Skenario Kehidupan
Review Film Stranger than Fiction (2006)

Judul : Stranger than Fiction
Sutradara : Marc Forster
Tanggal Rilis : 10 November 2006
Durasi : 113 menit
Genre : Komedi, Drama, Fantasi
Pemeran : Will Ferrell, Emma Thompson, Dustin Hoffman
“Harold Crick: You have to understand that this isn’t a philosophy or a literary theory or a story to me. It’s my life. / Professor Jules Hilbert: Absolutely. So just go make it the one you’ve always wanted.”
Pernah membayangkan bahwa kisah yang kita jalani sehari-hari adalah sebuah novel yang ditulis oleh seseorang? Mungkin pernah, meski sekilas, meski yang menulis terimajinasikan bukan lagi sosok yang berada di semesta ini, namun entah di luar sana. Semesta yang kita jalani sekarang bisa jadi hanyalah semesta yang tercipta melalui kata-kata, dan kita masing-masing hanyalah karakter dalam setiap cerita. Lagipula apa makna sebuah fiksi bila itu menjadi fakta dalam imaji pikiran? Setidaknya, mungkin saja semesta yang kita persepsi melalui indrawi kita hanyalah satu semesta saja, dibanding semesta-semesta lainnya yang tercipta dari masing- masing kepala individual, terkadang bahkan tertuang dalam kata-kata.
Cerita mengenai fiksi mungkin terasa biasa, karena mungkin hampir semua film keluaran Hollywood hanyalah karangan fiksi belaka. Namun, bagaimana jika fiksi itu menjadi fakta tersendiri? Itulah yang kemudian kurasa menjadi dasar ide pembuatan film Stranger than Fiction, sebuah film yang mencoba membongkar konsep fiksi. Judulnya sendiri cukup eksplisit dalam menjelaskan isi, sebuah film yang mungkin lebih aneh dari sebuah fiksi. Di sini imajinasi sang penulis film lumayan luar biasa untuk bisa mencipta ‘keanehan’ ini, yang mungkin bisa menjadi bahan renungan banyak mengenai makna kisah hidup yang kita jalani sekarang.
Stranger than Fiction berkisah mengenai seorang perfeksionis bernama Harold Crick (Will Ferrell), yang menjalani hari-harinya secara normal dan teratur. Begitu perfeksionisnya ia, segala sesuatu yang ia jalani setiap hari berada dalam perencanaan dan pengaturan yang sangat detail, dari jumlah gosokan ketika menggosok gigi, waktu tepat untuk naik bus, hingga waktu tepat untuk tidur lagi. Dengan ketelitian perhitungannya juga, ia menjadi seorang profesional di IRS (Internal Revenue Service), mengaudit secara rinci dan produktif. Dengan keteraturan yang luar biasa seperti itu, tentu saja hidupnya mengalir tanpa gangguan apapun, sendirian, normal, biasa, a plain life. Namun, semua berubah ketika suatu rabu ia menyadari akan suara seorang narator yang seakan menjelaskan setiap detail kehidupannya. Di sini mungkin aku merasa ada sedikit pemaksaan dalam pengonsepan cerita, karena bagaimana mungkin ia tetiba mendengar suara narator ketika sebelumnya tidak? Tapi mungkin hal seperti itu tidak perlu terlalu dipikirkan, mengingat genre film ini saja fantasi.
Terdengarnya suara narator pada rabu itu mengubah total hidup Harold. Sebegitu terganggunya ia dengan suara narator itu, ia menjadi kesulitan untuk konsentrasi terhadap ketelitian tingkah lakunya yang biasa ia jalani. Di hari rabu yang sama pula, ia harus mengaudit sebuah toko roti dan membuatnya bertemu dengan seorang gadis bernama Ana Pascal (Meggie Gyllenhall) yang menolak membayar pajak, sebuah titik lain yang akan mengubah hidup Harold. Hingga akhirnya, sore hari pada rabu itu, narator yang mengganggu tersebut membicarakan mengenai sesuatu yang akan menuntun kematian Harold. Panik, Harold mencari penjelasan, dan membuatnya bertemu dengan seorang ahli literasi bernama Jules Hillbert (Dustin Hoffman). Bersama Hoffman, Harold pun akhirnya mengetahui bahwa narator tersebut merupakan seorang penulis bernama Karen Eiffel (Emma Thompson), yang ternyata memang tengah menulis sebuah buku. Sayangnya, Karen selalu menuntun karakter utama pada setiap novelnya pada kematian.
Dalam proses Harold mencari tahu akan identitas dan penjelasan terkait narator tersebut, Harold mengalami banyak guncangan dalam hidupnya, membuatnya mempertanyakan kembali makna keseharian yang ia lalui selama ini. Dari sini cukup banyak nilai positif yang bisa dimaknai dari kehidupan. Hal ini diperlihatkan dengan bagaimana Harold mulai menerapkan prinsip carpe diem dalam hidupnya, meninggalkan kesempurnaan dan keteraturan yang cenderung kosong dan tidak berwarna. Ia pun mencoba memaksimalkan segala sesuatu, menyalurkan apa yang ia inginkan, dari hasratnya untuk belajar memainkan gitar hingga perasaannya terhadap Ana. Ia mencoba membuat segalanya lebih ‘hidup’. Justru pada proses ini lah ia memahami makna dari hidupnya sendiri, sebuah proses penting yang membuat kelak ia dengan sukarela mengikuti alur kisah yang akan dituliskan oleh Karen meskipun ia telah ketahui ia punya pilihan yang lain. Hal ini ternyata yang menyelamatkan hidup Harold karena Karen tak sanggup membuat akhir kisah itu menjadi tragis, seperti yang dikatakannya, “Because it’s a book about a man who doesn’t know he’s about to die and then dies. But if the man does know he’s going to die and dies anyway, dies willingly, knowing he could stop it, then… I mean, isn’t that the type of man you want to keep alive?”
Sebuah konsep cerita yang unik menurutku, memeras imajinasi dan menolak logika. Bagaimana mungkin, seorang penulis bisa menciptakan realita hanya dari tulisannya. Bahkan cerita fiksi pun terkadang memberi paling tidak beberapa penjelasan agar alur kisahnya saling berkorelasi dan tidak memaksa. Jelas bahwa ini memang merupakan sebuah film fantasi, karena begitu banyak hal yang tak terjelaskan dalam film ini dan hanya menuntut untuk dinikmati. Meskipun begitu, konsep cerita film ini terkesan memaksakan karena begitu minimnya penjelasan. Alur ceritanya pun di mataku kurang mengalir dan terasa tidak kontinyu sehingga lebih sering menimbulkan tanda tanya di kepala ketika menonton. Padahal, syarat utama kisah fantasi adalah seminimal mungkin menimbulkan tanya, karena memang tidak pantas dirasionalisasi. Salah satu contoh pemaksaan ini adalah keberadaan jam tangan Harold yang entah punya kekuatan khusus atau sekedar jam tangan biasa, sehingga bahkan suatu ketika berperilaku aneh saat Ana kebetulan tengah melewati Harold. Di akhir cerita pun, bagaimana kemudian jam tangan tersebut menyelamatkan nyawa Harold dengan menahan pendarahan di tangannya pun juga terasa dibuat- buat dan kurang masuk akal.
Terlepas dari kekakuan alur dan konsep ceritanya, sesungguhnya ide dasar dari Stranger than Fiction merupakan ide brilian dan seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi. Ide yang kompleks seperti ini memang membutuhkan pendetailan yang cukup rapi, agar tidak terlalu banyak kejanggalan dalam alurnya. Salah satu film yang mungkin ku anggap beride serupa namun bisa lebih rapi dan halus adalah The Truman Show, yang mana meskipun pada beberapa hal tetap memaksakan, namun terminimalisasi dengan baik sehingga tidak terlalu terlihat.
Jika diambil sedikit perenungan, kita bisa saja menganggap kehidupan yang kita jalani saat ini memang merupakan kisah yang tengah atau telah tertulis oleh seseorang (atau sesuatu) entah dimana. Untuk yang beragama, bukankah kita bisa menganggap kita semua hasil karangan Tuhan? Semesta hanyalah sebuah panggung raksasa dengan sebuah skenario agung, yang mana setiap individu hanyalah karakter atau tokoh dengan peran uniknya masing-masing. Tidak seperti manusia, mungkin kita bisa menganggap Ia yang menuliskan kisah semesta ini tentu memiliki alur yang luar biasa yang mungkin tak terbayangkan. Namun terlepas dari itu, yang bisa kita lakukan tetaplah menjalani peran masing-masing dii semesta ini, tertuliskan atau tidak. Dengan memaksimalkan peran, pada akhirnya skenario besar itu akan jalan dengan sendirinya. Sebagaimana yang dilakukan Harold, terlepas dari ia tahu alur sesungguhnya seperti apa atau tidak, ia tetap akan terus berusaha memaksimalkan hidupnya dengan hasrat-hasrat yang tak pernah mati untuk mengutuhkan diri, melalui Ana, bermain gitar, atau yang lain.
Apapun akhir dari sebuah kisah, bukankah itu tidak terlalu penting? Terkadang kita berangkat bukan karena sebuah tujuan, namun karena hasrat yang terus menerus mendorong kita untuk tanpa henti melangkah. Dan juga, tentu dalam kisah apapun, kesimpulan hanya akan bisa kita dapatkan di akhir, maka untuk apa mempertanyakan dan berandai-andai di tengah- tengah, ketika kita bisa lebih baik menikmati setiap proses yang perlu terlalui. Itulah hal penting yang sangat ku lihat dalam film ini. Setelah membaca penuh naskah cerita dari Karen, ia lebih memilih mengabaikan apa yang telah ia baca dan menjalani semuanya sebagaimana mestinya. Ia bukan memilih untuk mati, namun ketika ia hanya akan terfokus pada menghindar apa yang akan tergariskan, ia tidak lagi hidup. Menjadi hidup tentu bukan dengan memikirkan akhirnya seperti apa, namun prosesnya seperti apa, maka untuk apalah mengkahwatirkan kapan atau bagaimana kita mati, karena seperti kata Professor Hilbert dalam film itu, “you will die someday, sometime. Heart failure at the bank. Choke on a mint. Some long, drawn-out disease you contracted on vacation. You will die. You will absolutely die. Even if you avoid this death, another will find you…”, akan jauh lebih baik memaksimalkan hidup detik ini, seakan kita bisa saja mati satu detik kemudian.
Some plots are moved forward by external events and crises. Others are moved forward by the characters themselves. If I go through that door, the plot continues. The story of me through the door. If I stay here the plot can’t move forward, the story ends. Also if I stay here, I’m late. – Professor Jules Hilbert –
(PHX)