Mundus

Finis dan dunia yang ia kira seluruhnya

- 8 mins

Pada suatu masa, suatu titik waktu yang tidak diketahui, di suatu lokasi di dunia. Di awalnya, tidak ada apa-apa, tidak terasa apa-apa, tidak terlihat apa-apa, hanya kekosongan. Hitam. Hampa.

Tiba-tiba cahaya rabun nampak seketika. Sesosok makhluk, sebutlah Finis, keluar ke dunia. Mendadak, tanpa Finis ketahui sendiri, tanpa Finis menyadari, Finis ada, hadir di dunia.

Ia tidak tahu sebelumnya seperti apa. Sebelumnya hanya ada hitam baginya, kemudian tiba-tiba ia “melihat” segala sesuatu. Semuanya, dunia ini, tiba-tiba ada bagi Finis.

Finis mendadak dapat merekam banyak hal. Beragam warna tergambar di matanya, berbagai suara terdengar di telinganya, beragam sensasi terasa di seluruh kulitnya. Semuanya tersaji tanpa ia pilih, tanpa ia putuskan. Akan tetapi, semua hanya campur aduk sensasi yang tak kacau. Semua seperti kabur dan rabun terasa oleh Finis.

Pelan-pelan ia mulai membedakan satu hal dengan yang lainnya. Seketika, banyak hal berbeda seakan terhampar begitu saja di sekitarnya. Mendadak, Finis merasakan apa itu “pengalaman”.

Finis mulai mengalami.

Segera, Finis mendapati dirinya di sebuah dunia yang begitu luas dengan berbagai macam benda dan fenomena. Benda-benda itu juga seperti tiba-tiba ada di sekelilingnya, tanpa ia tahu itu semua apa, untuk apa, dan kenapa ada di situ.

Ia menyadari beberapa benda di sekitarnya selalu berada di dekatnya, selalu berada di sekitar kehadirannya. Benda-benda ini mengikutinya. Dimanapun ia berada, ia melihat benda-benda ini. Bahkan terkadang dengan cara tertentu, hal-hal tersebut bisa bergerak sebagaimana pikirannya mengarahkannya.

Finis menyadari adanya tubuh yang melekat pada dirinya.

Ketika ia berpikir untuk menoleh, mengedipkan mata, menggerakkan jari, mengangkat kaki, semua mengikuti. Meski ia kemudian menyadari ada hal-hal yang tidak turut bergerak dengan pikirannya, Finis mulai menelusuri setiap hal yang bisa ia gerakkan.

Finis mulai merasakan adanya kendali, dan dengan itu, ia punya kehendak.

Dengan tubuhnya, Finis mulai mencoba banyak hal di dunia, dari melihat, meraba mendengar, memakan, meraba berbagai hal. Finis menyadari tubuhnya memberi sensasi tertentu pada hal tertentu.

Finis tidak tahu apa rasa-rasa itu. Yang jelas, ada sensasi yang terasa nyaman, ada yang terasa tidak nyaman. Finis spontan hanya mencari yang membuatnya nyaman, meski itu hanya sensasi yang muncul dari tubuhnya. Ia juga kemudian menghindar sensasi yang membuatnya tidak nyaman.

Ketika lelah, akan nyaman untuk tidur. Ketika lapar, akan nyaman untuk makan. Bahkan dalam hal-hal yang bisa dimakan, ia mulai mengerti ada yang lebih nyaman ketimbang yang lainnya. Seiring pikirannya terus merekam informasi, sensasi itu juga terbayang jelas dalam pikirannya, memberinya motivasi untuk segera merasakannya kembali.

Finis mulai memiliki keinginan dasar, keinginan biologis.

Segera, Finis mulai menemukan bahwa dunia ini penuh dengan hal-hal yang bisa memberikannya sensasi itu. Dan dengan itu, Finis mengisi dirinya dengan keinginan-keinginan.

Tentu, Finis juga menyadari ada batasan dari sensasi nyaman yang ia rasakan. Ketika kenyang, maka makan tidak lagi menyenangkan. Ia mulai belajar mengatur itu, ia tetap bisa memaksimalkan kenikmatan itu.

Di sisi lain, sementara ia terus memperhatikan dunia, Finis lihat bahwa ada makhluk-makhluk yang serupa seperti dia, melakukan beragam hal. Finis masih tidak tahu siapa dirinya, tapi paling tidak Finis lihat mereka, makhluk-makhluk itu, sama dengan dirinya, jadi siapa ia mungkin juga mirip dengan siapa mereka. Maka, Finis coba tiru mereka. Finis tidak punya banyak pilihan, ia toh tidak tahu apa-apa.

Sepanjang peniruan itu, Finis kemudian juga menyadari, walaupun mirip, dalam beberapa sisi setiap makhluk itu berbeda, melakukan hal yang berbeda juga. Ia menyadari bahwa seharusnya dirinya pun berbeda juga. Ia mulai mengenal bahwa dirinya sendiri, apa yang ia pikirkan, gerak tubuhnya, apa yang ia inginkan, dan banyak aspek lainnya, berbeda di bandingkan semua hal lain di dunia. Ia mulai mengenal konsep “aku”.

Finis mulai memiliki ego.

Ia mulai mengaitkan dan menghubungkan hal-hal di dunia dengan “aku”, dirinya sendiri. Ia mulai punya kesadaran sebagai sosok, eksistensi, yang “hadir” di dunia. Finis tidak tahu bagaimana cara mengenali dirinya. Dia tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Dia ada begitu saja di dunia. Jadi ia jadikan semua yang ada di luar dirinya, semua yang ada di dunia, sebagai tolok ukur siapa dirinya.

Finis menjadikan apa yang ada di luar dirinya sebagai identitas, karena selain tubuhnya, ia tidak tahu apa lagi yang khusus baginya. Ia temukan banyak label dan identitas, dalam berbagai bentuk, dari berbagai macam kelompok yang berbeda. Ia merasa mulai bisa mendefinisikan dirinya dari label-label itu

Ia juga hanya bisa mengukur eksistensi dirinya hanya dari luar. Ia jelas tahu bahwa dirinya “ada”, tapi ia perlu tahu bahwa dunia juga menganggap dia “ada”. Jika ia ada dan berbeda, maka haruslah ia dianggap ada, kecuali ia hanyalah sosok yang sama saja seperti yang lainnya, hanya salah satu duplikat dari satu bentuk yang serupa. Ia pun mulai melakukan perbandingan. Hanya dengan membandingkan, ia tahu perbedaan dirinya dengan makhluk yang lain.

Ia mulai memiliki keinginan untuk diakui.

Sementara itu, Finis juga terus memiliki keinginan-keinginan. Sedangkan, tidak semua hal bisa ia manfaatkan untuk memenuhi keinginannya. Tidak setiap benda yang ia inginkan bisa ia ambil. Finis melihat bahwa hanya beberapa hal-hal di dunia ini yang bisa ia gunakan sendiri. Sebagian besar benda lainnya hanya bisa digunakan bersama-sama. Beberapa benda lainnya malah hanya bisa digunakan oleh makhluk lain yang menguasainya.

Finis mulai mengenal konsep kepemilikan.

Semakin banyak yang bisa Finis gunakan, tentu semakin mudah ia memenuhi keinginannya. Keinginan Finis berkembang menjadi keinginan untuk memiliki, karena dengan memiliki, ia jadi lebih bisa mendapatkan apa yang ia inginkan secara bebas. Dengan itu, Finis juga mulai merasa kepemilikan menjadi “kenikmatan” tersendiri. Di sisi lain, kepemilikannya menjadi pembeda juga antara dirinya dengan makhluk lain. Ketimbang membandingkan langsung dirinya sendiri, akan lebih mudah membandingkan apa yang ia miliki. Kepemilikan juga menjadi ego.

Semua yang ia inginkan itu, hasrat biologis, hasrat memiliki, dan hasrat diakui, menjadi energi utamanya menjalani dunia. Terpenuhinya hasrat itu menghasilkan kenikmatan, dan tidak terpenuhinya menghasilkan penderitaan.

Tanpa ia sadari, hasrat-hasrat ini terperbarui terus. Ketika Finis merasakan kasur busa, maka karpet tidak akan nikmat lagi baginya. Sekali merasakan yang baru, yang lama tidak akan senikmat semula.

Semakin ia berusaha memenuhi semua hasrat itu, semakin ia melihat apa yang ada di dunia ini terbatas. Sehingga, ketika ada yang berhasil mendapatkan sesuatu, ada yang tidak. Ia melihat, penderitaan menjadi hal yang niscaya. Finis kebetulan berada pada posisi yang tidak menderita. Ia muncul ke dunia dengan banyak pemberian sehingga ia dapat memiliki dengan mudah dari awal. Banyak yang ia temui tidak demikian.

Beberapa yang tak tahan menderita pada akhirnya merasa eksistensinya adalah hal buruk. Kehadiran di dunia menjadi hal yang dibenci. Segala hal terkait dunia menjadi sangat busuk dan membuat mereka lebih ingin untuk melepaskannya. Segelintir diantara mereka Finis saksikan benar-benar memutus eksitensinya sendiri dengan mengakhiri hidup. Finis mencoba mengerti, tapi Finis juga bingung. Bagi mereka, untuk apa hidup bila hasrat tidak bisa dipenuhi, bila hanya ada penderitaan. Bagi yang seperti Finis, punya akses untuk memenuhi hasrat mereka, akan menganggap eksistensi mereka adalah hal yang sangat baik dan perlu diperkaya. Mereka ingin terus mempertahankan hidup mereka, dan dengan itu teurs memenuhi segala hasrat mereka.

Finis menyaksikan itu semua. Finis juga banyak hal, beragam kegagalan dan beragam kematian, yang membuat ia tahu, hasrat-hasrat itu sebenarnya akan gagal terpenuhi. Lebih jauh lagi, Finis merasa hasrat itu pasti akan gagal terpenuhi. Karena pada akhirnya kehadiran dirinya, kehadiran setiap makhluk, tidak lah selamanya, karena suatu saat hidup akan terputus dengan sendirinya. Tapi ia tidak tahu hal lain lagi di dunia ini. Jika hasrat ini tidak dituruti, apa yang perlu ia lakukan di dunia?

Finis bingung.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus apa di dunia. Ia bisa memaknai benda-benda yang ia temui dan lihat, tapi ia tidak bisa menemukan makna kehadirannya sendiri. Makna adalah sesuatu yang ia berikan atau ia sematkan sendiri dengan konteks yang dikaitkan dengan kehidupannya. Ia dengan mudah memaknai langit, awan, burung, atau benda-benda lain, dengan beragam konteks yang ia bisa pahami dari kehidupannya. Tapi dengan konteks apa ia harus memaknai hidupnya sendiri? Yang ia ingat, yang ia tahu, hanya lah apa yang ia alami, apa yang ia dapatkan dari tubuhnya.

Finis coba mencari jawabannya. Ia merenung, berkelana, membaca, mencari tahu apa yang juga makhluk lain pikirkan. Ia menyadari semua makhluk serupa juga mengalami hal yang sama, juga merasakan hal yang sama. Namun, sebagian besar dari mereka memilih untuk abai dan melanjutkan apa yang selama ini mereka ketahui: memenuhi hasrat. Mereka mencari kepemilikan lebih banyak lagi, mereka berkembang biak, berlomba-lomba memiliki di tengah dunia yang serba terbatas, memenuhi keinginan dan dengan itu mencapai kenikmatan hidup.

Finis menempuh banyak hal untuk bisa menyelesaikan ini, meski mungkin tidak benar-benar tuntas. Finis melihat banyak jawaban. Ada yang memilih untuk meninggalkan hasrat sepenuhnya dan cukup hidup seperlunya. Ada yang menganggap hasrat-hasrat ini perlu dihayati dan dirayakan sepenuhnya sebagai satu-satunya yang dipunya. Ada yang menganggap eksistensi diri memang tak punya alasan ataupun makna. Puluhan jawaban berbeda ia dapatkan.

Semakin ia mencari, ia semakin merasa bahwa mustahil menemukan jawaban sesungguhnya. Karena ia ada di dunia begitu saja, secara tiba-tiba, dengan semua keadaannya, tanpa sedikitpun tahu untuk apa. Dan, semua orang pun seperti dia. Finis melihat setiap jawaban punya sisi benarnya sendiri. Ia hampir mengira bahwa pada akhirnya memang ini masalah pilihan, mengenai apa yang sesuai bagi tiap individu.

Bahkan, mungkin pemaknaan atas dunia hanya bisa kembali ke pengalaman subjektif pribadi, atas apa yang dialami dan atas apa yang ingin diekspresikan. Finis tidak puas dengan hal ini. Kesimpulan seperti ini hanya “back to square one”. Jika makna eksitensi kembali ke setiap individu dan menjadi sangat relatif, maka itu sama saja seperti tidak ada makna, pikir Finis. Itu hanya mengakali, memutari masalah, bukan menyelesaikan masalah itu.

Finis berpikir keras, apakah mungkin menemukan titik tengah di sini. Hingga kemudian, dalam suatu pembicaran ringan oleh makhluk lain, ia tak sengaja mendengarkan selagi pikirannya melayang merenung di pinggir jalan. Pembicaraan itu hanya terkait bagaimana memelihara ikan, makhluk air, adalah dengan fokus pada tempat hidupnya. Dari pembicaraan itu, muncul satu kalimat.

“Ikan tidak bisa memahami lebih dari apa yang ada di air”

Sontak, Finis mendapat jawabannya.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora