Dear Para Musae
Perenungan terhadap seni dan maknanya bagi peradaban
Tanpa berkata-kata, ku hanya ingin menulis singkat saja. Terkadang tak semuanya butuh prolog bukan?
Dear Para Musae, yang terus berkarya
Hai para putri Zeus dan Mnemosin. Tak menyangka aku menulis surat pada 9 orang sekaligus. Mungkin sebelumnya aku pernah menulis surat pada 3 Dewi Takdir, Moirae, namun ya dari segi jumlah tentu lebih banyak kalian. Bagaimana kabarnya para Dewi? Sudah berapa karya yang kalian hasilkan? Ku awalnya ingin cukup menulis pada mentor kalian, Apolo. Hanya saja ku agak sedikit khawatir dengan dewa musik satu itu. Dia agak sedikit sensitif masalah karya. Bisa-bisa ku salah bicara dan salah satu panahnya yang tak pernah meleset langsung menembus dadaku.
Izinkan aku mencoba mengenal satu per satu. Baik. Halo Kaliope sang penulis sajak epik dan kepahlawanan. Apa yang kau tuliskan sangat berarti agar semangat kepahlawanan terus ada, seperti bagaimana kau menyanyikan kemurkaan Akhiles pada perang Troya dalam sajak-sajak Iliad. Kisah-kisah epic para pahlawan yang berisi perjuangan dan penghargaan adalah emas dalam pembelajaran. Anak-anak akan termotivasi dan terinspirasi. Bahkan ku ingat, konon salah satu cara mendidik anak yang efektif adalah dengan menceritakan beragam biografi dan kisah-kisah, sehingga ia akan tergerak untuk belajar dan mengembangkan diri dengan sendirinya. Pendidikan yang berisi beragam ilmu pengetahuan, bila tidak dibalut dengan narasi-narasi hebat yang memotivasi, hanya seperti makanan yang hambar, tidak dapat dinikmati dan tidak dapat mendorong nafsu makan yang lebih besar. Anak-anak jenius yang kurang Tindakan dan karya sebenarnya hanya kurang motivasi, kurang tokoh yang diikuti, kurang cerita yang bisa menggerakkan. Itulah luar biasanya dirimu Kaliope.
Selanjutnya, halo juga Erato sang pujangga cinta. Karya-karyamu mungkin tak seperti Kaliope yang bernuansa keberanian dan semangat, namun itu tidak mengurangi sedikitpun keindahan dari yang kau ciptakan. Cinta adalah bagian enigmatic tak terpisahkan dari manusia, dan mampu mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata adalah hal yang mengagumkan. Cinta adalah sumber banyak rasa, sehingga dari cinta pun semangat dan keberanian bisa lahir, selain juga kesedihan, kemarahan, dan juga sukacita. Ya, campur aduk. Menjadi pujangga cinta adalah mampu mengejawantahkan semua rasa itu dalam bait-bait harmonik dan indah. Tak heran kau juga adalah pemain lira, karena apa artinya sajak cinta tanpa nada yang sendu? Ah, ku pun bisa hanyut dalam lautan perasaan.
Bagaimana dengan kamu Polimnia? Ku bayangkan kau selalu bermuka serius dan tegas. Yang kau ciptakan adalah himne-himne suci bukan? Untuk melakukannya tentu butuh dedikasi dan kehati-hatian, karena setiap kata-katamu akan menjadi doa, pemujaan, atau penghayatan. Setiap bait dan nada yang kau ciptakan harus bisa menembus langsung ke hati dan pikiran manusia sehingga tertancap jelas dalam jiwa. Himne masih kami pakai sampai sekarag Polimnia, terkadang untuk menunjukkan rasa bangga kami atau rasa cinta kami atas negara atau masyarakat. Betapa kami butuh itu untuk menunjukkan rasa hormat kami.
Oh ya kalau kau Euterpe? Kau seorang musisi bukan? Tapi yang kau hasilkan bukanlah himne, atau syair, atau balada, kau mungkin tidak tahan dengan hal-hal seserius itu semua. Yang kau ciptakan adalah lagu-lagu berliri, yang bisa dinikmati untuk mengisi waktu, melepas lelah, atau bersukaria. Aku penasaran tapi Euterpe, kenapa kau menggunakan seruling kembar? Ah tapi itu masalah budaya. Mungkin seruling menyimbolkan musik yang riang dan ringan, ketimbang lira yang relatif cenderung fokus pada keindahan yang sendu. Bisa saja kau menggunakan gitar atau drum, tapi mungkin orang Yunani kurang menyukainya.
Tak lupa juga ku sapa para ahli drama, halo Talia dan Melpomen. Sebagaimana drama terkait dengan lakon fiksi, maka kalian berdua pun selalu membawa topeng kemana-mana. Sampai sekarang pun drama memang terkait dengan topeng yang menunjukkan kepura-puraan. Meski drama hanya sebuah pentas, sungguh banyak nilai yang bisa ditarik darinya. Bahkan drama itu sendiri sering menjadi symbol kehidupan yang tidak jujur dan hakiki, yang selalu diisi kepura-puraan dan kepalsuan, dimana seseorang tidak benar-benar menjalani hidup apa adanya, namun hanya menjadi bayang-bayang tontonan orang lain. Tidak sedikit dari kami manusia yang demikian. Bahkan tidak sedikit yang kemudian mengatakan bahwa hidup hanya panggung sandiwara, menunjukkan betapa sulitnya manusia menjalani keseharian tanpa harus bersandiwara. Daripada membuat hidup itu sendiri sandiwara, drama menyalurkannya dalam bentuk pentas yang bisa dinikmati. Sebagaimana hidup selalu berputar dalam senang dan sedih, gampang dan sulit, maka drama pun kalian tunjukkan dengan 2 nuansa: tragedy dan komedi. Tak heran Talia selalu membawa topeng tersenyum sedangkan Melpomene selalu membawa topeng cemberut. Kalian mewakili dua sisi kehidupan, yang sebenarnya tak terpisahkan.
Beralih dari sastra dan drama, ku hampir lupa ada kau Terpsikore, yang selalu menari. Di antara semua seni, mungkin tarian yang paling sukar ku nikmati, entah kenapa. Bukan bermaksud menyinggung Terpsikore, beberapa tarian memang indah dan begitu sukar untuk dilakukan, tapi aku hanya terkadang sulit saja merasakannya. Mungkin kalau aku sendiri yang menari, aku akan menikmati, karena jujur beberapa musik terasa nyaman bila diiringi sedikit gerakan badan. Sedikit misterius juga terkait tarian itu Terpsikore, kenapa begitu menyenangkan untuk dilakukan. Padahal, tubuh kita begitu sering bergerak sehari-hari, namun tidak memberi efek sebagaimana tarian. Apakah itu efek dari musiknya? Tarian tanpa musik kehilangan esensinya juga sih. Tarian mungkin bisa dikatakan sebagai proyeksi nada secara kinestetik. Efeknya sama seperti musik, namun lebih menyeluruh ke tubuh ketimbang hanya ke telinga.
Untuk dua yang terakhir, ku agak heran sebenarnya wahai para Musae. Ya, Klio dan Urania. Kalian berdua bukannya justru senang menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan ya? Klio, kau senang meneliti sejarah, dan Urania, kau senang untuk meneliti astronomi. Sangat berbeda bukan? Kalian berdua seperti pencilan dibandingkan 7 Musae lainnya, tereksklusifkan dengan ketertarikan berbeda. Mungkin itu tak masalah, karena pada akhirnya kalian berdua tetaplah Musae. Ada kemungkinan sejarah dan astronomi adalah bagian dari seni sebagaimana sastra dan music. Sejarah berisi cerita yang telah terjadi dan dalam astronomi juga tercantum banyak narasi implisit sebagaimana setiap rasi bintang dan planet punya kisahnya sendiri. Langit adalah tempat imajinasi berkembang dimana para Dewa-dewi bertahta, maka astronomi melihat banyak sekali kisah di atas sana. Iya kan Urania? Tentu, astronomi pada masa ini sudah berbeda, tapi paling tidak cukup menyenangkan melihat ilmu langit punya posisi sendiri. Di sisi lain, ku melihat kalian seperti dua sisi koin sebagaimana Talia dan Melpomen. Klio selalu melihat masa lalu melalui catatan-catatan sejarah, sedangkan Urania selalu melihat masa depan dengan melihat posisi bintang. Yah, ku dengar kau bisa membaca masa depan dari bintang-bintang kan? Entah bagaimana caranya, tapi kau jadi seperti representasi komplementer dari Klio. Karya kalian berdua, Klio dan Urania ku kira akan sangat berbeda dibandingkan yang lain. Mungkin tetap berisi kisah-kisah, namun lebih pada pembacaan ketimbang keindahan. Entahlah, ku belum pernah melihat juga.
Tentu menyenangkan hidup penuh dengan buah karya seperti kalian, selalu mengisi hari dengan produktif, menikmati dan menghayati seluruh kepingan kecil kehidupan melalui beragam renungan, bait, dan nada. Aku tak tahu bagaimana Apolo membimbing kalian, tapi mungkin saja kalian sudah punya bakat sejak Mnemosin melahirkan kalian dari benih sang penguasa Zeus. Bukankah ibu kalian, Menmosin, merupakan personifikasi dari memori atau ingatan? Aku menduga apa yang kalian semua representasikan adalah pengetahuan manusia, dan bagaimana buah dari pengetahuan itu menghasilkan beragam produk budaya. Memori, adalah komponen tak tergantikan dari pengetahuan manusia, karena tanpa memori tak akan ada pengalaman, tak akan ada pembelajaran, tak akan ada kisah-kisah, apalagi ilmu pengetahuan. Ku lebih cenderung melihat bahwa kalian bakat-bakat kalian memang turunan langsung dari ibu kalian, artinya setiap bakat dan kemampuan bisa diperoleh dari memori yang subur, melalui banyak pembelajaran dan pelatihan.
Uniknya memang wahai para Musae, bahwa apa yang kalian representasikan cukup beragam, namun kalian terkait sebagai dewi bersaudara. Jika yang kalian simbolkan memang adalah pengetahuan, berarti seni, sebagaimana musik, drama, sastra, dan tari, juga adalah pengetahuan. Ini terasa aneh karena paradigma akan pengetahuan bisa berbeda-beda. Paling tidak, sekarang pengetahuan terisolasi pada kebenaran faktual, yang bisa dijustifikasi melalui beragam pembuktian. Itulah mengapa aku punya dugaan lain, bahwa pengetahuan dalam konteks ini adalah produk akal manusia, yang bisa berupa banyak bentuk. Keragaman produk ini yang menjadi ciri khas membanggakan dari manusia. Produk ini lah yang kemudian kita lebih kenal sebagai seni. Meskipun sekarang seni hanya terkait dengan estetika, seni pada esensinya juga mewakili penghayatan atas beragam narasi, pemikiran, dan aspek-aspek kehidupan bukan? Setiap dari kalian mewakili aspek penghayatan tersebut, sebagai simbolisasi kejayaan peradaban manusia. Semakin kaya hasil seni dari suatu masyarakat menjadi tanda semakin beradabnya masyarakat itu kan? Ya, mungkin tidak terlalu berlaku lagi di tempatku, tapi ku tau demikian karena seni pada Yunani klasik begitu mengagumkan sampai-sampai menjadi kebanggaan terbesar Eropa pada masa Renaissance. Iya wahai para Musae, orang-orang Eropa, berabad-abad setelah budaya Yunani tenggelam oleh zaman karena banyak faktor, menghidupkan Kembali budaya Yunani sebagai suatu pencerahan dan kebangkitan. Renaissance, sebut mereka. Betapa karya di Yunani ketika kalian para Musae berjaya dianggap tolok ukur peradaban bagi Eropa. Dalam periodisasi sejarah pun, masa sebelum Renaissance bahkan disebut era kegelapan, mengingat pada masa itu kekaryaan dan produk budaya hampir tidak bisa ditemukan. Lukisan, sastra, puisi, patung, termasuk juga kisah-kisahnya terangkat Kembali, sehingga aku juga bisa mengenalnya sampai sekarang. Konon, ku dengar juga bahwa di Atena ada masanya ketika jumlah patung melebihi jumlah penduduk. Betapa ku bayangkan jika aku berkeliling Atena pada masa itu, di setiap sudut dipenuhi beragam kesenian. Patung mungkin memiliki aspek kontroversialnya sendiri pada beberapa keyakinan, tapi terlepas dari itu, secara umum, itu menggambarkan betapa warga Yunani sangat menjunjung tinggi seni.
Sekarang mungkin semua agak bergeser, karena ukuran peradaban jadi terlalu terpusatkan pada sains dan teknologi, yang sebenarnya juga terbiaskan sebagai akibat dari revolusi industri. Ketika teknologi berkembang pesat dan memudahkan kehidupan, manusia merasa lebih baik dan lebih unggul. Aspek dasar dari kemanusiaan pun terkerucutkan hanya ke otak saja. Memang sih, salah satu kelebihan dasar manusia dibandingkan hewan adalah kapabilitas rasionalnya. Lebih dari itu, kami manusia modern sering melupakan aspek-aspek lain yang juga menjadi kelebihan dasar manusia, seperti aspek estetika dan budaya. Ku jadi teringat suatu kutipan yang sudah lama ku dengar namun tak bisa ku lupakan sampai sekarang. Kutipan ini, yang sebenarnya lebih seperti puisi, adalah yang membuatku jatuh cinta pada sastra dan akhirnya bergelut di dalamnya.
We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for.
To quote from Whitman, “O me! O life!… of the questions of these recurring; of the endless trains of the faithless… of cities filled with the foolish; what good amid these, me, O life?” Answer. That you are here -that life exists, and identity; that the powerful play goes on and you may contribute a verse. That the powerful play *goes on* and you may contribute a verse. What will your verse be?
Ya kan para Dewi Seni? Ilmu pengetahuan, dari kedokteran, biologi, fisika, informatika, hukum, bisnis, dan segala macam, semuanya jelas bisa membantu manusia dalam kemudahan hidup, namun keindahan dan cinta, adalah yang lebih membuat kita merasa hidup. Setiap dari kita pada akhirnya bagian dari sebuah drama besar semesta dan mungkin kita punya peran signifikan dalam suatu bait. Pertanyaan mendasarnya adalah, bait apakah itu? Memang seni, seremeh apapun itu, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari manusia. Sekarang seni menjadi banyak terkapitalisasi, menjadi objek bisnis, atau sekadar hanya menjadi hiburan yang tak dihargai. Seni, seringkali bukan lagi untuk ekspresi, tapi hanya untuk dijual dan dieksploitasi.
Sebenanrya sukar juga untuk melihat apa seni sesungguhnya, karena makna seni bahkan sekarang sudah terdekonstruksi karena keindahan menjadi sangat relatif. Siapapun dan apapun bisa menjadi seni selama itu diklaim sebagai sebuah eskpresi dari seorang manusia. Dengan itu, seni menjadi tercerabut dari aspek budaya dan segala macam yang mewakili peradaban bangsa. Kau tau para Musae? Di masa ini ada seniman yang bahkan mengalengi kotorannya dan mengatakan bahwa itu adalah seni. Tidakkah itu gila? Dalam aspek modern saat ini pun, ada yang dikenal sebagai Non-Fungible Token (NFT), yang membuat apapun, sekonyol appaun itu, bisa menjadi objek seni yang dicari dan diharga tinggi. Ah. Konyol, konyol. Aku mungkin bukan seniman, tapi aku sebagai yang mulai senang berekspresi dengan sastra, meski hanya sedikit dengan permainan kata, tetap merasa ada hal lain yang lebih luhur di balik seni. Keindahan memang hal yang begitu sukar untuk dipahami secara umum, karena setiap orang bisa memiliki persepsi berbeda, tapi apakah lantas makna setiap karya dan ekspresi seni kemudian jadi dihancurkan dan benar-benar secara total dikembalikan ke masing-masing individu? Jika demikian, bagaimana mungkin dulu ada begitu banyak karya seni yang dianggap indah oleh banyak orang? Memang benar karya seni sesungguhnya jadi hak setiap manusia, tapi lantas bukan berarti itu menjadi liar dan membuat siapapun bisa dengan mudah mengklaim apapun sebagai seni. Ekspresi memang berada dalam level personal, namun setiap personal berada dalam suatu lingkup kultural, sehingga ekspresi pun tetap harus melihat batas-batas norma masyarakat, karena akan menjadi identitas komunal bagi sang individu. Wajar sih wahai Murae, dunia sekarang semua terdestruksi pada ranah individu. Semuanya jadi relative, semua jadi tak bermakna. Kalaupun makna ada, maka itupun hak individu untuk mendefinisikan. Wajar juga sekarang seni tak bisa lagi jadi inti peradaban, karena seni sudah melepaskan diri dari nilai-nilai budaya, etika, dan moral.
Banyak yang menganggap bahwa seni memang seharusnya netral, tapi tentu tidak demikian, karena setiap ekspresi berasal dari persepsi, dan persepsi berasal dari paradigma dasar manusia terhadap dunianya. Apa yang seseorang ekspresikan akan mencerminkan prinsip etika dan keyakinan yang dipegangnya. Misalnya saja kau Kaliope, tentu ketika kau mengisahkan secara puitis kisah-kisah epic kepahlawanan, kau tentu menyiratkan banyak pesan heroik mengenai keadilan dan kebenaran. Atau kau, Euterpe, yang setiap himnemu akan melambangkan nilai luhur yang sebuah bangsa atau komunitas bawa. Bayangkan bila seni hanya ke ekspresi acak tanpa panduan. Aku jadi curiga sebenarnya mereka-mereka yang mengklaim hal-hal aneh sebagai ekspresi seni itu, tidak bisa membedakan mana ekspresi yang jujur, mana yang hanya sebuah manifestasi hasrat diri. Terkadang orang berkspresi, dengan cara yang begitu bermacam saat ini, dari podcast, video, blog, media sosial dan lain sebagainya, hanya untuk dikenal, hanya untuk pengakuan, hanya untuk uang, dan lain sebagainya. Padahal, mungkin saja semua ekspresi itu hanyalah topeng untuk menutupi ekspresi yang sesungguhnya mereka rasakan dalam hati. Talia dan Melpmene tentu sangat paham akan hal ini. Bisa saja benar, bahwa kami manusia seringkali terlalu banyak bersandiwara dalam hidup.
Seni menjadi simbolisasi pengutuhan dan afirmasi manusia. Seni adalah manifestasi semua kompleksitas yang manusia rasakan, dari cinta, tawa, hingga nestapa. Dengan seni, kita mungkin akan lebih paham hidup. Seni bisa membuat kita lebih bisa merengkuh sedih dan menggenggam marah. Di balik semua karya kalian, ku tahu juga ada tiga Grasia yang merupakan personifikasi atas apa yang kalian hasilkan. Ya, tiga putri Dionisus yang selalu menikmati setiap alunan karya yang kalian para Musae lantunkan. Aglaia (Shining) yang selalu menawan, Efrosine (Joy) yang selalu merayakan semua, dan Thalia (Blooming) yang selalu menumbuhkan rasa dalam setiap ekspresinya. Bagaimana kabar mereka? Mohon titipkan salamku pada mereka. Menyenangkan membayangkan kalian Musae, bersama mereka bertiga, ditemani juga Apollo, melewati waktu dengan beragam ekspresi. Kombinasi kalian dan tiga Grasia menjadi perarayaan paling totalitas hidup manusia. Konon, kalian menghalau kesedihan, mempermanis hidup, dan membuat beragam peristiwa lebih mendapatkan penghayatannya. Bahkan konon katanya sebuah himne melagukan “Kau buat segalanya semanis madu, terimakasih bagimu, untuk puisi penggetar kalbu. Manusia menjadi berani dan bijak, berkat ajaranmu bersajak”
Beberapa aspek seni saat ini memang sudah kehilangan esensinya, namun aku tetap senang merayakan sebagian di antaranya, meski hanya berupa untaian kata-kata berima. Aku tidak terlalu pandai akan hal itu, tapi seni tentu bukan masalah bakat kan? Setiap orang bisa berseni, bisa bersastra, karena itu yang menjadikan manusia berbudaya.
Terima kasih para Musa dan Grasia, seni memang memberi arti tersendiri pada peradaban manusia, karena sejauh apapun sains dan teknologi Berjaya, manusia tetap akan harus merasa, dalam setiap suka cita ataupun duka lara, dalam setiap cinta atau putusnya asmara. Setiap rasa itu tidak bisa dibongkar melalui serumit-rumit metodologi atua secanggih-canggih teknologi, rasa itu hanya perlu dihayati dan disalurkan dalam ekspresi. Ya, ekspresi seni.
Manusia yang berusaha menjadikan setiap detail hidupnya adalah karya,
Finiarel.
Yah. Sebagaimana tidak semua tulisan butuh prolog, tidak semua tulisan juga butuh epilog. Mungkin aku perlu istirahat setelah ini, atau mengerjakan hal lain. Berkarya, terkadang memang butuh jeda, sebagaimana setiap Alinea, perlu spasi untuk menguntai makna, dari terpisahnya kata-kata.
(PHX)