Dear Athena

Perenungan terhadap peradaban dan demokrasi

- 10 mins

Akhirnya kemahasiswaan di ITB menjadi sebuah panggung opera! Menyaksikan semua yang terjadi akhir-akhir ini, khsusunya selama Pemira KM-ITB, fenomena menarik muncul kep permukaan, ketika semacam sinisme bertransformasi menjadi pemikiran-pemikiran tertuang, walau di sisi lain tetap banyak menemukan ironi.

Daripada pusing melihat KM-ITB dengan semua tetek bengeknya, yang berujung pada tembok kaku realita memuakkan, aku tarik nafas dalam dan menekan tombol “On” pada imajinasi kepalaku, hingga bum! Lihatlah, KM-ITB adalah Yunani kuno, dengan polis-polis terpisah yang memiliki bangunan-bangunan indah, dengan dewa-dewa yang sibuk sendiri namun tetap dipuja dan dihormati, perang dan konflik sana-sini, dan pahlawan-pahlawan yang membela kebenaran.

Kemahaiswaan sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari apa yang kita kenal sebagai peradaban. Walau hanya bagian kecil, hal sederhana terlihat bagaimana manusia mencari keteraturan ketika hidup bersama-sama. Manusia sejak pertama kali muncul (entah ketika Adam diciptakan atau ketika sudah bervolusi penuh dari cro-magnon, semua terserah kepercayaan masing-masing) selalu mencari jalan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dan karena manusia selalu hidup bersama yang lain, maka tidak dapat dipungkiri keteraturan bersama perlu dibentuk agar masing-masing hidup dapat terjalani dengan baik. Dari situlah muncul peradaban! Dengan berbagai bentuk, mungkin yang paling kita pahami saat ini adalah demokrasi.

Ya apapun itu, manusia memang makhluk yang rumit. Tak heran Prometheus mati-matian membantu. Demikian halnya dengan Athena, yang dititipkan oleh Prometheus untuk menjaga umat manusia agar tetap selalu berada di jalan yang baik.


Dear Athena, yang tetap bijaksana

Sekali lagi sepertinya aku berbuat terlalu lancang. Namun mungkin kau bisa memaklumi ku wahai dewi, bukankah kau selalu mendengarkan mereka yang berkeluh kesah? Kau selalu membantu dengan adil, tidak seperti dewa-dewa lain yang terkadang menuruti egonya sendiri. Kau juga selalu turun dan berkeliling, tidak seperti dewa-dewa lain yang hanya duduk di istana megahnya di atas sana.

Ah, tapi lupakan dewa-dewa lain, aku sedang tak ingin menghujat. Mungkin rakyat jelata memang hanya pantas berkomentar, tapi memang dengan itu kami menunjukkan kehendak kami bukan? Lagipula lihatlah Attika sekarang Athena, yang berpusat pada polis yang kau bangun sendiri, polis tempat sistem bernama demokrasi pertama kali tumbuh. Ya, mungkin memang pantas kau bangga dengan kota yang diberikan oleh Kerkrops dan dewa-dewa padamu, yang kau tumbuhkan Pohon Zaitun di tengahnya, dan kau ajarkan rakyatnya keterampilan dan kebijaksanaan. Kau buat mereka mandiri dengan tangan dan akal masing-masing, tidak seperti Sparta atau Thebes yang selalu berperang. Kau membangun suatu peradaban!

Apakah kau ingat ketika Theseus akhirnya berhasil menyatukan polis-polis di Attika menjadi satu kesatuan? Yang akhirnya terbukti mampu menyelamatkan Yunani dari kehancuran kala Persia atas kuasa Xerxes menginvasi. Dengan kesatuan itu, mulai dikikis pola-pola monarki dan aristokrasi yang selama itu mendarah-daging dan tumbulah suatu kuasa baru bernama demokrasi. Ah sepertinya begitu indah nama itu, yang akhirnya terbawa hingga saat ini wahai Athena, terbawa hingga ribuan tahun berikutnya. Tapi apa? Apakah nama itu memang indah? Entahlah.

Ku bayangkan betapa indah kala itu, rakyat berkumpul di pusat kota, membicarakan keputusan bersama, berbasis kepercayaan pada perwakilan, demokrasi langsung terbentuk dengan nikmatnya. Ruang publik terbangun dalam harmoni, menutup semua celah untuk kuasa sepihak apapun memasuki. Kau memang luar biasa mendidik rakyatmu Athena, entah bagaimana bila ternyata kala itu Poseidon berhasil memenangkan kota itu. Tapi lihatlah keadaan itu kali ini Athena, apakah seperti yang kau impikah dahulu?

Mungkin memang bisa dikatakan demokrasi adalah simbol bangkitnya peradaban modern, ketika logika dan dialektika antar manusia lebih menjadi tumpuan ketimbang animisme dan mistisme terhadap hal-hal diluar nalar. Tapi apakah makna peradaban? Mungkin peradaban merupakan kondisi ketika masyarakat yang menempati suatu tempat bisa dikatakan beradab. Lantas apa itu beradab Athena? Melihat apa yang terjadi pada kotamu saat itu, agak sulit bisa diambi satu parameter khusus tanda suatu masyarakat telah beradab, karena kota Athena kala itu tumbuh di semua sektor secara bersamaan, baik logika, etika, maupun estetika.

Mungkin memang parameter beradabnya masyarakat harus dilihat secara menyeluruh antara tiga komponen itu, walau mungkin, yang jadi sorotan utama adalah etika. Aku teringat dalam sebuah diskusi terbuka terkait sebuah film, Agora, yang menunjukkan tertekannya para orang-orang yang percaya padamu dengan masuknya agama kristen di Yunani kala itu, seseorang mengatakan bahwa dengan saat ini kejahatan masih terjadi dimana-mana sesungguhnya peradaban kami jalan di tempat. Pernyataan tersebut seakan menyiratkan bahwa apa yang menjadi parameter beradab adalah etika, bagaimana masyarakat tersbut semakin “baik” dalam berperilaku. Sebenarnya cukup ironis bila keadaan “baik” dan beretika menjadi parameter beradabnya suatu masyarakat, karena etika sendiri terbentuk dari budaya, yang mana “baik” menjadi hal yang sangatlah relatif.

Terkait hal tersebut Athena, aku melihat ada semacam paradoks ketika sebenarnya rupa peradaban pada tiap waktu jika dikaitkan dengan etika, adalah selalu sama. Jika kami katakan dulu orang-orang masih kejam dalam membunuh, apakah sekarang tidak? Jika kami katakan sekarang pergaulan lawan jenis semakin bebas, apakah dulu tidak? Yang namanya korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, dan hal lain sebagainya akan selalu ada sejak manusia baru muncul hingga masa depan. Kondisinya sebenarya serupa, hanya berubah bentuk, disebabkan oleh budaya. Maka jika parameternya adalah etika, mungkin memang benar bahwa sebenarnya peradaban manusia selalu jalan di tempat. Ah Athena, ironis.

Mungkin bisa aku lihat pandangan lain, Athena. Mayoritas orang yang mengatakan bahwa peradaban manusia terus bergerak maju memakai dasar bahwa ilmu dan teknologi manusia saat ini terus menerus berkembang. Cih, naif Athena. Jika ilmu, apalagi teknologi, dijadikan dasar berkembangnya peradaban, maka apalah seakan manusia hanyalah sebatas apa yang bisa kami produksi dengan otak-otak kami. Bukankah kemanusiaan jauh lebih kompleks dari hal itu? Padahal di sisi lain, dampak negatif dari teknologi justru mengikis nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, mentransformasi sifat-sifat alamiah manusia, baik dalam hal berkomunikasi, bersosialisasi, bertransasksi, belajar, dan lain sebagainya. Apakah itu buruk? Tidak bisa ku katakan Athena, tapi memang benar, dunia bergerak maju dari sisi ilmu dan teknologi.

Mungkin hal paling sederhana yang bisa kami amati untuk melihat peradaban adalah sistem pemerintahannya. Ya, cukup. Karena di situ dapat terlihat bagaimana suatu masyarakat saling menghargai untuk dapat hidup bersama dalam keteraturan. Bukankah itu lah sesederhananya makna peradaban? Sebuah keteraturan dalam kehidupan bersama. Jika menelisik bagaimana kotamu bangkit kala itu Athena, adalah dengan bangkitnya sistem demokrasi untuk mewujudkan keteraturan. Sejauh ini demokrasi sudah bertahan ribuan tahun dan tetap dipakai oleh beberapa sistem Athena, kau tentunya bangga akan hal ini, tapi melihat bagaimana dunia ini bergerak, mungkin kau patut khawatir.

Entah aku perlu menyalahkan siapa. Dunia berubah seiring dengan waktu. Roda kayu yang kala itu kau ajarkan untuk mengefektifkan perdagangan telah bertransformasi menjadi mesin-mesin yang mengepulkan asap. Sekolah dan perpustakaan yang kala itu menjadi tempat diskusi dan pertukaran pikiran sekarang bertransformasi menjadi tempat doktrinasi, pembunuhan jati diri, atau pabrik kuli. Ruang publik yang kala itu mempertemukan semua rakyat untuk saling bertatap muka, berkomunikasi, berekspresi dalam ragam emosi, telah bertranformasi menjadi ruang maya tanpa bentuk dan rupa, menyisakan realita hanya untuk menjadi ruang-ruang privat yang terbatas. Lantas? Adakah yang bisa disalahkan?

Sayang Athena, aku tak tahu harus berbuat apa. Seakan semuanya hanyalah bagian dari kewajaran zaman, dimaklumi begitu saja, hingga akhirnya menghasilkan usaha-usaha semu untuk membangun yang tiada. Partisipasi yang menjadi fokus dalam demokrasi mengalami anomali, imigrasi menuju formalitas berbau ilusi. Kuorum menjadi dalih palsu untuk sekedar dijadikan validasi. Mungkin kita memang perlu bertanya lagi, ada apa dengan masa kini.

Apakah kita memang baiknya berpisah lagi, menjadi polis-polis yang kembali sibuk sendiri, menciptakan anarki kolektif. Ataukah memang ini sebuah zaman yang terbangun secara wajar, menuntut kami untuk cukup menerimanya dan menyesuaikan diri dengannya? Atau ini sebuah keadaan yang patut dilawan dengan kebebasan idealisme dan militansi untuk memberontak? Ataukah memang ada satu atau dua pihak yang patut disalahkan sebagai penyebab utama timbulnya keadaan? Aku tak terlalu berharap kau menjawabnya wahai dewi yang bijaksana, terkadang esensi dari bertanya hanyalah pertanyaan itu sendiri, bukan jawabannya.

Pengamatanku secara menyeluruh selama ini pada ujungnya menuntunku untuk menganggap semua ini merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi. Lalu apa? Aku hanya bisa berdiam diri dan menonton dalam kegelisahan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Yang ku tahu adalah jangan pernah menerima keadaan saat ini, maka memberontaklah seakan semua ini adalah ketertindasan terhadap kebebasan pembentukan jati diri. Toh, dengan semua usaha brute force yang dilakukan oleh semua pihak, kita tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini. Lantas siapa lagi yang bisa kami kritik selain diri sendiri? Terkadang memang seperti itulah wahai Athena, diri sendiri adalah pemilik kesadaran tertinggi.

Terlepas dari faktor teknologi, mungkin saja memang dunia ini semakin mengarah pada kekuatan subjek sebagai pusat kuasa. Mungkin memang ketika tumbuhnya demokrasi sebagai jawaban dari lahinya logika formal dan filsafat, adalah tumbuhnya modernitas yang sangat berusaha mencari objektivitas dari segala sesuatu. Bila melihat alur besarnya, pusat kepercayaan manusia berawal dari hal-hal yang sangat besar di luar diri sendiri, berbasis anima, pagan, dan mistis. Dari kekuatan yang lebih tinggi ini, lama kelamaan, dengan tumbuhnya logika, pusat kepercayaan turun menjadi cukup seesuatu yang disepakati bersama secara objektif. Tidak perlu mencari sesuatu yang di luar batas diri manusia, namun selama dapat diobservasi bersama-sama, itu cukup untuk dipercaya. Itulah modernisme. Namun dengan waktu yang terus maju, objektivitas dan logika ini sendiri semakin lama semakin runtuh pijakannya, mengingat tidak ada yang bisa lepas dari subjektivitas. Orang-orang mulai sadar begitu banyak hal-hal relatif di dunia ini, dengan demikian semakin bnyak konstruksi bersama yang bisa dengan mudah didestruksi dengan perspsi individu. Dari hancurnya logika ini, lahirlah posmodernisme, kondisi ketika semuanya adalah benar karena hanya bergantung dari persepsi subjek. Posmodernisme adalah fenomena yang terjadi saat ini dan tidak bisa dihindari Athena. Maka bukankah menjadi jelas bahwa peradaban semakin bergerak menuju anarki, ketika kesadaran tunggal pribadi adalah kekuasaan terbesar? Entahlah, itu bisa saja spekulasi kasar dan bisa disebut konyol, tapi tetap saja sangat mungkin akan terjadi.

Aku terkadang jadi merindukan masa kuno, masa ketika engkau dipuja-puja menjadi tempat bersandar dan menghiasi setiap kisah. Masa ketika segalanya terlihat nyata untuk dilawan ataupun diperjuangkan tanpa ada kepalsuan apapun. Masa ketika persepsi dan realita berjabat tangan dan memperlihatkan diri apa adanya. Lihatlah sekarang Athena! Ketertindasan yang diberikan oleh teknologi membuat semuanya tertidur nyenyak dalam kesadaran-kesadaran palsu. Mental-mental virtual mengaburkan batas antara persepsi dan realita. Sekarang, untuk sekedar duduk bersama membahas ragam cerita pun orang-orang lebih memilih untuk duduk di depan laptop dan menikmati dunianya sendiri. Ah Athena, tidakkah kau sedih dengan keadaan ini.

Terkait dengan Yunani tercinta ini, jika memang sebaiknya hancur terlebih dahulu untuk kemudian dibangun ulang pun aku siap dan rela. Tapi siapa aku bisa memprediksi. Memaksa mempetahankan diri beradaptasi dengan keadaan walaupun bagai meraba dalam kegelapan mungkin juga hal yang baik. But who knows? Sekali lagi tak perlu dijawab Athena, aku hanya ingin bertanya.

Pada akhirnya dunia ini mungkin memang benar-benar membutuhkanmu Athena. Seperti kata Michio Kaku, kunci untuk masa depan adalah kebijaksanaan, bukan pengetahuan atau keterampilan. Entah kemana engkau selama ini meninggalkan manusia, tapi kami telah terbawa hasrat terlalu tinggi untuk sekedar pengetahuan dan keterampilan, terpukau oleh kemudahan teknologi, lupa akan kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno yang diajarkan pada masa lalu, sebagaimana kisah-kisah dan mitos-mitos memberi pembelajaran pada kami semua. Bukankah itu yang selama ini kau representasikan Athena, baju zirahmu melambangkan kebijaksanaan sebagai pelindung kehancuran diri, burung hantu peliharaanmu melambangkan kesiagaan dalam bertindak, kelahiranmu dari kepala Zeus melambangkan pemahaman dan wawasan sebagai sumber kebijaksanaan, kewanitaanmu melambangkan bahwa kebijkasnaan tidak bisa lepas dari kehalusan feminisme, dan keperawananmu melambangkan kesucian sebagai sebuah kehormatan. Sudah pantasnya kau salah satu dewa yang paling dicintai oleh manusia.

Sudahlah, hanya satu doaku, beri kami kebijaksanaan untuk semua keadaan ini. Hanya itu yang kami butuhkan, bukan pemimpin dengan ide-ide segudang, ataupun program-program dengan dampak tanpa batas. Dan seperti bagaimana aku menutup suratku pada Zeus: Terlalu naif dan terlewat idealis bila kita memimpikan sebuah negeri utopia yang damai dan tenteram.

Demi-God yang muak dengan keadaan

Finiarel.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora