Dear Ares
Perenungan terhadap perang dan akar kekerasan manusia
Butuh waktu lama bagiku untuk memulai menulis ini. Bukan karena apapun, bukan karena bingung atau semacamnya. Hanya saja, telah melintas puluhan bulan sejak aku menulis surat untuk para dewa. Bukana berarti juga aku grogi, karena sudah ratusan rangkai kalimat ku sampaikan untuk mereka. Mungkin ini hanya seperti kekakuan akibat waktu, sebagaimana kita akan kikuk dalam mengendarai sepeda atau berenang jika terlalu lama jeda tercipta. Rasanya pun sudah terasa berbeda, denga napa yang dulu ku rasakan ketika menulis surat-surat itu. Mungkin setelah ini ku akan berhenti, tapi paling tidak ada beberapa niat yang harus dituntaskan sebelum benar-benar beranjak. Sudahlah.
Dear Ares, yang …. Perkasa (?)
Maafkan aku wahai Ares. Ku bingung mau menyebutmu apa. Bukan maksudku untuk kurang ajar, namun kebingungan memang yang ku rasakan. Meski aku sendiri terasa begitu lancang seperti ini padamu yang dianggap haus darah. Mungkin aku merasa aman karena ini hanya sebuah surat, karena seandainya ku harus beratapan langsung padamu, mungkin lembing atau pedangmu sudah membuat mulutku terkunci tak mampu membuka, apalagi mengeluarkan suara. Semoga saja setelah kau membaca ini kau tidak memburuku membabi buta sebagaimana yang kau selalu lakukan, paling tidak kalau Atena tidak mencegahmu.
Wahai Ares, Kebingunganku ini juga pun akhirnya membuatku bingung. Kenapa kau begitu sukar untuk ku beri julukan? Tentu sebenarnya banyak yang bisa disematkan padamu, namun semua jadi terasa salah. Namamu sudah terlanjur lekat dengan nuansa buruk, sehingga akan sulit memberimu suatu panggilan yang baik. Atau, jangan-jangan kau memang tidak memerlukan panggilan baik? Satu kata yang mentok di pikiranku hanyalah satu itu, perkasa, suatu julukan yang mungkin juga memang kau senangi dan harapkan. Tapi apa yang membanggakan dari hal tersebut? Perkasa mungkin suatu kata yang awalnya netral, karena itu menandakan kapabilitas melakukan suatu aktivitas fisik. Sayangnya, keperkasaan yang tertera dalam namamu itu terakit dengan kemampuan menyakiti orang lain, dan bahkan membunuh, sehingga kata perkasa itu pun jadi terasa kurang pantas untuk dibanggakan. Atau tidak?
Ah ya, aku lupa bahwa kau memang orang yang suka atas pertumpahan darah. Justru memang itu yang membuat namamu sukar tersematkan julukan baik. Orang-orang tidak benar-benar memujamu dan menyukaimu. Siapa pula yang suka dengan perang? Hmm, ada sih, engkau sendiri. Tapi siapa lagi? Sesering-seringnya manusia saling menyakiti satu sama lain, apakah mereka sebenarnya menyukai dan menginginkan itu? Bahkan perang sendiri pun sering diangkat atas nama lawannya, yakni perdamaian. Bak malam yang berjuang demi nama siang, ataupun hujan yang berjuang demi nama cerah. Orang pun saling membunuh dan menyakiti hanya demi kondisi tanpa perlu membunuh dan menyakiti. Bukankah itu aneh? Ini yang membuat sebenarnya bagiku pun eksistensimu juga aneh. Kenapa perlu ada Dewa Perang? Kenapa perlu ada sosok yang mewakili perang itu sendiri? Ketika perang sebenarnya adalah hal yang tidak diinginkan siapapun?
Mungkin. Mungkin saja kau justru adalah simbolisasi absurditas itu. Mungkin kau ada, kau diciptakan, memang hanya untuk pelampiasan kekesalan manusia atas eksistensi perang. Manusia bingung perlu menyalahkan siapa atas konflik yang terjadi di antara mereka, bingung apa atau siapa penyebab manusia bisa saling membunuh satu sama lain, bingung kenapa begitu mudahnya nyawa melayang tanpa bisa ada resolusi yang lebih baik. Tentu manusia tidak menyukai semua itu. Manusia pasti lah ingin damai, ingin hidup tenang dengan tanpa konflik, tanpa gangguan, tanpa pertikaian. Ironisnya, manusia tidak bisa lepas dari itu. Dalam skala apapun, selalu mungkin timbul konflik antar manusia, baik hanya sekadar antar individu, kelompok, atau bahkan negara yang melibatkan ribuan hingga jutaan manusia. Bukankah itu membingungkan Ares? Maka bukankah lebih menenangkan bila memang ada sosok yang menginginkan semua itu, yang memaksa dan membuat manusia jadi harus berperang? Dengan itu, bebannya bukan ada pada manusia. Perang ada bukan karena manusia itu buruk, atau jahat, atau semacamnya, tapi ada dewa yang menginginkan itu. Selesai.
Kau mungkin tak terima, namun kemungkinan bahwa kau hanya tempat untuk menyalahkan menjadi bukan hanya sekadar pengandaian tanpa dasar Ares. Personifikasi perang dalam bentuk dewa hampir ada dimana-mana. Dan juga, tidak sedikit perang terjadi justru atas nama keyakinan, atas nama perintah sosok besar di atas manusia yang memang menginginkan perang itu. Manusia menempatkan beragam narasi untuk dasar atas perang-perang mereka, dan kau pun termasuk salah satu dari narasi itu Ares. Tidakkah kau lihat? Kau memiliki kisah-kisah yang buruk, yang tidak sedikitpun bisa membuatmu disenangi. Tidakkah kau ingat bagaimana Atena beberapa kali mempermalukanmu, terutama di Perang Troya ketika kau sendiri akhirnya dilukai oleh Diomedes? Atau ketika Herakles juga akhirnya menjatuhkan harga dirimu dengan telak mengalahkanmu? Tidak ada yang membuatkanmu kuil atau berdoa kepadamu. Akan tetapi, uniknya, kau tetap ditempatkan sebagai dewa yang tinggi, yang mulia di Olimpus bersama Zeus, Hera, dan dewa-dewi mulia lainnya. Kau ditinggikan sekaligus direndahkan. Tidakkah itu ironis Ares? Mungkin seperti itulah manusia menempatkan perang. Manusia meninggikan perang sebagai media unjuk kekuasaan, keperkasaan, kegemilangan, kejayaan, dan kepahlawanan, namun di sisi lain manusia juga begitu merendahkannya dan menganggapnya hal yang buruk, hina, dan sepatutnya dihindari.
Dilihat kembali, sepanjang sejarah manusia, bahkan sampai sekarang, sebenci-benci manusia dengan yang namanya perang, sebanyak apapun pernyataan ataupun jargon keluar untuk menolak perang, konflik itu selalu ada mewarnai setiap langkah waktu yang dilalui peradaban. Alasan dan sebabnya pun berbagai macam, namun semua tetap bernuansa sama, selalu penuh permusuhan dan persaingan. Perang itu sendiri pun tidak harus dideklarasikan, karena selama manusia masih bisa saling menyakiti satu sama lain, di situ ada perang, meski hanya perang sesama keluarga, sesama teman, sesama bangsa, sesama manusia. Bahkan, aku jadi ragu, berapa banyak manusia yang tidak pernah menyakiti manusia lainnya? Jika memang manusia menginginkan kedamaian, kenapa justru yang sebaliknya yang terjadi? Apakah memang benar bahwa perang dan damai hanya seperti malam dan siang? Kau tak bisa mencapai damai tanpa perang, dan setiap perang akan menimbulkan perang lagi.
Dengan seperti itu, aku jadi balik bingung dengan manusia sendiri Ares. Apa jangan-jangan manusia sebenarnya menginginkan perang? Menginginkan konflik? Kenapa sampai perlu menempatkan narasi dan dewa atas apa yang manusia sendiri sering lakukan? Apakah itu memang simbolisasi kebingungan, atau hanya pelepasan tanggung jawab? Ya, kalau itu memang keinginan dewa-dewa, atau kekuatan gaib lainnya, tak masalah bukan menyakiti satu sama lain? Manusia seakan malu, enggan, menolak untuk mengakui bahwa mereka menginginkan perang, bahwa mereka memang ingin menyakiti manusia lain, bahwa mereka memang punya hasrat untuk membunuh, sehingga akhirnya mereka jadikan beragam narasi sebagai justifikasi. Ketika terjadi perang Troya yang begitu lama, tragis, dan sangat memakan korban, tidakkah akhirnya mereka mengatakan “ini yang diinginkan para dewa!”, meski di balik itu, ada harga diri dan seorang perempuan yang membuat mereka rela berperang mengerahkan seluruh sumber daya selama 10 tahun. Ya, ku tahu kau sendiri terlibat di perang legendaris itu, bahkan kau menikmatinya. Semakin lama perang itu berlangsung, semakin senang engkau. Semakin banyak nyawa yang bertumpahan semakin bangga dirimu. Tapi Ares, bukankah mereka juga menginginkannya?
Kau memang senang membakar api perang Ares, namun sebelum api itu sendiri menyala, bukankah manusia sendiri yang memantiknya? Bukankah perselisihan itu bukan urusanmu? Kau tidak bisa meniupkan perselisihan, kau bahkan terkadang begitu kesal apabila tidak ada perselisihan terjadi, membuatmu selalu memaksa Eris untuk terus bergerak. Iya, Dewi Eris kawanmu itu, sang Dewi yang dikenal peniup perselisihan. Sayangnya, aku meragukan itu selalu terjadi Ares. Bahkan tanpa didorong Eris, manusia akan tetap selalu bisa berselisih. Membuatku bertanya sendiri esensi dasar dari manusia itu.
Coba Ares, sebagai yang selalu ada di setiap peperangan, kau tentu bisa melihat bahwa manusia perang selalu karena yang diperebutkan. Yang satu ingin mengambil, yang satu ingin mempertahankan. Atau bahkan, kedua pihak sama-sama ingin mengambil. Dan semua ini pun bisa dirunut balik ke skala yang lebih kecil, bahwa konflik antar individu berakar dari keinginan untuk mengambil yang tidak tercapai, yang tertolak. Tentu narasi ini bisa berbentuk banyak, karena untuk hal yang abstrak, kata “mengambil” mungkin tidak tepat, namun lebih pas menuntut atau meminta. Secara umum, semua tergambarkan sebagai tidak bertemunya keinginan-keinginan yang berbeda. Sukarnya, keinginan manusia terlalu banyak, dan tidak ada jaminan bahwa keinginan itu bisa selaras. Perbedaan keinginan selalu, bahkan dipastikan, terjadi. Jika perbedaan itu tidak saling meniadakan mungkin tidak masalah, sayangnya beberapa keinginan mengimplikasikan tertahannya keinginan yang lain. Hal yang diinginkan yang satu bisa jadi tidak diinginkan yang lain, sehingga konflik selalu ada. Dalam lingkup kecil, perbedaan keinginan itu mungkin dapat dengan mudah dikomunikasikan, apalagi bila hanya melibatkan dua individu. Akan tetapi Ares, sayang realita mungkin lebih memihakmu. Dalam lingkup besar, komunikasi sama sekali sukar untuk dieksekusi. Keinginan juga tidak hanya terbatas pada individu, namun dapat terkumpul secara kolektif menjadi keinginan komunal, entah dalam bentuk kelompok, kota, bangsa, atau negara. Dan semua itu pun akan menambah kompleks urusan komunikasi, karena semakin banyak pihak yang harus diselaraskan.
Lihatlah perang Troya Ares, bagaimana semua bermula hanya dari keinginan tak terbendung Paris dan Helen untuk saling mencinta, yang melupakan fakta bahwa Helen sendiri adalah istri sah dari Menealus, sang raja Sparta. Tentu, siapa yang mau istrinya direbut cuma-Cuma oleh orang lain secara tiba-tiba? Sayangnya itu yang terjadi, Helen kabur bersama Paris ke Troya, dimana Paris merupakan pangeran di sana, membuat Agamemnon, kakak Menalus mengerahkan pasukan dari seluruh penjuru Yunani hanya untuk merebut kembali harga diri Menealus dan istrinya. Betapa konyol kalau didengar saat ini, namun hal seperti ini tidak hanya terjadi sekali bukan? Baragam kisah dan sejarah telah bercerita tentang bagaimana harga diri dan Wanita bisa memicu terbuangnya ribuan nyawa. Tindakan selingkuh Helen mungkin hanya terkait dengan Paris seorang, tapi bagaimana posisi Paris membuat Tindakan memalukan Helen dibela oleh seluruh bangsa Troya sebagai satu kesatuan. Satu kerajaan Troya mempertahankan Helen di tengah serbuan besar-besaran pasukan Agamemnon, juga karena harga diri. Mungkin ada orang Troya yang tidak suka sama Paris, namun harga diri bangsa tidak terletak di sana. Betapa urusan sederhana hasrat antara lawan jenis bisa menjadi urusan harga diri bangsa, sungguh memang kompleks bila keinginan terintegrasi dengan sistem komunal. Meskipun akhirnya yang menang adalah pihak Yunani dan Troya hangus terbakar, namun terlalu banyak yang sudah dikorbankan untuk itu. Sepuluh tahun dengan kematian yang tidak sedikit, hanya untuk kepuasan atas keinginan yang terpenuhi.
Memang dibalik konflik keinginan yang terjadi di Troya, ada drama para Dewi yang konon melatarbelakangi kan Ares? Temanmu Eris, sang Dewi konflik, kesal karena Zeus tak mengundangnya pada pernikahan Peleus dan Tetis, membuatnya dendam dan akhirnya membuat perselisihan antara Atena, Hera, dan Afrodite. Ya, perselisihan yang membuat Afrodite akhirnya menghadiahi Paris dengan Helen. Tentu saja itu hal mudah bagi Afrodite sang Dewi cinta untuk meniupkan asmara pada siapapun, meskipun Helen telah bersuami. Bukankah menyenangkan drama ini Ares? Darah bertumpahan, pedang terhunus, mayat bergelimpangan, kota terbakar, semua terjustifikasi oleh narasi para Dewa yang bermain pada hati manusia. Betapa manusia sangat ingin hasratnya terlampiaskan tanpa harus disalahkan.
Meskipun kalian para Dewa sudah tidak terlalu ikut campur di kemudian hari, pada akhirnya manusia akan terus mencari justifikasi-justifikasi lainnya atas pemenuhan keinginan mereka. Bahkan, tanpa justifikasi berupa narasi-narasi eksternal pun, manusia tetap akan menjadikan keinginan itu sendiri justifikasi. Keinginan dalam bentuk abstrak semakin lama semakin terbungkus dalam beragam sistem dan pemikiran, menciptakan rangkaian kompleks ideologi. Dan dengan ideologi ini keinginan-keinginan tersalurkan. Masalah harga diri pun tidak pernah menjadi kuno. Beragam sistem pemikiran yang diciptakan manusia hanya untuk mengubah harga diri itu menjadi bentuk lain, sebutlah nasionalisme.
Izinkan aku bercerita tentang era dimana aku hidup Ares, kau mungkin tidak terlalu memperhatikan. Era ini disebut modern, dengan beragam sistem untuk mengatur hidup manusia, yang seharusnya membuat manusia jadi lebih terkendali dan selaras dalam keinginan. Akan tetapi, sistem itu pada dasarnya hanya menggeser otoritas. Dahulu, otoritas, yang berhak mewakili yang lain dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat, berpusat pada bangsawan. Dapat kau lihat sendiri bagaimana urusan personal Paris dapat dengan mudah menjadi urusan negara karena ia memiliki akses pada otoritas. Menealus dan Agamemnon pun demikian, dimana mereka berdua adalah raja yang bisa dengan mudah memprovokasi raja lain untuk angkat senjata pada Troya. Sekarang, otoritas bermacam-macam, semua dengan bentuk berbeda-beda. Sayangnya, berubanya otoritas tidak menjamin tertunduknya keinginan manusia.
Beberapa puluh tahun yang lalu, dengan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, Meletus dua perang dalam kurun waktu 40 tahun yang bukan sekadar melibatkan dua pihak, tapi hampir seluruh dunia. Perang pertama menewaskan 20 juta orang dan perang kedua menewaskan sekitar 80 juta orang. Tidakkah kau bisa bayangkan Ares, dalam 40 tahun 100 juta orang mati karena saling membunuh? Ah, kau mungkin akan berpesta seandainya kau benar-benar menyaksikan itu. Penyebab perangnya mungkin tidak sekonyol Perang Troya, namun tetap berakar sama. Perang pertama lahir dari nasionalisme yang lagi kental pada masa itu. Nasionalisme Ares, nasionalisme! Itu hanya nama lain dari harga diri bangsa. Tentu detailnya sebenarnya kompleks Ares, karena perang dunia pertama itu membesar karena masalah pertemanan atau aliansi antar negara. Ya kau bisa bayangkan seperti bagaimana urusan Helen, yang sebenarnya hanya istri dari satu raja, bisa menggerakkan seluruh kerajaan-kerajaan lainnya untuk berperang. Memang terkadang harus hati-hati dengan kawan, karena dalam skala besar, pertemanan bisa memicu konflik yang lebih besar. Perang kedua, kau mungkin akan tertawa Ares, meletus karena seseorang merasa bangsanya lebih baik dari yang lain! Seseorang ini sayangnya adalah orang yang memiliki otoritas, sehingga mudah baginya menggerakkan pasukan hanya untuk mengekspansi kejayaan bangsanya. Dua perang ini terjadi sekitar dari 100 tahun yang lalu Ares, jauh lebih dini ketimbang perang Troya yang terjadi 2000an tahun lalu.
Aku terpaku sejenak. Lintasan pikiran terkait perang dunia II menerbangkan memoriku kemana-mana, termasuk ke satu pidato itu. Ya, sebuah pidato sederhana yang seketika membuat bibirku kaku, hati terguncang, dan berasa siap tempur saat aku pertama mendengarnya beberapa tahun lalu. Itu bukan pidato dari seorang negarawan besar, seorang pahlawan, atau prajurit pemberani. Bukan. Itu hanya sebuah pidato dari sebuah film bisu. Ya, pidato seorang Charlie Chaplin, yang selalu tampil depan layer dalam keadaan bisu, namun sekali bicara langsung membuat siapapun yang mendengar mungkin akan segera meninggalkan apapun yang dilakukannya meskipun itu berarti memcahkan satu dua piring. Pidato itu berbicara tentang perang, ditayangkan pada 1940 pada awal mula perang dunia II sebagai sebuah satire tajam atas kediktatoran Hitler. Aku tak bisa menahan diri untuk segera mendengarkannya lagi. Ku tinggalkan Microsoft Word dan ku buka Youtube untuk mencarinya. Ya, ini dia, kritik Chaplin atas perang dunia.
I’m sorry but I don’t want to be an Emperor, that’s not my business.
I don’t want to rule or conquer anyone.
I should like to help everyone if possible, Jew, gentile, black man, white.
We all want to help one another, human beings are like that.
We want to live by each other’s happiness, not by each other’s misery.
We don’t want to hate and despise one another.
In this world there is room for everyone and the good earth is rich and can provide for everyone.
The way of life can be free and beautiful.
But we have lost the way.
Greed has poisoned men’s souls, has barricaded the world with hate;
has goose-stepped us into misery and bloodshed.
We have developed speed but we have shut ourselves in:
machinery that gives abundance has left us in want.
Our knowledge has made us cynical, our cleverness hard and unkind.
We think too much and feel too little:
More than machinery we need humanity;
More than cleverness we need kindness and gentleness.
Without these qualities, life will be violent and all will be lost.
The aeroplane and the radio have brought us closer together.
The very nature of these inventions cries out for the goodness in men, cries out for universal brotherhood for the unity of us all.
Even now my voice is reaching millions throughout the world, millions of despairing men, women and little children, victims of a system that makes men torture and imprison innocent people.
To those who can hear me I say “Do not despair”.
The misery that is now upon us is but the passing of greed, the bitterness of men who fear the way of human progress:
the hate of men will pass and dictators die and the power they took from the people, will return to the people and so long as men die liberty will never perish . . .
Soldiers! don’t give yourselves to brutes, men who despise you, enslave you, who regiment your lives, tell you what to do, what to think or what to feel, who drill you, diet you, treat you like cattle, use you as cannon fodder.
Don’t give yourselves to these unnatural men, machine men, with machine minds and machine hearts.
You are not machines. You are not cattle. You are men.
You have the love of humanity in your hearts.
You don’t hate, only the unloved hate.
The unloved and the unnatural.
Soldiers: don’t fight for slavery, fight for liberty.
In the seventeenth chapter of Saint Luke it is written:”The kingdom of God is within man”
Not one man, nor a group of men, but in all men; in you.
You the people have the power, the power to create machines, the power to create happiness.
You the people have the power to make this life free and beautiful, to make this life a wonderful adventure.
Then in the name of democracy let us use that power. Let us all unite!
Let us fight for a new world, a decent world that will give men a chance to work, that will give youth a future and old age a security.
By the promise of these things, brutes have risen to power, but they lie.
They do not fulfill that promise, they never will.
Dictators free themselves but they enslave the people.
Now let us fight to fulfill that promise.
Let us fight to free the world, to do away with national barriers, to do away with greed, with hate and intolerance.
Let us fight for a world of reason, a world where science and progress will lead to all men’s happiness.
Soldiers! In the name of democracy: Let us all unite!
…
Ah, meski sesungguhnya aku sudah mendengar ini puluhan kali. Mendengarkannya lagi saat ini tetap bisa membuatku merinding, tergerak dengan penuh harapan. Aku tahu mungkin Chaplin hanya akting, ia bukan benar-benar pemimpin bangsa, ataupun politikus yang berkuasa, namun itu tidak mengubah makna dari apa yang ia sampaikan. Akan tetapi, sayang perasaanku tetap campur aduk, karena berbalut sedih dan pesimis, karena ku tahu apa yang diucapkan Chaplin, meskipun penuh semangat dan memberi harapan untuk manusia, mungkin hanyalah utopia. Kita memang punya kekuatan untuk membuat hidup jadi lebih baik, jadi lebih indah, jadi lebih damai, jadi bebas, namun kita juga sering lupa kekuatan itu juga yang membuat kita bisa melakukan sebaliknya. Yang jadi maslah adalah apa yang ada di balik kekuatan itu, keinginan-keinginan, hasrat-hasrat yang memiliki kekuatan itu. Masalah perang dan damai tidak sederhana. Well, paling tidak Chaplin tetap lah memberi semangat baru, bahwa mungkin ada yang bisa dilakukan. Sudahlah. Kualihkan Youtube ke soundtrack Suikoden untuk pengiring suasana, sedang layer kembali kuarahkan ke Microsoft Word.
Wahai Ares, aku pun bingung dengan era ini. Sampai detik ini pun, pertumpahan darah masih terus terjadi, konflik selalu ada, dalam berbagai level. Masih ada yang saling menyerang karena tidak saling mengakui, atau ada yang menuntut kebebasan, atau ada yang cuma sekadar beda pendapat saja. Belum lama bahkan sebuah negara besar menyerang negara kecil lainnya karena rebutan area pertemanan. Tidakkah itu konyol? Ya mungkin. Tapi itu sungguh terjadi, namun tentu saja tidak sesederhana yang ku sebutkan. Urusan komunikasi antar pihak, antar manusia, itu selalu kompleks, namun selalu bisa dilihat secara general dengan cara yang serupa satu sama lain. Ada ribuan perang dengan alasan dan sebab yang berbeda-beda, namun pada akhirnya semua berakar dari motivasi dan kondisi yang serupa. Entah karena penjagaan harga diri, pertemanan, perjuangan atas hak, dan lain sebagainya. Di atas itu semua, akar utamanya tetap pada keinginan yang tidak selaras antar manusia, atau antar kelompok manusia. Merepotkan bukan Ares? Memang hebat kawanmu Eris itu meniupkan perselisihan.
Dari tahun ke tahun, dari sejak engkau masih Berjaya dengan beragam cerita, sampai sekarang dimana aku hidup bersua, perang itu tetap ada, apa yang kau representasikan tak pernah sirna. Bentuknya mungkin beda, bungkusnya mungkin beda, dan modanya juga jelas berbeda, namun nuansanya, modelnya, polanya, tetaplah sama. Sayang memang, semua sistem yang dibangun manusia di peradaban hanya menjadi luaran, hanya alat, manusia yang hidup sekarang sama dengan manusia yang hidup di era dulu. Keinginan dasarnya pun tidak berubah, bahwa kita ingin diakui, kita ingin bermakna, kita ingin kebutuhan-kebutuhan biologis terpenuhi, dan beragam keinginan dasar lainnya.
Urusan keinginan ini memang menyusahkan. Terlebih lagi, bukankah ironis ketika malah sebenarnya manusia menginginkan kedamaian? Jika manusia ingin damai, kenapa keinginan itu bisa kalah dengan keinginan yang memicu perang? Kalau itu bukan hipokrit, aku tak tahu lagi namnya apa. Ku mulai curiga manusia sebenarnya tidak benar-benar menginginkan kedamaian. Ada keinginan lain yang melatarbelakangi keinginan terhadap kedamaian itu. Misal, kalau suasana damai, hasrat dasar juga pada akhirnya akan terpenuhi bukan? Yang dicari manusia pada akhirnya adalah hasrat dasar itu. Ketika ada hasrat dasar yang lebih besar, meskipun merusak kedamaian, maka itu yang akan lebih menggerakkan manusia. Ada berapa banyak coba wahai Dewa, perang yang mengatasnamakan kedamaian itu sendiri? Perang untuk kebebasan, perang untuk kemederkaan, perang untuk memberantas penindasan, perang untuk memperluas wilayah, perang untuk menundukkan pemberontak, apapun itu, semua bisa dibalut lembut nan cantik dengan jargon-jargon perdamaian. Bahkan, malah dalam militer terkenal slogan Si vis pacem para bellum, yakni kalau ingin kedamaian, bersiaplah untuk perang. Seakan damain itu tidak bisa dicapai dengan cara selain perang. Tentu yang mereka maksud dari slogan itu adalah bersiap menguatkan pertahanan agar pihak lain berpikir panjang untuk menyerang, sehingga keadaan jadi lebih damai. Sayang duhai sayang, realita tidaklah seindah itu. Karena perang tetaplah pada akhirnya terkadang tak bisa dihindari, dengan banyak beragam faktor. Justru adu kuat militer, bisa membuat potensi skala kehancurannya jadi lebih besar. Kata damai itu sendiri relatif bukan? Apalagi ketika berbicara damai di hati. Dua tetangga bisa saja berdamai secara fisik, namun bisa saling membenci satu sama lain, maka hatinya tidak ada kata damai. Ah, betapa rumitnya manusia. Terkadang itu membuatku pesimis Ares, mungkin kehadiranmu memang tak bisa dihindari. Jika memang akar perang itu sendiri ada di keinginan manusia, lantas solusinya apa?
Ku tau kau sebenarnya tidak menginginkan solusi. Kau sudah cukup senang dengan fakta bahwa perang itu selalu ada. Kau juga pada akhirnya memutuskan turun dari Olimpus karena kau tau perang adalah aib terbesar manusia, dan kau merasa tak pantas berada di sana. Aku hanya heran dengan manusia Ares. Apakah ku harus bertanya pada Dionisus? Jika akarnya ada pada keinginan manusia, pada hasrat manusia, lantas apa sebenanrya hasrat itu? Darimana asalnya? Kenapa manusia harus punya hasrat tertentu? Ah, mungkin ku harus menulis surat juga untuk Dionisus. Ku tahu kau tak terlalu akrab dengannya, tapi bukankah dia dewa yang selalu paham hasrat dasar manusia?
Dari sini, aku jadi sedikit terpikirkan sesuatu Ares. Jika asal mula perang adalah dari hasrat, bukankah lebih baik kalau manusia menghilangkan hasratnya? Entah apakah itu memungkinkan atau tidak. Kalaupun itu mustahil, paling tidak manusia bisa belajar untuk mengendalikan hasratnya, bukan dengan sistem atau apapun yang sifatnya alat, tapi benar-benar mengendalikan itu di dalam. Manusia bisa saja sebenarnya mengandalkan otaknya, akalnya, rasionalitasnya sebagai tali kekang atas hasrat dirinya. Benar kan Ares? Sebagaimana yang paling kau takuti adalah Atena, yang mana beliau adalah symbol kebijaksanaan dan peradaban. Atena dua kali mempermalukanmu, dan kau tau kau pun tidak bisa mengalahkan Atena. Kebijaksanaan memang harus juga punya kekuatan, sebagaimana Atena pun tidak pernah lepas dari helm perangnya. Bahkan, saudarimu itu terlahir dari kepala Zeus langsung dengan baju zirah lengkap bukan? Mungkin ia yang seharusnya jadi Dewi Perang. Atena jadi semacam komplemen dari engkau Ares, sebagai seorang yang siap bertarung tapi hanya untuk membela yang benar secara bijak, sedang kau selalu ingin bertarung membabi buta selama kerusuhan bisa berlangsung lebih lama.
Kau tak perlu kesal aku mengatakan seperti ini Ares. Kau tahu aku benar. Kau sendiri seringkali menghindar dari Atena bukan? Sayangnya Ares, kebijaksanaan rasional juga bukan hal yang bisa dicapai secara komunal dengan mudah. Pada akhirnya, manusia hanya bisa membangun sistem yang berlandaskan rasionalitas, tapi itu tidak bisa mengontrol sampai ke level individu. Padahal, adalah hal yang sulit untuk memastikan tiap individu bisa menggunakan akalnya memang untuk mengendalikan hasrat. Akal itu sendiri pedang bermata dua, dimana ia juga bisa menjadi alat untuk justifikasi dan rasionalisasi. Semua otoritas yang terlibat perang juga menggunakan akal rasionalnya, semua Tindakan perang juga memiliki alasan dan rasionalisasi. Arahnya saja yang berbeda. Ya, mungkin kalau kembali ke esensinya, akal rasional juga hanyalah alat, yang bergantung pada arah pemakaiannya. Itulah mengapa bahkan di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan rasionalitas, era modern ini, perang pun masih dapat terjadi kapanpun, dengan pola yang juga tidak berubah dibandingkan era-era sebelumnya. Mungkin rasionalitas bisa mengendalikan pengeluaran dan ekspresi dari hasrat itu sendiri, membuat amarah dan emosi lebih terjaga, namun tidak sepenuhunya menundukkan akar hasratnya. Urusan hasrat adalah masalah internal individu, yang berada pada abstraksi berbeda.
Seseorang jika dari awal hasratnya ingin membunuh, diberi kondisi atau sistem sehingga ia tidak bisa membunuh pun, hasrat itu bisa termanifestasi menjadi hal lain jika tidak ditundukkan. Mungkin. Mungkin saja, jika perlu ditelusuri lebih dalam, akar dari semua perang adalah perang melawan hasrat itu, untuk mengendalikannya, untuk menundukkannya, atau bahkan kalau bisa, untuk mematikannya. Perang sampai terjadi, konflik sampai terjadi di luar manusia, antar manusia, karena manusia sudah kalah pada konflik atau perang yang terjadi di dalam dirinya. Bukan begitu Ares? Ah, kau mungkin tak mau tahu. Aku bahkan ragu kau benar-benar membaca keseluruhan isi surat ini karena isinya hanya untuk mempertanyakanmu. Biarkan aku paling tidak menuliskan ulang sedikit potongan puisi terkait ini.
Ketika dari pertarungan luar aku berbalik
Perang di dalam jiwa kita adalah apa yang telah aku temukan:
‘Jihad kecil yang kita miliki baru saja kita tinggalkan’
Untuk jihad dengan jenis lain yang jauh lebih besar;
Kekuatan dari Allah adalah apa yang aku rindukan untuk menang
Yang dapat mencerabut Gunung Qaf hanya dengan jarum,
Jangan melebih-lebihkan singa yang dapat membunuh!
Orang yang dapat mengalahkan dirinya tetaplah lebih kuat. (Rumi)
Keperkasaan sesungguhnya mungkin bukan ksatria yang telah mengalahkan ribuan musuh, atau prajurit yang telah gagah berani menembus ratusan benteng, namun setiap manusia yang telah mengalahkan dirinya sendiri. Kau mungkin perlu ingat ini juga Ares, ketimbang kau tanpa akhir berusaha menunjukkan keperkasaan hanya dengan terus menimbulkan kerusuhan.
Ah sudahlah, mungkin begitu saja dulu dariku Ares. Ku tidak bermaksud sok akrab denganmu, atau berusaha untuk berteman denganmu. Toh, kecil kemungkinan kau baca semua ini. Malah ku bayangkan kau sudah merobek surat ini sejak paragraph pertama. Entahlah. Kalaupun ini sampai padamu, semoga kau bisa memberiku jawaban yang lebih jelas atas semua kebingunganku tadi.
Jangan khawatir oh Dewa, kami manusia belum akan bisa lepas dari perang dalam waktu dekat, atau mungkin dalam waktu lama, atau malah mungkin selamanya. Perang seperti cinta, ia melekat pada manusia, tak bisa dilepaskan atau dihapuskan, terkadang membanggakan, terkadang menghinakan. Sebagaimana kau pun justru punya kisah asmara dengan Afrodite, sang Dewi cinta. Ia melihatmu sebagai yang perkasa, dan kau melihatnya sebagai yang jelita. Sayang, justru kami manusia terkadang mengira, bahwa untuk meniadakan perang, kita harus menumbuhkan cinta, padahal di sisi lain, bisa karena cinta kami berperang. Dua-duanya hanyalah hasrat manusia yang tersembunyi. Mungkin bisa kusebut aib. Ya, aib manusia, yang harus lebih ditutupi, dan diterima apa adanya, sebagaimana hubunganmu dengan Afrodite pun adalah aib, karena Afrodite telah bersuami Hefestus. Betapa malunya dirimu ketika ia melabrakmu beresamanya. Terlepas dari semua itu, aku mungkin akan lebih suka menganggapmu dan Afrodite adalah pengingat, bahwa dalam diri kami semua manusia, ada yang harus dikendalikan, bahwa perang dan cinta sesungguhnya, ada di dalam jiwa.
Si Vis Pacem Para Belum
Manusia yang ingin membawa perang pada dirinya sendiri,
Finiarel.
Fyuh. Ku agak sedikit tak peduli kali ini. Lagipula setelah begitu lama waktu melintas tanpa aku menulis, rasanya kemampuanku Menyusun kata-kata semakin kaku, keras dan akhirnya kosong. Ares pun bukan tokoh favoritku karena ceritanya penuh hal-hal memalukan dan menghinakan. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya. Maka biarlah ini hanya tumpahan pikiran ketimbang tuangan gagasan. Sebelum menutup Microsoft Word, muncul hasrat dadakan untuk mendengar salah satu lagu seorang kawan yang agak anarkistik terkait ini.
Parade bintang menari selimuti ruas angkasa.
Menggoda sisi nurani berteriak:
“Berlarilah…Berperanglah…“
Dunia perlu warna lain melukisnya.
Pawai awan memayungi Renda Tapak berguguran.
Tanah syukuri hati mengeja:
“Mencintailah…Memberontaklah…“
Hidup menjadi kuas di kanvas momen yang tiba.
Sepanjang siang penuh perang. Selarut malam syarat cinta.
Amarah menjelma dalam batu setiap genggaman.
Ajari memintal rindu, di balik kelopak matamu.
Menyapa rayuan bayangan masa depan.
Festival angin menafkahi gemulai rumput menari.
Memapah kemala anggun bercerita:
“Bertarunglah…Berkehendaklah…“
Diri adalah musuh yang sesungguhnya.
Karnaval embun membasahi ilalang lelap kagumi.
Malam sedih kala jangkrik menagih:
“Satu semesta…Satu Keluarga”
Ekstase intim kreasi dan destruksi.
Hari penuh pertempuran. Pagi berisi kebencian.
Tulus negasikan kegamangan yang tragis.
Baca komedi ilahi gelak setan bersemedi.
Menyanggah bosan ratapan yang tlah dilalui.
Berlarilah.
Berperanglah.
Mencintailah
Bertarunglah.
Berkehendaklah.
Memberontaklah…
…
Kenapa anarkistik? Well, menjelaskan apa esensi sesungguhnya anarkisme akan panjang. Namun, yang jelas lagu itu merepresentasikan bahwa perang dan cinta adalah hal tak terpisahkan dalam keseharian, yang akan selalu ada seperti halnya kita mengalami siang dan malam setiap harinya. Justru kita perlu merengkuh dan memaksimalkan itu, menjalaninya dalam afirmasi sepenuhnya, menjadikannya kehendak, dan memberontak atas apa pun yang menghalanginya. Kita tidak perlu sedih atau mengeluh atas hal itu. Kita harus lawan diri yang justru selalu berusaha untuk menolak alur alamiah hidup ini. Hidup, itu seperti perang di siang hari, dan mencinta di malam hari, hanya sebuah siklus tragis yang tak bisa berhenti, dan tak akan berhenti. Ya, kuakui kesimpulan ini nihilistik, tapi aku tetap suka lagu ini, paling tidak memberi energi untuk menghadapi absurditas, meski tanpa resolusi yang jelas. Selebihnya, jawaban sebenarnya ada dalam diri sendiri, tentu bukan dengan menjadikan diri untuk mengafirmasi ketragisan perang dan cinta, tapi untuk melawan akarnya, yakni hasrat itu sendiri.
(PHX)