Memento Mori

Pertemuan Tian dengan Kema di taman, dan buku yang mereka tulis tentang mati

- 28 mins

Jarak matahari ke cakrawala kala itu sudah hampir sejengkal, menghasilkan difusi yang melukis langit oranye lekat, sementara Tian masih duduk santai di salah satu kursi. Taman kecil di pinggir kota itu cukup sepi, menjadi hiburan kecil bagi pemukim perumahan elit di sekitarnya. Tidak banyak yang kesana di waktu selain minggu pagi kecuali segelintir anak kecil dengan waktu luang sepanjang hari.

Mata Tian terfokus pada buku yang dipegangnya. Sesekali ia mendongak membiarkan pikirannya melayang dalam kontemplasi. Duduk ditemani senja dan buku adalah kebiasaannya sedari SMA. Bahkan ketika sudah mulai kerja tahun ini, ia tetap berusaha menyempatkan mampir, apalagi setelah beberapa lama terputus karena mengejar kelulusan.

Tetiba, Tian menyadari kehadiran seorang pemuda lain tak jauh darinya, yang sebelumnya ia yakin tidak ada. Pemuda itu duduk di sebuah kursi roda, dengan muka yang agak pucat. Sesekali ia terbatuk pelan.

Beberapa saat mencoba mengabaikan, pikiran Tian tetap gagal menjauhkan rasa penasarannya terhadap pemuda itu, yang entah kenapa terlihat berbeda.

Tian memutuskan menyapanya, “Sering kesini juga mas?”

Menoleh ke Tian, pemuda itu sedikit tersenyum, “Hmm? iya. Tempat ini sepi, enak buat menyendiri”. Kata pemuda itu sambil Kembali menatap lurus ke entah ke arah mana.

“Sama. Aku hampir tiap sore baca buku di sini, memberi fokus. Tapi kok aku jarang lihat masnya ya?” Sambut Tian.

Pemuda itu terdiam sesaat, sementara tatapan matanya tidak berubah sedikit pun, “…. Well… Ini sebenarnya pertama kali ku kesini setelah beberapa bulan…”

“Oh gitu. Kemarin-kemarin ini lagi sibuk?”

“Yah, sibuk…” Ia merespon, dilanjut anggukan singkat.

“Sibuk berbaring. Aku terkena… anggaplah suatu hal, yang mengurangi umurku banyak. Sekarang aku hanya tak tahan saja, ingin membiarkan pikiranku lepas sejenak.” Lanjutnya selagi diselingi batuk kecil.

“Oh…. Maaf…” Suara Tian mengecil mendengar jawaban itu. Setelah hening beberapa saat, Tian berusaha mengembalikan suasana, “By the way, aku Tian.”

“Oh ya. Aku Kema.”

Hening kembali menguasai. Dengan langit yang semakin kehilangan birunya dan angin yang berhembus pelan, hening seperti itu pun terasa nyaman bagi keduanya, meski ada kecanggungan di antara mereka.

“Kau senang baca buku sore gini Tian? Sepertinya menyenangkan.” Jeda sejenak itu akhirnya terpotong oleh suara Kema.

“Well, yah. Dan langit kuning begini paling menenangkan”

“Kita sama kalau begitu. Tapi entah berapa kali lagi aku bisa melihatnya.”

Tian menoleh, “Kenapa? Masih ada besok-besok.”

Masih dengan raut muka yang tak juga berubah, Kema menjawab pelan, “Besok itu belum tentu ada Tian. Tidak ada yang nyata dalam waktu selain saat ini. Kalaupun besok itu ada, paling hanya berisi hari-hari di ranjang seperti biasa. (uhukuhuk)”

“… kenapa begitu pesimis?”

“Penyakitku genetik, tidak ada kata sembuh bagiku. Siapa yang menyangka. Detik demi detik hanya seperti menghitung sisa detak jantungku.” Kema menarik napas panjang sejenak. “Kalaupun aku akan terus bertahan hidup. Tak banyak yang bisa ku lakukan sebelum akhirnya aku harus berbaring lagi.”

“…Jadi, apa kau lebih memilih untuk segera mati?” Celetuk Tian spontan.

Kema terlihat cukup kaget mendengar itu. Senyum kecil merekah di wajahnya. “Kau lucu Tian bertanya seperti itu. Kau tak memandangku dengan rasa kasihan.”

“Yah, Aku bayangkan semua orang sudah melakukan itu.” Ujar Tian mengangkat bahu.

“Well, you’re right. Aku tak ingin, tak butuh, dikasihani. Dengan hidup seperti ini, semua itu tidak membuat keadaan jadi lebih baik. Apa artinya mengasihaniku ketika tak banyak yang bisa mereka lakukan? (uhukuhuk)” Batuk yang lebih keras dari sebelumnya mengakhiri kalimat Kema. Setelah mengatur nafasnya kembali, Kema melanjutkan, “Empati pun percuma. Mustahil seseorang mengerti tanpa merasakan ini sendiri. Dan tentu… aku tak berharap ini terjadi pada siapapun.”

“Kau benar…” Kalimat Tian terpotong dengan datangnya seorang perempuan paruh baya yang menghampiri. Ia langsung ke belakang Kema dan memegang kursi rodanya.

“Sudah cukup ya den. Sekarang istirahat lagi” Ujar perempuan itu.

“…. Baik…” respon Kema pelan dengan wajah yang kembali muram seperti awal ia datang. Kursi rodanya ditarik dan kemudian didorong pelan ke arah luar taman.

Tian menatap sementara Kema dan perempuan itu menjauh. Ia sendiri meneruskan bacaannya sebelum akhirnya pulang saat gelap. Pertemuannya dengan Kema entah kenapa menyisakan rasa penasaran yang tinggi di kepala Tian. Apalagi ia termasuk yang overthinking atas banyak hal di dunia ini.


Esoknya. Tian menjalani rutinitas sore harinya. Kali ini, Nisa, adiknya yang masih TK, ikut bersamanya. Sesampainya di sana, Tian mengambil singgasananya yang tak pernah berubah, sementara Nisa langsung sibuk bermain sendiri dengan sebuah ayunan. Tian membaca buku sembari tetap mengawasi Nisa.

Tak lama kemudian, Kema datang. Kali ini ia mendorong sendiri kursi rodanya, tiba tepat di lokasi kemarin, ia kembali diam dengan tatapan kosong.

“….”

Hening menyelimuti mereka berdua selama beberapa menit. Entah apakah saling menunggu atau memang masing-masing lagi tenggelam dengan pikiran masing-masing, tak ada kata-kata atau gerakan yang mereka lakukan. Suara denyit ayunan Nisa justru yang menguasai ruang suara di sore itu. Hingga akhirnya, setelah beberapa saat, dengan mata tak beranjak dari tatapan semula, Tian memulai singkat

“Hei.”

“… Ya?” Respon Kema pelan.

“Sudah tidak perlu berbaring lagi?”

“Sudah seharian tadi.”

“Well, Mungkin lama-lama kamu akan membaik”

“Nobody knows. Berpikir keadaan yang buruk selalu lebih baik daripada berpikir keadaan membaik. Dengan begitu, aku selalu siap, daripada berharap namun tidak terjadi. (uhuk)”

“Kamu ada benarnya. Tapi, … berharap memberi kita energi untuk berbuat lebih kan?”

“Ya, seperti kata mereka, ‘prepare for the worst, hope for the best’ But still, not in my case. Berharap tidak mengubah apapun.” Kema mendongak dan terdiam sesaat. “Menjadi sekarat seperti ini terasa… aneh. Sering membuatku berpikir, apa yang mau dicari lagipula dengan hidup lama-lama?” Lanjut Kema selagi menoleh ke Tian.

Tian tampak menimang-nimang sebelum spontan ia menjawab, “Hmm, banyak”

“Ya, untukmu.” Tukas Kema cepat. “For me, nothing. Aku tidak tahu apa yang menahan Izrail. Kenapa membiarkanku tetap hidup dalam keadaan begini.”

Tian terdiam, “Maaf…”

“It’s okay. Pikiran seperti ini sudah menggerogotiku begitu lama sampai sudah padam dengan sendirinya. Aku hidup, tapi tidak hidup.”

Tidak mendengar respon dari Tian, Kema melanjutkan. “Tell me Tian, kalaupun tadi kau bilang banyak yang bisa kita cari dalam hidup lama-lama, tapi buat apa? Apa yang berbeda bagi yang berhasil mendapatkan sesuatu dengan yang tidak di hidup ini? Kita akan mati juga pada akhirnya.”

Tian tampak berpikir. Setelah beberapa waktu, dengan sedikit ragu ia menjawab, “… at least, hidup jadi lebih … puas?” Ia terdiam. Tidak yakin dengan jawabannya, ia melanjutkan, “Dan… bermakna?”

“Jawaban seperti itu hanya akan menambah pertanyaan.” ujar Kema dengan nada sinis. “Apa yang kau dapatkan dari hidup yang puas dan bermakna? Kamu akan lupa dan dilupakan juga akhirnya. (uhukuhuk)”

“Konsep kepuasan itu bukannya yang menjadi motivasi dasar manusia?” Jawab Tian segera dalam ketidaksetujuan. “Bagaimana kita ‘enjoy every moment’? Ya pada akhirnya kita akan mati, tapi mumpung masih hidup, kita maksimalkan kepuasan dan pemaknaan itu. Semakin lama hidup, semakin banyak yang bisa dilakukan.”

Kema mengambil napas berat. “Tian, dimana landasan konsep ‘joy’ itu sendiri? Apakah puas itu ketika bisa meraih suatu penghargaan? Memperoleh sesuatu yang diinginkan? Jika dasarnya demikian, itu tidak akan pernah berujung Tian. You end up wanting to live more.”

Tertunduk, Tian menyadari maksud Kema. “Mungkin… kau ada benarnya. Mungkin karena itu manusia begitu takut dengan mati.”

“Karena merasa belum puas hidup, dan tidak akan pernah puas. Yang ingin mati paling ya yang tidak punya akses terhadap kepuasan itu. Apakah kau takut mati, Tian?”

Tidak menduga akan pertanyaan Kema, Tian sedikit kikuk, “Aku? Um, gimana ya. Hmm, entah, tak pernah benar-benar memikirkannya.”

Mereka kembali hening, dengan pikiran masing-masing larut lebih jauh dalam perenungan. Langit kembali memerah dengan cahaya senja, memberi ketenangan tersendiri dalam kontemplasi. Hanya terdengar Nisa yang tengah asyik bermain lari-larian sama seorang anak lain yang entah kapan tibanya.

Sontak, tetiba Tian berteriak memecah lamunannya sendiri “Nis! Hati-hati!”

Nisa yang terlihat berlari hampir mendekati jalan raya berhenti. Mendengar suara kakaknya, ia menoleh dan berlari balik. Begitu dekat, Tian melanjutkan, “Mainnya deket sini aja, ga usah sampai sana!”

“Okaaayy” Sambut Nisa ringan selagi kembali berloncatan. Ia kemudian mengajak temannya untuk bermain ke salah satu sisi taman.

Begitu Nisa menjauh, Kema langsung berceletuk “Gadis itu, … keluargamu?”

“Iya, dia adik kandung, Namanya Nisa.”

“I see. Cerah sekali wajahnya, menyenangkan untuk dilihat. Dia sangat “enjoy” bukan? Apakah bila kemudian dia mati sekarang, dia puas dengan hidupnya?”

Hening. Tian tidak tahu bisa menjawab apa atas pertanyaan itu. Ia tidak bisa kesal dengan Kema yang terus memberinya pertanyaan serupa. Ia hanya sadar bahwa banyak hal yang belum ia pikirkan sama sekali. Alhasil, ia hanya merespon, “entah, mungkin.”

“Anak kecil sepertinya satu-satunya fase dimana kita tidak takut mati. Lihatlah.” Lanjut Kema.

Mereka berdua mengamati Nisa sebentar. Terlihat Nisa saat ini terlihat seperti mengejar capung. Dengan mata masih terus ke Nisa, Tian berkata “… dia, anak kecil, belum paham artinya hidup”

“Ironis, jadi dengan memahami arti hidup, kita jadi semakin takut mati?”

“Entahlah, Menurutmu sendiri, apa itu makna hidup?”

“Aku tidak punya hidup untuk dimaknai Tian, selain memori belasan tahun ketika masih sehat. Di kala anak-anak lain tengah bersuka ria mengeksplorasi masa depan setelah lulus SMA, masa depanku dicerabut, dipadamkan, direnggut…” Kalimat Kema terputus dengan napasnya yang habis. Ia terengah sesaat untuk mengatur kembali ritme napasnya. “… direnggut dengan penyakit yang datang tanpa aku bisa pahami. Memikirkan makna hidup hanya akan jadi tragedi buatku.”

Kema terdiam. Matanya beralih ke tangannya yang kemudian menggenggam keras. “Apa maknanya hidup, dengan kehidupan menyenangkan beberapa tahun, untuk kemudian dicabut begitu saja?”

“… tapi, Sa, bukankah semua manusia begitu?” Jawab Tian pelan, khawatir menyinggung Kema.

“Ya, kita semua demikian, diberi hidup, untuk kemudian akhirnya mati. Dengan itu, apa artinya memikirkan makna hidup?” Kema mengulang pertanyaannya.

“… Kita tiba-tiba diberi hidup dengan seluruh set keadaan yang tidak bisa kita pilih. Dan pada akhirnya kita akan mati, tapi….” Tian menggumam berusaha menjawab.

“…. Yah, ku merasa memikirkan terus makna hidup hanya akan berujung pada 2 hal.”

“2 hal?”

“Ya, antara kamu menihilkan makna itu, atau kamu depresi atas ketiadaan makna itu. Dan dua-duanya tidak ada yang terasa benar.”

“Jadi, kau telah memikirkannya juga?”

Kema tersenyum. “Kau pikir apa yang bisa dilakukan seorang sekarat yang hanya bisa berbaring sepanjang hari?” Jawab Kema dengan pertanyaan balik.

“… Ok ok… Jadi, pada akhirnya, kita yang membangun makna hidup kita sendiri kan?”

“No” Tukas Kema. “Justru Itu lah kesimpulan nihilistik. Kita tidak punya makna hidup, jadi makna itu kita definisikan sendiri saja. Itu tidak memberi apa-apa, hanya menciptakan ilusi agar terasa lebih baik saja.” Kema terbatuk kembali beberapa saat. “Sama seperti yang kau bilang tadi, kita yang penting memaksimalkan hidup dengan puas, tapi landasannya apa? Diri sendiri? Itu sama saja seperti hidup dalam karangan.”

Hening kembali menyelimuti. Tian tidak ingin, atau mungkn lebih tepatnya tidak tahu, harus merespon apa. Kema melanjutkan. “Pikiran kita terbatas Tian. Aku bergulat dengan pertanyaan ‘kenapa hal ini terjadi padaku’ saja aku tidak akan pernah punya jawaban. Tidak ada yang pernah tahu kenapa sesuatu terjadi, termasuk hidup dan mati”

“… tapi, bukankah itu yang paling bisa kita lakukan? Membangun makna dari diri? Apa yang bisa kita andalkan selain diri?” Tanya Tian.

“Tidak sesederhana it…*uhukuhuk *uhuk! Huff huff” Kalimat Kema terpotong dengan batuk bertubi-tubi. Sesekali ia menarik napas panjang sebelum kemudian terbatuk kembali. Keadaan seperti ini bertahan selama beberapa saat, membuat Tian berubah menjadi panik.

“Kem? Kemm??” Ujar Tian selagi berdiri dan memegang pundak Kema.

