Rantai
Sebuah kekesalan berpindah dari orang ke orang, dan berbalik pulang
Nita berjalan pelan keluar dari sebuah kantor kecil itu. Langkahnya kecil sedikit terseret menambah tipis sepatu tuanya yang ia beli 4 tahun sebelumnya, menuju ke trotoar jalan yang dipenuhi beberapa daun kering, tanda musim kering sudah mencapai puncaknya. Jalan raya tidak sesepi beberapa pekan lalu, ketika pemerintah membatasi aktivitas masyarakat. Beberapa motor mulai terlihat melintas, dikendarai pemuda-pemuda yang masih harus pergi bekerja di kantor berbekal slogan ampuh protokol kesehatan, niat atau tidak, namun harus dilakukan demi menyambung hidup. Nita termasuk di antara mereka sebelumnya, namun beberapa industri kuliner tidak sanggup menjaga napas di tengah terputusnya aliran pemasukan, membuat Nita terpaksa kembali menggenggam predikat pengangguran.
Menganggur selagi melajang seharusnya bukan terlalu masalah bagi Nita mengingat tabungannya masih cukup untuk penghidupan pribadi, namun memiliki adik berumur sekolah yang harus dibiayai, sementara orang tuanya sudah pensiun untuk memberi dana penuh, membuat memiliki pekerjaan adalah keharusan mutlak yang tidak bisa ditawar. Terlepas dari pembatasan pemerintah, Nita hampir setiap hari mencoba mencari pekerjaan-pekerjaan kecil. Yang ia alami pagi ini hanya satu dari sekian penolakan yang ia telah lewati, namun lelah dan sedih itu pada akhirnya akan terakumulasi. Kakinya terus melangkah selagi pikirannya tenggelam entah kemana ditarik dalam oleh kebingungan dan kekecewaan. Tanpa sadar ia menyebrang jalan tanpa memerhatikan, sementara dari jauh bayang-bayang motor mendekat tanpa melambat.
Ciit! Suara kampas rem berbunyi keras dari motor tua yang dipaksa untuk berhenti dari kecepatan tinggi. Nita terkejut dan menoleh, namun hatinya kembali menguasainya, membuat tatapannya kosong diringi mulut yang membisu, terlepas dari raut wajah sang pengendara motor yang memerah karena amarah. Nita tidak punya energi untuk memedulikan ini, membuatnya hanya mengucap maaf pelan dan lanjut berjalan.
Rizki, pengendara motor tersebut, sudah siap mengeluarkan kata pedas untuk Nita, sebelum tangisan anaknya mengalihkan perhatiannya. Anaknya terbangun dalam gendongan istrinya dikarenakan efek lembam rem dadakan. Rizki menghembuskan napas kecil menatap Nita yang sudah mulai menjauh dengan hati dongkol. Ia dan istrinya sudah susah payah menidurkan anaknya dengan berkeliling naik motor. Menyapih anak adalah pengalaman baru bagi mereka, membuat menidurkan anak tanpa bantuan ASI menjadi hal yang sangat membingungkan bagi Rizki dan istri. Sudah beberapa pekan ini akhirnya mereka berdua mengandalkan angin sejuk dari laju motor dibarengi suara konstan mesin untuk menjadi pengiring tidur anaknya. Itu sendiri pun rapuh, karena goncangan sedikit dari polisi tidur atau rem dadakan adalah cukup untuk membangunkan anaknya kembali. Betapa kondisi seperti ini membuatnya merasa sangat frustasi, dengan jadwalnya sehari-hari turut terkena imbasnya.
Rizki segera melanjutkan mengendarai motornya dengan harapan anaknya kembali terlelap. Sekian menit berkeliling, bahkan meski dengan laju yang sangat pelan, di jalur yang sepi, dan jalan yang mulus, tidak membuahkan hasil, sementara Rizki tidak bisa berlama-lama dan harus segera pulang. Ia ada jadwal mengajar pagi ini. Masih mengantuk namun tidak cukup nyaman untuk terlelap, anaknya menjadi cukup rewel di rumah. Ia terpaksa mengajar dengan suara latar anak yang menangis.
Beberapa menit kemudian, Daffa panik. Layar laptopnya tetiba membeku tanpa reaksi, membuatnya harus kembali menyalakan ulang secara paksa. Laptop yang ia miliki tidak memiliki spesifikasi yang bagus, hanya cukup untuk menjalankan beberapa fungsi, sementara tekadang Daffa harus menjalankan beragam program komputer sebagai bagian dari tugas kuliahnya, termasuk pagi ini, sementara di waktu yang bersamaan ada kelas daring yang harus diikuti. Menjalankan banyak hal sekaligus hanya akan membuat laptopnya semakin tertatih-tatih bak rongsokan tua, namun ia tidak punya banyak pilihan. Ia tidak tega meminta laptop baru pada ibunya sementara kehidupannya relatif dalam batas kecukupan. Memaksa laptop pada batas kemampuannya pun menjadikan Daffa terpaksa keluar ruang kelas daring selama hampir sekitar 10 menit. Waktu yang cukup lama untuk standar menyalakan sebuah laptop. Ketika ia berhasil masuk kelas kembali, Rizki yang tengah mengajar tetiba mengajukan pertanyaan acak, yang sialnya jatuh pada Daffa. Jelas bahwa Daffa tidak bisa menjawab karena yang ditanyakan adalah apa yang dijelaskan beberapa menit sebelumnya ketika laptopnya mati. Rizki, terbawa oleh hati yang gusar, menganggap Daffa tidak menghargainya. Cabai pedas yang tadi sudah ia siapkan untuk Nita, dilampiaskan pada Daffa, sebelum Daffa sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Omelan kecil Rizki cukup untuk menjatuhkan semangat, mendorong Daffa untuk lebih memilih menutup laptopnya dan berbaring, menghela napas, dan melepaskan diri dari beban meski hanya sebentar.
Tatapan Daffa kosong menatap langit kamarnya. Betapa ia sebenanrya sangat ingin membeli laptop baru untuk mempemudah kuliahnya di jurusan Informatika, namun ia tak punya banyak daya. Belum lama ia berbincang bisu dengan lampu, ibunya memanggilnya, meminta tolong padanya untuk ke pasar sebentar bila sudah tidak ada kelas. Daffa bukan anak yang bisa menunda perintah ibunya, membuatnya segera bangkit meski hati masih sedikit sakit. Pasar hanya beberapa ratus meter, namun Daffa memilih untuk menggunakan motor tua bapaknya, mungkin dengan harapan bisa menenangkan hatinya. Sayangnya, motor bertemu emosi yang tidak stabil akan menghasilkan kecepatan tinggi atau klakson yang berlebih.
Motor pelan yang dikemudikan Titin sebenarnya tidak salah, namun berada di jalan yang cukup sempit pada waktu yang tidak tepat membuatnya terkena klakson pelampiasan hati dongkol Daffa. Titin menatap tajam Daffa yang bersembunyi dibalik helm dengan kaca gelap sementara ia sendiri sudah melaju kencang meninggalkannya. Titin selalu kesal dengan klakson, hingga seringkali ia mempertanyakan fungsi sesungguhnya fitur itu pada sebuah kendaraan selain untuk mengakomodasi ketidaksabaran manusia. Baginya jalanan adalah tempat paling sesak emosi, dimana mereka yang tidak bisa menjaga diri akan terbawa keliarannya. Sayangnya, Titin tak punya pilihan lain untuk beraktivitas, dimana tempat tinggalnya relatif jauh dari rute angkutan umum, dan ia tidak mau menghabiskan waktu berjalan kaki. Titin memarkir motornya di Supermarket dengan suara klakson Daffa masih memanaskan hati kecilnya. Ia mengambil beberapa hal yang ia butuhkan, tidak banyak, namun sukar ditemukan di toko kecil. Pergi ke kasir membuatnya terkejut, dimana barisan orang dengan setumpuk barang di kereta dorong seperti sekumpulan imigran yang akan pindah rumah. Pandemi membuat perilaku konsumsi manusia sedikit anomalistik, hal yang Titin pahami namun hatinya tidak dalam kondisi sabar menunggu.
Betapa relatifnya waktu. Beberapa menit berdiri diam dengan tidak sabar akan terasa satu abad bagi Titin, membuatnya merasa semua orang berkonspirasi untuk memperlambat dirinya, apalagi ketika ibu muda di depannya tetiba pergi untuk mengganti barang saat perhitungan, membuat antrian koma dalam ketidakjelasan untuk beberapa detik. Begitu sampai gilirannya, satu barang yang ia beli pun entah kenapa tidak terdaftar di basis data komputer, membuat si kasir harus pergi sejenak ke atasannya untuk kejelasan. Total tidak lebih dari 20 menit dari Titin sampai di Supermarket itu, namun baginya sudah seperti 1 jam, membuatnya tak dapat menahan diri untuk mengomentari si kasir dengan ketus.
Asep setengah berlari ke tempat kasir kembali setelah diperjelas oleh managernya. Ia dengan cepat menyelesaikan pembayaran Titin hanya untuk mendapatkan omelan yang cukup membuatnya kaget. Asep tak menjawab apa-apa, karena bukan haknya untuk membela diri. Pelanggan adalah raja. Ia selalu didoktrin demikian setiap harinya, membuatnya harus ramah dan tersenyum pada setiap yang datang, meskipun hanya berbalas muka datar tanpa penghargaan. Apapun yang ia rasakan, di tengah kesedihan apapun, di tengah kerisauan apapun, tidak boleh terlihat walau hanya sedikit selama masih ada sang raja di hadapannya. Tetiba kali ini, ia merasa sangat lelah dan muak, ibarat bendungan yang sudah tak kuasa lagi menahan beban yang menumpuk tersimpan berhari-hari dan berpekan-pekan, membuatnya mengendorkan topeng keramahannya menjadi kerutan-kerutan. Pelanggan berikutnya terpaksa menjadi korban, yang tanpa awan tanpa angin, tetiba mendapat uang kembalian dengan sedikit kasar, hampir seperti dilempar.
Yanti yang sejak tadi tidak nyaman dengan raut muka Asep, menarik kasar kantong belanjanya dari meja kasir. Ia menggerutu sendiri dalam hati sementara pikirannya masih terutup kabut khawatir atas anaknya yang diare di rumah. Ia siang itu hanya berusaha mencari bubur kesukaan anaknya agar mudah dimakan, mengisi lambung anaknya yang sedari pagi menolak menelan karena rasa mual yang bisa memicu muntah. Ingin rasanya bagi Yanti untuk sekadar melototi Asep tajam atas sikapnya, namun rasa khawatir dan pelanggan di belakangnya yang menunggu membuatnya lebih memilih segera keluar dan segera menaiki angkot yang kebetulan tengah menurunkan penumpang lain. Hati yang tidak tenang hasil perkawinan kecemasan dan sikap kasar kasir Supermarket membuat perjalanan terasa lama. Yanti terbayang-bayang berat badan anaknya yang harus turun karena diare, ketika selama ini cukup mengkhawatirkan karena relatif stagnan di tengah usia pertumbuhan. Yanti ingin segera berlari ke rumah dan \membuatkan bubur instan yang baru saja dibelinya agar perut anaknya tidak kosong, namun apa daya jaraknya terlalu jauh untuk ditempuh kaki. Seketika angkot berhenti, ia segera berlari keluar dengan begitu tidak tenang hingga menutup pintu angkot dengan sedikit tergesa-gesa, tidak sadar bahwa engsel pintu itu sedikit licin, sehingga dorongan kecil membuat pintu itu terbanting.
“Hey!” teriak Dayat, si supir angkot, dengan muka memerah selagi melihat Yanti berlari menjauh. Mendengus, ia segera bersiap melanjutkan perjalanan angkotnya. Namun, matanya teralih pada dasbor dimana Yanti tadi menaruh sendiri uang angkotnya. Hanya selembar uang dua ribu kumal tergeletak di sana, melipatgandakan dengusan kesal Dayat. Sebelum pandemi, jarak pendek bertarif dua ribu adalah biasa, namun saat ini tidak akan pernah terasa cukup baginya. Menaikkan tarif adalah satu-satunya jalan baginya untuk bertahan. Melampiaskan kekesalannya, ia menancap gas dengan kasar dan membawa angkotnya pada kecepatan tinggi, menggoyoangkan penumpang ke kanan dan ke kiri. Setoran harian menghantuinya sementara hari sudah mau sore, dan tindakan Yanti tadi hanya pemantik dari abu yang sudah siap terbakar ketidaksabaran. Begitu sulit bagi Dayat untuk menjaga kewarasan di tengah pandemi, ngebut atau tidak, ia harus tetap memberi setoran atau hari itu tidak ada uang masuk untuk makan hari esok.
Andre berdiri di pinggir jalan memegang tangan istrinya, Desi. Mereka berdua akan berniat pulang setelah konsultasi ke dokter, memeriksakan Desi yang ternyata hamil muda. Rasa mual yang selalu muncul dari istrinya mudah membuat Andre panik, meski ia tahu itu hal biasa. Ia antara siap dan tidak untuk menjadi seorang bapak. Berbagai pengandaian dan imaji muncul lalu lalang dalam pikirannya. Rasa cemas, khawatir, takut, dan bingung mengalahkan rasa bahagianya atas akan datangnya seorang anak. Ia tenggelam dalam samudra rasa yang terus berombak sementara sebuah angkot terlihat muncul dari sebuah belokan. Mengetahui Andre melamun, istrinya segera memberi isyarat yang membuat angkot itu segera melambat dan berhenti.
Mereka bisa saja memilih menggunakan angkutan daring, namun prinsip dan kebiasaan lama selalu membuat mereka memilih angkot sebagai cara sederhana untuk bersedekah. Belum selesai mereka memperbaiki posisi duduk, Dayat, yang masih terbawa suasana balap formula, sudah mulai menginjak pedal gas, membuat mereka berdua hampir terjungkal ke belakang. Andre menggerutu ke istrinya terkait kelakuan Dayat. Desi tersenyum kecil mendengar gerutuan suaminya. Ia tak terlalu peduli. Seluruh dunia adalah taman bunga baginya saat ini. Memiliki anak adalah impiannya sejak sebelum menikah, karena menjadi seorang ibu adalah cita-citanya terbesarnya, dan sekarang itu seperti sudah berada di depan mata.
Andre sudah bersiap untuk kembali tenggelam dalam lautan perasaannya, sebelum kemudian menyadari angkot yang ia tumpangi seperti kapal kayu yang diterjang badai di tengah samudra. Kecemasan bahwa ini akan membawa ketidaknyamanan pada istrinya yang tengah mual menjadikan wajahnya memerah selagi semua rasa mulai bertransformasi menjadi kekesalan. Andre sudah siap menegur Dayat. Belum kata-kata bisa keluar dari mulutnya, tangan istrinya lembut memegangnya, selagi tersenyum dan menggeleng pelan. Sederhana, tapi cukup mendinginkan kepala Andre, dan mengisinya dengan renungan kecil mengenai berbagai kemungkinan yang membuat si supir angkot menyetir demikian. Simpati perlahan hadir di kepalanya memikirkan bahwa si supir mungkin lagi ada masalah atau telah menjalani hari yang buruk.
Sesampainya di tujuan, Desi turun perlahan sementara Andre memberi lipatan kecil uang yang ia langsung taruh di atas dasbor. Khawatir terulang hal yang sama, Dayat memeriksa dan menemukan selembar uang merah di situ. Beberapa detik berlalu sementara ia seperti membeku di tempat. Tersadar bahwa benda itu nyata, ia mulai menengok ke jendela, namun Andre dan Desi sudah tidak terlihat di dalam sebuah gang kecil. Masih tidak percaya apa yang terjadi, Dayat menginjak pelan pedal gas, mengemudi santai, selagi terbawa pikiran untuk bisa pulang lebih cepat dan menemani tiga anaknya di rumah, memperbaiki genting bocor yang sudah lama tidak sempat ia benahi, dan membantu istrinya memasak. Untuk pertama kalinya hari itu, Dayat tersenyum.
(PHX)