Anarkisme Semesta

Semesta sebagai sistem anarki tempat semua bagian setara

- 8 mins

I am Not, but the Universe is my Self.
– Shih-t’ou –

Serupa dengan kutipan di atas, kita tentu ingat slogan Athos, Photos, dan Aramis yang cukup melegenda dalam The Three Musketeers karya Alexander Dumas, “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Konsep yang sama pun sering bermunculan dimana-mana walaupun dengan bahasa dan kata-kata yang berebeda. Tentu saja, kesadaran untuk menganggap bahwa semesta ini merupakan bagian dari kita dan kita adalah bagian dari semesta merupakan pemahaman dasar untuk menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan hidup dan kemudian memiliki kemauan untuk merawat dan menjaganya.

Tanpa memikirkan bahwa semesta adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, kita akan cenderung memperlakukan semesta bukan sebagai subjek utuh, namun sebuah objek terpisah belaka yang hanya menjadi media untuk menunjang kehidupan manusia. Pemikiran sederhana seperti inilah sebenarnya yang menjadi cikal bakal semua tindakan yang cenderung bersifat antroposentris dan lantas secara langsung maupun tidak langsung merusak alam. Sudah sewajarnya memang, manusia pasti cenderung terkuasai ego dan memikirkan diri sendiri, apalagi bila ditambah pandangan bahwa semesta hanyalah benda mati. Karena itu, memasukkan semesta dalam wilayah subjek akan menjadi hal penting agar orang berpikir lebih sebelum melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Namun terkait hal tersebut, apakah konsep bahwa semesta adalah bagian dari kita hanyalah sebuah slogan untuk memerangi perusakan alam? Iya kita bisa secara intuitif memahami bahwa kita dan semesta adalah satu kesatuan, tapi kenapa?

Kembali pada Kehidupan

Anggaplah sekarang kita mendefinisikan semesta begitu saja sebagai kumpulan seluruh materi dan energi yang ada. Lantas apa? Tentu apa bila kumpulan ini hanya sekedar sesuatu yang terkumpul begitu saja, tidak akan ada keteraturan yang mengagumkan seperti yang bisa kita lihat selama ini. Terkait keteraturan, kita bisa pahami bersama bahwa bentuk eksistensi paling teratur adalah makhluk hidup, yang dengan segala kerumitannya bisa berperilaku sedemikian rupa sehingga memiliki respon khusus terhadap lingkungannya. Berlawanan dengan itu, kita ketahui ada yang dinamakan benda mati karena tidak dapat merespon secara khusus rangsangan dari luar, seperti batu, pasir, air, dan lain sebagainya. Rangsangan luar ini dapat ditanggapi dengan suatu mekanime respon yang tercipta dalam suatu badan biologis. Dengan demikian, apakah yang memiliki mekanisme respon ini hanya yang dikelompokkan oleh para ilmuan dalam taksonomi, yang merentang dari bakteria hingga animalia? Terkait itu juga, terdapat istilah ‘lingkungan hidup’ untuk menjelaskan lingkungan yang mengandung makhluk hidup. Apa kemudian kumpulan awan atau sabuk asteroid tidak bisa disebut lingkungan hidup?

Dalam hal ini perlu kita tarik mundur semuanya dalam satu pertanyaan: apa itu hidup? Banyak jawaban untuk pertanyaan klasik ini. Sebelum beranjak ke wilayah yang rumit, mungkin kita perlu melihat bentuk hidup paling sederhana terlebih dahulu: Sel.Sel merupakan satu keutuhan paling sederhana dari apa yang bisa disebut hidup secara biologis. Ia bekerja sedemikian rupa sehingga mampu merespon rangsangan apapun secara khusus hingga bahkan mereproduksi dirinya sendiri.

Sel sesungguhnya bisa dipandang sebagai kumpulan zat kimia yang mana beberapa dari zat itu mengelompok dan menciptakan fungsi kerja sendiri berdasarkan sifat dari zatnya. Terkelompoknya fungsi kerja ini yang kemudian disebut sebagai organel, yang kemudian bersama-sama menciptakan mekanisme kehidupan pada sel. Salah satu hal yang menarik dari sel adalah semua organelnya bekerja sedemikian rupa sehingga semua memiliki peran yang sama, terkoordinasi satu sama lain secara merata tanpa ada “pusat” perintah yang mengendalikan semua fungsi. Aliran materi dan energi keluar masuk selagi keseimbangan dalam sel diatur sedemikian rupa oleh membran. Ketika terjadi perubahan apapun, seluruh komponen secara spontan akan segera menciptakan mekanisme untuk menjaga keseimbangan. Dengan keluar-masuknya materi dan energi sendiri pun, sel sesungguhnya selalu memperbarui diri setiap saatnya. Pada pembentukannya pertama kali dari “sup primordial” jutaan tahun yang lalu, sel terbentuk secara ‘spontan’ dari ketidakteraturan campuran zat di laut purba kala itu.

Penjelasan secara detail mengenai semua sifat sel itu bisa dicari dalam beberapa referensi dan tidak akan saya jelaskan di sini. Secara abstrak, sel bekerja sesungguhnya dalam keadaan tidak stabil yang terus menerus distabilkan oleh aliran materi dan energi yang terjadi di dalamnya. Aliran ini datur sedemikian rupa oleh koordinasi langsung semua komponen di dalamnya secara utuh. Kita tidak bisa melihat sel bagian per bagian, tapi harus melihat sel sebagai satu kesatuan yang bekerja. Adanya aliran terus menerus ini yang membuat sel seakan bisa merespon perubahan apapun yang terjadi pada dirinya. Selain itu, adanya aliran ini membuat sel selalu memperbarui dirinya sendiri, memberinya sifat autopoesis. Sifat ini yang kemudian secara kompleks membuat sel itu berkembang. Sehingga bila melihat sel, apa yang menjadi ciri kehidupannya adalah proses perubahan terus menerus dalam suatu sistem untuk mempertahankan keseimbangan dirinya, yang kemudian memberinya sifat ‘respon’ dan autopoesis atau berkembang.

Terkait dengan definisi yang diterima secara umum, yang disebut hidup memang apabila suatu sistem bisa memiliki respon khusus dari rangsangan luar dan berkembang, dalam artian memperbarui diri terus menerus. Memperluas sistem yang ada, kita dapat melihat pola yang sama pada organisme, kemudian ekosistem, planet, lantas semesta. Ambillah contoh atmosfer bumi, campuran kompleks zat-zat yang ada sebenarnya menciptakan ketidakseimbangan yang kemudian diatur sedemikian rupa. Ketika ada gangguan sedikit pada atmosfer, akan secara otomatis tercipta mekanisme penyeimbangan diri yang kemudian menghasilkan badai, dan kondisi-kondisi cuaca lainnya.

Segalanya adalah Jejaring

Apa yang menyebabkan kumpulan zat-zata tidak teratur bisa menciptakan mekanisme rumit? Bisa kita lihat pada bagaimana sel pertama kali dibentuk dari campuran zat-zat pada laut purba begitu saja. Dalam hal ini perlu kita pahami bahwa segala sesuatu saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika begitu banyak variabel bercampur dalam suatu sistem, ketidakteraturan sistem itu meningkat, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya, baik secara materi maupun energi, berlangsung sangat cepat. Yang menariknya adalah, pada suatu titik, yang dalam teori sistem dinamik dinamakan titik bifurkasi, sistem yang tidak teratur justru menciptakan keteraturanya sendiri. Sistem sosial pun berlaku sama, yang mana ketika ada kekacauan terjadi dalam suatu tatanan sistem, pada suatu titik akan tercipta keteraturan baru.

Penciptaan keteraturan ini terjadi dalam tataran sistem, sehingga sistem pada semesta harus kita lihat sebagai satu keutuhan dan tidak terpisah-pisah. Ketika kita hanya fokus pada melihat satu bagian sistem saja, ketraturan ini tidak akan terlihat. Ini yang kemudian disebut dengan istilah emerging properties atau sifat kemunculan. Emerging properties merupakan sifat yang muncul bila sistem berada dalam satu keutuhan. Ketika melihat satu komponen saja dalam sistem, sifat ini hilang. Lihatlah organ pada tubuh manusia, bila melihat jantung hanya sebagai kumpulan sel, sifat sesungguhnya jantung tidak akan terlihat. Dalam sistem sosial maupun sistem-sistem yang ada padda semesta pun seperti itu. Hal ini juga bisa dilihat dari segi statistik, yang mana suatu populasi bila dilihat sebagai satu keutuhan bisa memperlihatkan suatu pola sendiri yang bisa sangat berbeda bila kita hanya melihat per individu.

Semua hal tersebut disebabkan struktur dari sistem itu sendiri. Dengan saling mempengaruhinya segala komponen, semua sistem pada semesta sesungguhnya membentuk jaring-jaring yang saling menjalin semua komponen pada sistem, sekecil apapun. Struktur seperti ini akan membuat semua komponen memiliki peran yang setara terhadap sistem. Sehingga gangguan sekecil apapun, bisa jadi menciptakan perubahan besar pada sistem, seperti apa yang kita kenal dengan butterlfly effect dalam teori chaos. Dalam ekologi, kita pun mengenal istilah niche atau relung ekologis,yang mana tiap makhluk hidup memiliki peran masing-masing. Ketika satu peran atau niche mengalami tumpang tindih, akan tercipta ketidakseimbagan ekologis. Hal yang sama pun terjadi pada semua sistem. Banyak perubahan-perubahan besar terjadi justru dari gangguang-gangguan kecil.

Jaring-jaring pada semesta memang bertingkat, tapi tingkatannya sifatnya meluas, bukan meninggi. Artinya, ketika suatu jaring-jaring komponen membentuk suatu sistem, sistem tersebut akan menciptakan jaring-jaring baru dengan sistem-sistem lainnya sehingga sistem yang baru itu juga mengandung jaring-jaring komponen dari tiap sistem di dalamnya. Dalam tiap tingkatannya, selalu ada emergent properties sendiri yang muncul. Bila melihat dalam keseluruhan semesta, sesungguhnyasemua hanya berada dalam satu tingkatan jaring-jaring, namun tingkat-tingkat di sini merupakan pengelompokan komponen yang ternyata memiliki emergent properties tertentu. Pengelompokan yang terjadi pun tidak kaku karena bisa saja satu komponen menciptakan dua sistem yang berbeda dengan komponen-komponen yang berbeda. Pada dasarnya, semua komponen pada semesta tetaplah setara, namun dengan adanya pengelompokan-pengelompokan ini, kita bisa melihat semesta seakan berada dalam tingkatan meninggi atau hirarki.

Kesetaraan

Secara rinci, sebenarnya penjelasan mengenai sistem yang menciptakan sifat baru ini bisa dipelajari pada teori sistem dinamik, yang sampai saat ini masih terus dikembangkan untuk memahami beragam fenomena alam yang masih terkesan ‘anomali’. Intinya adalah dengan semua komponen saling memengaruhi satu sama lain, mau tidak mau, semua komponen memiliki peran yang setara. Pola pengaruh ini menciptakan jaring-jaring raksasa yang menghubungkan semua komponen di semesta. Itulah juga kenapa apa yang kita namakan takdir begitu rumit. Karena semua komponen, sekecil apapun itu, memiliki pengaruh dalam alur sebab akibat. Dengan banyaknya variabel, menjadi sangat sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi.

Dengan semua pola tersebut, semesta seakan berperilaku “begitu saja” dengan mekanisme yang ia ciptakan sendiri. Entah pada awalnya dulu apa yang pertama kali mengawali semua ini, semenjak terjadinya ledakan besar, semesta berperilaku sedemikian rupa mengoordinasikan dirinya sendiri sebagai sebuah sistem yang “kacau”. Seiring waktu keteraturan-keteraturan baru terbentuk, hingga akhirnya pada masa kini, muncul bumi dan manusia sebagai entitas paling kompleks di semesta. Beragam fenomena yang ada di alam pun sebenarya terjadi ‘begitu saja’ dengan pola dan mekanisme yang tercipta sendiri dari perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem tersebut.

Maka bila kembali pada pertanyaan awal, kenapa kita harus menganggap alam bagian dari kita? Tentu saja, karena segala sesuatu adalah jaring-jaring yang setara. Ya, sebuah sistem anarki. Tak ada yang mendominasi atau menghegemoni dalam semesta. Komponen sekecil apapun selalu bisa melakukan perubahan. Segalanya memiliki peran yang setara, tanpa ada yang bisa dikatakan lebih penting ketimbang yang lain. Semesta bagian dari kita dan kita adalah bagian dari sistem. Maka bukanlah omong kosong slogan, “Semua untuk satu, satu untuk semua”, karena itulah yang berlaku di alam semesta.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora