Dear Demeter
Perenungan terhadap alam, siklus, dan kesuburan
Aku sedikit bingung mau memberi intro apa, karena tidak ada latar belakang yang terlalu special terkait ini. Yah, pada beberapa hal, aku hanya ingin mengupas mitologi Yunani secara sederhana, karena setiap mitos ada bukan untuk memberi kebenaran atau memberi fakta. Mitos memiliki fungsinya sendiri, sebagai narasi, sebagai paradigma, yang terejawantah dari landasan berpikir, budaya, dan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat. Yunani sendiri sebenarnya bukanlah masyarakat yang ideal sehingga nilai, norma, dan budaya mereka perlu digali dan dihayati sedalam mungkin, namun di antara semua catatan sejarah mitologi, kisah-kisah dari Yunani termasuk yang paling bertahan di era modern. Yang dimaksud bertahan di sini bukan sekadar ceritanya terarsipkan dan masih dapat diceritakan, namun bahwa cerita-cerita dari Yunani sendiri itu terangkat secara merinci dan beberapa bahkan kembali melebur bersama peradaban modern. Tentu peleburan ini hanya sebatas pada lingkup masyarakat tertentu, khususnya Eropa, karena terangkatnya Kembali budaya Yunani juga merupakan hasil reaktivasi dan kebangkitan Kembali peradaban yang dilakukan oleh masyarakat Eropa pada masa Renaissance. Bahkan, banyak filsuf yang menjadikan mitologi Yunani sebagai simbolisasi atas apa yang mereka cetuskan atau pikirkan, sebagaimana absurdisme yang digambarkan tragedy Sisifus. Ya, mungkin tidak sepenuhnya, namun ada hal yang menarik tersendiri dari mitologi Yunani, yang membuat sedikit pembongkaran terhadapnya bisa menghasilkan narasi tersendiri.
Ah sudahlah. Kenapa jadi panjang-panjang begini. Kali ini sebenarnya aku pun tidak berniat untuk menulis yang panjang. Aku hanya terpikirkan beberapa hal yang mungkin bisa diangkat dari satu Dewi ini. Okay then, let’s get to write.
Dear Demeter, yang memberi keseimbangan
Apakah kau lagi bermuram durja wahai Dewi? Langit tempatku saat ini agak sedikit mendung. Awan melayang pelan hampir seperti tak bergerak. Angin tak berhembus, membuat kelabu mendung ini jadi seperti permanen, tidak bergerak kemana-mana, seperti remaja yang linglung atas pilihan hidup yang berbeda. Akhir-akhir ini pun sering demikian. Awan seperti tidak punya pendirian, tak terbaca geraknya mau kemana, seperti hanya sekadar mengikuti hasrat dan intuisi, tanpa perlu rencana apapun. Angin juga seperti tidak punya arah yang pasti dalam berhembus, terkadang ke utara terkadang ke barat, terkadang ke arah lainnya. Aku hanya berharap angin tidak malah berputar-putar dan menjadi tornado di sekitar sini. Di suatu waktu, awam mendung menyembunyikan matahari sedari pagi namun sampai sang Mentari tenggelam lagi ke timur, tidak sedikit pun hujan turun. Aku jadi curiga para awan ini hanya lagi berantem sama matahari sehingga main kucing-kucingan tanpa kejelasan. Di waktu yang lain, hujan jatuh seperti sebuah tertuangnya air dari ember di langit hanya beberapa saat setelah matahari bersinar terik. Apakah ini akibat darimu yang mungkin juga lagi bingung?
Ah, aku mungkin salah. Ku lupa kau sebenarnya bukan yang mengatur hujan, kau mengatur apa yang dihasilkan oleh hujan. Ya, tanaman yang tumbuh subur, bunga-bunga yang bermekaran, atau buah-buah yang ranum memberi kemakmuran. Bukankah itu terkait? Tanpa hujan yang menurunkan air dalam wujud cairnya, tentu tak mungkin tanaman apapun bisa tumbuh. Yang menjadikan bumi sendiri berbeda adalah kehadiran air itu bukan? Yang memungkinkan semua bentuk kehidupan akhirnya tumbuh dan berkembang, memenuhi hamparan bumi dengan beragam bentuk dan keindahan, adalah aliran air itu sendiri. Meskipun mungkin sebenanrya banyak aspek-aspek lain terutama alur siklus zat-zat alam seperti nitrogen, karbon, dan fosfor, tapi semua pada akhirnya Kembali ke air. Banyak planet yang memiliki banyak kandungan zat bermacam-macam yang menjadi bahan baku kehidupan, namun tanpa air dalam bentuk cair, semua justru balik membuat keadaan jadi mustahil untuk berkembangnya kehidupan. Luar biasa sekali bukan air itu?
Sayang, meski sebenarnya siklus aliran air di bumi in sudah begitu natural terjadi, banyak hal yang dapat memengaruhinya. Karena herannya wahai Dewi, begitu banyak sekarang air justru menjadi masalah bagi manusia, terutama ketika air tersebut terhambat alirannya. Pada akhirnya memang segala sesuatu butuh untuk terus mengalir bukan Demeter? Segala sesuatu di alam bersandar pada aliran, pada sesuatu yang bergerak terus menerus secara siklik. Betapa luar biasanya memang alam wahai Dewi, konsep ekosistem yang siklik membuat tidak ada yang namanya sampah, karena semuanya, segala sesuatu hanya menjadi bahan baku untuk proses berikutnya. Konsep sampah ada karena ada proses yang berhenti, ada proses yang memiliki ujung, dimana ujung akhir dari proses tersebut adalah hal-hal yang tidak bisa dimanfaatkan atau diproses lagi. Manusia menciptakan begitu banyak proses pengolahan, dimana berbagai bahan diolah menjadi beragam produk dan hasil, sayang produk-produk itu tidak memiliki proses lebih lanjut selain penggunaan yang terbatas. Sampah, adalah konsep yang hanya ada pada manusia, karena manusia selalu gagal membuat proses yang berlanjut. Yah, apa daya, manusia punya keterbatasan. Alam punya mekanismenya sendiri yang membuatnya luar biasa.
Wahai Demeter, aku punya pikiran bahwa siklus adalah apa yang menjadi dasar kesuburan dan harmoni. Aku jadi ingat suatu pepatah mengatakan “two in harmony surpases one in perfection”. Pemaknaan atas kalimat ini bisa bermacam-macam, tapi salah satu konteks yang paling pas bagiku adalah bahwa dua hal yang menjadi pelengkap satu sama lain dalam suatu siklus teratur dan harmonic, akan melebihi satu hal yang sempurna sekalipun. Dan menariknya Demeter, ku temukan itu hampir di segala aspek di alam ini. Antara malam dan siang, kemarau dan hujan, panas dan dingin, alam ini di atur dalam siklus-siklus yang harmonic dalam 2 sisi kompelmeter, yang berlawanan namun saling melengkapi. Ku rasa itu pun berlaku dalam hidup Demeter, dimana ada masa senang dan masa sedih, ada masa susah dan masa mudah, ada ada masa damai dan masa konflik.
Proses siklik, apapun itu, entah kenapa tak bisa dihindari, tak bisa dilepaskan. Ia begitu natural bahkan tanpa kita sadari, semua aspek dalam keseharian juga terangkum dalam siklus-siklus. Bukankah itu juga yang terjadi padamu wahai Dewi? Bagaimana terculiknya anakmu Persefone oleh sang Dewa Kematian, Pluto, membawa bumi dalam siklus musim semi dan gugur? Yah, betapa liciknya memang Dewa Penguasa Hades itu, mempersunting anakmu tanpa seizin ibunya! Lihatlah kemudian hal tersebut membawa kegersangan di muka bumi akibat kesedihan dan kemuramanmu. Untung kemudian Zeus akhirnya meminta Persefone untuk secara rutin selama 6 bulan di bawa Kembali ke permukaan bumi menemuimu. Kesuburan dan keasrian alam pun datang Kembali sedia kala, pohon-pohon berbuah subur, beragam bunga indah bermunculan. Sayang, itu hanya terjadi selama 6 bulan. Ya, kau pun akhirnya hidup selamanya dalam siklus sedih dan senang setiap tahunnya. Selama Persefon hidup bersamamu dan melihat matahari, hatimu diliputi ketenangan dan keriangan, memberi musim semi atau musim penghujan pada bumi, dan selama Persefon Kembali ke kerajaan bawah tanah yang gelap, hatimu diliputi kekcemasan dan kesedihan, memberi musim dingin atau musim kemarau. Siklus yang tersinkronisasi Demeter. Sepertinya itu juga yang terjadi pada hati manusia, yang cenderung senang dan gembira selama musim semi, dan cenderung sendu dan muram selama musim gugur. Siklus ini memberi banyak arti pada hidup manusia wahai Dewi. Ku bersimpati atas hidupmu yang harus merasakan kecemasan selama 6 bulan lamanya setiap tahun karena anakmu hidup bersama orang-orang mati di Hades, tapi siklus ini menjalankan roda kehidupan dan peradaban. Manusia belajar kapan menanam kapan memanen, kapan mengonsumsi kapan menyimpan. Manusia belajar mengatur semuanya dengan baik, dengan sejalan dengan siklus alam. Ya tentu mungkin akan menyenangkan bila sepanjang tahun musim semi terus, sepanjang tahun bisa menanam terus, namun keseimbangan akan tergoyahkan karena alam berdiri atas harmonisasi siklus-siklus ini. Manusia pun tidak akan belajar pengaturan peradaban yang baik, bila produksi makanan bisa dengan mudah diperoleh sepangjang waktu.
Berbicara mengenai peradaban, betapa hebatnya apa yang kau ajarkan pada manusia Demeter. Kami semua harus berterima kasih begitu besar padamu. Ya, kau, dan juga Prometheus, sama-sama penyelamat kami, memberi kami hal paling fundamental untuk bertahan hidup dan membangun masyarakat. Jika Prometheus memberikan manusia api, yang dengannya manusia mengenal kehangatan, cahaya, dan pengolahan bahan-bahan, kau memberikan manusia yang lebih mendasar lagi, yakni kesuburan dan cara mengelolanya. Kau memang awalnya hanya memberikan manusia tanah yang subur, tetumbuhan yang memberikan bermacam buah, dan dengannya hewan-hewan yang gemuk dan sehat untuk manusia konsumsi. Tapi kau tak puas, manusia hanya berhenti menjadi pemburu dan pengumpul. Manusia masih hidup cukup sengsara kala itu bukan? Eh tapi mungkin kata “sengsara” bukan kata yang tepat, karena siapa yang tahu apa yang mereka rasakan? Terkadang aku juga berpikir jangan-jangan sebenanrya manusia yang hidup sebagai pemburu lebih bahagian. But who knows? Manusia pada masa itu harus mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Karena alam berada pada siklus, suatu tempat tidak bisa menyediakan makanan terus menerus. Hidup seperti itu penuh dengan ketidakpastian, karena ketersediaan makanan bukan berada pada kendali. Terkadang bahkan mereka harus berkelahi atau berperang hanya untuk berebut makanan. Yah, jelas bagi kami yang hidup sudah dengan tempat menetap dan pembagian makanan yang jelas, hidup seperti itu terasa … tidak nyaman dan menyusahkan. Mungkin saja itu masalah perspektif karena tidak ada yang tahu apa yang lebih baik, namun yang jelas, kehidupan seperti itu tidak terasa bagus bagimu Dewi.
Manusia kemudian akhirnya kau ajarkan cara bercocok tanam. Ya, suatu hal yang sangat mengubah total kehidupan manusia. Perubahannya tidak main-main Demeter, karena adanya pertanian kami golongkan bersama mesin cetak sebagai satu aspek yang paling mengubah peradaban. Bercocok tanam, atau yang kemudian kami namakan agrikultur, karena sebenarnya dengannya kami merawat dan membudayakan (kultur) lahan (agro), merupakan fondasi paling kokoh peradaban. Kau tentu menyadari itu bukan Demeter. Kau begitu bahagia ketika melihat manusia akhirnya tidak hanya sekadar memanfaatkan kesuburan bumi namun juga bisa mengelola kesuburan itu sendiri. Biji-biji berhasil disebar dan taburkan, yang darinya tumbuh pohon yang akan dirawat sedemikian rupa sehingga diperoleh buah-buah atau bagian lainnya yang bisa dimanfaatkan. Dari pohon itu Kembali bisa diperoleh biji-biji baru, dan seterusnya. Kau mengajari manusia bagaimana sesungguhnya bersinkronisasi dengan siklus alam. Tentu manusia juga awalnya harus tetap mengikuti siklus alam, tapi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya berdasarkan siklus kesuburan yang terjadi.
Luar biasa sekali pertanian itu Demeter! Aku kalau membayangkannya selalu terkagum-kagum sendiri. Adanya pertanian membuat makanan bisa diperoleh dengan lebih mudah. Ya, butuh waktu memang untuk bisa menumbuhkan tanaman dari biji sampai berbuah, tapi membayangkan berapa banyak yang bisa ditanam itu mengagumkan. Manusia hanya butuh sebuah lahan dan biji-bijian, yang dua-duanya bisa terhampar begitu banyak juga kala itu. Makanan pun melimpah dengan usaha yang relative lebih sedikit. Terlebih lagi, manusia pemburu dan pengumpul seringkali menghabiskan waktu hanya untuk berpindah tempat. Kemampuan untuk mengolah lahan membuat manusia bisa cukup berada di satu tempat saja, karena jika makanan habis, maka cukup tanam lagi! Efektivitas pertanian memang sangat revolusioner. Bayangkan saja ketika masih berburu atau mengumpulkan makanan Demeter, manusia bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk makan satu kelompok kecil 1 atau 2 hari. Akan tetapi, dengan pertanian, bahkan masyarakat dalam jumlah besar bisa menikmati hasil dari kerja beberapa orang saja dengan waktu yang sama. Pertanian akhirnya memberi hal lain yang lebih berharga lagi untuk manusia wahai Dewi, tidakkah kau sadar itu? Ya, waktu luang Dewi, waktu luang! Pertanian memberi manusia lebih banyak waktu luang dan tenaga yang nganggur, sehingga dengan itu manusia bisa fokus untuk melakukan banyak pekerjaan lainnya, hal-hal yang sebelumnya tidak sempat mereka lakukan karena waktunya habis untuk mencari makanan.
Keren bukan Dewi? Kau memang luar biasa. Berbeda dari dewa-dewi lain, apa yang kau reprsentasikan, apa yang kau berikan merupakan apa yang benar-benar bermanfaat bagi manusia. Tanpa pertanian, manusia tidak akan bisa kemana-mana, tidak akan bisa jadi apa-apa, tidak akan bisa membuat apa-apa. Tanpa pertanian, manusia hanya menjadi seperti hewan yang hidupnya habis hanya untuk makan. Dengan begitu banyak waktu luang dari adanya pertanian, manusia mulai menetap, membangun rumah, dan membuat perkampungan. Pertanian juga membuat manusia belajar domestifikasi hewan, sehingga bisa mengembangbiakkan hewan juga tanpa harus berburu secara liar. Dengan waktu luang yang banyak, manusia bercengkrama dan berpikir, dan dengannya seni dan sastra berkembang. Manusia jadi hidup bersama-sama dengan lebih damai karena makanan harus bisa terbagi dengan baik. Agar tidak ada rebutan dan konflik, sistem tata aturan dibangun agar manusia belajar mengatur dan mengelola keinginan tiap individu demi pencapaian bersama. Dengan itu semua, peradaban pun lahir.
Sakti sekali pertanian itu ya wahai Dewi kesuburan. Sayang sekali saat ini, justru pertanian mulai diremehkan dan disepelekan. Itu pun juga merupakan efek dari peradaban sendiri. Pada akhirnya apa yang dibangun manusia sering kali tidak sempurna dan akhirnya berimbas balik seperti pedang bermata dua. Pada mulanya Demeter, kau tentu lihat sendiri, bahwa setiap manusia mengelola lahannya sendiri, atau paling tidak saling bekerja sama. Dengan itu, setiap orang merasa memiliki hasil produksinya sendiri, setiap orang punya kontribusi langsung atas apa yang mereka makan. Sialnya, ketika pertanian begitu efektif menghasilkan makanan, suatu lahan tidak perlu dikerjakan oleh banyak orang, sehingga muncul orang-orang yang tidak terlibat langsung pada pertanian dan murni mengerjakan hal lain. Tentu ini hal bagus juga Demeter, karena dari sini pembagian peran dalam masyarakat lahir. Ada yang Bertani, ada yang mengelola pemerintahan, ada yang jadi pengrajin kayu, ada yang beternak, ada yang menjaga keamanan, ada yang memasak, dan seterusnya. Setiap manusia jadi hanya perlu fokus pada satu peran, dan bersama-sama mereka menghasilkan kebaikan dan keuntungan komunal. Masalahnya, hal ini ternyata punya efek samping, dimana pertanian menjadi sangat tereksklusifkan pada beberapa orang saja. Eksklusivitasnya pun bukan lebih baik, tapi cenderung direndahkan. Seiring dengan peradaban berkembang, pembagian peran makin kompleks dan dengan itu beberapa peran menjadi lebih punya kuasa ketimbang yang lain. Sistem kuasa atau otoritas ini mewujud dalam banyak bentuk, tapi semuanya punya kesamaan, menempatkan petani dan peternak sebagai peran terendah dalam masyarakat. Bukankah itu konyol? Tidakkah mereka lupa bahwa pertanian adalah apa yang membuat mereka hidup dan berkembang? Ah tentu saja faktornya banyak. Kompleks Demeter, kompleks. Urusan hubungan antar manusia itu terlalu rumit untuk dibahas di sini. Yang jelas, dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, pertanian semakin menjadi aspek yang kurang dipandang. Tentu pertanian tetap diatur dan diurus, tapi diposisikan begitu sepele dan rendah, hanya sebagai penyedia makanan saja. Hingga akhirnya di era aku hidup sekarang pun Demeter, sudah tidak banyak lagi orang yang mau jadi petani. Semakin sedikit yang menyadari indahnya dan mengagumkannya pertanian. Yang Namanya pertanian dianggap hanya ada untuk memberi suplai hidup saja, yang bahkan dimanipulasi. Menyedihkan. Padahal di balik pertanian, ada keserasian dan keharmonisan antara manusia dan siklus alam. Dari pertanian manusia belajar untuk bekerja sama dengan alam. Semakin pertanian disepelekan, semakin juga siklus alam itu dilupakan, dan well, alhasil, era sekarang adalah era dimana manusia adalah penghancur dan perusak alam itu sendiri.
Peradaban, yang dibangun atas dasar kemampuan mengelola alam, justru berujung pada tidak terkelolanya alam itu sendiri. Ironis Demeter, kalau tidak bisa dikatakan tragis. Jika kau saksikan sendiri era saat ini. Apa yang terkandung secara mendalam pada cara kerja alam sama sekali teralienasi dan terpisahkan dari kehidupan manusia. Padahal, alam memiliki prinsip yang luar biasa dalam memastikan keberlanjutan segalanya. Ku ingat itu Demeter, ada 6 jika tak salah, dan proses siklik hanya salah satu di antaranya. Selain proses siklik, ada juga prinsip jejaring, sistem bersarang, aliran, pengembangan, dan keseimbangan dinamis. Segala aspek yang terkandung di alam, baik yang mati maupun yang hidup, saling terkait kan Demeter? Keterkaitan ini membentuk jejaring kompleks ekosistem yang terhubung dan berelasi satu sama lain membentuk jala kehidupan. Manusia melupakan itu, karena kapitalisasi dan industrialisasi membuat alam dipandang secara terkotak-kotakkan. Ambil yang dipakai, eksploitasi yang bermanfaat, cukup. Manusia merusak jejaring itu Demeter, menyedihkan sekali. Dari satu jejaring, bisa terbentuk jejaring lain pada level yang lebih tinggi, membentuk sistem yang bertingkat secara bersarang. Benar Demeter, seperti halnya sel menjadi jaringan sel, jaringan sel menjadi organ, organ menjadi organisme, dan seterusnya. Prinsip selanjutnya, aliran, merupakan aspek tak terpisahkan dengan prinsip siklus, karena aliran dalam skala besar harus berada dalam proses siklik. Secara spesifik, yang dimaksud dari prinsip ini adalah segala komponen di alam harus terus mengalir, harus terus bergerak dari satu titik ke titik lain, harus secara kontinu berubah. Apabila komponen alam ada yang macet alirannya, maka pasti akan timbul kerusakan, seperti halnya air yang tergenang di kota akan menjadi banjir. Tentu di alam lepas, air yang tergenang tetap bisa “mengalir” dalam artian tetap menjadi manfaat untuk banyak makhluk hidup. Hanya manusia yang membuat air benar-benar diam tanpa bisa dimanfaatkan, menghasilkan kerugian untuk manusia sendiri. Dua prinsip terakhir, pengembangan dan keseimbangan dinamis, menunjukkan sifat alam yang sebenarnya selalu bisa adaptif menyesuaikan diri dalam perubahan yang terjadi. Prinsip pengembangan berarti komponen di alam, terutama makhluk hidup, harus terus berubah dan berkembang untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Prinsip keseimbangan dinamis berarti alam itu sendiri punya mekanisme timbal balik untuk segera menutupi kekurangan ataupun kerusakan bila terjadi demikian. Alam punya regulasinya sendiri. Semua prinsip ini Demeter, semuanya dilupakan manusia. Apa yang manusia jalani di peradaban modern sekarang sama sekali tidak menerapkan prinsip-prinsip ini, mulai dari memandang apa-apa secara terpisah-pisah sehingga masalah alam tidak dipandang secara komprehensif, memutus aliran sehingga tertumpuknya sampah atau hal-hal yang akhirnya macet atau mengendap, hingga mengganggu keseimbangan sehingga regulasi dinamis alam pun terhambat atau berbalik menghancurkan.
Ku jadi ingat Demeter, kisah daerah dua sungai. Kau pasti tahu, karena ini sudah terjadi lama. Ingat Mesopotamia wahai Dewi? Ya daerah timur Yunani di benua Asia yang juga dikenal sebagai fertile crescent. Mulia sekali nama itu, menandakan betapa suburnya tanah tersebut. Mesopotamia diberkahi oleh 2 sungai besar, yakni Eufrat dan Tigris, sehingga lahan di sekitarnya menjadi cukup basah untuk ditanami. Sungai Demeter, sebagaimana kau ajarkan juga ke manusia, merupakan aspek inti dari pertanian, karena sungai yang bisa menjamin suplai aliran air yang bisa memberi minum tanaman ladang. Dengan sungai, peradaban bisa berkembang, maka jelas, daerah Mesoptamia merupakan tempat peradaban paling tua yang tercatat tumbuh. Hmm, ku jadi curiga jangan-jangan yang kau ajarkan bercocok tanam setelah perang 10 tahun Zeus dan Kronos adalah orang-orang Mesopotamia. Terlepas dari itu, daerah itu sangat lah produktif dan dengan itu memberikan kekuatan pada peradaban Sumeria yang ada di sekitarnya. Uniknya Demeter, di era sekarang, daerah itu sangatlah gersang. Semua karena kesalahan pengelolaan, yang membuat salinitas tanah sekitar Mesopotamia seiring waktu semakin tinggi, membuatnya semakin sukar ditanami. Kasus ini mungkin dipengaruhi banyak faktor, seperti bahwa masyarakat awal peradaban belum paham sepenuhnya ilmu pengetahuan terkait kesuburan tanah, namun tetap mengingatkan pada kita bahwa kesuburan adalah aspek yang rapuh, yang sedihnya saat ini semakin dipandang sebelah mata.
Jika kau menyaksikan era ini, kau mungkin akan murka melihat bagaimana peradaban berbalik merusak alam. Menyenangkan rasanya kalau setiap perusak alam dapat kau hukum langsung. Jika kau hidup di era ini, entah berapa banyak orang yang perlu kau hukum seperti Erisikton yang malang. Ku ingat raja rakus itu Demeter, Erisikton Raja Tesalia, yang begitu rakus akan kejayaan namun tak peduli keseimbangan. Demi membangun sebuah istana megah baru untuk hasrat kemewahannya, Erisikton menebang begitu banyak pohon secara membabi buta, sampai bahkan sebuah pohon Ek berumur ratusan tahun juga tak luput dari kerakusannya. Semua orang sedih akan hal itu, terutama karena mereka meyakini dalam setiap pohon besar ada peri Driad yang menghuninya dan Eisikton telah secara kejam membunuh para Driad. Kau tak bisa duduk diam melihat perbuatan seperti itu kan Demeter? Kau segera mengutus salah satu Driad untuk mencari Peina sang Dewi kelaparan. Atas permintaanmu, Peina memberi Erisikton kelaparan yang tak ada henti, yang membuatnyat terus tersiksa kelaparan meski sebanyak apapun makanan yang telah ia makan. Hingga akhirnya, seluruh kekayaannya habis hanya untuk memberinya makan, tanpa ia sedikitpun terpuaskan dari rasa laparnya. Menyedihkan, tapi mungkin itu hal yang pantas, sebuah representasi yang cocok atas kerakusan Erisikton. Hasrat yang berlebih dan tidak terkendali tidak akan pernah bisa berhenti sebanyak apapun berusaha dipenuhi, dan itu pula yang terjadi pada manusia dari masa ke masa. Peradaban saat ini tak sedikitpun mengenal kata puas, sehingga hasrat tersalurkan terus menerus tanpa kendali, membuat banyak kehancuran pada alam akibat eksploitasi. Sungguh wahai Dewi, kau harus memberi hukuman seperti pada Erisikton berapa banyak jika kau menyaksikan semua yang terjadi saat ini.
Well, aku sendiri agak sedikit pesimis dengan manusia saat ini. Ya, sebagian manusia mulai sadar dan memikirkan solusi atas masalah yang manusia buat sendiri. Namun, sayang cara berpikirnya seringkali masih kurang tersinkronisasi dengan alam, sehingga solusi-solusi yang dihasilkan lebih pada menambal luka, dengan beragam ilmu pengetahuan dan teknologi. Akar masalahnya, yakni cara berpikir, dan sikap bagaimana memosisikan alam itu sendiri, tidak tergubris. Kalaupun ada yang mulai menyadari hal tersebut, mereka tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun. Semengagumkannya alam, manusia tetap akan lebih mengutamakan hasratnya sendiri. Hasrat manusia sudah menjadi seperti dewa baru, yang dipuja dan dituruti. Hidup manusia dihabiskan untuk memenuhi hasratnya sendiri. Sistem tata aturan seketat apapun, teknologi segala macam secanggih apapun, tidak akan berpengaruh banyak sampai hasrat itu bisa terkendali pada level individu. Yah, akarnya pun akhirnya Kembali ke diri kami, para manusia.
Ku heran kau pergi kemana Demeter, sudah lama kau taka da. Kesuburan pun menjadi simpang siur sekarang, hal yang akhirnya dimanipulasi dengan sains dan teknologi. Seperti hewan yang hanya dikurung dan diperah tanpa disayang dan diajak Kerjasama, alam secara umum pun demikian. Mungkin kau sudah lelah. Kau ingin membiarkan regulasi alam sendiri yang memutuskan. Ku rasa itu cukup adil, karena pada akhirnya kalau alam rusak, kami sendiri yang rugi. Kalau alam hancur, kami sendiri yang menderita. Ku harap banyak perubahan di alam sekarang, dari pemanasan global sampai punahnya beberapa spesies makhluk hidup, bisa terus menyadarkan lebih banyak manusia. Ku hanya takut, manusia tidak bisa berubah, atau belum bisa berubah sampai alam itu sendiri sudah mencapai batasnya. Kau tau Demeter, bahkan salah satu dari kami berimajinasi bahwa salah satu solusinya mungkin adalah berkurangnya populasi. Bukankah manusia itu sendiri yang perusak? Kalau jumlah manusia berkurang, paling tidak sampai setengahnya, bukankah akan meringankan alam? Lucu sih, di imajinasi itu ada alat yang bisa melenyapkan setengah populasi hanya dengan sekali jentikan jari. Betapa manusia sudah habis akal atas bagaimana alam ini perlu dikelola. Kami itu seperti anak kecil, tahu masalahnya dimana, tapi tidak mau meninggalkannya, jadi kami mencari cara-cara lain, alasan-alasan lain, hanya sekadar untuk menghindar dari sumber utamanya. Entah akan seperti apa ujungnya. Ku tak tahu, ku benar-benar tak tahu. Aku agak pesimis, tapi semoga pesimismeku salah.
Salam Demeter, kau termasuk Dewi yang menyenangkan. Kau memberi kebaikan. Apa yang kau representasikan seharusnya adalah apa yang selalu kami ingat. Yep Demeter, kesuburan, keasrian, keseimbangan.
Manusia yang khawatir atas tempat tinggalnya,
Finiarel.
Saat aku menulis ini, rasanya ada hawa déjà vu yang melintas, hingga akhirnya aku menyadari bahwa menulis terkait alam dan lingkungan bukan hal yang baru. Sudah tersebar di beragam tulisan tentang bagaimana hubungan antara manusia dan alam ini cukup rumit. Tak masalah juga, karena tulisan pada dasarnya adalah cara agar ide dan gagasan terus terangkat ke permukaan, dan bukannya mengendap dalam kedalaman ingatan. Terkadang gagasan pun harus dituliskan berulang-ulang, terus menerus untuk menjaganya tetap di permukaan. Begitu banyak ide dan gagasan terkubur hanya karena terlupakan begitu tertuliskan sekali, membuatku sering merasa asing ketika membaca tulisan lama, terpukau atas gagasan yang pernah ditulis sendiri. Meskipun secara umum aku sebenarnya pesimis pada semua keadaan era ini, aku masih mencoba optimis dengan sebisa mungkin membaca arah pergerakan peradaban, dan berusaha melihat hikmah terdalam atas semua yang terjadi, jika ada.
(PHX)