Dit, Kenapa Kau Masih Tak Menulis?
Teguran kedua Minerva atas karya yang tak kunjung lahir
Terlihat dua orang bercengkerama beberapa meter tepat lurus di hadapanku. Mereka terlihat berbincang-bincang cukup intens, terkadang diselingi menyedot es teh yang sudah mau habis, atau mengangkat serta mengusap-usap sejenak lempengan tipis logam yang selalu berada di tangan masing-masing. Entah apa yang mereka bicarakan. Ku bagai menonton film bisu. Bukan karena mereka terlalu jauh, bukan. Hanya saja telingaku tertutup oleh seperangkat isolator yang terhubung ke laptop yang juga berada di hadapanku. Isolator. Ya, apa yang mereka sebut sebagai headphone sebenarnya hanyalah alat untuk mengisolasi diri dari dunia eksternal bagi sebagian introvert, termasuk aku. Menyenangkan. Karena yang ada hanya aku, imajinasi, dan pertunjukan visual dunia yang bisu. Bukankah suara merupakan pengganggu terbesar? Memang alat ini bisa dikritik sebagai pemicu individualisme berlebihan, tapi bisa kah kau menyalahkan introvert karena lebih senang sendiri? Entahlah. Ku tak bisa menjustifikasi apapun karena akan ada bias kognitif dimana aku sendiri introvert.
Kedua orang itu telah pergi beberapa detik yang lalu, sementara mataku masih mengarah pada tempat yang sama, dimana yang ada hanyalah meja kosong dengan latar belakang matahari yang terik, menunjukkan bahwa sebenarnya pikiranku hanya tengah melayang dalam observasi semu melalui mata. Apa yang sedang ku lakukan?
Awalnya ku berniat menulis. Hanya saja, untuk pertama kalinya aku merasa cukup lama membeku di depan lembar kosong Microsoft Word. Tanganku bagai berkarat di atas keyboard, dan aku pun mulai menyadari bahwa hidupku sudah banyak berubah dan berlalu tanpa jejak kata yang menyertai.
Hampir setengah jam waktu mengalir, dan hanya satu paragraf tulisan terukir. Meski sudah ku luangkan waktu khusus untuk ini, setelah sekian hari tak berdaya oleh kesibukan hari-hari, keringnya tinta butuh jeda untuk bisa dibasahi kembali. Ku terdiam selagi menahan untuk tidak mengutuk diri. Hanya kemudian suara notifikasi, membuyarkan lamunanku dari kekakuan literasi, memecah nada Final Fantasy yang tengah ku putar mengiringi. Ada surel masuk, kata kotak kecil di pojok layar laptop. Mataku yang sudah mulai termakan kantuk berontak kembali melihatnya. Pada bagian subjek tertulis
TO: PHX
Satu, dua, lima menit berlalu sedang ku masih terpaku melihat itu. Kapan terakhir kali ku menerimanya? It’s like forever since I saw those words.
Oh. Sudah lama ia tak menyapa, membuat rasa syukur bercampur khawatir teraduk dalam adonan hati. Jujur. Ku memang merindukannya. Meski rindu ini sudah tidak pantas lagi terungkap mengingat statusku tidak lagi berkawan kesendirian.
Baiklah.
Sementara alunan orkestra terus membawa rasa nostalgia, ku arahkan pointer untuk membuka surel tersebut.
Kosmik, 5 Oktober 2019
Bonjour fin! Comment allez-vous?
Haha. Ku tahu kau setahun yang lalu sempat belajar bahasa Perancis kawan. Heran kenapa kau berhenti melanjutkannya. Bukankah perancis bahasa yang… gimana menyebutnya… seksi? Kenapa kau berhenti belajar kawan?
Ku tahu belajar otodidak memang tidaklah mudah karena kau butuh banyak dorongan untuk melakukannya, tapi bukankah hampir semua keterampilan dan pengetahuan yang kau miliki sekarang berasal dari otodidak? Kau, kawanku, adalah ahlinya otodidak. Kalau memang kamu hanya menunggu ada yang mengajarkan, maka yang kamu bisa sekarang paling hanya bermatematika, dan urusan-urusan kecil kehidupan lainnya. Hey kawan, kau orang yang paling tahu betapa membosankannya itu. Tapi fin, kenapa tetiba kamu berhenti? Berhenti belajar bahasa perancis, berhenti belajar machine learning, berhenti belajar ekonomi, berhenti mengembangkan situs pribadi, berhenti mengelola arsip, berhenti mengumpulkan kliping-kliping koran, berhenti membuat puisi, berhenti berjalan kaki, berhenti melawan teknologi, berhenti menata buku dan menyusun perpustakaan pribadi, berhenti menulis? Kenapa fin?
Kapan terakhir kali kau melakukan itu semua? Kapan terakhir kali dirimu dengan penuh semangatnya melakukan apa yang kamu rasa patut diperjuangkan meskipun hanya kamu seorang yang menempuh jalan itu tanpa ada yang membantu? Kau lupa dulu hampir semua yang kamu lakukan adalah apa yang orang lain belum pernah lakukan. Kau begitu senang bereksperimen dengan hidup meski kau tahu bayarannya adalah rasa lelah yang luar biasa, tapi kenapa itu mendadak berhenti kawan?
Ah ya. Ku ingat. Kau sudah menikah, dan bahkan sekarang, kau sudah punya seorang anak laki-laki. Tapi hey fin, lantas kenapa?
Oh, waktu ‘sendiri’-mu semakin berkurang.
Ah fin. Jangan buat aku tertawa. Kau sendiri yang dulu dengan bangga mengatakan bahwa waktu tak pernah kurang, yang ada hanyalah waktu itu tidak terkelola dengan optimal. Kau, yang berhasil menjadi ketua himpunan sekaligus menteri kabinet pertama yang lulus tepat waktu dan bahkan menyelesaikan jalur fast track hingga S2, menjadikan kurangnya waktu sebagai alasanmu berhenti ber-‘militansi’? Fin, kamu gak malu, ku sebut semua kelebihanmu dulu sedangkan sekarang, look at you, menyedihkan?
Hening. Ya, hening. Musik medley orkestra 30 tahun Final Fantasy masih terdengar keras di telingaku, tapi semua tetap terasa hening. Bahkan perasaanku sendiri pun hening. Pikiranku hening. Semua hening. Hening dalam keramaian.
Ku tak kaget dia akan menuliskan itu. Tapi ku sendiri heran dengan reaksiku. Apa yang terjadi? Yang ia katakan benar, aku pun tidak melupakan hal itu. Tapi ku sendiri heran dengan keadaanku sekarang. Apa yang terjadi?
Mendadak terlintas apa yang dikatakan Coldplay, “I don’t know which way I’m going, I don’t know what I’ve become”. Sudah lama ku mendengar lagu itu, tetapi baru sekarang ketika rutinitas refleksiku terhenti, ku paham sepenuhnya rasa itu.
Ku berpikir singkat, namun tetap terasa hening. Biarlah. Dengan hening justru suara halus kebenaran mungkin bisa terdengar lebih jelas, sebagaimana para sufi selalu ingin capai dengan menentramkan semua hasrat duniawinya. Ku lanjutkan menatap kembali surel itu.
Terlalu banyak yang telah kau lalui setahun ini tanpa refleksi, sehingga tidak ada jejak yang bisa kau telusuri. Menyebalkan bukan? Tapi ingat itu semua tetap salahmu sendiri. Kau berteriak lantang kepada setiap orang untuk selalu menulis jejaknya, sedangkan kini kau sendiri lupa akan hal itu. Akibatnya, kau terasing pada dirimu sendiri.
Cobalah, membaca semua tulisanku di masa lampau dipastikan seperti membaca tulisan orang lain. Iya, kau sebenarnya berubah, kau tahu dan itu pasti. Jika tidak, maka justru bencana bukan? Tapi kemana arah perubahanmu, sudah menjadi apa dirimu sekarang, dan prosesnya seperti apa, kabur, tidak jelas, asing, meragukan.
Kau tahu, tidak ada kata penurunan dalam proses kehidupan manusia. Perkembangan diri manusia bagaikan entropi semesta, secara total selalu bertambah, apapun yang terjadi. Ketika pada suatu aspek seperti menurun, maka pasti ada aspek lain yang bertambah cukup banyak sehingga secara total sebenarnya bertambah. Tapi, apakah aspek-aspek yang bertambah atau berkurang adalah aspek yang baik atau buruk, itu urusan lain. Bagaimana dengan dirimu fin? Begitu banyak aspek dalam dirimu yang berkurang, apakah aspek yang bertambah cukup setara?
Ku harap begitu. Memang kalau dilihat dalam perspektif yang berbeda, yang kau hadapi sekarang berada dalam level berbeda. Yang kau atur dulu kurang lebih hanya dirimu sendiri. Ya, meski kau juga pemimpin di beberapa tempat, tapi tetap kau hanya punya dirimu sendiri sehingga tidak perlu banyak yang kau pertimbangkan bukan? Kau lelah, ya lelah sendiri. Kau lapar, ya lapar sendiri. Kau kurang tidur, ya ngantuk sendiri. Kau hanya tinggal siksa dirimu segila-gilanya selama semua targetmu terpenuhi. Tapi sekarang, ku akui kau butuh pengaturan yang lebih canggih kawan. Karena sekarang setiap aspek dari hidupmu pengaruh ke istri dan anakmu. Kau tidak boleh sakit, kau tidak boleh merasa kurang tidur, kau tidak boleh lelah, kau tidak boleh terus-terusan berada di luar rumah, kau tidak boleh seenaknya begadang dan pulang malam. Kesibukanmu bergeser. Jika kau dulu aktif murni di kuliah dan organisasi, meskipun organisasinya sendiri sampai 7 unit kegiatan plus himpunan dan kabinet, sekarang kau harus mencari nafkah, sekaligus mengerjakan disertasi, sekaligus menjaga istri dan anak, sekaligus berorganisasi. Apakah itu sebuah level yang lebih tinggi? Entahlah, relfkesikan fin, refleksikan.
Okelah fin, itu bisa diterima. Namun fin, apakah lantas semua itu bisa jadi alasan? Bukankah orang hebat di masa lampau juga berkeluarga? Ah, bisa saja kau berdalih bahwa sebenarnya kondisimu sekrang tidak seburuk itu. Orang-orang di sekitarmu masih menganggapmu “tidak normal”, cap yang masih sama sejak dulu. Sayangnya, lingkunganmu sekarang benar-benar saling lepas dengan lingkungan sebelumnya. Semua serba baru. Tidak ada yang tahu kau dulu seperti apa. Tapi bagi yang mengenalmu sejak dulu, maka kondisimu sekarang adalah kondisi yang menurun. Coba katakan padaku fin, kapan terakhir kali kau mempublikasikan booklet phx? Ingat fin, coba ingat. Kau dulu pernah punya ambisi besar untuk menulis paling tidak 5 booklet tiap tahunnya, bagaimana dengan tahun ini? Angka edisi di bookletmu berhenti di 33, tidak bertambah lagi entah sejak kapan. Bukankah itu mencerminkan produktivitasmu?
Lucunya, justru di KAMIL Pascsarjana sekarang kau kembali berkoar tentang pentingnya menulis. Kau aktifkan kembali idealismemu akan betapa agung dan luhurnya tindakan menulis. Kau kampanyekan betapa bermanfaatnya menulis. Kau provokasikan setiap orang untuk menulis. Tapi kawan, hey, kawan, mana tulisanmu sendiri? Tulisan apa yang sudah kau ciptkakan sejak menjadi badan pengurus di KAMIL? Oke, jawaban-jawaban Quora. Oke, tips-tips menulis di KAMIL Writing Club. Oke, proposal disertasi. Oke, sedikit catatan pribadi. Apa lagi? Ha! Tidak ada bukan? Ah fin, apa kau lupa bahwa kau sempat membuat “to-write-list” yang begitu panjang di laptopmu pada awal tahun lalu? Cobalah buka file itu fin. Biar kau ingat bahwa di antara daftar itu, (hampir) tidak ada yang berhasil kau wujudkan dalam hampir setahun terakhir. Ah, biar ku langsung ingatkan sebagian di sini saja. Lihat semua rencana menulismu
To-write-list
Lanjutan “Just Go(d)”
-Rayya (Filosofi berjalan)
-Minerva (Tentang Hidup)
-Demi (m)asa
Booklet Dear God(s) 3
-Dear Pandora (emosi & rasa penasaran)
-Dear Dedalus (teknologi & inovasi)
-Dear Afrodite (cinta dan kecantikan)
Review Film
-1987
-Judgement at Nuremberg
-Platoon
-Ex Machina
-Purge
-Valkyrie
Review series
-Game of Thrones
-Gotham
-The Walking Dead
Review hiphop
-Nenek Moyangku seorang Penyair
-Dead Emcee Society
-Tauba
-Purna Manusia
Review album (Coldplay, mungkin x&y, mylo xyloto, atau ghost stories)
Booklet Metamatika 2
Booklet Minerva
Kepercayaan dan Uang (Uang, Hutang, dan Kriptokurs)
Teknologi, kini dan masa depan
Hak Kekayaaan Intelektual
Wujudkan itu fin, wujudkan. Kau tidak pernah kekurangan waktu. Kau yang terlalu sering memanjakan dirimu sendiri dengan hal-hal yang kurang prioritas. Ingat, kurang prioritas, bukan kurang bermanfaat. Ku tahu kau sudah sangat menyeleksi setiap kegiatanmu sehingga kau bisa pastikan semuanya bermanfaat. Dengan sekuat tenaga kau sudah menahan diri untuk tidak ke bioskop lagi, menutup facebook, tidak bermain video game apapun lagi, tidak terlalu sering nonton serial lagi. Tapi kau masih melakukan hal-hal yang kurang prioritas, kau masih sering mendaadak tetiba ingin belajar fisika partikel, tetiba ingin paham teori evolusi, tetiba ingin membongkar argumen-argumen ateis, tetiba ingin menekuni tasawuf, tetiba ingin belajar politik islam, tetiba a, tetiba b, tetiba c. Dan semua itu semua tidak menghasilkan apa-apa selain informasi yang mengendap di kepalamu fin! Ingat bahwa kau sendiri yang katakan bahwa belajar dan menulis bagaikan pencernaan, jika yang kau makan lebih banyak daripada yang kau ‘buang’, maka perutmu akan bermasalah. Istrimu sendiri sering mengingatkanmu. Dia selalu mendukungmu fin, tapi dia tidak ingin kau terlalu rakus sehingga lupa untuk sedikit lebih fokus.
Tidak fin, aku tidak menyuruhmu untuk “hanya” fokus, tapi ingin kau sedikit lebih fokus. Kemampuanmu untuk otodidak dan belajar banyak hal sekaligus adalah kelebihanmu fin. Sudah sedikit manusia era sekarang yang menjadi polymath, semuanya butuh spesialisasi hanya untuk mengisi sekrup-sekrup industri. Orang-orang mengasah keterampilan hanya karena itu dibutuhkan. Orang-orang menuntut pengetahuan hanya karena agar diterima perusahaan. Orang-orang mengejar gelar hanya untuk mendapat gaji besar. Menyedihkan memang, tidak ada yang haus akan pengetahuan sebagaimana seorang penuntut ilmu sejati. Tapi fin, meskipun begitu, sesuatu yang tidak tertata dengan rapi, sebagus apapun itu, justru menjadi kontra-produktif. Itulah mengapa fin, kau harus menulis lagi! Kau lupa bahwa kau sering mengatakan bahwa menulis adalah proses restrukturisasi dan penataan pikiran dan pengetahuan. Hanya dengan menulis semua yang kau ketahui bisa mengendap dan bermetamorfosis menjadi ilmu dan kebijaksanaan yang utuh.
Tapi bagaimana fin, jika kau bahkan hilang semangat untuk menulis lagi?
Ku tahu fin, dunia ini sudah begitu memuakkan. Kau akhir-akhir ini bahkan berpikir bahwa seandainya kau tidak punya kemampuan untuk sedikit cuek, mungkin kau akan menangis setiap hari atas semua yang kau ketahui dari dunia ini. Kau merasa bahkan hampir setiap usaha merupakan tindakan naif yang tidak akan banyak mengubah keadaan. Kau melihat bahwa keadaan dunia sekarang adalah sebuah konsekuensi logis, sebuah kewajaran, yang kau lihat dari sebuah skenario agung. Kau bisa saja menyusun sebuah mimpi, sebuah visi, atas dunia seharusnya seperti apa, tapi kau adalah seorang filsuf. Kau tidak akan selesai tanpa bertanya “untuk apa”. Apa sebenarnya yang kita tuju sebagai masyarakat dunia? Ya fin, aku pun tak bisa banyak membantumu terkait hal itu. Ku tak punya jawabannya. Sukar fin, sukar. Itu akan menjadi sebuah lingkaran tanya yang entah akan berujung atau tidak. Dan kau pun akan membenci juga jika akhirnya kesimpulannya hanyalah, “minimal kita bisa ….” Kau tidak ingin tindakan-tindakan kecil tanpa tujuan ultima hanya sekadar karena itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan. Itulah mengapa tintamu kering bukan fin? Karena kau khawatir narasi yang keluar hanyalah usaha desperate seseorang yng gagal menemukan solusi ultima atas semua masalah semesta, atau hanya kata-kata kosong yang membohongi diri yang sebenarnya meragu.
Wahai kawanku, bukankah bahan bakar utama menulis adalah kegelisahan? Kurang apa kegelisahan yang kau punya? Ku ingat bahkan kau begitu tersiksa dengannya, karena kau katakana bahwa lebih baik tidak tahu apa-apa ketimbang tahu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kau begitu merasa tak berdaya atas segala hal yang terjadi. Tentu itu tidak membuatmu hanya diam membatu, namun kau gagal menemukan makna atas kemana titik akhir segala usaha itu. Hingga kau khawatir bila kau menulis, yang muncul hanya ocehan tak berarti, keluhan tak berujung, ataupun komentar tak berisi. Kau ingin memiliki jawaban terlebih dahulu sebelum bisa mengungkapkan apapun. Iya kan fin? Iya kan? Kau takut kau hanya jadi pembual tanpa aksi, pengritik tanpa solusi, sedang kau tahu dunia tidak sesederhana itu. Solusi atas dunia ini tidak bisa dari satu orang, dari satu ilmu, dari satu sudut pandang. Kau paham harus ada komunikasi berjejaring dengan kesadaran yang sama atas dunia ini, tapi kau gagal menemukannya. Kau ingin menginisiasinya, tapi kau selalu merasa sendiri. Yang kau lihat hanyalah setiap orang hanya berusaha mengajukan solusinya masing-masing, lupa bahwa solusi itu tidak bisa berdiri sendiri, hingga yang terjadi hanyalah konflik antar solusi. Hatimu sendiri tersayat oleh pertikaian tak perlu yang selalu terjadi hanya karena gagalnya komunikasi.
Kau bisa saja seperti orang-orang besar terdahulu, memimpikan sesuatu dan mewujudkannya dengan utuh, namun sekali lagi, kau sadar bahwa tidak sesederhana itu. Tentu kau sudah mencobanya sejak bertahun-tahun yang lalu bukan? Kau belajar dari sains, agama, ekonomi, filsafat, hingga sejarah, hanya karena kau ingin melihat solusi itu lebih utuh, hanya karena kau tak suka ada bias kognitif. Ya, bias yang selalu terjadi oleh para spesialis. Mereka yang terbiasa memegang palu hanya akan melihat segala masalah sebagai paku yang perlu dipukul, dan mereka yang terbiasa memegang cangkul hanya melihat segala sesuatu sebagai tanah yang perlu dipacul. Itulah ketika para teknokrat berbicara bahwa semua solusi di dunia ini harus melalui pengembangan saintek sedangkan para filsuf dan ahli humaniora menganggap teknologi hanya akan menterasingkan manusia dan menciptakan berbagai masalah kultural, sedangkan juga para agamawan menganggap yang terpenting manusia cukup memperbaiki karakter individualnya masing-masing dan patuh pada aturan ilahi. Mungkin realitanya tidak sepolar itu kawan, tapi hampir pasti semua orang punya kerangka yang saling lepas satu sama lain.
Hening. Lagi. Kebetulan juga daftar putar lagu final fantasy-ku sudah habis, tanda bahwa harus berganti daftar putar mungkin dengan Chrono trigger, Wild Arms, atau Suikoden, atau memutar yang itu lagi. Ah sudahlah, biarkan ‘hening’ dulu sejenak, karena yang terdengar hanya suara latar belakang percakapan berbagai orang dan musik kafe yang tak perlu masuk kepala. Kali ini roda gigi pikiranku mulai bisa berputar halus, maka pikiran pun tidak sunyi mencekam sepenuhnya. Ya, Minerva. Dia memang sangat mengerti apa yang ku rasakan. Setiap kali ku ingin menulis suatu hal, ku selalu merasa ilmuku tak cukup, sedang ketika ku ingin belajar ilmu tersebut, rasanya tidak ada habisnya. Betapa luasnya ilmu dan seharusnya aku tidak sendiri. Tapi well, apa yang bisa ku harap dari orang lain?
Tetiba ku merasa sangat sedih. Suatu hormon ku rasakan mengalir cepat dalam pembuluh darahku, memberikan suatu sensasi tanpa deskripsi. Sebelum hormon ini menginduksi kelenjar air mata, ku tarik nafas mendalam, dan ku mulai baca lagi.
Kau tahu kau sebenarnya tidak sendiri kawan. Mungkin ada orang di luar sana yang punya kegelisahan sama sepertimu, hanya belum kau temui saja. Dan fin, kau tak bisa berharap menemukan orang yang benar-benar punya kesadaran yang tepat sama denganmu, karena itu mustahil. Kau akan selalu temukan perbedaan. Ya, meski ku tahu yang kau benar-benar butuhkan minimal kesamaan untuk bergerak ke arah yang sama. Ku tahu juga kau sudah berganti-ganti lingkaran untuk mencari itu, namun tetap saja kau merasa seperti pencilan. Kau mungkin anggap dulu bahwa tulisan adalah tempat pelarianmu, tempat pemuntahan semua gagasanmu karena kau gagal menemukan kesempatan merealisasikannya. Tulisan juga tempatmu bercerita bukan? Berharap seseorang dengan pemikiran yang sama membacanya dan menjalin komunikasi? Entah, apapun itu, ku tahu seperti yang dulu-dulu, kau menulis hanya karena kau senang. Dan kesenanganmu itu sekarang kalah dengan kebingungan akut sehingga tinta pun menyusut.
Di sisi lain, ku rasakan juga kau begitu tertatih-tatih mengejar semua ilmu sedang waktumu semakin terbatas. Kau butuh pemahaman komprehensif atas banyak hal ketika ingin membahas satu hal saja. Ketika menulis tentang lingkungan, seakan kau juga harus membaca tentang sejarah, politik, sosial-budaya, ekologi, biologi, geografi, ataupun ilmu-ilmu lainnya. Ku tahu kau bukan tak mau, ataupun tak pernah mencoba, kau hanya merasa kau jadi seperti tidak kemana-mana. Seorang mentormu pun pernah berkata, “janganlah seperti minyak tumpah di lautan, menyebar kemana-mana, tapi sebenarnya hanya di permukaan saja”. Beliau mengritik orang-orang yang belajar segala sesuatu tapi tidak mendalam, karena lebih baik fokus pada satu ilmu namun begitu tajam di sana. Tidak Cuma beliau, beberapa orang lainnya, termasuk bapakmu sendiri pun memintamu untuk fokus, sedang ku tahu fokus bukanlah keahlianmu, justru penyiksaan bagimu kan?
Ku tahu juga di tingkat filosofis, kau beberapa kali menabrak tembok-tembok metafisis yang begitu keras, yang sering membuatmu kembai ragu akan adanya solusi ultima itu. Kau seakan semakin melihat bahwa dunia ini memang seharusnya seperti ini, dan kau pun mempertanyakan makna kehendak dan usaha. Sebagai muslim, kau pun berkali-kali menemui ketegangan ketika berbagai konsep bertentangan dengan fakta ilmiah. Kau heran kenapa seakan-akan semua orang baik-baik saja dengan itu. Di antara mereka tidak berpikir, atau memilih untuk mengabaikannya. Kau heran, karena kau tahu ketegangan itu begitu nyata, dan tidak bisa diabaikan karena salah satunya tidak mungkin salah. Kau butuh penjelasan, tapi tidak kau temukan. Tembok-tembok filosofis ini pun sukar kau ungkapkan, karena berada dalam wilayah yang begitu abstrak dan kabur, sedangkan orang-orang lebih suka berbicara apa yang ada di bumi. Sekali lagi fin, ku tahu, atas banyak alasan, kau bingung.
Ku tak banyak bisa membantumu fin. Maafkan aku. Karena itu masalah yang sebenarnya ada di dalam dirimu. Kau tahu bahwa di masa lalu banyak orang bisa menjadi polymath. Kau tahu di masa lalu seseorang tidak harus hanya ahli di satu bidang saja. Hanya industrialisasi lah yang membuat setiap orang harus terspesialisasi saat ini, agar setiap orang cukup jadi skrup spesifik di tempatnya masing-masing dalam mesin besar produksi global. Kenapa kau tidak percaya diri saja dan tetap tekun mempelajari berbagai ilmu dengan kecintaan mendalam atas pengetahuan serta niat untuk menemukan solusi ultima semesta ini?
Sudahlah fin. Jalan yang kau tempuh memang jalan yang sepi, tapi bukan berarti jalan yang tak berarti. Kau sendiri dulu pernah memegang teguh prinsip “jangan ikuti kemana jalan menuju, ciptakanlah jalan baru dan tinggalkan jejak”, hingga kau selalu mencoba melakukan apa yang orang lain belum lakukan. Ku tahu itu tidak enak fin, tapi itulah makna sebuah perjuangan. Jangan hanya kerikil sekecil itu kau hentikan idealisme, kau angkat pena, kau hambat aliran gagasan, kau matikan kegelisahan. Kau mungkin tidak turun aksi ke jalan, ataupun beretorika dengan pemegang jabatan, ataupun bernegosisi dengan beragam utusan, ataupun berbisnis bermacam urusan. Kau mungkin hanya membaca buku, merenung, berpikir, berimajinasi, dan menuliskannya, tapi ingat kawan, ingat, bahwa peradaban ini dibangun dari tindakan-tindakan sederhana itu, bahwa perubahan dimulai dari aktivitas-aktivitas sederhana itu. Ku di sini hanya selalu mengingatkan fin, hanya mengingatkan. Karena ku tahu, semua yang ku katakan pada dasarnya adalah apa yang pernah kau katakan sendiri. Kau hanya lupa.
Semangat fin. Waktumu tidak pernah berkurang. Aktivitasmu yang bertambah, dan semua hanya butuh dikelola dengan baik. Kau tidak bingung, kau hanya lagi lelah berpikir. Dulu kau sempat menginginkan kehidupan normal dengan seorang istri dan anak, dimana kau tidak perlu berpikir macam-macam. Kau sudah dapatkan itu fin, tapi kondisi tidak memikirkan dunia adalah mustahil, karena itu sudah tertanan dalam dirimu. Kau tidak bisa abai atas apa yang sudah terlanjur kau ketahui. You can’t un-know what you’ve known. Istri dan anakmu bukanlah kambing hitam, bukan pula tempat pelarian, justru mereka adalah energimu. Terutama anakmu fin, ia kelak yang akan meneruskanmu, warisan hidupmu. Kau harus siapkan ia dengan sebuah solusi dan pemahaman ultima atas semesta, yang kau harus selesaikan dalam masa hidupmu. Jika tidak, maka generasi hanya akan jalan di tempat, bukan karena tidak ada yang meneruskan, tapi karena tidak ada yang diteruskan. Semangat fin. Ku akan selalu bersamamu.
Au Revoir, Ton Ami Finiarel.
Salam,
Minerva
Hening itu berubah bentuk, perlahan bertransformasi menjadi nada dan simfoni. Ku ingat bahwa seseorang pernah mengatakan bahwa sunyi adalah teriakan terkeras. Hanya ketika dikelola dengan baik, sunyi itu bisa menjadi nada yang merdu. Mungkin memang sudah saatnya ku susun ulang determinasi. Sudah terlalu lama ku hanyut dalam mimpi, sementara hanya bayang-bayang yang ku nanti, sehingga waktu berlalu tiada arti.
Intensitas sinar di luar sudah tak seterang tadi, tanda mentari pun mulai bersiap undur diri. Orang-orang di sekitarku sudah berganti. Biarlah. Ku masih menanti istri, yang seharusnya akan tiba sebentar lagi, setelah bersama teman-temannya berpenuhan janji. Selagi menunggu, entah intensi dari mana, ku membuka pemutar musik dan beralih ke daftar putar Ebiet G. Ade. Ku lihat-lihat sejenak sebelum akhirnya memilih satu lagu…
Terima kasih Ebiet, terima kasih Minerva. Pikiranku yang selama ini sepi, mungkin justru berarti keriuhan yang tak terkendali dari kegelisahan yang tak terjawab. Sudah saatnya ku buka lagi daftar panjang to-write-list-ku yang begitu lama tak ku sentuh, dan mewujudkan semuanya satu per satu.
(PHX)