Mari Ber-literaksi!
Ajakan berkarya lewat tulisan dan pengantar serial booklet
“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi”
– Helvy Tiana Rosa –
Aku terlupa sejak kapan aku memulainya, yang pasti semua ini bermula ketika aku sudah berkuliah di kampus ganesha. Seiring waktu aku membangun apa yang ku kenal dengan militansi dan konsistensi. Tak peduli seberapa jelek tulisanku, tak peduli berapa orang yang memberi ‘like’ pada tulisanku, tak peduli betapa sulitnya merangkai kata ketika kehabisan ide, tak ada yang boleh menghentikan pena berbicara ketika konsistensi harus diberi nyawa. Aku sesungguhnya hanya seorang mahasiswa matematika, bukan seorang ahli sosial budaya, apalagi pakar humaniora, yang lebih pantas untuk menggagas beragam dialektika. Lantas apa? Toh cukuplah identitasku sebagai manusia, yang memberiku nyawa untuk terus berkarya.
Seminimal-minimalnya aksi dan perjuangan adalah dengan menulis, dan seminimal-minimalnya karya adalah tulisan. Semua itu bukanlah omong kosong. Lihatlah bagaimana Mein Kampf lah yang mengawali perjuangan Hitler, atau bagaimana Marx mengubah dunia hanya dengan Das Kapital-nya, atau Adam Smith dengan Wealth of Nation-nya. Melihat ke dalam negeri, lihatlah juga Tan Malaka dengan tulisan-tulisannya yang mengabadikan semua idenya, atau Pramoedya Ananta Toer yang bukunya masih terus dicetak hingga saat ini. Bahkan Soekarno sendiri pun sejak 1920-an sudah mulai menekuni jurnalistik. Beliau memulai semua idealismenya mengenai bangsa ini melalui tulisan-tulisan di Oetoesan Hindia, koran Sarekat Islam pada kala itu. Lihatlah juga R.A. Kartini yang dikenal hanya dari tulisannya, atau juga Soe Hok Gie, pemuda biasa yang juga terkenal hanya dari tulisannya. Masih banyak lagi orang-orang besar yang sesungguhnya memulai semua perjuangannya dari menulis. Bagi yang menganggap remeh kegiatan baca-tulis atau literasi, maka ia meremehkan fondasi paling dasar terbangunnya peradaban.
Literasi dibangun dengan tiga pilar: baca, tulis, dan arsip. Mengapa arsip? Karena akan menjadi percuma menulis bila akhirnya tulisannya hilang atau tercecer. Dari ketiga itu, sayang tidak ada satupun yang menubuh pada mahasiswa secara umum pada saat ini, atau ku khususkan lagi, mahasiswa ITB. Dengan berkembangnya teknologi, gagasan-gagasan yang muncul hanyalah sebatas rangkaian kata singkat berupa status di berbagai media. Apa yang dibaca pun selalu hanya informasi singkat yang bisa dengan mudah di-scroll hingga pikiran penuh dengan informasi yang acak dan tidak teratur. Dalam hal pengarsipan sendiri tak perlu di tanya, lihatlah laptop masing-masing dan perhatikan bagaimana kerapihan berkas-berkas yang tersimpan di dalamnya. Secara general, aku bisa katakan kita tengah mengalami krisis literasi, ketika orang-orang mulai melupakan kekuatan pena sebagai senjata tertajam untuk membangun bangsa.
Dengan beragam alasan, ku temukan banyak yang menahan diri untuk menulis. Entah karena merasa tidak punya wawasan di bidangnya, entah karena merasa tidak punya ide, entah karena merasa tulisannya jelek, entah karena merasa tidak punya waktu untuk itu. Jujur, semua alasan itu juga yang pernah menghadangku dulu, namun ku ingat kata bang Senartogok pada suatu hari ketika aku masih TPB: “Yang terpenting adalah militansi dan konsistensi”.
Tidak punya wawasan? Pahamilah bahwa kita manusia adalah makhluk pembelajar. Aku mahasiswa matematika bukan berarti aku tidak mengerti perekonomian, bukan berarti aku tidak mengerti perpolitikan, bukan berarti aku tidak mengenal filsafat. Jika memodifikasi salah satu slogan: “Matikan gadget-mu dan mulailah membaca!”. Jangan pernah membatasi diri pada keadaan saat ini, beragam buku berjajar rapi di perpustakaan atau toko-toko. Ingat: Buku! Bukan artikel atau hasil browsing-an internet yang selalu jadi dasar belajar anak-anak masa kini. Buku merangkum gagasan dalam satu keutuhan, sehingga akan berbeda memahami buku dengan memahami cuplikan singkat dari gagasan tersebut.
Tak punya ide? Mengenai itu, ku ingat sebuah kalimat di sekretariat Tiang Bendera mengatakan: “Sumber gagasan yang tak pernah kering: hidup”. Kita semua hidup! Maka alasan tidak punya ide adalah omong kosong. Orang yang mengatakan tidak punya ide mungkin adalah orang yang tidak pernah merenungi hidupnya, tidak pernah berkontemplasi atau berefleksi akan apapun yang ia alami dan rasakan. Karena jika iya, ide sudah pasti akan mengalir dengan sendirinya.
Merasa tulisan jelek? Semua penulis selalu memulai semuanya dari tulisan jelek. Tak perlu pesimis atau minder, karena adalah semua itu hanyalah kewajaran yang perlu dilawan dengan militansi. Kalau kata sebuah slogan: “Just do it”. Tanpa perlu teori macam-macam, kemampuan menulis hanya kita dapatkan dengan menulis itu sendiri, bukan dengan mengikuti workshop atau pelatihan ini itu. Setiap penulis akan menemukan gaya bahasanya sendiri, dan itu akan terbentuk dengan sendirinya, maka tak perlu lah merepotkan diri dengan mempelajari tips-tips yang diberikan oleh orang lain, karena tips paling manjur hanyalah: Mulailah menulis!.
Tak punya waktu? Ingatkah ada pepatah mengatakan, “Tak ada yang namanya waktu luang, yang ada adalah meluangkan waktu”? 24 jam sehari adalah waktu yang tidak singkat. Selama kita bisa mengaturnya dengan baik, sungguh hidup bahkan selalu terasa longgar. Bukankah yang diperlukan adalah militansi dan konsistensi? Lagipula menulis hanya butuh otak dan alat tulis. Kau bisa lakukan itu dimanapun, di toilet, di kelas, di angkot, di rumah. Gadget membuat orang-orang selalu menghabiskan jeda waktunya hanya untuk scroll informasi yang tak ada habisnya di media. Bukankah 5 menit, 10 menit waktu senggang adalah waktu yang nyaman untuk merenungi ide sejenak?
Aku tak tahu siapa yang salah dengan keadaan. Ku rasa aku tak bisa mengutuk keadaan selain cukup menyalahkan diriku sendiri. Maka dari itu aku tak akan pernah lelah untuk mengingatkan siapapun: Yuk Menulis! Mengingat nasihat terbaik adalah dengan teladan atau contoh, ini dia kubuktikan. Aku sama seperti mahasiswa lainnya, harus memenuhi tuntutan akademik 144 sks beserta Tugas Akhir, sama-sama punya 24 jam tepat sehari, sama-sama ikut kegiatan dan berorganisasi di unit himpunan, maupun kabinet, sama-sama punya wawasan terbatas, sama-sama harus tidur cukup, tapi ku buktikan, bahwa selama 4 tahun kurang aku kuliah di ITB, aku bisa mencipta karya 20 booklet kumpulan tulisan dengan 40-60 halaman tiap bookletnya. Bukan bermaksud sombong atau membanggakan diri, namun inilah sebuah ajakan, dan di sini aku menyindir siapapun yang masih saja beralasan dengan tidak adanya waktu, tidak punya ide, ataupun tidak punya keahlian menulis. Menulis adalah tindakan yang bisa dilakukan semua manusia yang bisa berpikir. Singkirkan semua alasan itu. Ambil alat tulis terdekat, termasuk komputer atau laptop, dan segera menulislah!
Buat Mahardhika Zein sebagai K3M ITB yang ingin membawa nyali aksi untuk menyala di KM ITB, apalah artinya semua aksi bila nyali menulis belum tumbuh, buat Luthfi Muhamad Iqbal yang tulisannya luar biasa namun masih tercecer di dunia maya, menanti untuk diarsipkan dan dipublikasikan dalam booklet kolektif yang rapih, juga buat Radja Polem sang ensiklopedia berjalan, buat Ega Zulfa Rahcita si ibu sospol, Taufiq A. Rosyadi yang masih mengeluh kesulitan dalam menulis, Ulfah Shofi Ardini yang puisi-puisinya masih malu-malu untuk dipublikasikan, sahabat pemikiranku Koko Sasongko, dan juga Atika Almira, Ahmad Munjin, Audhina Nur Afifah, Bima Satria, Inas Nabilah Ridhoha, Maryam Zakiyyah, Ibrahim Al Muwahidan, Sakabumi Wahyudi, Elsa Puspa Silfia, Zamal Muhammad Arya, M Luthfi Jundiaturridwan, Agil Gozal, Yanti Mulyanti, Syahruly Fitriadi, Nilam Cindera Dewi, Rifadina Kamila Yasmin, Reka Ardi Prayoga, Hanina Liddini Hanifa, Wanda Yusuf Alvian, Wisnu Prasojo, Karyadi, Nidya Inayatul Ghaida, Heri Fauzan, Rizqi Ramadhan, Gladyza Vanska, Nurina Maretha Rianti, Dianita Candra Dewi, Kausar Meloza, Muhammad Bayu Pratama, Anton Kurniawan, Muhammad Hizrian Irda (duh seandainya bisa langsung tag semua orang yang ku kenal, sayang facebook membatasi), dan tak lupa juga mengajak anak-anak yang selama ini menginspirasiku (yang sebenarnya militansi menulisnya tak perlu dipertanyakan lagi, tapi tak apalah biar ajakannya adil), Abdul Haris Wirabrata, Choirul Muttaqin, Kartini F. Astuti, Uruqul Nadhif Dzakiy, Asra Wijaya, Sandy Herho, Okie Fauzi Rachman, Ikhsan S Hadi, Kukuh Samudra, Fauzan Anwar II, serta siapapun yang membaca tulisan ini (maaf bila belum ter-tag secara langsung) aku pribadi sebagai Aditya Firman Ihsan a.k.a Phoenix, bukan sebagai kabinet, bukan sebagai bekas ketua HIMATIKA, bukan sebagai MG, Tiben, PSIK, LS, LFM, Pasopati, apalagi menwa, mengajak siapapun untuk mulai rangkai kata-kata dan ciptakan karya tulisan kalian, serta jika sudah punya tulisan banyak untuk terus ditingkatkan dan diarsipkan. Aku akan dengan senang hati membantu merapihkan bila memang diperlukan, seperti yang kulakukan pada ITB Nyastra dan Jurnal Kebangkitan, serta yang ku lakukan di kabinet sekarang: Jurnal Literaksi.
Terkait 20 booklet tulisanku, sila langsung saja baca di bit.ly/bookletphx. Langsung bisa diunduh dan dibaca, toh aku memang tidak pernah berniat mengomersialisasi karya ku, paling cuma butuh donasi atau sumbangan kecil untuk biaya cetak bila perlu bentuk fisiknya (hehe). Memang, bagiku ide tidak pantas diperjualbelikan. Apa saja isinya? Mungkin perlu ku review singkat (biar ada yang mau baca).
- Dear God(s): Monolog dengan dewa-dewa Mitologi Yunani, Gaia, Eros, Zeus, Moirae, dan Thanatos, membahas beragam topik dasar kehidupan.
- Dear Ray(y)a: Monolog berupa surat dengan seorang kawan imajiner, membahas juga beragam topik dasar kehidupan
- Mahasi(s)wa: Kumpulan esai tentang mahasiswa
- In-Telek: Kumpulan esai tentang intelektual
- Just Go(d): Cerita pendek (atau semi-panjang?) mengenai pencarian sederhana terhadap makna hidup
- Ka-Him: Catatan-catatanku sebagai ketua himpunan
- Spora-dis: Antologi puisi tanpa tema spesifik (maklum penyair pemula)
- R.W.: Kumpulan review film yang dibintangi Robin Williams (memperingati kematiannya pada 14 Agustus)
- Jurnal Resimen: Catatan-catatanku sebagai (bekas) anggota Resimen Mahasiswa
- Meta-matika: Kumpulan esai tentang matematika
- Just Go(d) 2: Lanjutan booklet #1, hanya saja dengan dewa-dewa yang berbeda, Psyche, Prometheus, Athena, Khronus, dan Khaos
- Ka-Him 2: Lanjutan booklet #6
- Statu(e)s: Kumpulan status facebook-ku periode 2009-2012
- Statu(e)s: Kumpulan status facebook-ku periode 2012-2015
- Te(kn)ologi: Kumpulan esai tentang teknologi
- Biografilm: Kumpulan review film bergenre biografi
- Diaspora: Antologi puisi tanpa tema spesifik juga (masih saja pemula)
- Ka-Him 3: Lanjutan booklet #6 dan #12
- Pendidikan: Kumpulan esai tentang pendidikan (Untuk kali ini kehabisan kreativitas untuk judul)
- Semest(iny)a: Kumpulan esai tentang semesta
Terakhir, melalui tulisan ini juga aku mengajak langsung semuanya untuk meramaikan pesta litearasi 2016 yang insya Allah dilaksanakan pada 1 April 2016 di lembah pemikiran sunkencourt ITB. Itu bukanlah acara besar, namun hanya perayaan sederhana bagi kami-kami yang mencoba berkarya ini, untuk menunjukkan bahwa ketajaman pena mahasiswa tidak boleh diremehkan. Berhubung tinggal seminggu, teman-teman yang memiliki karya apapun yang ingin dipamerkan, jangan malu-malu. Buat yang belum, yuk mulai detik ini teman-teman coba mulai bersahabat dengan tulisan. Seperti apa kata pak Hendra Gunawan, seminimalnya apa yang bisa dilakukan mahasiswa adalah menulis. Dari sini, secara tidak langsung aku menantang teman-teman untuk segera menciptakan karya-karyanya, agar kelak bila akan ada pesta literasi lagi, kita bisa dengan bangganya buat galeri besar-besaran jurnal dan karya mahasiswa! Bayangkan satu lemari penuh semuanya karya mahasiswa. Keren kan!
Salam literasi!
“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana”
– Seno Gumira Ajidarma –