Alumni ITB: Sebuah Catatan

Catatan kegelisahan atas Kongres Nasional IA ITB

- 7 mins

Ruangan itu sepi. Hanya terlihat sekitar dua puluhan bapak-bapak dan ibu-ibu yang duduk rapih secara serius, serta beberapa orang yang lalu lalang di sekitar area tanpa jelas kerjaannya apa. Beberapa anak PSIK aku kenali terlihat sibuk menjadi panitia. Aku sendiri, yang menyusup ke tempat itu hanya untuk mengincar makanan gratis, strategi umum anak kos, cukup heran dengan suasana seperti itu mengingat judul acaranya yang begitu ‘wah’: Kongres Nasional IX IA ITB. Niatan dangkalku untuk mengincar hidangan plus kaos polo gratis pun beralih menjadi rasa penasaran dan kegelisahan tersendiri begitu menyadari bahwa agenda pada sore hari itu adalah pemaparan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Pusat IA ITB periode 2011-2015. Pandanganku terhadap alumni ITB tergoncang mendadak melihat suasana dan keadaan kongres pada saat itu, membuka rangkai pertanyaan bak bendungan yang jebol akibat hujan deras.

Untuk sebuah agenda bernama Laporan Pertanggungjawaban, keadaan yang ku saksikan pada saat kongres kemarin sangatlah jauh dari ideal. Mungkin banyak pembenaran bisa diambil, dari pemilihan waktu pada Jum’at sore, hingga hal-hal lainnya yang entah bisa ku terima sebagai suatu hal yang rasional atau tidak, namun semua hal tersebut hanya akan menimbulkan pertanyaan yang lebih deras lagi. Tidak hanya dari situ, hal-hal lain, dimulai dari masa Pemilu Presiden tahun lalu, yang mana aku masuk ke milis IA ITB dan grup facebook-nya, lalu rangkaian isu nasional yang menyangkut alumni ITB , hingga pemilu IA-ITB kemarin beserta semua polemiknya membawa persepsiku terhadap alumni terus turun layaknya harga minyak dunia akhir-akhir ini. Ada apa dengan alumni ITB? Apakah semua yang ku lihat selama ini adalah kewajaran yang cukup aku terima sebagai mahasiswa polos yang tidak tahu apa-apa mengenai dunia alumni, ataukah memang sebuah fenomena yang seharusnya bisa diubah untuk menjadi lebih baik lagi? Ah, aku hanya bisa bertanya-tanya

Frase ‘Alumni ITB’ mungkin bukanlah istilah yang biasa. Frase itu mengandung ego tersirat yang memiliki ragam persepsi yang berbeda-beda. Walau sebenarnya aku telah muak dengan identitas yang berbau inflatif, ego yang melekat pada identitas bernama Alumni ITB adalah hal yang sulit dihilangkan. Tanpa orang sadari, ego ini sebenarnya lahir dari beratnya harapan dan tanggung jawab yang dipikul lulusan ITB, baik yang tersurat pada Plaza Widya Nusantara, Statuta ITB, atau bahkan RUK KM ITB, maupun yang tersirat pada paradigma masyarakat terhadap Institusi berbasis teknologi ini. Ah, tapi apalah artinya semua moral normatif itu bila kenyataannya hanya lebih menimbulkan keraguan ketimbang kuatnya harapan. Apakah kemudian menjadi suatu hal yang natural bila ego itu pun pada akhirnya hanya bertransformasi menjadi kunci untuk membuka jaringan, akses pekerjaan, jabatan, atau kepentingan-kepentingan lainnya relatif terhadap individu masing-masing? Ah, aku hanya bisa bertanya-tanya

Alumni pada dasarnya adalah hasil atau produk dari sebuah almamater atau institusi, dalam hal ini ia merupakan hasil transformasi dari entitas bernama mahasiswa. Tentu bagi yang merasakan, idealisme yang terbangun ketika menjadi mahasiswa dalam berbagai wadah, baik unit, himpunan, maupun kabinet, bukanlah sekedar idealisme tanpa dasar. Hal-hal yang terlihat sepele seperti kuorum, aspirasi, dan lain sebagainya, yang mungkin banyak dianggap menyusahkan sesungguhnya adalah pembangunan integritas terkait prinsip-prinsip dasar mengenai kehidupan bermasyarakat secara intelek. Itu merupakan bagian dari pembiasaan dan kaderisasi tersendiri agar kelak bisa benar-benar membangun kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang cerdas dan madani. Ketika melihat perilaku-perilaku alumni yang begitu macam, lantas dulu apa kiranya yang beliau-beliau ini pikirkan ketika menjadi mahasiswa? Ah, tetap saja, aku hanya bisa bertanya-tanya.

Pertanyaan sederhanaku pun akhirnya mengakar pada satu hal, apakah kemudian idealisme dan semangat yang terbangun selama menjadi mahasiswa hanya akan menguap begitu saja dan pudar diterpa dunia kepentingan yang begitu keras dan kejam? Aku sendiri tidak bisa berkata banyak karena aku sendiri belum menemui dan merasakan dunia itu. Bisa jadi memang realita akan selalu bisa melunturkan idealisme, atau bisa juga kesalahannya ada pada proses yang dialami selama menjadi mahasiswa. Memang ada sebagian alumni yang benar-benar bisa menunjukkan kontribusi dan semangatnya untuk membangun bangsa, tapi apakah ketika tetap ada juga masalah-masalah yang mencoreng nama alumni ITB, hal itu disebabkan kegagalan kaderisasi ketika menjadi mahasiswa? Ah, aku hanya bisa bertanya-tanya

Apakah mungkin kita selama menjadi mahasiswa banyak melewatkan atau meremehkan hal-hal sederhana yang bila dianalogikan dalam skala yang berbeda akan menjadi sebuah masalah tersendiri? Ambillah contoh kebiasaan mahasiswa yang menggelembungkan dana proposal agar kemungkinan mendapatkan dana yang besar bisa lebih tinggi. Mungkin dalam skala organisasi mahasiswa, penggelembungan 1% dari total dana hanya berarti ratusan ribu atau bahkan kurang, namun bayangkan bila kebiasaan kecil itu terbawa dalam tataran yang lebih besar, 1% total dana dalam skala pemerintahan bisa sama dengan ratusan juta rupiah. Contoh lain lagi, bukankah kebiasaan mahasiswa dalam ‘melobi’ pihak yang bertanggungjawab seperti satpam untuk mencapai tujuan tertentu adalah akar sederhana dari kelak kebiasaan untuk ‘melobi’ hakim, jaksa, polisi, atau semacamnya untuk juga mencapi tujuan tertentu? Aku sendiri pun masih bertanya-tanya akan hal ini. Tapi bukankah mungkin semua kebiasaan remeh mahasiswa, seperti titip absen, tidur di kelas, menerobos aturan, manipulasi proposal, dan lain sebagainya bisa menjadi akar utama permasalahan-permasalahan dalam tataran yang lebih besar? Ah, aku hanya bisa bertanya-tanya

Melihat Kongres dan Pemilu IA ITB kemarin, fenomena apatisme pun ternyata tetap bisa muncul di kalangan alumni. Lihatlah berapa dari berapa total alumni ITB yang benar-benar serius dan peduli terkait ikatan yang seharusnya menjadi korps kebanggaan mereka. Dengan hingga saat ini, tiap tahun ITB bisa menerbitkan 2000 lebih alumni, bila dihitung secara kasar dari angkatan 70, alumni ITB secara total bisa mencapai 6 digit angka. Sedangkan melihat partisipasi terkait pesta demokrasi IA ITB kemarin, yang memilih total bahkan tidak mencapai 5 digit angka. Masyarakat peserta pemilu kali ini bukanlah sekedar masyarakat biasa pada pemilu presiden atau kepala daerah, mereka semua merupakan lulusan sarjana dan berpendidikan, syarat utama agar demokrasi aktif bisa lebih terwujudkan, sehingga tentu semua golongan putih atau golongan yang bahkan tidak mendaftarkan dirinya sama sekali untuk menjadi pemilih yang muncul dalam pesta demokrasi ini mustahil punya alasan lain selain ketidakpedulian atau masalah teknis pemilihan. Namun, apapun penyebabnya, lantas bagaimana harapan-harapan besar IA ITB bisa direalisasikan bila yang mendukung dan berkontribusi hanya sebagian kecil dari alumni? Entah juga apa yang IA ITB bisa lakukan untuk bangsa dengan keadaan kelembagaaannya seperti seakan tidak punya kekuatan? Ah, sekali lagi, aku hanya bisa bertanya-tanya.

Sebenarnya banyak hal lebih mendalam yang bisa dikaji dan didiskusikan lagi terkait absurditas yang muncul dalam entitas bernama alumni ITB. Apalagi ITB sebagai sebuah institusi pengembang riset memiliki peran lebih selain mencetak alumni-alumni yang mayoritas entah jadi politisi atau pengusaha, yang mana membuat area profesional semakin tertinggal dan membawa kualitas riset dan ilmu pengetahuan di Indonesia semakin berada dalam titik yang mengkhawatirkan. Namun kali ini aku hanya ingin bertanya-tanya, karena toh tanya tidak membuat dosa, apapun jawaban yang didapatkannya. Aku sendiri hanya bisa melihat dari kacamata yang berbeda, walau cepat atau lambat, aku akan menjadi salah satu dari mereka. Toh dengan semua pengalamanku di kemahasiswaan, aku masih merasa idealismeku belum cukup kuat untuk diterjang badai yang lebih keras di luar sana, entah bagaimana dengan mahasiswa lainnya yang belum tentu memaksimalkan posisinya sebagai mahasiswa untuk terus membangun idealisme. Sayang, masih banyak yang berpikiran untuk cukup fokus belajar dan mengejar lulus agar kelak bisa lebih cepat berkontribusi lebih untuk bangsa karena tidak banyak yang bisa dilakukan selama jadi mahasiswa. Yang tidak disadari adalah ketika lulus dalam keadaan idealisme yang tidak terbangun, di luar sana kita hanya akan jadi balok kayu yang terbawa arus dan keadaan, dan tentu saja, membangun idealisme sekuat baja tidak sesederhana meyakini mana yang baik dan mana yang buruk.

Ah ya tentu saja tetap banyak yang bisa dibanggakan dari alumni ITB, namun fenomena kepentingan di antara alumni ITB yang aku lihat secara nyata sejak pemilu presiden tahun lalu membuatku gelisah sendiri mengenai apa kiranya penyebab utama semua itu terjadi, apalagi kelak aku akan menjadi salah satu dari mereka. Aku sendiri pun merasa belum siap untuk menjadi alumni ketika idealismeku sendiri masih banyak bolong-bolong. Entah kenapa orang-orang begitu mudah mengejar dan bangga dengan gelar sarjana padahal beban tanggung jawab yang dipikulnya begitu berat. Ya sudahlah, untuk kali ini aku hanya bisa bertanya, dan semoga sebelum lulus aku bisa mendapatkan jawabannya.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora