dengan senang hati, sebagaimana pada dasarnya, ketika aku sudah tahu aku sudah berusaha yang terbaik, maka kematian detik kapanpun akan ku jemput dengan senyuman. Hal yang selalu ku ingat dari seorang kawan adalah bahwa dalam salah satu lagu yang ia buat, ia memberi epilog “Tahun selanjutnya, bulan depan, lusa nanti, esok hari, sejam lagi, 3 menit kemudian, atau detik yang mampir sesaat, aku tak tahu kapan maut menjemputku. Aku ingin pergi menjemput kematian karena aku ingin hidup dengan kesadaran.. karena saat aku mati nanti aku tak mau menyadari bahwa aku belum hidup. Sehingga, Aku memilih menjadi tolol yang terus mencoba tanpa putus asa daripada menjadi jenius mendengkur yang tak pernah menciptakan apa-apa”

Pada akhirnya Corry, meskipun banyak yang mengatakan kau hadir sebagai cara Bumi membersihknan diri, namun bagiku hadirnya dirimu, adalah untuk memberi ruang bagi kami, memikirkan tujuan sesungguhnya hidup kami. Karena setiap fenomena di jagad raya, kurasa selalu adalah sebuah narasi tentang manusia.

Salam hangat sesama makhluk organik,

Finiarel

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora