Literasi 4.0
Literasi yang dibutuhkan di tengah revolusi industri 4.0
Literasi jelas bukan sebuah konsep yang asing, meski makna sesungguhnya konsep ini tidak banyak dipahami secara utuh oleh kebanyakan orang. Padahal, di sisi lain, keutuhan konsep literasi ini diperlukan untuk memahami keadaan era yang terus berubah dan bagaimana respon manusia terhadapnya. Menganggap literasi hanya sebatas baca dan tulis tentu akan terasa semakin terasing bila dikaitkan dengan masa dimana manusia berkomunikasi dengan video call atau melihat informasi hanya dengan share media sosial. Menulis dan membaca mungkin masih masuk ke dalam konteks, namun bila itu kemudian yang menjadi standar literasi seseorang, maka literasi sudah turun derajatnya dan bukan lagi hal yang krusial di abad ini. Berapa persen manusia yang masih belum bisa baca-tulis tahun 2018? Bahkan di Indonesia sekalipun, angka buta aksara sudah berada di bawah 5 persen penduduk berumur di atas 14 tahun1, dan akan terus berkurang seiring dengan perluasan pendidikan yang meskipun lambat namun secara perlahan memperbaiki kekurangan. Lantas, literasi seperti apa yang dibutuhkan sesungguhnya?
Makna literasi sesungguhnya tidak pernah berubah banyak sejak konsep itu muncul dan didefinisikan, hanya saja keutuhan konsep ini butuh kontekstualisasi yang baik dengan situasi dan keadaan untuk bisa dipertahankan kedalaman maknanya. Kalaupun kemudian muncul istilah literasi 4.0 pun itu hanya merupakan kontekstualisasi dengan era industri 4.0 yang sekarang pembahasan terkaitnya menggaung dimana-mana. Apa sebenarnya literasi 1.0 sampai 3.0 pun tidak pernah benar-benar terdefinisikan, karena memang literasi dari dulu sampai sekarang tetaplah kemampuan berinteraksi dengan teks/informasi secara kritis, baik yang diterima maupun dikeluarkan. Apakah kemudian dikaitkan dengan sains, media, ataupun internet hanyalah bagaimana konsep literasi berada dalam konteks-konteks tersebut. Mengingat membahas konsep dalam sebuah konteks sendiri pun tidak akan lepas dari membahas secara utuh konteks itu sendiri, maka kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada era industri 4.0.
Industri 4.0
Konsep industri selalu dikaitkan dengan produksi komoditas. Karena begitu krusialnya peran komoditas dalam kehidupan manusia, baik makro dalam konteks negara bahkan global, hingga yang mikro dalam kehidupan sehari-hari, maka industri menjadi entitas yang kehadirannya sangat signifikan dalam peradaban manusia. Signifikasi industri membuat perubahan sedikit dalam aspek industri bisa mengubah banyak beragam aspek kehidupan manusia. Perubahan praktik industri secara radikal pada abad ke-18 di Eropa menghasilkan gelombang transformasi besar-besaran peradaban manusia dalam lingkup global, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik, budaya, hingga sains dan teknologi itu sendiri. Itulah mengapa para ekonom dan sejarawan sepakat menjadikan titik perubahan praktik industri menjadi suatu momen yang cukup penting untuk diamati dan dianalisis secara menyeluruh. Begitu pentingnya momen tersebut, nama khusus pun disematkan padanya: revolusi industri. Istilah revolusi selalu dihubungkan dengan perubahan yang cukup mendasar dari sesuatu. Sehingga, revolusi industri secara sederhana bisa dilihat sebagai fenomena perubahan moda produksi secara mendasar, masif dan menyeluruh, biasanya terkait dengan bentuk produk yang dihasilkan, proses menghasilkannya, energi yang dibutuhkan, dan jumlah yang dihasilkan. Secara sederhana, semua aspek tersebut terangkum dalam dua hal: efektivitas dan efisiensi2.
Sejak manusia mengenal teknologi sebagai alat untuk memudahkan pekerjaannya, maka produksi komoditas tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi yang terjadi seiring dengannya. Dalam hal ini, penemuan teknologi tertentu, ketika diimpelentasikan dalam praktik industri, kerap menimbulkan efek domino pada komoditas lainnya, karena kita ketahui bahwa dalam sistem ekonomi yang semakin kompleks, tidak pernah ada suatu komoditas diproduksi dalam satu proses tersendiri, namun ada rantai suplai yang terbentuk antar industri sehingga moda produksi satu komoditas bisa mempengaruhi moda produksi lainnya. Efek domino yang terjadi terkadang bisa begitu masif sehingga riak kecil bisa berubah menjadi gelombang perubahan besar-besaran di seluruh industri. Ini lah yang terjadi pada revolusi industri, penemuan beberapa teknologi yang fundamental memicu perubahan besar dalam moda produksi komoditas-komoditas lainnya.
Bila kita ambil contoh revolusi industri yang terjadi pertama kali abad ke-18 di Eropa, pengembangan mesin uap di Inggris memicu banyak efektivitas pada industri lain, seperti manufaktur tekstil dan kereta api3. Meskipun sesungguhnya apa yang terjadi pada revolusi industri pertama ini tidak bisa dilihat sesederhana itu, penulis tidak akan membahas detail hal tersebut. Yang jelas adalah interkoneksi antar moda ekonomi membuat satu impuls kecil mesin uap di satu tempat bisa menghasilkan efek berantai yang besar hingga ke seluruh dunia, karena apa yang terjadi kemudian adalah pengembangan komoditas-komoditas lainnya seperti bahan-bahan baja dan senjata api, serta pergeseran faktor produksi ke mesin yang kemudian dalam jangka panjang akan memicu lahirnya kapitalisme modern, yang juga kemudian menghasilkan antitesisnya yakni komunisme, yang mana kedua ideologi tersebut kemduian berlomba dalam berbagai hal yang kemudian secara global mengubah banyak situasi global.
Revolusi industri bisa dianggap sebagai suatu proses yang kontinu, karena apa yang terjadi sejak mesin uap ditemukan hingga saat ini (periode 300 tahun) tidak pernah terjadi selama 15000 tahun sebelumnya sejak manusia mengenal agrikultur4. Proses perubahan yang terjadi selama 3 abad ini pun berlangsung secara kontinu dalam alur perkembangan yang bisa dikatakan eksponensial. Meskipun begitu, para ekonom berusaha membagi impuls-impuls signifikan perubahan industri dalam diskritisasi era revolusi industri. Dalam diskritisasi ini, muncul istilah revolusi industri kedua pada akhir abad ke-19 yang dikarakterisasi dengan penggunaan listrik dalam moda produksi. Revolusi industri ketiga terjadi pada pertengahan abad ke-20 yang ditandai dengan penemuan komputer dan internet. Terakhir, sekarang di awal abad ke-21, fenomena baru dalam perkembangan teknologi memaksa para ekonom untuk menandai terjadinya revolusi industri ke-4, yakni revolusi digital, dimana sains dan teknologi telah mencapai titik yang cukup ekstrim dengan berbagai inovasi di wilayah nanoteknologi, realitas virtual, 3D printing, otomisasi perangkat, hingga interkoneksi segala komoditas dalam konsep yang dikenal dengan internet of things.
Klaus Schwab, dalam [1] mengungkapkan terjadinya revolusi industri keempat ini sebagai berikut
We are at the beginning of a global transformation that is characterized by the convergence of digital, physical, and biological technologies in ways that are changing both the world around us and our very idea of what it means to be human. The changes are historic in terms of their size, speed, and scope. This transformation—the Fourth Industrial Revolution— is not defined by any particular set of emerging technologies themselves, but rather by the transition to new systems that are being built on the infrastructure of the digital revolution. As these individual technologies become ubiquitous, they will fundamentally alter the way we produce, consume, communicate, move, generate energy, and interact with one another. And given the new powers in genetic engineering and neurotechnologies, they may directly impact who we are and how we think and behave. The fundamental and global nature of this revolution also poses new threats related to the disruptions it may cause—affecting labor markets and the future of work, income inequality, and geopolitical security as well as social value systems and ethical frameworks.
Istilah lain yang sering digunakan terkait revolusi industri keempat ini adalah era disruptif5, sebuah era dimana perubahan bisa terjadi begitu cepat sehingga cenderung bersifat disruptif karena kapabilitas sistem sosial-budaya-hukum yang telah ada di masyarakat tidak siap untuk menyesuaikan banyaknya perubahan yang tak terprediksi. Apa yang terjadi pada revolusi industri keempat sukar dilacak pemantik awalnya, karena ia terjadi secara bersamaan pada beberapa bidang sekaligus, meskipun sama-sama berbasis infrastruktur digital. Bisa dikatakan sebenarnya revolusi industri keempat hanyalah klimaks dari efek yang ditimbulkan revolusi industri ketiga, mengingat perkembangan teknologi digital terjadi sangat kontinu sejak ditemukannya komputer dan internet.
Apa yang bisa dilihat dari revolusi industri keempat ini hanyalah dampaknya. Beberapa perubahan dalam era yang juga disebut industri 4.0 ini memang masih berada di wilayah ide atau rancangan, seperti 3D printing atau internet of things, walaupun sebenarnya secara perlahan semua ide tersebut akan terimplementasikan segera secara global. Beberapa perkembangan lain seperti nanoteknologi pun masih berjarak dengan akar rumput dan mungkin masih menunggu beberapa tahun lagi untuk benar-benar hadir di depan pintu rumah kita. Apek yang telah jelas-jelas masuk ke dalam wilayah kehidupan sehari-hari adalah perangkat smart yang direpresentasikan oleh kemampuan mesin yang mampu mengolah data dan informasi dari berbagai sumber untuk kemudian menyajikannya ke dalam bentuk pengetahuan yang ‘sudah jadi’. Otomisasi pengolahan informasi ini membuat manusia menyerahkan kemampuan ‘berpikir’ ke perangkat teknologi, sehingga manusia hanya cukup menerima dan menggunakan apa yang butuh ia ketahui secara praktikal saja. Konsep teknologi smart ini mungkin memang menghasilkan manfaat luar biasa dalam pergerakan ekonomi. Industri-industri baru yang berbasis digital-kreatif mulai muncul, dari sesederhana pengelolaan vlog (video blog) hingga pengembangan aplikasi digital6. Akan tetapi, peralihan kemampuan berpikir manusia ke perangkat teknologi memicu pertanyaan besar dari aspek kognitif manusia itu sendiri. Selain itu, beragam fenomena baru justru muncul di balik era yang luar biasa ini, seperti masyarakat internet yang cenderung reaksioner, maraknya penyebaran informasi yang irasional, hingga runtuhnya otoritas dalam pengetahuan.
Literasi Digital
Teks yang hadir dalam dunia digital sesungguhnya hanya berubah bentuk, atau mungkin bisa dikatakan merevolusi bentuk. Teks dalam dunia digital sudah bukan lagi sekedar teks aksara, ataupun visual-audio yang terpotong. Teks dalam dunia digital, apalagi dalam konteks virtual reality (VR), telah masuk lebih dalam ke wilayah imajinasi manusia. Persepsi yang dimunculkan teks tidak lagi terpisah dengan pembaca, namun benar-benar dibuat menyatu bersama pembaca. Namun, teks dalam konteks VR masihlah teks yang ‘dibuat’, selayaknya novel ataupun dongeng. Pembaca sudah mengetahui bahwa itu bukan informasi yang perlu diolah dengan baik, namun hanya perlu dinikmati. Dalam pemaknaan literasi sebagai kemampuan berinteraksi dengan teks, maka teks yang dimaksud adalah teks yang riil, yang dalam beberapa hal merujuk pada hal yang benar-benar ada dalam realita, bukan imajinasi, meskipun masih dalam wilayah abstrak.
Era industri 4.0 memang tidaklah lagi mengubah bentuk teks atau unsur ekstrinsik7 dari teks yang hadir dalam kehidupan manusia. Setiap orang masih perlu membaca aksara, melihat video, atau mendengar audio untuk menerima informasi dalam era digital sekalipun. Yang berubah dari teks dalam era ini adalah unsur intrinsik dari informasi yang tercantum di dalam teks tersebut. Teks yang dihadapkan pada manusia dalam era digital adalah teks yang telah terolah sebelumnya oleh mesin dan teknologi digital, sehingga manusia hanya menerima teks yang sesuai dengan hasratnya secara praktikal. Manusia menerima teks secara pasif karena mesin telah memilihkan, mengolah, dan menyodorkannya pada setiap pengguna. Apa yang kita lihat di google ketika mencari sesuatu, atau apa yang muncul dalam iklan-iklan digital, atau apa yang terpapar dalam daftar video berikutnya di youtube, sudah disesuaikan dengan apa yang kita inginkan untuk lihat.
Semua itu dimungkinkan oleh berkembangnya machine learning8 dimana mesin bisa belajar dan mempelajari apapun data yang diberikan padanya. Pasalnya, manusia setiap kali menggunakan perangkat digital, selalu meninggalkan data meski hanya sedikit. Data ini bila dikumpulkan dan diolah dengan baik akan bisa merepresentasikan kebiasaan dan psikologi manusia tersebut, dan data itulah yang dimiliki oleh mesin. Menggunakan data yang ditinggalkan setiap pengguna, mesin bisa secara otomatis melayani pengguna dengan cukup memberikan informasi sesuai dengan psikologi manusia tersebut. Informasi kemudian disajikan ulang dengan cara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan. Tiga utilitas utama ini, penyimpanan, pengloahan, dan penyajian ulang informasi, menjadikan teknologi digital dapat masuk hingga ke celah-celah kecil kehidupan manusia. Informasi sudah terolah sedemikian rupa sehingga apa lagi yang perlu dilakukan manusia selain menggunakannya?
Aplikasi-aplikasi gadget bermunculan dalam perlombaan untuk menyajikan informasi terolah paling dibutuhkan manusia, informasi apapun itu. Dari informasi kontrakan, tempat wisata, tas model terbaru, film yang akan tayang, hingga tempat pijat terdekat semua tersajikan sedemikian rupa. Pengalaman kita terangkum sedemikian rupa dalam bit-bit digital yang kemudian bisa membuat google maps memberi tahu kapan kita harus pulang kerja dan kapan tidak, membuat tokopedia tahu komoditas apa yang akan membuat kita tergiur untuk mengonsumsinya, membuat facebook tahu apa saja yang senang kita bagikan atau lihat dalam linimasa. Dalam beberapa kasus, semua pengembangan aplikasi digital memang memberi manfaat yang cukup dan sesuai dengan porsi dan tujuan pembuatannya, namun ketika masuk ke wilayah publik, apapun bisa digunakan secara berlebihan, menciptakan efek yang sukar dikontrol9. Google sendiri, perusahaan yang leading dalam teknologi digital, memiliki lebih dari 30 aplikasi android dengan kegunaan berbeda-beda, mulai dari google keep yang membantu manajemen agenda, hingga google arts and culture yang merangkum informasi tentang seni dan budaya di seluruh dunia.
Ketika teks sudah hadir apa adanya, menyesuaikan dengan pembaca, maka apa yang tersisa dalam proses membaca hanyalah ‘membaca’ itu sendiri, hanyalah penyerapan informasi begitu saja tanpa ada proses apapun yang menyertainya, tanpa ada penjarakan kritis, refleksi internal, komparasi holistik, hingga analisis mendalam terhadap teks itu sendiri. Membaca apapun, pada masa pra-digital, baik membaca peta, membaca buku harian, ataupun membaca petunjuk penggunaan perangkat, membutuhkan proses pembacaan analitis terhadap teks, karena informasi yang tercantum dalam teks bukanlah informasi yang sudah masak, namun butuh pengolahan lebih lanjut. Terlebih lagi, karena pragmatisme yang berkembang dari hal tersebut, masyarakat terbiasa dengan informasi-informasi singkat ketimbang menyeleruh dan mendalam. Pemanjaan oleh media sosial ataupun portal berita daring yang cenderung memberikan informasi tidak lebih dari 200 kata dan terkadang hanya memfokuskan informasi pada judul dan paragraf awal, ataupun foto yang terkadang juga tidak representatif, membuat masyarakat mudah puas dengan ‘pengetahuan’ singkat, alias ‘cukup tahu’.
Dalam wilayah penulisan, lengkapnya informasi yang tersimpan di internet membuat pengembangan gagasan dan pikiran kritis untuk dituangkan dalam bentuk karya penulisan menjadi semakin nihil. Tulisan-tulisan yang muncul di internet didominasi oleh pengungkapan ekspresi pribadi di media sosial ataupun satir-satir kecil di beberapa portal penulisan. Selain itu, berkembangnya hiperteks di era digital membuat teks aksara bukanlah penyaji informasi yang utama, namun lebih sering hanya sekadar menjadi petunjuk atau informasi tambahan. Informasi yang utama lebih sering tersaji melalui video dan gambar, mengingat begitu mudah dipersepsikan tanpa ada perlu pembacaan detail yang terfokus dan terpilah-pilah.
Semua fenomena ini, ditambah berbagai perubahan aspek psikologis dan sosial yang muncul di masyarakat, membuat era digital membutuhkan kemampuan ‘literasi baru’ yang bisa memodifikasi kebutuhan untuk berinteraksi secara kritis terhadap teks menjadi suatu kemampuan praktikal yang bisa dipersiapkan kepada anak-anak baru melalui pendidikan. Literasi yang dibutuhkan pada dasarnya tetaplah literasi yang sama dengan dengan literasi yang kita ketahui, namun penyesuaian pada era digital menghasilkan pendetailan lebih lanjut dari baca-tulis kritis ala literasi klasik.
Pendetailan kemampuan literasi di era digital ini telah dikembangkan beberapa pihak melalui beberapa teori. Salah satu yang penulis adaptasi di sini adalah sebuah framework yang dipublikasikan Mozilla bernama web literacy10. Literasi web di sini tentu bisa dimaknai secara luas sebagai literasi digital atau literasi 4.0 dalam konteks tulisan ini. Konsep yang mereka bangun membagi literasi menjadi 3 komponen, yakni menjelajah (explore), membangun (build), dan partisipasi (participate). Exploring sendiri merupakan perluasan dari kemampuan membaca dan building merupakan perluasan dari kemampuan menulis. Mengapa partisipasi di sini menjadi komponen tambahan dalam konsep literasi adalah karena interkoneksi adalah jantung dari sistem digital sekarang. Keterhubungan global tanpa batas antara manusia membutuhkan kemampuan partisipatif yang baik karena manusia sendiri dalam era digital merupakan ‘teks’ tempat kita berinteraksi, meskipun ‘teks manusia’ yang dimaksud di sini adalah versi maya-nya, dimana manusia menampilkan dan menghadirkan diri melalui media sosial, foto dan video yang ia unggah, dan informasi yang ia bagikan.
Setiap komponen mengandung sub-komponen yang didetailkan berdasarkan kemampuan praktikal yang kiranya memang dibutuhkan dalam era digital. Menulis dalam era digital misalnya, tidak hanya sekedar menghasilkan sebuah karya tulis (compose), namun juga 4 kemampuan lainnya, yakni design, code, revise, dan remix. Hal ini jelas karena konten informasi di era digital tidak hanya bisa tersaji dalam bentuk tulisan, namun juga hiperteks lainnya seperti video dan audio. Dalam hal multimedia sendiri pun, kreativitas dalam mencipta tidak harus berupa penciptaan murni, namun juga bagaimana kita bisa mengubah dan memodifikasi karya orang lain menjadi karya tunggal yang unik dan berbeda. Ini lah mengapa design, revise, dan remix menjadi bagian penting kemampuan menulis. Kemampuan code dikaitkan dengan penyajian informasi yang telah kita miliki. Meskipun sekarang platform penyajian informasi telah tersedia dimana-mana, yang mana kita tinggal menggunakan dan sangat user-friendly, namun penyajian teks secara mandiri juga dimungkinkan dengan kemampuan code yang baik. Mengapa kemampuan ini menjadi krusial adalah karena menulis bukan sekadar mencipta, namun bagaimana menyajikan dan menampilkan ciptaan tersebut ke publik. Memiliki kemampuan code yang baik membuat seseorang bisa mengonstruksi konten dan menguasai penyajian informasi secara mandiri tanpa perlu bergantung pada media sosial ataupun portal lainnya.
Dalam hal membaca, kemampuan menerima dan menggali informasi daring secara kritis terbagi juga menjadi 4 kemampuan, yakni evaluate, synthesize, navigate, dan search. Kemampuan evaluate dan synthesize pada dasarnya merupakan kemampuan dasar dari membaca, yakni bagaimana secara kritis kita bisa melakukan refleksi berjarak terhadap teks dengan mengevaluasi makna teks tersebut dan menyintesanya atau menggabungkannya dengan konteks pengalaman dan pengetahuan lainnya. Mengingat konsep membaca dalam era digital diperluas menjadi exploring, maka kemampuan berselancar di internet melalui kemampuan navigasi terhadap tautan-tautan tertentu atau alamat-alamat tertentu menjadi hal yang signifikan. Selain itu, kemampuan mencari di google ataupun situs lainnya juga membutuhkan pembacaan yang kritis, sehingga kita tidak sekadar mengambil 10 hasil pencarian teratas dan merasa puas dengan itu sebagai sumber utama informasi atau pengetahuan yang ingin didapatkan. Kemmpuan navigate dan search ini juga terkait dengan penghargaan hak intelektual dan pengelolaan data-data masif melalui cloud sharing dan platform lainnya.
Komponen terakhir, komponen yang tergolong baru dalam konsep literasi, terbagi menjadi connect, protect, open, practice, contribute, dan share. Interkoneksi antar individu dalam era digital memang terkesan banyak manfaatnya, namun di sisi lain, hal ini menimbulkan masalah dalam hal etika privasi dan komunikasi. Komunikasi antar individu pada masa pra-digital masih sering cenderung bersifat privat, sehingga informasi yang bersifat pribadi terjaga antar dua individu. Selain itu, komunikasi hanya bisa terjadi secara hidup dengan interaksi langsung, dimana beragam faktor mempengaruhi pembawaan sikap dan penggunaan kata-kata yang digunakan. Apa yang terjadi di era digital, dimana komunikasi bisa tetap terjadi secara hidup tanpa interaksi langsung melalui kolom komentar, chat, hingga video call, plus mengaburnya batas antara wilayah privat dan publik, menimbulkan banyak masalah sosial yang terjadi secara ‘maya’ dan terbawa ke ranah realita. Banyak hal yang seharusnya berada dalam wilayah privat, terbawa ke publik, dan banyak hal yang sebenarnya tidak etis untuk diucapkan dalam interaksi langsung, tetap berani diucapkan di balik perlindungan mental virtual dan kerumunan. Oleh karena itu lah kemampuan partisipasi dalam bentuk bagaimana kita berkoneksi dengan orang lain, menjaga informasi tertentu, mengetahui batas-batas keterbukaan, membawa ranah maya secara proporsional dalam praktik kenyataan, berkontribusi secara signifikan dan baik dalam perputaran informasi, dan berbagi secara kritis informasi yang terolah secara rasional dan personal. Partisiapasi menjadi bagian penting dalam berinteraksi dengan teks, maka dari itu hal ini pun tidak bisa dilepaskan dari literasi di era digital.
Bagaimana kemudian ini literasi baru ini diterapkan tetaplah dengan cara yang biasa, yakni via pendidikan. Membiasakan generasi baru dengan sikap kritis terhadap apapun yang ia lakukan pada ‘teks’ digital akan membantu mereka mempersiapkan diri untuk membangun era digital yang lebih positif, di tengah-tengah skeptisisme dampak negatif era digital yang sukar untuk dinafikan. Bisa saja sebenarnya kita berpikiran lebih konservatif dan mengambil jarak tertentu terhadap teknologi, namun prinsip bahwa run or left behind menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Bila pendidikan sekarang masih hanya fokus pada bagaimana anak bisa baca tulis, maka mungkin masyarakat yang tidak stabil, reaktif, dan bodoh bukan hal yang mustahil terbentuk di masa depan.
Referensi
[1] Schwab, K. 2016. The Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum
[2] Global Competitiveness and Risks Team. 2016. The Global Competitiveness Report. Geneva: World Economic Forum
[3] Silverblatt Art; Gabai, Sara; Ayudhya, Yupa Saisanan Na. 2015. Toward a 4.0 Media Literacy: The Digital International Media Literacy E-Book Project. Journal of Media Literacy Vol. 62, No. 1 &2, pp. 67-70.
[4] Farrell, Lesley; Corbel, Chris. 2017. Literacy Practices in the Gig Economy. Melbourne: The Literacy 4.0 Project
[5] Chung, An-Me; Gill, Iris Bond; O’Byrne, Ian. 2017. Web Literacy 2.0. [online]. https://mozilla.github.io/content/web-lit-whitepaper/ (diakses pada 10 Februari 2018)
[6] Mithcell, Tom Michael. 1997. Machine Learning. New York: McGraw-Hill.
(PHX)
-
Data UNESCO 2016 ↩
-
Efektivitas terkait waktu yang digunakan untuk memproduksi barang dalam kuantitas tertentu, sedangkan efisiensi terkait sumber daya yang dikonsumsi untuk memproduksi barang dalam kuantitas tertentu. ↩
-
Secara lengkap, penemuan flying shuttle sebagai kunci pengembangan alat penenun yang lebih efektif oleh John Kay pada 1733 meningkatkan secara dramatis permintaan terhadap benang, yang memicu penemuan spinning jenny (mesin pemintal benang) oleh James Hagreaves pada 1764, dan water frame (mekanisme penggunaan aliran air sebagai sumber energi) oleh Richard Arkwright pada 1767. Beberapa tahun sebelumnya, Thomas Newcomen pada 1712 mengembangkan mesin uap untuk mengeluarkan air yang sering membanjiri tambang batubara. Dengan keluarnya air dari tambang batubara, produksi batubara pun meningkat, yang kemudian diutilisasi oleh pengembangan mesin uap oleh James Watt pada 1788 yang membuat mesin uap juga bisa diterapkan untuk menggerakkan kereta api, kapal, dan juga mesin penenun, yang kemudian kembali meningkatkan produksi benang. Pengembangan kereta api juga memungkinkan distribusi komoditas dalam jumlah besar, sehingga secara bersamaan semua penemuan di atas menggerakkan roda ekonomi secara dramatis. ↩
-
Kecepatan perubahan yang terjadi pada peradaban manusia selama 300 tahun ini bergerak secara eksponensial, bahkan melebihi kecepatan perubahan selama 150 abad sebelumnya. ↩
-
Istilah ini menjadi cukup kerap digunakan di publik,meskipun awalnya hanya merujuk pada ‘inovasi yang disruptif’ seperti moda transportasi daring yang mengacaukan stabilitas moda transportasi konvensional yang sudah ada sebelumnya. ↩
-
Pengembangan industri berbasis digital-kreatif ini menginisiasi berkembangnya gig economy, yakni sebuah keadaan perekonomian dimana pekerjaan freelance hampir mendominasi profesi semua orang. Praktisi digital akan lebih senang berkarya dan bekerja secara bebas ketimbang terikat pada suatu institusi atau perusahaan tertentu. ↩
-
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar makna yang terkandung dalam teks itu sendiri, seperti bungkus, bentuk, materiil, dan lain sebagainya, sedangkan unsur intrinsik adalah apa yang inheren terkandung dalam teks. ↩
-
Mesin (dalam bentuk program komputer) dikatakan ‘learning’ dari suatu pengalaman E terhadap suatu bentuk pekerjaan T dengan performa P, jika performa mesin tersebut terhadap pekerjaan T, yang diukur dengan P, bertambah, seiring dengan pengalaman E. (Definsi machine learning oleh Tom Michael Mitchell [6]) ↩
-
Begitu banyak fenomena terjadi, baik di Indonesia maupun secara global, yang menandakan kebingungan kita terhadap efek dari era digital. ↩
-
Proyek pengembangan framework ini diinisiasi pada 2013 dalam bentuk literasi untuk pengelolaan web secara khusus. Namun, tahun lalu Mozilla mengembangkan framework ini dalam bentuk yang lebih general sehingga mengakomodasi literasi untuk segala infrastruktur digital, yang kemudian mereka namakan web literacy 2.0 [5]. ↩