Tak lama, wanita yang kemarin mengantarkan Kema terlihat berlari mendekat. “Aduh den Kema, jangan terlalu banyak bicara. Paru-parumu tidak kuat. Bagaimana mau membaik. Sudah yuk pulang” Ia menarik kursi roda Kema. “Permisi dulu ya mas,” pamit wanita itu kepada Tian.

Kema, masih terbatuk-batuk, didorong pulang. Tian menatap Kema menjauh, dengan sisa-sisa pertanyaan yang masih terngiang di kepalanya. Mendadak keraguan dalam hatinya terbangkitkan dengan kuat. Pikirannya memang selalu mempertanyakan, namun sudah lama ia selesaikan dengan puluhan buku dan ratusan jam perenungan.

Ia pikir ia sudah cukup paham, namun…


Esoknya. Di tempat yang sama. Tian duduk dengan bukunya, namun matanya mengarah ke hal lain. Matahari semakin turun dan apa yang ditunggu Tian tidak datang juga. Hal yang sama terjadi pada esoknya lagi, dan esoknya lagi, dan pada hari-hari berikutnya.

Hingga 2 pekan kemudian. Yang ditunggu Tian akhirnya terlihat dari jalanan, didorong oleh perawatnya yang biasa, namun kali ini di belakang kursi rodanya tergantung tabung oksigen kecil ikut mengiringi.

“Kalau sudah gelap nanti bibi jemput ya den”

Kema tersenyum sementara perawat itu pergi menjauh. Ia menoleh ke Tian. “Kau menungguku?”

“Yaa… agak khawatir kamu jadi parah karena ngobrol denganku”

Kema tertawa kecil. “Yang kau khawatirkan itu peluangnya lebih besar daripada dirimu bernapas esok hari. Useless. Death will come anytime soon. Mungkin itu lebih baik”

“Tabung ini hanya membantuku agar bisa lebih banyak bicara saja. I need that” Ujar Kema selagi kepalanya bergerak singkat tanda menunjuk ke tabung di belakangnya.

“Jangan memaksakan diri.”

“Tak apalah. Ni aku juga sudah malas minum obat lagi.”

“Eh, kenapa?”

“It’s fine. Aku ingin mengenalnya lebih dekat juga.”

“Siapa?”

“Death. Tidakkah pernah kau berpikir Tian. Di antara semua hal yang bisa manusia pikirkan, yang paling sukar untuk dipahami dan diterima adalah konsep akhir.” Kema menunduk sejenak. “Fakta bahwa kita menyadari kita hadir di dunia ini, sekaligus fakta bahwa kehadiran itu akan berakhir, adalah 2 hal yang akan terus konflik di kepala.”

Tian tidak merespon apa-apa. Tian lebih ingin mendengarkan kali ini, maka ia pun menunggu.

“Kita begitu mengapresiasi hidup, merayakan cinta, menyalurkan passion, meraih prestasi, mengalami suka-duka, mengejar mimpi, mengutuhkan diri. Di sisi lain, kita tahu, semua itu, hanya akan pergi.” Lanjut Kema.

“…hmm”

“Kau mungkin tidak memikirkannya setiap saat, Tian. Tapi fakta bahwa kau selalu ingin mendapatkan apa yang kau inginkan sesegera mungkin, berasal dari kesadaranmu bahwa waktumu sementara.”

“… terkadang aku sendiri bingung akan apa yang ku kejar,” respon Tian spontan.

Seakan mengabaikan Tian, Kema terus melanjutkan. “Death, adalah konsep yang paling kita tekan dalam pikiran kita setiap saat, namun di waktu yang bersamaan menekan balik secara tak sadar, memberi kita rasa tak santai atas apapun. Kenapa kita selalu terburu-buru atas apapun, tersiksa atas kegagalan, atas ketertinggalan? Coba Tian, seandainya kamu immortal, akankah kau stress bila tidak mendapatkan apa yang kau inginkan?”

“Mungkin tidak, entahlah. Aku mulai bertanya apa yang ku sebenarnya kejar saat ini.” Jawab Tian.

“Konflik dari dua fakta ini, bahwa hidup ini menawarkan begitu banyak hal mengagumkan, dengan bahwa hidup itu sendiri akan sirna pada akhirnya, hanya akan terus berulang mengisi pikiran, tanpa kita punya resolusi sama sekali.”

“… Kau benar. Di satu waktu kita begitu sedih mendengar kematian, tapi di waktu lain, kita begitu tidak ingin tahu, ingin lupa, ingin cuek, bahwa kematian itu akan datang juga.”

“Katakan padaku Tian, kira-kira adakah resolusi dari hal tersebut?”

Pertanyaan Kema membangkitkan kembali hening. Pikiran Tian tiba-tiba seperti menabrak tembok baja setelah melaju dengan kecepatan tinggi. Tumbukannya hanya bisa menghasilkan kata-kata spontan dari mulut Tian, “… entah… terus jalani aja hidup?”

Kema tersenyum. “Is that really a solution? Or an escape?”

“Hanya akan kembali ke yang kemarin Tian. Ok moving on, based on what? Apa yang manusia kejar hanya ilusi afirmasi diri. Yaudah bahwa ‘aku sudah hidup semaksimal mungkin’, then what? Bukankah itu hanya narasi penghibur saja?” Lanjut Kema.

Butuh jeda sesaat sebelum Tian akhirnya bisa merespon. “Tapi…, memang hanya itu yang selama ini manusia bisa lakukan bukan?”

“Yah. Like they said, kalau kita tidak bisa menghilangkan suatu hal yang buruk, then try to just live with it. Tapi tetap, itu bukan solusi atau jawaban.” Kema terdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Kita tahu ada yang kurang, ada yang salah, atau ada yang kosong, dalam hidup kita, dalam pemahaman atas hidup, tapi kita just live with it, moving on. Ibarat sakit, karena sudah mentok obatnya apa, then just live with the pain, atau terus mensugesti diri bahwa ‘hidup ini memang sakit’, atau bahkan ‘rasa sakit itu tidak ada’”.

“Kayak kamu” celetuk Tian.

“Ah! You got me.” Ujar Kema diikuti tawa kecil mereka berdua.

Tian tersenyum, ia menepuk pundak Kema. “Tapi tentu saja, kasusmu berbeda.”

“Yah, karena aku tidak bisa kabur, tidak seperti jutaan orang lainnya, yang pada akhirnya berusaha hidup maksimal hanya untuk berusaha melarikan diri dari fakta bahwa it will end.”

“Ironis ya,” respon Tian. “Untuk hal-hal yang mutlak pasti terjadi, kita berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan itu.”

“Padahal, tahun depan, bulan berikutnya, esok hari, 1 jam lagi, 3 menit kemudian, atau bahkan detik yang mampir sesaat, maut bisa mengetuk nyawa kita,” sambung Kema.

“Dipikir-pikir, manusia memang baru akan benar-benar takut mati ketika kematian itu jelas di depan mata.”

“Iya. Sesuatu yang peluangnya kecil, akan selalu luput dalam sadar. Kita tahu mati akan bisa datang kapanpun, tapi sampai itu jelas caranya, kita anggap itu tak akan terjadi.”

“Yah, Baru terasa betapa mengerikannya mati ketika tiba-tiba gempa atau badai atau maraknya kejahatan atau hal lainnya yang membuat kematian jadi tergambar lebih jelas.” Ujar Tian dengan menggeleng kecil. Campuran sedih dan khawatir tergurat di wajahnya.

“And I’ve faced that every single day since I got this disease.”

“… Tak bisa ku bayangkan. Aku semakin sadar betapa takutnya aku untuk mati. Tapi aku lari dari itu.”

“Yang kau rasakan adalah perasaan semua manusia Tian. It’s always better to think our achievements in this world than our own possible death, right?”

“…pasti berat jadi dirimu.”

“Chill. Ku bilang aku tak mau dikasihani.” Kema mengayunkan santai tangannya. “Btw, dimana adikmu itu?”

“Nisa? Oh, dia lagi main di rumah temannya, tadi ku anter sambil kesini. Ga setiap saat ikut aku ke sini juga, cepet bosen anaknya.”

“Bosan ya. Well, karena di matanya masih begitu banyak hal yang baru dalam hidup kan ya.”

“Dan lihatlah kita yang sudah besar menghabiskan hari-hari dengan hal yang sama tanpa bisa merasa bosan.” Ujar Tian sambil membuka tangannya lebar.

“Karena ada hal lain yang lebih memaksa daripada bosan itu Tian, yakni kesadaran bahwa begitu banyak yang harus kita capai sebelum kita mati.” Kema memperbaiki posisi duduknya. “Nisa belum punya tanggung jawab, belum ada beban, belum ada ‘keharusan’ untuk mencapai sesuatu. Ia belum tahu konsep mati. Hidup masih buku terbuka yang siap eksplorasi, berkutat di satu halaman tentu hanya akan membuat bosan.”

“Menyenangkan jadi anak kecil.” Ucap Tian sambil mencoba menyandarkan kepalanya ke punggung bangku. Matanya diarahkan lurus ke langit.

“Yah. Ketika kita besar, semakin kita sadar akan adanya suatu akhir, semakin waktu kita mendekat padanya, malah semakin hidup kita diisi beragam beban dan tanggung jawab. Dari sekolah ke kuliah ke karir, setiap tingkat semakin membutuhkan banyak waktu dan energi untuk diperjuangkan, semakin sedikit yang kita punya untuk diri kita sendiri, namun di sisi lain, semakin dekat kita dengan akhir itu.”

“Sedih sih. Dan kita semua memilih lari dari semua pikiran tentang akhir hidup gitu?” Tian masih menatap langit dengan pecahan-pecahan awan kecil yang membentuk siluet dari matahari sore.

“Ya, dengan menetapkan cita-cita sebagai target untuk berlari, dan membuat kita lupa sebenarnya secepat apapun kita berlari, kita berlari menuju kematian.”

“… bisakah kita tetap memaknai hidup jika demikian?”

Kema tersenyum. “Aku berpikir banyak tentang itu kemarin ini.”

“Dan?” Tian menoleh ke Kema dengan kepala masih rebah di punggung bangku.

“Kita main game, baca novel, nonton film, maknanya tidak akan kerasa sampai kita menyadari semua itu akan habis, dan itu menjelang akhir. Bahkan, makna sepenuhnya hanya akan terpahami secara utuh ketika benar-benar sudah mengakhirinya.”

“… ah…”

“Semakin orang lupa sama mati, semakin ia terasingkan dari makna hidupnya. Tidakkah kau merasa bahwa yang mulai memikirkan hidup justru orang-orang tua? Karena akhir lebih nampak jelas bagi mereka,” lanjut Kema.

“Dan kita yang muda berlari mengejar cita-cita, passion, karir, segala macam berharap menemukan makna hidup, tapi di sisi lain kita secara tak sadar menjadikan itu hanya sebagai pelarian agar terlupa dari gagasan mati, padahal justru makna hidup ada di sana….” Tian melebarkan tangannya lepas. Langit masih ia tatap lekat seakan kekasih yang begitu rupawan.

“Beberapa yang memikirkannya akan merasa ini seperti kutukan, Tian.”

“Kapabilitas otak kita bisa berpikir sampai tak terbatas, namun dipaksa untuk hidup menyadari bahwa kita sendiri terbatas.”

“Apapun yang kita perjuangkan hanya akan menjadi bagian dari periode singkat kehidupan, yang pada akhirnya kelak akan menguap jadi ketiadaan.” Sambung Tian.

“Tak heran kenapa banyak yang berpikiran nihil seperti engkau waktu itu.”

Hening lagi, sementara Tian terus membuang pandangan ke langit yang warnanya perlahan bergeser dari merah ke biru gelap. Matahari sudah hampir sempurna tenggelam, mengiringi pikiran Tian pun yang juga tenggelam dalam pemahaman.

“…. Aku mengerti sekarang…” Tian bangkit menegakkan duduknya. “Kita selalu mencari sesuatu untuk dikontrol, untuk dipegang. Kita tidak bisa mengontrol tubuh kita yang pada akhirnya akan melemah dan mati, tapi kita bisa mengontrol pikiran kita dan berasionaliasasi dengannya.”

Tian terdiam sejenak. Ia mengangguk. “Dan rasionalisasi itu tidak lebih dari mendefinisikan makna kita sendiri.”

“Yes. Jadi semacam sugesti pada diri agar tidak gelisah aja kan.” Kema merespon.

Angin sore bertiup cukup kencang membawa sepi, seakan menutup pembicaraan. Mereka terdiam menikmati pemandangan dan suasana senja yang tak bisa dideskripsikan tuntas dengan cara apapun.

“Ah, maaf.” Ujar Kema tak lama memecah bisu. “Aku terlalu terbawa. Kau satu-satunya yang mau mendengarkanku. Kau tahu, orang yang mau mati biasanya hanya diberi belas kasihan, bukannya didengarkan.”

“Tak apa. Kau memberiku banyak renungan juga.” Kalimat Tian diikuti kumandang suara Adzan sayup-sayup.

“Hei, magrib already. Kau tak pulang Tian?”

“Sebentar, aku masih ingin menikmati sore”

“Eh, kau muslim kan?”

“Hmm, iya, kenapa?”

“Kau masih sehat Tian, tidakkah lebih baik kau ke masjid? Aku sebentar lagi juga akan balik juga.”

Tian terdiam sejenak. Ia sedikit bingung mau menjawab apa. Tetiba hatinya sedikit tersentil dengan komentar Kema. “…. Sebentar….”

“…”

“Uh, oke, oke, baiklah.” Ujar Tian menyerah. “Yuk pulang. Kau mau sekalian ku bantu dorong?”

“Well, terserah, tapi tak harus, sebentar lagi juga bibi ke sini.”

“Ah sudah, sini…”

Mereka berjalan berdua sampai ke luar taman dan berpisah jalan. Mu’adzin dari kejauhan menyelesaikan adzannya, mengiringi matahari menyelam cakrawala.


Esoknya. Matahari sudah sangat rendah.

Tian tiba di taman itu, mendapati Kema sudah berada di sana.

“Hey” Tian menyapa Kema dari belakang sambil terus mendekat. “Bagaimana?”

“Hey.” Kema menoleh menyadari kehadiran Tian. “Apanya? Keadaanku? No different. Kau yang justru tiba lebih sore sekarang. Biasanya aku datang siangan kamu sudah terlihat nongkrong di singgasana yang sama.”

“Tadi ada urusan dulu.”

“Well, ku tak benar-benar menunggumu juga.”

“Yasudah.” Tian menghempaskan badannya di bangku sebelah kursi roda Kema.

Mereka terdiam sesaat. Tian nampak menimbang-nimbang sesuatu. Ia ingin memulai pembicaraan namun sedikit ragu caranya. Pada akhirnya ia putuskan untuk tidak berbasa-basi.

“Btw Kem, ada hal yang mengganggu pikiranku dari kemarin, lantas jika solusi yang kau sebut nihilistik itu tidak benar, maka harusnya bagaimana?”

Kema tersenyum mendengar pertanyaan Tian yang langsung. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab. “Konsep akhir tidak cuma mati kan Tian. Kita selama ini selalu mengalami konsep awal dan akhir setiap waktu, semua proses yang ada, itu ada akhirnya. Tapi kita tidak pernah mempermasalahkan akhir-akhir itu, akhir sekolah, akhir liburan, akhir festival, akhir lainnya, tapi kenapa kita begitu stress dengan akhir hidup?”

Seakan diuji, Tian berpikir keras akan kemungkinan jawabannya. “Karena, semua yang kau sebutkan, selalu ada lanjutannya?”

Kema mengangguk. “Setiap akhir itu, bukan akhir segalanya. Kita masih punya waktu untuk memaknai atau memetik hasil dari proses yang telah berakhir itu. Tapi mati, mati dianggap akhir segalanya, akhir dari semua akhir. Itu berarti semua yang kamu pikirkan, rasakan, renungkan, ingat, semuanya, lenyap begitu saja ke vakum, ke ketiadaan. Hilang. Kosong. Hampa. Bayangkan Tian, betapa horornya gagasan itu.”

“Benar-benar sulit untuk merengkuh gagasan mati ya.”

“True. Tapi Tian, Tapi, bukankah ada kemungkinan lain?”

Lama Tian berpikir maksud dari Kema. Ia sedikit ragu, namun ia tetap coba jawab. “Kehidupan setelah mati…?”

“Yap, satu-satunya yang bisa menyelesaikan kekosongan itu, adalah afterlife”. Kema menoleh ke Tian. “Kau muslim Tian, kau harusnya paham hal itu”

“Iya, tapi…”

“Dengan memahami bahwa kehidupan fisik ini hanya satu proses dari suatu kehidupan yang lebih besar, maka tidak ada yang perlu kita buru-buru, tidak ada yang perlu kita kejar.” Kema mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan. “Kamu kalau liburan, ikut lomba, sekolah, nonton film, atau apapun, kau tidak akan terburu-buru mengejar apa yang ada di dalam proses itu. Yang kamu kejar adalah apa yang ada di proses yang lebih besar, yakni kehidupanmu sendiri. Tidak akan ada yang bisa didapat mengejar sesuatu dalam proses yang tengah dijalani.”

“Kau benar. Makna akan terlihat dari luar suatu proses, bukan di dalamnya.”

“Maka, Tian. Yang kita kejar bukan apa yang ada di kehidupan ini, tapi apa yang ada di kehidupan setelah mati. Death is our destination after all.”

“Tapi, …” ucap Tian ragu.

“Hmm?”

“Gimana seseorang tahu afterlife itu memang ada?”

“Kamu serius kamu muslim?”

“Umm, ya penasaran aja Kem. Dari yang kita bahas tadi, orang-orang sekarang akhirnya nemukan cara untuk membangun narasi baru di luar kehidupan tanpa perlu afterlife.”

“Let me guess, dengan paradigma bahwa hidup kita kalau bisa meninggalkan legacy? Bahwa proses kecil hidup kita adalah bagian dari proses besar kemanusiaan?” Kema bertanya sinis.

“Ya, seperti itu”

“Tidakkah mereka punya jawaban atas kemana narasi kemanusiaan itu dibawa? Itu cuma mengubah skala, tapi kekosongannya sama. Kemanusiaan kemudian harus dirayakan saja, tanpa tujuan. Sayangnya, untuk yang ini, tidak ada bayang-bayang ‘death’. Tidak ada kepastian atas akhir dari manusia.”

“Ada kem. Ancaman-ancaman ekologis, kerusakan bumi, dan lainnya?”

“Itu pun baru disadari sekarang Tian. Makanya ‘peradaban’ mulai terburu-buru dalam mengembangkan ini itu, seperti individu yang dihantui gagasan kematian.”

“…. I see. Dan sama seperti nihilnya hidup, kemanusiaan pun jadi nihil juga dengan itu.”

“Kau tentu tau apa solusinya” Ujar Kema sambil menatap Tian.

“Iya, bahwa kita harus melihat narasi yang lebih besar di balik proses peradaban manusia itu sendiri, yang baru akan terasa setelah kemanusiaan itu sendiri menemui akhir.”

“Iya, yaumul akhir.” Kema mengangguk. “Akhir yang benar-benar akhir. Iman kepada hari akhir itu ga main-main Tian, itu representasi pemaknaan proses yang terbatas dan berhingga.”

“Dipikir-pikir, makna akhir ini jarang sekali terangkat.” Ucap Tian dengan tangannya meraba dagunya pelan. “Yang dikampanyekan sekarang-sekarang ini selalu adalah mengenai afirmasi hidup sepenuhnya, jargon-jargon ‘live your passion’, ‘pursue your dream’, dan lain-lain, itu kan semua mengesampingkan narasi akhir sebagai pemaknaan sesungguhnya hidup manusia.”

“Yah, jargon terbaik pada akhirnya adalah ‘remember you will die’”

“…Memento Mori,” sambung Tian cepat.

“Hmm?”

“Iya, memento mori: ‘ingatlah, bahwa kau akan mati’. Aku baru benar-benar paham sekarang.” Ujar Tian. Ia menghembuskan napas panjang, berusaha mematangkan semua pemahamannya. “Hey Kema, bagaimana rencanamu setelah ini?”

“Me? Why do I need a plan ketika ga ada yang bisa ku lakukan selain menunggu Izrail setiap detiknya untuk ku sapa.”

“Yaa, kau kan belum tentu akan mati.”

“But still, c’mon Tian, aku ini sudah siap mati, kenapa harus merencanakan hidup.”

“Tapi keem, justru karena kau sudah siap mati, bukankah kau lebih siap untuk hidup? Sebagaimana yang kau bahas sndiri.”

Kema terdiam mendengar tanggapan Tian.

“Misal ya Kem, kau bisa nulis buku. Itu hal yang bisa kau lakukan meski di atas kasur kan? Kau bisa juga bikin podcast, rekaman sambil rebahan. Semua yang kau sampaikan padaku, mungkin harus didengar lebih banyak orang Kem”

“… you have a point, but… well, aku pertimbangkan”

“Nah, biarkan aku yang baca pertama ntar kalau jadi beneran.”

“Thanks. How about you Tian? Anything you want to do in life?”

Tian mengangkat bahu. “Ah, banyak yang harus ku pikirkan ulang, kalaupun aku ada waktu. Terlalu banyak yang ingin ku capai dalam hidup Kem. Tapi, ku juga jadi ga mau itu semua hanya tekanan atas terbatasnya waktu yang ku punya.”

“Yap. Tidak ada yang perlu diburu-buru dengan capaian di dunia. Pretend aja kamu hidup selamanya. Mati yang membayangi hanya untuk memastikan kau siap dengan apa yang setelah mati kan?”

“Aku seperti pernah dengar kalimat seperti itu entah dimana.”

“Iya, hadits, kalau tidak salah.” Kema mencoba mengingat-ingat. “Ah ya. Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

“Benar juga. Hmm, apa yang kita capai pada akhirnya pun akan termaksimalkan dengan sendirinya sih ya. Karena kita memastikan setiap detik tidak ada yang sia-sia.”

“Dan bukan sekadar tidak sia-sia, tapi benar-benar memberi manfaat yang baik. Bukankah itu yang diajarkan Islam?”

“…yeah…”

“Anyway, sudah mau magrib. Maaf tadi aku telat jadi cuma bisa sebentar.” Tian berdiri dan merenggangkan badan.

“Santai. Oh ya, beberapa hari ke depan aku harus terapi di rumah sakit. So, tak perlu mencariku.”

“Ga masalah. Tanpa kamu ini juga selalu jadi tempat nongkrongku.”

Mereka keluar taman bebarengan dengan Tian mendorong Kema sebelum akhirnya berpisah jalan.


Sekitar 5 pekan kemudian. Kema tiba di taman itu, masih dengan kursi rodanya, namun tanpa tabung oksigen. Tidak ada siapa-siapa di sana selain 2 anak kecil yang lagi berlarian. Kema ke tempat biasa, menikmati angin sore. Ia menimang-nimang sebuah buku catatan kecil.

Sepuluh menit berganti setengah jam, setengah jam berganti satu jam, dan satu jam berganti langit yang semakin gelap. Kema pulang.

Hal yang sama terjadi pada esoknya dan juga esoknya lagi. Kema tetap di posisi yang sama setiap sore, menikmati langit selagi menimang-nimang buku kecil.

Hingga kemudian di hari keempat, ketika Kema masih menikmati sore di tempat yang sama. Nisa terlihat datang bersama 2 temannya, duduk di kursi sebrang taman selagi asik mengobrol. Menyadari hal itu, Kema mencoba mendekat. “Dek Nisa?”

“Iya?” Nisa menoleh. “Oh, kakak temannya kak Tian ya?”

“Iya benar, kesini sendiri? Kakakmu mana?”

“Ini aku sama teman kakk, rumahnya dekat sini, tadi dianter ibu. Kak Tian sudah di tanah kak, sudah tidak bisa antar-antar Nisa lagi,” jawab Nisa santai.

Kema mengernyit. “Di … tanah?”

“Iya, waktu itu tiba-tiba kak Tian ga bangun lagi saat lagi shalat. Kata Ibu, kak Tian sudah cukup waktunya di dunia ini, jadi dipanggil sama Allah, lewat tanah. Gitu kak. Ya sudah mau gimana lagi.”

Mendadak, Kema merasa lemas. Buku catatan yg dibawanya sejak 3 hari lalu jatuh dari tangannya.

“Loh kak, itu bukunya jatuh” Nisa menunduk mengambilkan buku itu dan menyodorkannya ke Kema. “Kakak sedih? Semua orang begitu waktu itu, tapi kata Ibu, itu artinya kak Tian disayang sama Allah. Aneh loh itu kak, karena kak Tian tu jarang sekali Nisa lihat shalat.”

Kema menarik napas panjang dan tersenyum kecil. “Kau benar dek. Makasih ya.” Ia menerima buku dari Nisa dan mengusap rambutnya.

Kema berbalik, Kembali ke tempat semula. Ia timang-timang Kembali buku catatan itu. Selama beberapa hari di rumah sakit, ia selalu menyempatkan untuk menulis. Ia berniat untuk menunjukkannya pada Tian. Pikirannya sekarang campur aduk. Ia pikir ia sudah mengenal baik maut, sehingga ia begitu kesal kenapa ia merasa sedih saat itu.

Kema menatap langit lama dengan pikiran kosong. Setelah beberapa saat, ia buka buku catatan yang dipegangnya dan pulpen yang tergantung di sampingnya. Ia mulai menulis…

Yang masa depannya masih cerah bisa jadi segera berakhir, sedang yang sekarat dan siap mati belum tentu segera dipanggil. Mungkin, justru di tengah tubuh yang tidak berdaya, masih banyak kehidupan bisa kujalani. Menyaksikan sejuta kematian pun, manusia mungkin tidak akan pernah paham makna sesungguhnya mati sampai benar-benar mengalaminya.

Kita hanya bisa terus bersiap.

Kema menghela napas panjang. Sunyi menyertai pikirannya untuk beberapa waktu. Ia menutup buku itu, dan menulis judul di halaman depan…

“Memento Mori – oleh Kema&Tian”

“The wise man seeks death all his life…” – Socrates

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora