Masih Perlukah Universitas?
Meninjau relevansi universitas di tengah dan pasca pandemi
Seseorang pernah bertanya suatu pertanyaan sederhana yang nampaknya tidak mudah untuk dijawab: apa fungsi universitas?
Kita bisa saja langsung merujuk pada Undang-Undang Pendidikan Tinggi untuk menjawabnya, dimana disana disebutkan secara rinci fungsi perguruan tinggi. Kurang lebih intinya ada pada pengembangan kemampuan watak, dan kapasitas bangsa, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan itu, universitas kemudian bisa dipandang dalam dua posisi, yakni sebagai sebuah sekolah atau lembaga pendidikan, dan sebagai sebuah institusi riset atau lembaga penelitian.
Transfer Ilmu?
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, apa yang membedakan universitas dari sekolah lainnya? Oh tentu saja, universitas merupakan jenjang pendidikan tertinggi, jelas berbeda dari Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah. Tetapi, apa yang sebenarnya membedakan jenjang-jenjang itu? Jika kita bilang bedanya ada di tingkat kedalaman dan kompleksitas ilmu yang dipelajari, mengapa harus dengan sebuah entitas yang sangat berbeda, dengan semua sistem, biaya, dan aksesibilitasnya? Bahkan, pada dasarnya sekolah menengah atau dasar memiliki tujuan yang lebih luas, yakni penanaman karakter pada setiap peserta didik dengan suatu nilai-nilai tertentu. Apakah penanaman itu masih ada di universitas, ketika paradigma pendidikan di universitas seringkali hanya terfokus pada ilmu saja? Mungkin saja tidak. Mungkin seharusnya tidak. Sayangnya, meskipun ada karakter yang ingin ditanamkan, itu lebih kepada sikap terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, seperti inovatif, kritis, terbuka, dan lain sebagainya. Jika seperti itu, maka seakan seharusnya luaran utama universitas adalah para pengembang ilmu pengetahuan, yakni mereka yang kemudian bisa mewujudkan fungsi kedua universitas, yakni sebagai sebuah institusi riset. Terlebih lagi, jika tujuan universitas memang hanya untuk transfer ilmu, ia sudah kehilangan tujuannya semenjak Gutenberg menemukan mesin cetak, terlebih lagi dengan berkembangnya internet.
Di era informasi seperti saat ini, tidak ada yang bisa menjamin bahwa pengajar lebih tahu daripada yang diajar. Apa yang dosen sampaikan di kelas bukanlah hal yang unik dan langka, namun hal yang sebenarnya bisa didapatkan dari ratusan sumber lainnya di internet. Bahkan, apa yang didapatkan dari internet bisa lebih baik, lebih ringkas, lebih mudah dipahami, lebih lengkap, lebih mendalam, dari apa yang bisa disampaikan dosen dalam hanya beberapa jam tatap muka. Begitu banyak platform pembelajaran daring yang bisa diakses dengan mudah dan terbuka saat ini, mulai dari Coursera, Khan Academy, Udemy, TED, hingga bahkan yang sederhana seperti Youtube. Jika memang demikian, untuk apa membayar mahal-mahal untuk mendengarkan dosen materi yang sebenarnya bisa diperoleh dengan lebih murah, bahkan gratis, dari tempat lain?
Oh, universitas kan punya aksesibilitas tinggi terhadap pengembangan terkini ilmu pengetahuan, melalui jurnal-jurnal ilmiah dan perpustakaan yang lengkap. Jika memang demikian, mengapa tidak mendirikan sebuah pusat arsip pengetahuan saja? Sebuah perpustakaan ilmiah, yang bisa diakses masyarakat umum, dengan koleksi jurnal dan buku pengetahuan yang lengkap, akan lebih bermanfaat dan terfokus. Dalam hal ini, biaya pendidkan yang mahal bisa direduksi menjadi hanya iuran keanggotaan perpustakaan tersebut. Pengelolaannya pun lebih terfokus dan terbuka. Agar lebih terintegrasi, perpustakaan ini juga bisa dikaitkan dengan fungsi kedua universitas, yakni Lembaga riset, dengan kata lain, sebuah pusat ilmu pengetahuan.
Ada satu hal yang mungkin bisa jadi kelebihan tersendiri universitas sebagai sebuah Lembaga pendidikan, yakni fasilitas terhadap instrumen-instrumen tertentu yang diperlukan untuk memahami suatu ilmu atau keterampilan. Selain proses belajar mengajar di kelas, beberapa mata kuliah membutuhkan praktek langsung menggunakan semua instrument yang memungkinkan. Pada beberapa kasus, instrumen-instrumen ini langka, atau mungkin lebih tepatnya, tidak mudah diakses publik, dan juga tidak murah. Dalam hal ini, universitas tereduksi menjadi hanya laboratorium, penyedia alat untuk praktik keilmuan. Meskipun mungkin bukan sekadar “hanya”, hal tersebut jelas menghapus esensi pendidikan dalam unviersitas sendiri. Praktikum atau eksperimen ilmiah adalah hal yang bisa (harus) dilakukan secara mandiri oleh setiap peserta didik. Yang mereka butuhkan hanya prosedur, tata cara, dan instrumennya sendiri. Dalam hal ini, sekali lagi, tidak membutuhkan sebuah institusi besar dengan biaya yang sangat tinggi. Sebuah laboratorium dimana aksesibilitasnya semi terbuka cukup untuk mengakomodasi itu. Selain itu, hal ini bisa diintegrasikan dengan wacana yang terbahas sebelumnya, yakni sebuah pusat ilmu pengetahuan, dimana di dalamnya ada laboratorium yang bisa diakses secara terbatas, dan perpustakaan dengan keanggotaan terbuka. Bukankah hal itu lebih menarik? Lantas mengapa harus ada universitas?
Penyedia Komunitas?
Setiap ilmu dan keterampilan mungkin bisa saja diberikan secara mandiri, baik melalui internet, buku, sebuah laboratorium, atau media alternatif lainnya. Namun, siapa yang bisa jamin bahwa setiap individu atau pembelajar memang melakukan itu secara sukarela? Mungkin dari sini universitas bisa mendapatkan makna. Universitas menjadi penyedia atmosfer belajar dengan komunitas akademik dan sistem yang didesain khusus sehingga setiap pembelajar akan termotivasi lebih untuk belajar. Hal ini akan sedikit mencubit makna belajar itu sendiri. Naluri untuk belajar adalah hal yang seharusnya alamiah ada di setiap individu. Masing-masing individu memiliki minat dan bakatnya sendiri, dimana ia akan memberikan semua tenaga dan waktunya dengan senang hati tanpa merasa terbebani. Ketika individu sampai harus dikondisikan untuk belajar, untuk mengembangkan dirinya, untuk menuntut ilmu, maka ada yang salah dari pendidikan yang ia terima. Atau memang demikian? Pendidikan kita terbiasa “memaksa” peserta didik untuk melakukan apa yang tidak mereka senangi untuk lakukan, dengan standarisasi yang mematikan keberagaman kapabilitas peserta didik. Ketika seorang anak SD mendapatkan nilai buruk di ujian matematika, maka cap “bodoh” akan secara implisit tertanam padanya. Mereka akan selalu merasa pendidikan adalah keharusan, paksaan, tuntutan, bukan sesuatu yang memang mereka inginkan secara penuh dan sadar. Dan itulah akhirnya ketika semua peserta didik itu mencapai umur dewasa pun, di universitas, mereka tetap butuh untuk “dipaksa” untuk belajar.
Terkait komunitas akademik sendiri, banyak yang bisa dibentuk tanpa harus melalui sistem menyulitkan dengan biaya tinggi. Internet menyediakan ratusan forum diskusi dan komunitas belajar dalam berbagai platform, dengan gaya dan tujuan yang berbeda-beda, dari yang serius dengan orientasi ilmiah hingga yang berkonsep diskusi bebas untuk memenuhi rasa penasaran. Teknologi konferensi video sudah begitu maju sehingga memungkinkan siapapun mengadakan diskusi “tatap muka” dengan berbagai orang di seluruh dunia. Di dunia nyata sendiri, kafe-kafe dan perpustakaan bisa disulap dengan mudah menjadi sebuah tempat berkumpulnya komunitas, dengan konsep yang lebih santai, menyenangkan, dan fleksibel. Pertanyaannya tetap kembali, kenapa harus universitas?
Produsen Tenaga Kerja?
Jika kita coba berbicara lebih umum, sebagai sebuah lembaga pendidikan, objek dari unviersitas adalah manusia, yang perlu dibentuk, dibina, diolah, untuk menghasilkan suatu luaran tertentu. Setiap perguruan tinggi bagaikan pabrik yang mengolah suatu input dari jenjang pendidikan sebelumnya, untuk menjadi suatu output yang diharapkan. Output yang seperti apa?
Dengan berkembangnya industri dan perekonomian saat ini, apalagi dengan majunya teknologi digital, output yang dihasilkan setiap perguruan tinggi dianggap merupakan input sendiri bagi dunia industri. Bedanya, ketika universitas diharapkan bisa mengolah input apapun, industri hanya mau menerima input tertentu. Dengan itu, output pendidikan diharapkan memenuhi suatu suatu standar tertentu. Standar-standar ini pun berupa suatu kompetensi yang spesifik, jelas, dan terkuantifikasi, sebagaimana dengan mudah bisa kita lihat dari lowongan-lowongan pekerjaan. Terlebih lagi, standar-standar yang awalnya banyak dan beragam ini, semakin konvergen hanya pada standar-standar particular spesifik, yang seringkali terkait erat dengan kapabilitas penggunaan teknologi. Sebagai contoh, sekarang kemampuan programming menjadi keterampilan umum dimana berbagai cabang keilmuan, dari matematika, sains, hingga hampir semua jurusan Teknik menggunakannya. Contoh yang lebih umum lagi adalah keterampilan pengolahan data atau statistika, dimana bahkan jurusan sosial humaniora pun terkadang membutuhkannya.
Semua itu berjalan lancar selama ini. Tentu saja. Semenjak revolusi industri pertama terjadi, cara berpikir manusia bergeser jauh menjadi berorientasi materiil, bahkan dalam hal pendidikan sekalipun, hingga akhirnya membuat orang belajar hanya untuk bisa bekerja dan dapat uang. Di Indonesia, hal ini tertanam erat melalui kebijakan link and match ala orde baru, yang juga tetap berlanjut pasca reformasi. Akan tetapi, itu dulu.
Ya, dulu, ketika perguruan tinggi merupakan satu-satunya jalan bagi setiap anak untuk mendapatkan standarisasi itu, untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan, untuk mendapatkan jaminan bahwa ia sudah terlatih akan suatu kemampuan spesifik, yang bisa dilihat para penawar kerja sebagai hal yang pantas untuk dipertimbangkan. Semua perusahaan, lembaga, instansi, atau departemen apapun tidak punya pilihan lain selain melihat selembar kertas terbitan perguruan tinggi untuk mengetahui apakah seseorang punya kompetensi berstandar atau tidak. Tidak ada pilihan, maka setiap warga negara yang ingin bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, dan dengan itu berarti kehidupan yang layak, harus menempuh jalur perguruan tinggi. Akan tetapi tidak halnya dengan sekarang. Fasilitas-fasilitas daring semakin lama semakin berkembang dan menjadi sebuah otoritas pendidikan sendiri, sehingga sekarang sudah begitu banyak kursus-kursus dan kelas-kelas daring yang juga memberikan sertifikat terstandarisasi. Sertifikat dari platform seperti Coursera termasuk yang dipertimbangkan beberapa perusahaan sebagai sebuah keterangan yang bisa dipercaya. Jika demikian, mengapa harus ijazah dari sebuah universitas?
Mungkin ini seperti apa yang dikatakan Yuval Harari, bahwa banyak entitas di era modern layaknya sebuah mitos di era dulu, yang menghasilkan narasi dan nilai tertentu meski hanya berupa sebuah artefak, sepotong nama, selembar kertas. Apa yang diberikan perguruan tinggi bukanlah sekadar keterangan standarisasi ilmu dan keterampilan lulusan, tapi sebuah narasi besar dari perguruan tinggi itu sendiri. Ketika melihat ijazah UGM, seseorang mungkin tidak akan terlalu peduli dengan mata kuliah yang diambil, IPK, atau nilai setiap mata kuliah, tapi yang dilihat hanya 2 atu 3 huruf gelar dan nama universitasnya.
Sedikit menyakitkan, tapi apakah memang universitas hanya sebuah pemberi label lulusan? Mungkin memang itu makna sesungguhnya semua biaya tinggi yang harus dibayarkan setiap mahasiswa selama masuk perguruan tinggi hingga lulus, sebuah biaya untuk sebuah label.
Covid-19 dan Rekontemplasi Universitas
Semua yang terpapar di atas menunjukkan bahwa paradigma belajar kita masih begitu kaku sehingga mengharuskan sebuah tempat, dengan kelas-kelas, beserta sebuah sistem tuntutan belajar, menjadi satu-satunya cara setiap individu untuk memperkaya dirinya dengan ilmu. Terlebih lagi, secara ironis seringkali semua sistem dan keluhuran keilmuan di universitas itu hanya formalitas untuk sebuah sasaran yang lebih riil, yakni selembar ijazah untuk cari uang. Kita sukar memikirkan alternatif. Kita sudah nyaman dengan sistem dan keadaan yang ada. Padahal, kemajuan teknologi sudah membuka banyak sekali kemungkinan.
Terkadang, butuh sebuah dorongan kuat dari luar untuk membuka mata kita atas kemungkinan-kemungkinan yang ada. Terkait itu, Covid-19 melaksanakan tugasnya. Pandemi yang dimulai pada akhir 2019 ini mengubah dunia dalam kurun waktu yang sangat singkat. Keharusan untuk melakukan penjarakan sosial membuat seluruh konsep aktivitas sosial berubah total, termasuk di dalamnya juga pendidikan. Dalam waktu cepat semenjak Covid-19 masuk ke suatu negara, sekolah-sekolah dan universitas langsung tutup, semua proses belajar tatap muka diliburkan. Lantas bagaimana? Ketika hal yang sama terjadi pada 1918 selama pandemi Spanish Flu, tidak banyak yang dapat dilakukan. Jika sekolah tutup, maka berhenti seluruh proses pendidikan formal. Namun tidak demikian halnya pada era ini. Kemajuan teknologi yang pada dasarnya sudah lama menawarkan banyak kemungkinan, mulai dilirik sebagai satu-satunya alternatif.
Sekarang, pada hari pertama sekolah dan universitas merumahkan semua peserta didiknya, pada saat itu juga kelas berpindah ke dunia maya. Platform yang menyediakan fasilitas konferensi video seperti Zoom, Google Hangouts, Skype, Microsoft Teams, atau Cisco WebEx mulai secara drastic banyak digunakan. Guru mengajar, murid mendengarkan, materi tersampaikan, tugas diberikan. Semua seperti biasa. Satu-satunya perbedaan adalah antara yang mengajar dan diajar tidak berada di tempat yang sama. Sidang ataupun presentasi kolektif juga bisa dilakukan dengan cara yang sama. Kebutuhan untuk diskusi dan berkomunikasi pun dengan mudah terakomodasi melalui banyak platform, dari Google Classroom, Trello, Slack, Quip, hingga sekadar Whatsapp. Kebutuhan untuk referensi dan kepustakaan juga tidak akan menimbulkan masalah, dengan kenyataan bahwa sebagian besar referensi akademik yang dibutuhkan sudah berbentuk soft copy. Akses pada jurnal-jurnal ilmiah juga pada prinsipnya bisa diberikan dengan pendataan akun digital setiap peserta didik. Mungkin hal-hal seperti mekanisme kuis dan ujian akan sedikit mengalami kendala, tapi itu juga akan bisa teratasi dengan berbagai teknologi. Semua hanya masalah keinginan untuk beradaptasi, dan pandemi ini tidak memberi kita pilihan lain. Hal yang masih belum bisa diatasi teknologi jarak jauh saat ini adalah kebutuhan untuk praktikum, yang mau tidak mau memang mengharuskan kehadiran fisik, terutama jika membutuhkan instrument khusus. Namun terlepas dari itu, bukankah hamper semua fungsi universitas dapat diakomodasi teknologi?
Ya, semua alternatif yang penulis paparkan sebelumnya persis menjadi hal yang nyata dengan tuntutan dari pandemi ini. Tinggal kebutuhan-kebutuhan spesifik seperti praktikum dan kepustakaan fisik bisa kelak direstrukturisasi menjadi sebuah pusat ilmu pengetahuan, alih-alih sebuah institusi pendidikan. Yang tersisa kemudian hanyalah bahwa universitas cukup jadi penerbit administrasi untuk legalisasi dan sertifikasi atas proses pembelajaran yang dilakukan, atau dengan kata lain penerbit ijazah. Tidak lebih. Dengan semua peserta didik bisa melaksanakan proses pembelajarannya di rumah, maka yang mereka butuhkan tinggal bukti legal. Tentu, dalam konteks sekarang, universitas masih harus mengelola sistem dan materi pembelajaran yang diberikan, namun itu karena kita masih “terpaksa” secara setengah-setengah bertransformasi. Sistemnya masih sama, namun caranya yang berbeda. Pertanyaan selanjutnya adalah, dengan cara yang jelas-jelas dapat bertransformasi, apakah masih perlu menggunakan sistem yang sama?
Jawaban untuk itu mungkin tidak dikotomis. Seperti yang penulis ajukan sebelumnya, universitas bisa berperan dengan terfokus sebagai pusat ilmu pengetahuan, yang secara internal mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri melalui riset, dan secara eksternal mengelola, menyajikan, dan membuka ilmu pengetahuan untuk siapapun ingin mengaksesnya, baik dengan praktik laboratorium, akses perpustakaan, atau kursus-kursus terbuka. Dalam konteks ini, kita tidak lagi memandang universitas seperti pabrik yang output-nya berupa lulusan dengan standar tertentu, namun memandang universitas seperti sebuah pelayanan jasa, yang menawarkan ilmu pengetahuan. Output dari universitas adalah jasa tersebut, sebuah pengelolaan dan penyajian ilmu pengetahuan. Jika kita ibaratkan sebuah agen perjalanan atau pariwisata misalnya, maka pelanggan bisa memilih ingin pergi kemana saja dengan paket-paket apa saja, bisa memilih juga fasilitas yang akan digunakan apa saja. Demikian halnya juga dengan universitas sebagai sebuah agen pengelola ilmu pengetahuan, peserta didik merupakan pelanggan yang bisa dengan bebas memilih ilmu apa yang ingin dipelajari, atau fasilitas apa yang ingin dipakai. Tugas universitas hanya memberikan pelayanan ilmu pengetahuan sebaik mungkin. Dalam hal ini, universitas bisa lebih fokus dalam hal pengelolaan ilmu saja ketimbang dibebani seluruh aspek ilmu dari hulu ke hilir, dari ilmu mentahnya (penelitian), regenerasi ilmunya (pendidikan), hingga bahkan aplikasinya ke masyarakat (pengabdian masyarakat), yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. Tentu tidak ada yang salah dari tridharma tersebut, namun tidak efektif bila dibebani pada satu entitas institusi.
Sistem tersebut secara fundamental akan mengakomodasi makna luhur pendidikan sesungguhnya, yakni proses memanusiakan manusia, dengan semua keragaman potensi yang dimiliki setiap individu. Jalan pendidikan seharusnya ditentukan oleh subjek sendiri, dimana ia harus menjadi versi terbaik dirinya dalam hal bakat apapun yang ia miliki, tidak tergerus oleh arus homogenitas yang dipaksakan industri. Jika seorang anak memang senang bersastra, maka biarlah ia mengejar ilmu sastra itu setinggi-tingginya tanpa ada tekanan apapun bahwa orang yang menempuh pendidikan kedokteran atau teknik lebih baik dari dia. Padahal, jelas bahwa ikan yang dipaksa memanjat pohon, atau burung yang dipaksa berenang, akan merasa bodoh seumur hidupnya. Para peserta didik pun tidak menjalani fitrah alami dirinya sendiri.
Yang terjadi sekarang, dengan standarisasi yang begitu kental, dan tertindasnya sistem pendidikan oleh industri, maka ilmu-ilmu yang tidak dibutuhkan industri akan sangat dipandang sebelah mata, atau malah tidak dianggap sama sekali. Apa yang ada di internet saat ini, dengan berbagai platform pembelajarannya, memberi kebebasan setiap orang untuk memilih apa yang ingin ia pelajari, dan dengan itu ia akan lebih merasa bertanggung jawab atas jalan hidupnya. Jika Coursera, Khan Academy, Brilliant, bisa seperti itu, kenapa universitas, sebagai yang jelas-jelas kantongnya ilmu pengetahuan, tidak? Covid-19 sudah dengan jelas memperlihatkan bahwa jalan-jalan sepert itu secara teknis sangat mungkin dilakukan, pertanyaannya menjadi tinggal apakah secara menyeluruh sistem seperti itu mungkin diterapkan?
Mungkin iya, mungkin tidak, bergantung dari aspek pendidikan yang lain. Kenapa? Karena sistem pendidikan ala pelayanan jasa tersebut sangat bergantung pada kemandirian dari peserta didik. Artinya, sistem seperti itu hanya akan tepat bila memang masayarakat memiliki hasrat terhadap ilmu pengetahuan yang tinggi, tidak tertindas oleh paradigma material yang menganggap tujuan sekolah bertahun-tahun adalah untuk mendapat pekerjaan bergaji tinggi, atau sekadar untuk meningkatkan kualitas hidup, tanpa sama sekali memandang keluhuran ilmu pengetahuan menjadi pribadi yang utuh. Sehingga, apabila sedari SD tidak ditanamkan rasa haus aka n ilmu pengetahuan, maka sistem seperti di atas akan menjadi sebuah kegagalan dan kesia -siaan. Mungkin memang reformasi pendidikan secara menyeluruh perlu dilakukan, untuk mencabut akar-akar kontraproduktif dari bagaimana masyarakat belajar, karena selama pendidikan masih bergantung pada industri, maka selamanya pendidikan akan terus tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, yakni mengutuhkan setiap individu.
(PHX)