Kejadian

Sehari dalam hidup Flik, dan kejadian-kejadian yang menyusunnya

- 20 mins

Ceklik.

Flik menutup pintu rumah tempat ia tinggal, dilanjutkan memutar kunci yang tertancap di gagangnya dengan gantungan kecil berupa tali berwarna merah. Ia melepas kunci itu dan mengalungkannya di lehernya. Tarikan napas kecil ia lakukan sebelum berbalik dan berjalan sebentar ke sebuah sepeda yang sabar menantinya sedari tadi. Tempat ia bekerja mungkin tak dapat dikatakan dekat, namun ketiadaan angkutan umum di sekitar tempat tinggalnya yang masih berupa kontrakan dan belum mampunya ia membeli motor sendiri membuatnya harus bersepeda untuk bekerja ketimbang berjalan kaki. Paling tidak ia bisa sedikit bersyukur karena sepeda tua bekas kakaknya yang berumur lebih dari satu dekade itu masih bisa ia pakai sekarang, meski mungkin dengan rantai yang terkadang berdecit pelan atau rem yang tidak lagi cakram.

Tempat yang ia tinggali sebenanrya bukanlah sebuah rumah, namun kumpulan kamar yang disewakan secara terpisah. Sekarang kontrakan itu tengah sepi sehingga dari 5 kamar yang ada, hanya kamar yang ditempati Flik dan sebuah kamar lagi yang berpenghuni. Kamar kost Flik relatif kecil namun cukup untuk ia hidup sendiri. Pintu depannya hanya menghadap sebuah halaman kecil bersama untuk menaruh sepeda atau motor yang dikeliling pagar rendah. Ia buka gerbang berkarat di depan yang berderik bagaimanapun Flik mendorongnya. Di depan gerbang itu terlihat sawah yang cukup luas terbentang dengan padi berbaris rapi baru tertanam beberapa pekan. Flik menuntun sepedanya keluar menuju jalan tanah yang cukup sempit namun mobil ukuran sedang masih mampu melewatinya dengan sangat terbatas. Setelah menutup kembali gerbang, ia segera menaiki sepedanya dan mulai mengayuh, melintasi jalan kecil pinggiran kota menuju tempatnya bekerja.

Sepanjang jalan pikiran Flik melayang kemana-mana. Ia tipe yang suka merenung, dimana pun ia berada dan apapun yang ia lakukan. Kayuhan sepedanya mengiringi lamunannya yang memikirkan kondisi ekonomi negara, masa depan teknologi digital, keponakannya yang tengah sakit, hingga tikus sawah yang sering kali mampir mengorek tempat sampah di depan kamarnya. Apapun yang ia amati bisa menjadi bahan kontemplasi baginya. Kali ini, pikirannya teralih pada anak-anak Sekolah Dasar yang terlihat berlarian berangkat ke sekolah bersama-sama. Mereka berbicara dengan sangat keras sehingga setelah menjauh dalam jarak sekian meter pun Flik masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Terderngar beberapa kata-kata yang cukup kasar terselip dalam kalimat-kalimat mereka. Ia mulai berpikir tentang bagaimana kondisi anak-anak modern yang mulai kurang sopan santun dan adab, bagaimana perangkat dan teknologi digital mempengaruhi itu semua, dan ia pun membayangkan apa yang sebenanrya orang tua mereka lakukan di rumah untuk mendidik mereka…

Miiaaau!

Terdengar suara kucing seperti kesakitan diiringi bayangan kuning melintas tepat di depan Flik. Terkaget, Flik sontak membanting stang sepedanya untuk menghindar. Sayang, tanpa ia sadari dari belakang Flik datang sebuah sepeda motor yang juga tak punya cukup waktu untuk bereaksi sepenuhnya pada gerakan tiba-tiba Flik. Bruk!

Yang Flik sadari tiba-tiba ia sudah terkapar dan melihat sepedanya tergeletak di parit kecil di pinggir jalan. Seekor kucing oranye dengan bulu ekor tebal memakai kalung lonceng biru kecil terlihat dari sudut mata Flik menyelinap ke balik sebuah pohon tak jauh dari situ.

Seseorang laki-laki dengan helm merah dan jaket hitam terlihat mendekat dan kemudian berjongkok dekat Flik. “Eh mas, gak papa?” terdengar suara pelan.

Dengan sedikit mengerang, ia mencoba berdiri. Celana dan bajunya yang memutih diselimuti debu jalanan ia tepuk-tepuk pelan dengan beberapa kali meringis menyadari sikut dan lututnya mengalami sedikit luka lecet. “Gak papa. Duh, maaf saya yang salah tadi” ujar Flik sambil masih memeriksa tangan dan kakinya. Ia kemudian segera beralih pada sepedanya yang kondisinya sukar dijelaskan. Lelaki berjaket hitam tadi segera mencoba membantu Flik mengeluarkan sepedanya. Memeriksa singkat, muka Flik berubah muram. Stang dari sepeda tua itu sedikit bengkok dengan kawat remnya terputus. Setelah beberapa kali memeriksa, Flik putus asa.

“Dekat sini ada bengkel sepeda mas,” ujar orang berjaket hitam memberi saran. “Saya antar kalau mas mau.”

Ia tak menemukan alasan untuk menolaknya, maka Flik terima tawaran tersebut dan berangkat membonceng di motor dengan sepedanya ditarik di sebelah samping. Sesampainya di bengkel, pengendara motor tadi pamit selagi berusaha memberi Flik selembar uang kertas, yang dengan keras ditolak oleh Flik. Bengkel yang juga sebuah rumah ini terlihat belum buka, namun seorang pria yang tengah duduk di depan pintu dengan baik menerima sepeda Flik dan mempersilakannya untuk duduk, meski sepeda itu tak langsung dikerjakannya.

Flik duduk selagi menimang-nimang rencana selanjutnya. Jalur angkutan umum masih cukup jauh dari tempatnya berada, namun sepedanya juga tidak memiliki kepastian. Sesekali, bayangan apa yang telah terjadi berulang dalam pikirannya. Ia terus memikirkan bagaimana cukup sialnya ia berada di tempat yang tepat, dalam kondisi pikiran yang tepat, di waktu yang tepat sehingga kejadian itu bisa terjadi. Dari sekian banyak kemungkinan lokasi, waktu, dan kondisi yang bisa ada, keberadaan motor di belakangnya, lamunannya, dan juga lewatnya kucing itu seperti tersinkronisasi untuk memungkinkan hal ini bisa terjadi. Mungkin ini yang namanya bad luck, pikir Flik.

Setelah beberapa pertimbangan, dan juga beberapa koordinasi melalui telepon genggamnya, Flik memutuskan untuk cuti hari itu. Sepedanya mulai dikerjakan oleh tukang bengkel sekitar sepuluh menit kemudian. Selagi menunggu, ia mencoba jalan-jalan sedikit di depan bengkel.

Daerah itu lebih padat ketimbang ia tinggal, dengan rumah berjejer penuh sepanjang jalan tanpa ada lahan kosong. Pikirannya melayang kesana kemari memerhatikan beragam hal, dari tukang sayur yang lewat hingga layangan cukup besar yang tersangkut suatu kabel listrik. Tak sengaja, ia sampai mendengar pembicaraan setiap orang yang tertangkap telinganya. Terdengar dua orang perempun tengah bercakap-cakap di depan suatu rumah selang dua rumah dari bengkel. Bukan maksud ia menguping, namun apa yang mereka bicarakan menghentak sesuatu di ingatan Flik. Kucing sang pemilik rumah ternyata kabur sebelumnya dan belum kembali. Itu hal biasa. Akan tetapi, yang tak biasa adalah ciri-ciri kucing yang dideskripsikan persis dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Tak salah lagi, oranye dengan bulu ekor tebal dan kalung lonceng biru.

Flik terdiam sesaat, namun akhirnya mengabaikan juga hal tersebut dan lanjut berjalan-jalan. Beberapa menit kemudian ia kembali dan memutuskan menunggu di bengkel. Sepedanya selesai diperbaiki kira-kira hampir satu setengah jam kemudian. Hari sudah siang. Sempat terlintas dalam benak Flik untuk tetap lanjut kerja, namun pada akhirnya pulang menjadi keputusannya.

Entah kenapa, tanpa ia sadari ia memilih jalan ke tempat ia jatuh tadi. Sesampai di sana ia celingak-celinguk, berusaha melihat bayangan kuning yang menjatuhkan ia tadi. Bukannya ia dendam, tapi rasa penasaran menyelimutinya. Beberapa lama memerhatikan tidak membuahkan hasil, ia akhirnya melanjutkan kayuhan sepedanya. Tak jauh ia mengayuh tetiba kucing oranye itu tertangkap kembali sudut matanya di atas sebuah tembok rumah. Segera, Flik berhenti dan tangannya meraih ke saku tasnya, mengeluarkan botol kecil berisi makanan kucing butiran siap saji yang selalu ia bawa kemana-mana. Tentu. Flik sebenanrya adalah penyuka kucing. Stok makanan kucing selalu ia miliki dan terkadang jika bosan ia hanya akan keliling mencari kucing untuk diberi makan.

Bukan hal sulit bagi Flik untuk mengundang kucing oranye itu mendekat walau malu-malu. Ia tuang beberapa butir makanan kucing tersebut di pinggir jalan. Tak butuh waktu lama untuk akhirnya kucing itu merasa aman dan memakannya. Flik mengelus kucing itu dan mengonfirmasi kembali semua ciri-cirinya.

Selesai kucing itu makan, Flik bermain sebentar dengan kucing itu untuk membuatnnya nyaman, sebelum kemudian menggendongnya dan membawanya bersama sepedanya. Cukup sulit untuk bersepeda sambil menggendong kucing, namun Flik bersyukur kucing itu tidak berontak dan cukup tenang. Kembali ke daerah bengkel, ia menghampiri rumah tempat tadi ia mendengar obrolan mengenai kucing ini. Flik memberi salam dari luar pagar. Pintu terbuka dan seorang gadis muda terlihat keluar. “Ya? Ada apa mas?” sahutnya.

Belum sempat Flik merespon, gadis itu mengubah raut wajahnya ketika menyadari apa yang dibawa Flik. “Eh, Chiki! Bu, chiki pulang ni bu!” Teriaknya selagi bergegas mengenakan alas kaki dan membukakan gerbang.

Flik menyerahkan kucing itu dan sedikit bercerita bagaimana ia bisa menemukannya. Ibu si gadis keluar dan mempersilakan Flik masuk. Meski sungkan, karena sedikit didesak, akhirnya Flik masuk dengan niat hanya sebentar. Di teras rumahnya terlihat kandang kucing cukup besar dimana gadis itu memasukkan Chiki ke dalamnya. Disuguhi segelas teh hangat dan beberapa kue, Flik berbincang-bincang sejenak dengan si Gadis, yang kemudian ia ketahui sepantaran dengannya namun masih kuliah pascasarjana dan bernama Nina. Flik kemudian pamit pulang ketika matahari sudah mulai meninggi.

Ada hal yang berbeda dalam pikiran Flik, karena untuk pertama kalinya pikirannya terfokus sepanjang perjalanan pulang. Ya, terfokus mengulang kembali perbincangan dengan Nina. Hari-hari berikutnya, setiap kali berangkat dan pulang kerja ia selalu menyengajakan melewati daerah rumah Nina, meski pada sebagian besar kesempatan, Nina berada di dalam rumah. Ketika sesekali Nina berada di luar saat Flik lewat, mereka akan menyempatkan berbincang-bincang. Dalam beberapa pekan, mereka menjadi dekat.

Di suatu malam, Flik berbaring di kasur kamarnya menatap langit selagi membiarkan pikirannya melayang bebas. Di siang harinya Flik baru saja menghabiskan waktu bersepeda bersama Nina, hal yang mulai rutin mereka lakukan. Kejadian yang mengawali semua ini kembali ke pikiran Flik. Ia memikirkan bagaimana cukup beruntungnya ia berada di tempat yang tepat, dalam kondisi pikiran yang tepat, di waktu yang tepat sehingga kejadian itu bisa terjadi. Dari sekian banyak kemungkinan lokasi, waktu, dan kondisi yang bisa ada, lokasi bengkel sepeda, pengendara motor yang mengantarnya, obrolan ibunya Nina, dan juga lewatnya kucing itu seperti tersinkronisasi untuk memungkinkan pertemuannya dengan Nina terjadi. Mungkin ini yang namanya good luck, pikir Flik.


Bulan demi bulan terlewati. Hari sudah beranjak sore dan Flik tengah duduk bersantai sepulang kerja. Flik baru saja membuka sebuah pesan dari rekannya yang membuat ia berpikir panjang. Tawaran proyek dengan kisaran insentif yang lumayan diberikan padanya. Sebagai yang selalu hidup sederhana, ia bukan tipe yang cenderung berlari mengejar kemana uang berada, namun kondisi kali ini cukup berbeda. Nina sudah wisuda dan mulai mencari kerja sendiri. Mereka masih rutin berinteraksi meski dengan waktu yang terbatas karena kesibukan masing-masing. Flik tidak bisa melangkah lebih lanjut terkait Nina mengingat perekonomiannya masih sangat terbatas. Kesempatan ini menjadi kunci untuk hubungannya dengan Nina.

Ia menghabiskan waktu semalaman untuk merenungi semuanya, hingga akhirnya di pagi hari, ia memutuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Untuk menindaklanjuti, ia harus ke ibukota dalam 2 hari ke depan untuk diskusi lebih detail terkait proyek ini juga sekalian pengurusan administrasi dan penandatanganan lainnya. Untuk proyek ini, ia mungkin harus cuti. Bahkan, jika ia melihat ada potensi lebih jauh, Flik membuka kemungkinan untuk melepas pekerjaannya yang sekarang. Tiket kereta ke ibukota langsung ia beli pagi itu juga secara daring.

Esoknya, Flik berusaha pulang kerja lebih cepat. Kereta yang ia akan naiki berangkat malam hari sehingga bisa mencapai lokasi di waktu shubuh tanpa ia harus menginap. Akan tetapi, ketika ia mau izin pulang, atasannya di tempat ia kerja meminta tolong padanya beberapa hal untuk diselesaikan dulu. Ia tetap bisa pulang agak cepat namun tetap lebih sore dari rencana semula. Sesampainya di rumah, ia persiapkan semuanya. Dalam bayangannya pagi ini, Flik berniat untuk berangkat ke stasiun sebelum matahari terbenam agar lebih banyak alokasi waktu kosong. Sayang, ketertundaannya untuk pulang lebih awal membuatnya baru mulai bisa berangkat setelah maghrib. Satu-satunya pilihannya untuk pergi ke stasiun adalah dengan menggunakan angkutan daring. Memang hal yang tidak biasa ia lakukan, tapi Flik tak punya pilihan lain.

Flik berangkat segera begitu jemputannya tiba. Ia sudah agak khawatir mengingat kereta yang akan ia naiki akan berangkat sejam lagi. Kekhawatirannya berbuah ketika memasuki pusat kota, jalanan tetiba penuh sesak kendaraan sehingga bahkan sepeda motor pun tidak mampu bergerak maju. Pikiran Flik menjadi kacau dengan pertanyaan berputar di kepalanya atas apa yang terjadi. Ojek yang ia naiki pun tidak mengetahui apa-apa. Kemacetan ini bergerak sesekali namun sangat lambat. Mata Flik berayun antara jalan dan jam tangannya. Setiap detik terasa berarti bagi Flik saat ini.

Stasiun masih sekitar 3-kilometer lagi, yang sebenarnya jika lancar mungkin hanya butuh 5 menit untuk dicapai motor. Seiring kemacetan bergerak merayap lamban, suara lagu sayup-sayup dari kejauhan terdengar semakin jelas. Beberapa obrolan antar sesama pengendara motor membuat Flik tahu bahwa sebuah acara konser tengah berlangsung di sebuah lapangan dekat situ, memperjelas kemacetan total yang ia alami. Flik was was. Setengah jam. Dua puluh menit. Lima belas menit. Sisa waktunya terus berkurang. Akhirnya dengan perhitungan kasar dan sedikit kenekatan, Flik memutuskan turun dan langsung berlari ke arah stasiun.

Flik bertaruh. Ia tak punya pilihan lain selain mencoba mencapai stasiun dengan sisa waktu yang ia punya. Flik berlari dan berlari. Sesampainya di stasiun, alangkah hancur hati Flik kemudian ketika ia saksikan sendiri kereta yang seharusnya ia naiki berangkat di depan matanya yang terengah-engah di gerbang masuk peron.

Pikiran Flik kacau. Ia pun bingung dengan keadaannya sekarang. Ia tak pernah sebegitu kecewanya atas hidup setelah begitu banyak beban dan keterbatasan ia berhasil lalui dengan ikhlas. Mungkin memang Nina mengubah pikirannya, tapi ia tak bisa menyalahkan siapapun. Dengan lesu ia berjalan pelan menuju arah pulang. Ia tak punya energi untuk merencanakan apapun, sehingga biarlah kegelapan malam bersama langkah kaki kecilnya menemaninya untuk saat ini, meskipun mungkin butuh dua jam lebih untuk mencapai kontrakannya dengan jalan kaki.

Pikirannya pada sebagian besar waktunya saat itu kosong, selain sedikit mempertanyakan atas apa yang terjadi padanya malam itu. Ia memikirkan bagaimana cukup sialnya ia berada di tempat yang tepat, dalam kondisi pikiran yang tepat, di waktu yang tepat sehingga hal ini bisa terjadi. Dari datangnya tawaran itu, keterlambatannya pulang kerja untuk bersiap ke stasiun, hingga adanya konser malam itu, seperti tersinkronisasi untuk memungkinkan pertemuannya dengan Nina terjadi. Mungkin ini lah yang namanya bad luck, pikir Flik.

Ia mencapai daerah dekat kontrakannya ketika malam sudah cukup larut. Daerah itu sepi di malam hari. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan seperti halnya di kota, sehingga pukul 9 malam hampir semua rumah sudah tertutup rapat, kecuali segelintir warung kecil yang terkadang buka sampai tengah malam. Flik terus berjalan pelan dengan pikiran yang semakin lama semakin kosong, hingga ketika ia melewati suatu area persawahan. Flik awalnya tidak menyadari karena ia lebih banyak melihat ke bawah ketimbang melihat lurus ke depan, namun kemudian terlihat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Kap mobil tersebut terbuka dan di baliknya terlihat seorang lelaki cukup tua tengah memeriksa. Flik hampir mengabaikan hal itu dan melintas begitu saja, namun dorongan kecil di hatinya membuatnya berubah pikiran dan berbalik.

Flik menyapa dan bertanya pada bapak tua itu. Mengenalkan diri dengan nama Kemal, bapak itu bercerita mengenai mobilnya yang sudah mogok sejak setengah jam lalu dan telpon genggamnya pun kehabisan daya. Tidak banyaknya lalu lalang di daerah itu membuat pak Kemal juga sukar meminta bantuan. Flik tentu bukan ahlinya mesin mobil, namun ia sangat paham adanya bengkel mobil hampir 24 jam yang ada kira-kira 1-kilometer dari situ. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana membawa mobil ini kesana, karena jelas mendorong mobil itu sendiri ataupun berdua akan sangat menguras energi. Flik kembali menimang-nimang. Mungkin satu-satunya cara adalah ia berlari sebentar ke perkampungan terdekat, berharap bisa menemukan orang ronda atau siapapun yang lagi begadang untuk dimintai tolong. Berpikir tak ada alternatif yang lebih baik, ia segera lakukan hal tersebut selagi meminta pak Kemal menunggu sejenak.

Tak butuh waktu lama bagi Flik untuk kemudian kembali bersama dua bapak-bapak lain. Bersama-sama, mereka mendorong mobil itu ke bengkel yang dituju Flik. Setelah mencapai bengkel, pak Kemal dan Flik beristirahat sejenak di sebuah warung kopi kecil tak jauh dari situ selagi mobilnya diperiksa. Pak Kemal meminjam gawai Flik untuk menghubungi keluarganya. Ia memutuskan untuk meninggalkan mobilnya dan mengambil kembali esok hari. Selagi menunggu di jemput, pak Kemal memesankan Flik kopi. “Pesan saja mau apa mas. Saya yang bayar. Berterima kasih sekali saya tadi sudah dibantu” ujar Pak Kemal.

Flik tersenyum dan menolak halus. Ia hanya terdiam, pikirannya masih sedikit tidak nyaman dengan apa yang ia alami. Pun, ia juga mulai lelah setelah berlari ke stasiun, berjalan pulang, dan mendorong mobil. Pak Kemal pelan-pelan mengajak Flik berbincang-bincang dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Keramahan pak Kemal membuat Flik mulai mengikuti pembicaraan secara perlahan. Basa basi kecil berujung pada beragam bahasan lainnya. Tanpa ia sadari, yang Flik ceritakan mulai mengarah ke masalah yang baru ia alami.

Pembicaran terputus ketika sebuah mobil lain tiba, dan berhenti tepat di depan warung. “Rumahmu masih jauh ga mas? Ikut dianter supir saya saja ya” ujarnya. Fakta bahwa Pak Kemal punya dua mobil dan seorang supor membuat Flik mulai menyadari bahwa pak Kemal bukanlah orang biasa. “Tidak apa-apa pak, tinggal deket lagi kok. Nanggung” tolak Flik sopan.

“Ya sudah kalau gitu, saya pulang dulu ya. Oh ya, kamu kalau bisa besok siang ke alamat ini” kata pak Kemal sambil menyerahkan selembar kartu. Pak Kemal beranjak dan memasuki mobil, meninggalkan Flik yang masih terpaku membaca isi kartu itu. “Sekali lagi makasih ya sudah repot sekali tadi” ujar pak Kemal melalui jendela dari dalam mobil, selagi melambaikan tangan, sementara mobil itu bergerak pelan menjauh. Flik masih membeku. Alamat yang diberikan pak Kemal tadi adalah alamat sebuah perusahaan besar dan pak Kemal adalah seorang direktur di situ. Pikirannya semakin tercampur aduk dengan pertanyaan atas apa yang diinginkan pak Kemal.

Esoknya semua pertanyaan Flik terjawab. Sesampai di kantor pak Kemal, ia ditawari sebuah pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih besar dibandingkan pekerjaannya saat ini. Flik hampir tak percaya atas jumlah yang ditawarkan padanya, karena ia tak pernah bisa membayangkan uang sebanyak itu bisa dipakai apa dalam sebulan. Ia pulang hari itu dengan pikiran yang kembali larut dalam renungan. Mengiringi kayuhan sepedanya, ia merenungi semua yang terjadi malam sebelumnya. Ia memikirkan bagaimana cukup beruntungnya ia berada di tempat yang tepat, dalam kondisi yang tepat, di waktu yang tepat sehingga hal ini bisa terjadi. Dari datangnya tawaran projek, adanya konser, keterlambatannya naik kereta, dan mogoknya mobil pak Kemal, seperti tersinkronisasi untuk memungkinkan ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Mungkin ini lah yang namanya good luck, pikir Flik.


Flik menutup pintu rumah tempat ia tinggal, dilanjutkan memutar kunci yang tertancap di gagangnya dengan gantungan kecil berupa tali berwarna merah. Ia melepas kunci itu dan mengalungkannya di lehernya. Tarikan napas kecil ia lakukan sebelum berbalik dan berjalan sebentar ke sebuah motor yang sabar menantinya sedari tadi. Hari itu hari sabtu, namun Nina mengajar privat di sebuah rumah seorang anak. Flik berniat menjemputnya sekarang.

Ya, hanya selang 3 bulan setelah mendapat pekerjaan barunya, Flik melamar Nina. Sekarang, setelah 2 tahun berlalu, Flik dan Nina sudah tinggal bersama di sebuah rumah sederhana di suatu perumahan kecil. Flik pun akhirnya mampu membeli motor untuk memudahkan transportasinya, meski sepeda tuanya masih ia rawat dan simpan dengan baik.

Flik menyalakan motornya dan berangkat pergi. Ia cukup semangat hari itu, karena setelah selesai mengajar Flik dan Nina berniat untuk pergi berjalan-jalan ke suatu tempat wisata. Apalagi sebenarnya kali ini Nina pulang cepat karena anak didiknya ada agenda lain. Flik mengendarai motornya dengan cepat meski tetap berhati-hati. Ia melihat tanki bensin dan menimang apakah perlu mengisi terlebih dahulu atau tidak. Akan tetapi, melihat antrian di tempat pengisian yang begitu panjang membuat Flik lebih memilih untuk menunda mengisi dengan harapan ketika agak siang antrian tidak begitu panjang. Apalagi Flik sungkan jika harus membuat Nina menunggu sendirian. Ia melanjutkan perjalanannya.

Satu lampu lalu lintas lagi maka Flik akan memasuki daerah tempat Nina mengajar. Ia begitu tak sabar sehingga mendengus kesal ketika lampu berganti merah tepat saat ia sudah sangat dekat dengan persimpangan. Ia berhenti di baris paling depan dengan satu per satu kendaraan lain mulai ikut berhenti memenuhi jalan. Pikiran Flik membayangkan banyak hal. Lampu merah memang fase untuk merenung bagi Flik, karena terlalu banyak waktu berlalu sia-sia sementara tak banyak yang bisa dilakukan di tengah jalan. Dari beberapa rencana rumah tangganya bersama Nina, bayangan punya anak, karirnya yang perlahan terus menanjak, harga bahan pokok yang juga ikut meningkat, hingga pemilihan umum yang akan diadakan sebentar lagi menjadi bahan pikirannya yang ngalor-ngidul.

Tiba-tiba, bam! bam! Bruk! Pikiran Flik menghitam.

Flik membuka matanya pelan dan menyadari seluruh badannya sakit, terutama tangannya. Memindai sekelilingnya, ia menyadari berada di suatu ruang perawatan. Ia melihat Nina di sebelahnya duduk menunduk. Gerangan kecil Flik menyadarkan Nina dan membuatnya sontak berdiri, “Flik!”

Flik tersenyum mendengar Nina. Mereka berbincang dengan penuh suka cita seperti sudah sekian tahun tidak berjumpa. Nina bercerita bahwa sebuah truk mengalami rem blong yang memicu terjadinya tabrakan beruntun dan membuat Flik bersama beberapa pengendara lainnya harus dibawa ke rumah sakit. Dokter belum memberi tahu seburuk apa kondisi Flik karena sebelumnya beberapa pemindaian dan pemeriksaan harus dilakukan. Berusaha menghalau suasana tegang, Flik mencoba mengalihkan pembicaraan.

Setelah sekian lama berbincang, seorang dokter datang ke ruangan. “Bagaimana dok?” tanya Nina cemas. Dokter itu tersenyum. “Secara umum mungkin bisa dikatakan baik. Yang fatal adalah tangan kanan tuan Flik yang retak.” Ujar dokter itu dengan nada yang Nina dan Flik tangkap seperti mengandung ‘tapi’ tersirat di ujung kalimatnya.

“Tapi,” kata dokter itu melanjutkan setelah terdiam sesaat. “Dari hasil pindai rontgen tuan Flik, dideteksi adanya kanker kecil di paru-paru Flik.”

Mendengar itu, Flik dan Nina terlemas. Melihat raut wajah yang memburuk, dokter itu buru-buru menambahkan. “Sisi baiknya adalah, kanker ini belum ganas, sehingga bisa segera kita angkat sebelum menyebar. Jika ini dideteksi terlambat sedikit saja, maka akan semakin sulit menyembuhkannya. Jadi anggap saja ini hikmah dari kecelakaan itu. Jika tuan Flik dan bu Nina bersedia, kami bisa segera jadwalkan operasi pengangkatan. Silakan dipertimbangkan dulu. Keputusannya tidak harus saat ini, sekarang sebaiknya tuan Flik beristirahat yang banyak dulu” jelas dokter itu sebelum kemudian meninggalkan ruangan. Flik dan Nina berpandangan lama membisu. Hening menyelimuti ruangan itu cukup lama. Tak satupun dari Flik atau Nina bisa bersuara.

Setelah cukup lama dalam kesunyian, Flik angkat bicara, “Kau tahu Na, semua ini seperti déjà vu bagiku” Nina masih terdiam dan berusaha mendengarkan. “Dari bagaimana kita bertemu, bagaimana mas bisa dapat pekerjaan lebih baik sehingga kita bisa menikah, dan bagaimana ini terjadi…” Flik terdiam sesaat, sementara memori masa lalu perlahan kembali dalam pikirannya. “Mas melihat bagaimana semua ini, ya, segala sesuatu dalam hidup ini, atau bahkan di seluruh dunia ini, terjadi selalu di tempat yang tepat, dalam kondisi yang tepat, di waktu yang tepat. Untuk yang kali ini, dari kamu yang pulang lebih cepat, antrian bensin yang panjang, keterlambatan mencapai hijau di perempatan itu, hingga rem truk yang blong, seperti tersinkronisasi untuk memungkinkanku sampai di rumah sakit ini. Tapi apakah ini good luck atau bad luck, mungkin memang tidak ada cara memutuskan. Tepat untuk apa, kita tidak pernah tahu. Keterbatasan manusia dalam melihat ruang dan waktu membuat good dan bad sangat bergantung konteks. Sesuatu yang sekarang bad, mungkin kelak akan jadi good, atau sebaliknya. Mungkin memang tidak ada namanya yang good or bad phenomena. Segala sesuatu terjadi begitu saja. Cukup terjadi. Ada alasan mungkin, tapi narasi yang besar kita tak pernah bisa tahu. Kita, sayang, hanya bisa belajar sebaik mungkin, mengambil hikmah yang tercecer, pesan rahasia yang berusaha disampaikan Yang Berkuasa.”

Flik memegang tangan Nina, menatapnya lembut. Seketika, mereka berdua seperti merasa lebih lapang dan dunia terasa lebih nyaman.


“Begitulah hidup”

Mungkin frase sederhana paling bisa kita pegang untuk menjalani setiap detiknya. Setiap sedih yang menyapa hati, setiap susah yang menghampiri, setiap air mata yang membasahi, atau setiap amarah atas dunia yang menyakiti, hanya perlu direngkuh, dirangkul, dan dipeluk sepenuh jiwa selagi berkata, “Begitulah hidup, karena bukanlah hidup tanpa adanya kalian.”

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora