Dear Dionysus

Perenungan terhadap hasrat, pesta, dan jiwa manusia

- 25 mins

Terkadang segala sesuatu memang butuh jeda, seperti halnya juga dalam menulis, dimana dari satu tulisan ke tulisan berikutnya membutuhkan ruang untuk pikiran dan tangan beristirahat, minimal sekadar agar mengendapkan kata-kata di kepala agar tidak riuh karena baru ditumpahkan dalam rangkai kalimat karya. Mungkin itu tidak berlaku bagiku, paling tidak untuk saat ini, karena aku pun sebenarnya telah cukup sering melakukan hal serupa bila memang lagi dalam ekstasi menulis. Merepotkan memang menjadi penulis berbasis hasrat: jika lagi ingin, maka paragraph berhalaman-halaman, ide berentetan dan berjam-jam waktu penulisan akan diterjang begitu saja, menyingkirkan hal lain yang dianggap bisa ditunda, namun sebaliknya, jika lagi tidak ingin, maka meskipun waktu sudah diluangkan ataupun kerangka tulisan sudah tersiapkan, tangan seperti mengalami sembelit kata-kata. Tentu itu bisa dipaksa, namun butuh energi ekstra. Ya, merepotkan, termasuk seperti sekarang ini, ketika aku baru saja menyelesaikan surat untuk Ares, entah bagaimna, apa yang ku bicarakan dengannya bisa membawaku untuk ingin segera menuliskan surat lagi. Iya sih, terkait. Tapi ini pun mengesalkan, hasratku untuk menulis seperti tidak menentu, dan terkadang pun tidak rasional, membuatku jadi benar-benar ingin bercerita terkait ini. Mungkin ada baiknya aku mulai saja.


Dear Dionysus, yang selalu riang dan gembira.

Kau masih berpesta wahai Dewa? Ku harap engkau membaca ini di pagi hari, agar pikiranmu lebih segar ketimbang membacanya selagi minum anggur. Ah, tapi bukankah kau berpesta setiap saat, maka waktu apapun kau sepertinya selalu bersama anggur. Ohya, ku lupa kau tidak bisa mabuk dengan itu. Lagipula kau Dewa Anggur, tentu saja daya tahanmu terhadap anggur tidak akan seperti manusia lainnya. Jujur, ku sendiri tidak pernah meminum anggur. Makan buah anggur sih pernah, tapi tidak untuk anggur yang bisa jadi minuman berwarna merah. Aku hanya pernah melihat kawanku melakukannya, meskipun aku sedikit ragu apakah itu benar-benar anggur merah atau hanya sebuah merek dagang. Oh, jangan memintaku untuk mencobanya wahai Dionysus, aku tidak perlu mabuk dan tidak butuh mabuk. Lagipula, banyak hal yang rasanya serupa dengan benda itu. Memang meminum itu tidak menjamin mabuk sepenuhnya, bahkan katanya bisa membawa ketenangan, tapi ayolah, ku tidak butuh minuman untuk bisa tenang. Sudahlah. Simpan saja anggur itu untukmu dan kawan-kawanmu, tapi tak perlu kau tawarnkan padaku.

Apa aku sok dekat denganmu wahai Dewa? Kau soalnya sedikit berbeda. Kau merakyat. Kau selalu bersama manusia-manusia biasa untuk bercanda tawa, bersuka ria, dan menari bersama. Ceritamu pun tidak berisi ketegangan seperti dewa dewi lainnya. Dan hey, ku bahkan ingin memanggilmu cukup dengan Dio. Bolehkah? Well, bukan maksudku untuk kurang ajar, tapi bukankah kau senang bersama-sama dengan manusia? Baiklah Dewa Dio. Kau memang berbeda. Ku tak terlalu mengenalmu tapi ku sudah merasa kau cukup nyaman untuk diajak bicara. Apakah itu efek Anggur? Atau memang karena itu lah kau disebut juga Dewa keriangan dan kegembiraan? Either way, izinkan aku untuk cuap-cuap beberapa hal.

Wahai Dewa Dio, kau ini seperti sisi yang berlawanan dari Ares dalam banyak aspek. Ketika tidak ada yang memuja dan menyukai Ares, kau disukai dan dicintai dimana-mana. Popularitasmu bahkan mungkin melebihi dewa-dewi lainnya. Sementara Dewi Atena banyak dipuja di kota Atena, Apolo di Delfi, Poseidon di Korintus, kau dipuja di setiap tempat. Bahkan ketenaranmu melampaui Yunani sendiri bukan Dio? Ku dengar kau telah berkelana ke begitu banyak tempat bahkan sampai ke daerah-daerah yang jauh. Kau pergi ke Mesir, ke Arabia, ke Sumeria, bahkan sampai ke India. Dan di semua tempat itu kau perkenalkan masyarakat di sana dengan anggur, dan dengan anggur itu kau kenalkan keriangan dan kegembiraan. Ah luar biasa sekali memang senjatamu Bernama anggur itu, membuatmu bisa menembus budaya dan bangsa kemana-mana, mencapai apa yang dewa-dewi lainnya tak mampu capai. Ku bahkan juga dengar kabar kau berkelana melintasi laut sebelah barat dan sampai ke daratan yang tak dikenali, yang kau deskrpisikan sebagai tanah dimana penghuninya memiliki peradaban yang sagat berbeda, dengan hukum seni, dan karya yang tak bisa kita impikan. Tempat apakah itu Dionysus? Aku sempat menduga itu adalah benua yang kami sebut Amerika sekarang, tapi pada masa itu entah deskripsinya tidak pas. Entahlah. Anyway, si Tua Silenus salah satu pengikutmu cerita bahwa itu satu-satunya tempat yang tak kau tinggalkan anggur. Aneh juga.

Aku jadi penasaran wahai sang Dewa Anggur, ada apa dengan anggur? Kenapa ia begitu terkait erat dengan keriangan? Apakah minum anggur benar-benar membuat riang? Jika memang demikian adanya, anggur berarti bisa jadi solusi semua masalah manusia dong ya. Selama manusia riang gembira, tentu tidak akan ada konflik. Sepertinya menyenangkan jika kesenangan hati bisa semudah itu diperoleh. Apapun masalahnya, cukup minum anggur saja kan. Tidak perlu mengeluh, tidak perlu marah, tidak perlu kesal, tidak perlu menyesal, tidak perlu khawatir, tidak perlu resah, gudah, dan gelisah, ataupun semua hal yang menyesakkan hati. Solusinya anggur saja! Hah, Ares akan kesal bila demikian. Dengan anggur, tak akan ada yang mau perang, karena untuk apa perang bila kau bisa riang gembira dengan anggur? Apakah itu yang kau tawarkan wahai Dewa Anggur? Sayangnya dewa, ku tak melihat masalah manusia selesai dengan itu. Dari dulu sampai sekarang, manusia terus minum anggur atau apapun yang serupa dengannya, namun konflik tetap ada, kesedihan dan depresi tetap hadir dimana-mana.

Saat ini mungkin yang benar-benar meminum murni dari cairan sari anggur merah mungkin jarang, tapi teknologi yang berkembang membuat manusia bisa membuat yang serupa dengan itu dari banyak bahan dan metode. Namanya ada banyak saat ini. Tentu saja aku tak mengingatnya, karena konsumsi aja tidak. Yang ku tahu, ada yang namanya bir, wiski, atau vodka. Mirip-mirip sih, yang meminumnya adalah orang-orang yang bermuram durja, atau punya masalah di hidupnya. Apa efeknya memang benar-benar bisa membuat riang gembira? Ya, ku akui ada juga yang meminumnya karena gaya hidup dan kebiasaan saja dengan porsi secukupnya. Kau pun menawarkan anggur juga dulu pada siapapun sebagai sebuah gaya hidup kan. Tapi tetap saja, apa yang diharapkan manusia dari meminum itu? Yang ada malah manusia kehilangan kesadarannya. Apakah itu definisi dari riang?

Konon juga katanya anggur bisa membuat badan lebih rileks. Apa benar? Berarti keriangan itu bersumber dari badan yang rileks? Ah mungkin aku terlalu polos. Tak masalah juga, tak ada yang perlu disesali dari tidak pernah meminum anggur. Aku punya kecurigaan tersendiri pada minuman itu. Kenapa sesuatu yang juga menurunkan kesadaran dan membuat rileks bisa menjadi sumber keriangan? Ah mungkin mausia dulu hanya mencoba-coba dan mendapatkan efeknya, maka mereka begitu menyukai anggur yang kau tawarkan Dio, terlepas dari apapun sebenanrya bend aitu. Untungnya aku berada di era dimana pengetahuan sudah cukup berkembang, dan sepertinya yang membuat anggur itu menyenangkan adalah alkoholnya. Kau sebagai dewa yang mengembangkan dan menyebarkannya tentu tahu hal ini. Alkohol mempengaruhi syaraf, yang membuat kita berpikir lebih sederhana, fisik yang lebih rileks, dan kebanjiran Dopamin. Ya, tentu, dopamin, hormone yang membuatmu senang, sehingga jelas Anggur membuat manusia yang meminumnya senang. Tapi. Bukankah itu kepalsuan wahai Dewa? Manusia merasa senang bukan karena jiwanya merasa senang, tapi hanya badannya yang “merasa” senang. Anggur tidak mempengaruhi jiwa manusia, tapi bermain dengan tubuh yang jadi wadahnya. Well, mungkin terasa tidak ada yang salah, namun bukankah itu jadi membuat masalah sesungguhnya dalam jiwa jadi tersembunyi dan tidak ditangani?

Lagipula, Dio, sepertinya anggur Cuma representasi kan? Anggur, atau alcohol, secara umum membuat manusia menyederhanakan hasratnya. Pikiran yang lebih sederhana membuat pengambilan keputusan yang sederhana, kurang pertimbangan, dan cenderung hanya berupa reaksi-reaksi langsung. Akal sebagai pengontrol hasrat dimatikan sehingga apapun cukup secara langsung berawal dari hasrat dasar saja. Orang yang berada dalam pengaruh alcohol akan merasa bisa melakukan apapun dan mengatakan apapun seenaknya. Tidak perlu ada kontrol, tidak perlu ada kendali. Hasrat keluar dengan lebih bebas. Efek lain dari alkohol, yakni relaksasi fisik, membuat stress berkurang. Stres, sebagaimana makna katanya sendiri, adalah tekanan, sehingga cenderung membuat otot-otot berkontraksi sehingga semua serba tidak tenang. Fisik yang relaks membuat badan jadi lebih tenang, jadi lebih lega dan lepas. Di sisi lain, ada dopamin yang jadi keluar lebih banyak, sehingga kita lebih mudah merasa puas atas apapun yang terjadi. Dopamin bisa dikatakan hormon yang membuat kita merasa senang ketika berhasil mendapatkan sesuatu. Ketika dopamine ini banyak, maka kita mudah puas hanya atas impuls-impuls kecil, membuat selalu ada perasaan “sesuatu yang menyenangkan akan terjadi”. Semuanya mengakar di satu hal, manusia akan lebih merasa “senang” bila keinginan atau hasratnya lebih mudah lepas tanpa perlu banyak pertimbangan dan mendapatkan kepuasan langsung dari situ. Bukankah begitu Dio? Iya kan? Iya kan? Kau pasti lah ahlinya. Kau Dewanya!

Dengan begitu, anggur tidaklah mutlak, tidaklah tunggal. Semua yang bisa membuat manusia lebih bebas berkehendak dan mudah puas atas apa yang ia kehendaki, adalah apa yang membuat manusia “senang”, adalah apa yang menyenangkan. Manusia memiliki begitu banyak hasrat dan keinginan, begitu banyak kehendak dan intensi, sayang semua hasrat berserta kehendak itu tertahan dengan beragam macam tekanan dan hambatan, yang bersumber dari beragam tata aturan, norma, tanggung jawab, kewajiban, dan segala macam sistem sosial lainnya yang menyaring bersih bahwa tidak semua hasrat itu bisa disalurkan. Sistem-sistem itu menjadi alat eksternal pengontrol hasrat, pengendali keinginan, didesain khusus untuk memastikan setiap keinginan selaras dan tidak bergesekan. Kita bisa saja ingin berhubungan dengan sebanyak mungkin lawan jenis, tapi sistem pernikahan menahan itu. Kita bisa saja ingin bermalas-malasan sepanjang hari atau sekadar bermain hal lain yang menyenangkan, tapi sistem ekonomi, yang menuntut diperolehnya kebutuhan dasar hidup hanya bagi mereka yang bekerja, menahan itu. Kita bisa saja ingin semua orang meninggikan kita dengan penghormatan dan ketundukan, namun sistem otoritas menahan itu. Kehidupan antar manusia menuntut adanya pengaturan yang baik agar setiap keinginan manusia terakomodasi secara adil tanpa friksi. Kau tau Dio? Aku sudah membicarkan ini pada Ares, tentang bahwa tidak selarasnya keinginan manusia lah yang menjadi akar utama perang, namun sistem eksternal yang dibangun dengan berbagai bentuk, tetap gagal mencegah manusia berkonflik. Sampai sekarang, apapun sistemnya, apapun normanya, apapun ideologinya, perpecahan antar manusia tetaplah suatu kemungkinan yang tidak jarang.

Memang akhirnya manusia bisa menerima semua sistem sosial yang ada dan tertahannya beberapa hasrat, namun pada suatu titik, semua tekanan yang ada begitu berat sehingga rasanya ingin melepas semua hambatan itu agar merasa lebih berkehendak. Tekanan yang tidak terkelola akan menjadi stress, depresi, atau emosi-emosi negatif lainnya. Dalam kondisi seperti ini, jelas lah Dio bahwa manusia akan melihat anggur sebagai hiburan yang bisa menyenangkan hati. Anggur membuat manusia lupa semua penahan-penahan hasrat, dengan pikiran yang lebih seederhana dalam mempertimbangkan. Dalam pengaruh alkohol, manusia akan cendeurng merasa lebih bebas dan berkehendak sehingga melepas semua bentuk pertimbangan yang awalnya menjadi penahan hasratnya sendiri. Itu mengapa seseorang dalam pengaruh anggur cenderung lebih temperamental, bicara asal-asalan, dan lebih seenaknya dalam berbuat. Dopamin yang melimpah akan membuat yang asal-asalan atau seenaknya itu tetap memuaskan. Wajar saja jika sebenarnya alkohol pun mendorong tindakan-tindakan yang tidak pantas. Tidakkah kau liat Dio, bahwa anggur cenderung berujung pada hubungan biologis yang tidak sah? Atau berujung pada perkelahian yang tak perlu? Atau berujung pada banyak hal buruk lainnya yang diakibatkan matinya akal sebagai kontrol hasrat?

Tidakkah kau ingat sendiri tragedy di Atika Dio. Iya, tragedi akibat anggurmu itu. Raja Ikarius di Atika yang begitu ramah kau ajari cara menanam anggur dan membuat minuman dari buahnya. Alangkah sialnya, Ikarius membiarkan minuman yang dibuatnya begitu saja untuk dilihat semua orang. Akibatnya, beberapa penggembala tanpa terkendali minum terlalu banyak, sehingga dalam keadaan mabuk menghambur ke istana dan melakukan perbuatan-perbuatan yang mengerikan, termasuk membunuh Ikarius sendiri dan melempar tubuhnya ke dalam sumur. Ya, itu mungkin kondisi ekstrim, ketika anggur yang diminum terlalu banyak, tapi siapa yang bisa mengontrol? Banyak orang akhirnya larut dan tenggelam dalam alkohol karena sudah candu atau terlalu depresi untuk melepaskannya. Jawabannya mungkin Kembali lagi ke sistem sosial sebagai mekanisme kontrol, tapi yah sayang itu bukan hal yang mudah juga untuk dieksekusi.

Hmm, mungkin aku melupakan hal lain yang juga disematkan padamu, yakni pesta. Kau juga dikenal sebagai Dewa Festival bukan? Di antara semua dewa-dewi, kau yang paling meriah untuk dipuja. Kau berkeliling kemana-mana selalu dengan rombongan parade yang selalu berpesta, bersuka ria, dan bermain musik. Warga Yunani bahkan punya festival khusus untuk menghormatimu. Jelas kau tau Dio, festival Dionisia. Sebuah pesta besar yang menjadi kesempatan untuk menari, minum-minum, dan bersuka ria. Ya, konon seni dan sastra Yunani berkembang pesat dengan festival ini, karena selain minum-minum dan menari, ada juga pementasan drama dan juga permainan musik, yang terkadang bisa berbentuk cerita, himne, atau oda. Bukankah teater pertama yang dibangun dari batu dan pualam di kaki Akropolis Atena adalah teatermu Dio? Membanggakan juga kau, wahai Dewa pesta. Terlepas dari itu, festival atau pesta yang disematkan padamu tetap berhakikat sama dengan anggur. Festival dan pesta hanya media, dan anggur hanya alat, selebihnya semua berdasar pada keriangan dan kegembiraan atas hasrat yang dilepas bebas. Di tengah pesta dan dnegan pengaruh anggur, manusia bisa melepas kepenatan hidup, melupakan masalah yang ada, berpikir secara lebih rileks, dan lebih bisa menikmati momen dengan lebih bebas. Mungkin karena itu juga, seni bisa berkembang karena seni cenderung lebih pelepasan ekspresi dari rasa yang bebas. Seni yang terlalu dipikirkan tidak akan jadi seni. Well, tentu itu akan jadi isu lain, karena meskipun terlihat punya produk, kita tidak bisa menafikan juga ada sisi lain dari keriangan yang kau tawarkan Dio.

Sampai saat ini pun, pesta sering masih terkait dengan anggur, atau semacamnya. Dan biasanya itu juga berkorelasi dengan seks bebas, terbengkalainya hidup, perkelahian, atau semacamnya. Ya mungkin dalam beberapa kasus masih terkontrol, tapi kita tidak bisa menafikan fakta bahwa pesta dan anggur itu sendiri sebagai penyebab langsung. Lagipula sebenanrya itu aneh Dio. Ku juga heran. Kau sama seperti Ares, apa yang kau represeentasikan bertahan melintasi zaman. Dari dulu sampai sekarang, perang dan konflik terus ada, namun bentuknya saja yang berubah. Demikian juga keriangan berbasis hasrat, yang terus ada sampai saat ini dengan bentuk yang berevolusi. Bahkan gagasan terkait itu memiliki Namanya sendiri sekarang, yakni hedonisme, meski hedonism sendiri tidak melulu terkait dengan anggur dan pesta.

Tanpa anggur, sebenarnya kondisi yang lebih “berkehendak” bisa mudah dicapai dengan banyak cara lainnya. Kita bisa saja bahkan memilih untuk cuek dan abai pada sitem-sistem eksternal, berlaku sesuka hati. Memang ada konsekuensi, tapi dalam porsi yang cukup, terkadang konsekuensi itu sendiri pun tidak terlalu memberi efek jera. Bukankah itu yang membuat ketidakadilan, kejahatan, atau segala bentuk konflik lainnya masih ada Dio? Hasrat yang dimiliki manusia terlalu besar dibandingkan penahannya. Lagipula, sistem-sistem sosial punya keterbatasan dalam lingkup kontrolnya, apalagi jika sudah masuk ke wilayah personal dan privat. Belum lagi kalau manusia memiliki otoritas, maka sistem sosial pengontrol sendiri terkadang tidak bisa menjangkaunya, membuat penyaluran hasratnya bisa lebih leluasa bahkan tanpa perlu bantuan “anggur”. Orang mabuk dengan orang yang berkuasa mungkin pada hakikatnya sama, yakni orang-orang yang ingin melepaskan hasrat dan berbuat seenaknya. Bedanya, orang mabuk merasa punya kebebasan lebih karena tidak peduli, tapi orang yang berkuasa merasa tidak peduli karena punya kebebasan lebih. Kuasa di sini pun saat ini tidak selalu terpusatkan pada tahta, namun bisa juga berbasis harta, ataupun bentuk otoritas lainnya. Seseorang yang memiliki harta akan lebih mudah memenuhi apa yang ia inginkan tanpa banyak hambatan. Beda antar mabuk dan kuasa mungkin hanya di kesadaran, tapi secara esensi, manusia pada akhirnya hanya ingin hasratnya tersalurkan tanpa hambatan.

Kalaupun memang itu, tersalurnya “hasrat”, adalah apa yang manusia inginkan, yang manusia kejar, lantas apakah ada ujungnya? Atau itu sebenarnya hanya sesuatu yang berasal dari dorongan-dorongan biologis fisik dan tubuh kita sebagai makhluk hidup, atau dorongan-dorongan psikologis pikiran kita sebagai makhluk yang sadar? Dorongan-dorongan seperti itu pada akhirnya memang hanya suatu mekanisme yang bisa dengan mudah dimanipulasi, baik dengan anggur atau semacamnya. Sayangnya Dio, tidakkah itu menghilangkan makna dari hidup manusia sendiri? Jika manusia hanya dapat direduksihidup manusia sendiri? Jika kepuasan manusia tereduksi menjadi hanya terpuaskannya impuls-impuls biologis dan psikologis, maka untuk apa hidup dengan segala macam kerumitan perjuangan, mimpi, serta cita-cita? Hidup manusia jadi hanya masalah pemenuhan kebutuhan dasar. Well, tapi siapa aku berhak menghakimi. Jangan-jangan manusia memang demikian? Atau tidak? Bukankah dewa-dewa juga mengenal kepahlawanan, kesatriaan, kebijaksanaan, dan semacamnya? Hanya kau sendiri yang mendorong manusia untuk sekadar menikmati segalanya dan cukup berpesta ria dalam keriangan dan kegembiraan, meskipun itu palsu.

Kau tak perlu tersinggung Dio. Ku tau mungkin tujuanmu dalam memperkenalkan keriangan adalah untuk mempermanis kehidupan, seperti halnya minuman yang diberi gula akan menambah semangat kita dalam meminumnya. Anggur mungkin juga kau pandang demikian, sebagai pemanis, sebagai bumbu tambahan saja, bukan sebagai solusi, bukan sebagai jalan keluar, atau sebagai hal yang harus. Ku bahkan juga menduga mungkin kau kaget dengan respon luar biasa manusia dari penjuru negeri yang menyambut anggur itu secara Cuma-Cuma dan penuh antusias. Kau jadi seperti penyelamat mereka, kau jadi pahlawan mereka. Apa yang kau bawakan tidak hanya sekadar pemanis, tapi hidup itu sendiri. Sekali mengecap rasa manis, manusia akan terus ingin yang manis, dan tak ingin tahu bahwa minuman terkadang tidak perlu punya rasa. Hidup pun demikian. Yang manis akan membuat yang biasa menjadi terasa pahit. Pesta dan anggur dipandang sebagai penghilang pahit, bukan pemanis. Entah apakah kau meniatkannya atau tidak, tapi begitulah ciptaan. Apa yang didesain di awal belum tentu akan diimplementasikan dalam penggunaan, dan apa yang dilakukan belum tentu sesuai denga napa yang diniatkan di awal. Fungsi dan kinerja ciptaan terkadang justru ditentukan yang menggunakan, lupa atau abai terhadap niat awal penciptanya sendiri. Lihatlah sekarang Dio dengan segalam macam teknologi canggih, banyak di antara teknologi ini digunakan jauh dari apa yang diniatkan atau didesain inventor dan pengmbangnya. Repot memang. Mungkin juga seperti itu manusia, lupa dan abai untuk apa ia diciptakan, hingga akhirnya lebih terfokus pada rasa dan hasratnya sendiri.

Mungkin akan terlalu jauh kalau berbicara tujuan manusia Dio. Berabad-abad manusia mengerahkan pikirannya untuk yang satu itu, meski mungkin jawabannya bukan ada di pikiran. Kami manusia tiba-tiba dilahirkan di dunia ini tanpa tahu harus mengarah kemana, harus melakukan apa, dan harus memperjuangkan apa. Yang kami tahu kemudian adalah bahwa kami punya tubuh dan punya kesadaran, yang dua-duanya punya mekanismenya sendiri, yang menghasilkan beragam rasa, dorongan, dan impuls. Tubuh kami membuat kami merasa nikmat saat makan, minum, tidur, bersantai, atau berhubungan seks. Kesadaran kami membuat kami merasa nyaman saat kami merasa memiliki, dihargai, diterima, atau diakui. Dua hal ini juga pun saling memengaruhi, dimana kenyamanan di pikiran terkadang bisa mendorong perasaan di tubuh yang nikmat.

Kami tidak punya pilihan selain berpegang pada apa yang kami tahu, yakni beragam rasa itu, dorongan-dorongan itu, meski mungkin ternyata itu hanya mekanisme yang bersifat natural, yang juga bisa dengan mudah diatur dan dimanipulasi sedemikian rupa. Tapi kami tidak peduli, kami juga bingung, jadi tak mengapalah kami manipulasi juga hal itu. Yang kami bisa perjuangkan pada akhirnya hanyalah hasrat-hasrat itu. Kami pun mengembangkan beragam sistem, aturan, dan kesepakatan sosial agar hasrat tiap-tiap dari kami terpenuhi secara optimal bersama-sama, tanpa harus merugikan yang lain.

Tak mengapa kami hidup dalam impuls-impuls palsu, karena hanya itu yang kami bisa tahu. Anggur dan pesta mungkin hanya pemanis, tapi itu bisa memaksimalkan rasa pada satu-satunya aspek yang bisa kami maknai. Kau memberikan itu Dionysus. Kau tunjukkan bahwa keriangan dan kegembiraan hanya masalah impuls tubuh dan pikiran, bahwa itu bisa diaktifkan, bisa dikondisikan. Kau mungkin sebenarnya ingin menunjukkan kepada manusia bahwa sebenarnya itu semua palsu, dengan mendemonstrasikan langsung dengan anggurmu, namun sayang manusia menangkap hal yang berbeda.

Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, setiap harinya manusia mengisi hidupnya untuk memenuhi apa yang tubuh dan pikirannya butuhkan, untuk memuaskan semua hasrat yang dipendam. Mencari makan, mencari tempat untuk tidur, mencari pasangan untuk berhubungan, mencari pengakuan dengan interaksi sosial, mencari penghargaan dengan kontribusi, mencari harga diri dengan prestasi, mencari makna dengan afirmasi. Semuanya adalah kebutuhan untuk memuaskan rasa dan dahaga dari tubuh dan pikiran. Seandainya tidak ada kenikmatan yang muncul dari pemuasan itu, mungkin manusia tidak akan melakukan itu semua. Anggur mungkin hanya bukti ekstrim dari manisnya hasrat, karena tanpa anggur pun, manusia sudah menghabiskan tiap detik dalam hidupnya untuk memuaskan hasratnya sendiri. Manusia pun sering kali tidak menyadari itu. Menyedihkan bukan Dio? Ku tak tau apa yang sebenarnya kau pikirkan atau niatkan, tapi kenyataan yang terjadi demikian. Manusia menjadi budak atas hasratnya sendiri.

Yang menyebalkan dari hasrat Dio, ia tak pernah habis. Semakin manusia mendapatkan, semakin manusia menginginkan. Sekali manusia merasakan anggur yang kau kenalkan, maka manusia akan terus menginginkannya. Dorongan biologis tak mengenal kata henti, hanya sebatas mekanisme jeda yang akan menjadi aktif Kembali. Terlebih lagi dorongan psikologis, harga diri, emosi, pengakuan, kebanggaan, dan semacamnya tak memiliki batas atas. Hidup hanya untuk memuaskan hasrat pun hanya menjadi seperti mengejar bayang-bayang, menghasilkan kekosongan dan nihilitas dari makna hidup itu sendiri. Ya, seperti Sisifus Dio, yang ayahmu Zeus hukum untuk mendorong batu ke atas bukit untuk kemudian batu itu akan menggelinding turun lagi ketika dekat puncak. Sisifus melakukanu terus menerus, berulang-ulang, tanpa henti, tanpa ujung, tanpa makna. Bukankah manusia begitu? Manusia minum hanya untuk haus kembali, memuaskan nafsu dengan wanita hanya untuk bernafsu lagi setelahnya, mengejar tahta sosial hanya untuk mengejar tahta yang lebih tinggi lagi. Herannya, kami manusia, setelah ribuan tahun berpikir dan mengembangkan peradaban, sebenarnya memahami dan sadar akah hal itu, namun justru memilih untuk menerimanya dan mengafirmasi itu sebagai bagian tak terpisahkan hidup manusia. Bahwa manusia memang begitu! Tidakkah itu aneh? Sisifus dianggap seharusnya menikmati setiap proses mendorong batu itu dan melakukannya dengan suka cita meskipun itu tak berujung.

Sebenarnya ku pun mengerti kenapa bisa sampai ada kesimpulan demikian saat ini. Apa yang bisa manusia lakukan Dio? Manusia tidak terjebak kebingungan atas eksitensinya sendiri. Manusia hanya bisa memaksimalkan apa yang manusia rasa mereka punya, yakni akal pikiran mereka. Sayangnya, semakin manusia berpikir, semakin semua tereduksi. Apa daya Dio, pikiran pun punya keterbatasannya sendiri, sehingga pasti banyak yang gagal diungkap. Bahwa mansuia hanya tubuh biologis yang secara kompleks membentuk kesadaran psikologis adalah kesimpulan yang cukup, dan akhirnya menerima bahwa semua hasrat itu nyata dan memang pantas untuk diperjuangkan adalah hal yang wajar.

Aku tak berhak berbicara mengenai yang benar padamu Dio. Lagipula apa hakikat manusia sesungguhnya bukan hal yang sederhana, bukan hal yang sepele. Itu hal yang bahkan bagi sebagian orang masih miseries sampai sekarang. Kau tahu Dio? Bahkan konsep itu dinamai khusus saat ini, Namanya mysterianisme, yakni paham bahwa diri manusia memang misteri. Sebegitu enigmatiknya diri manusia sampai kami pun menerima bahwa itu tidak dapat dimengerti. Kau tak perlu merisaukan itu Dio. Aku pun kelewatan berbicara sejauh ini denganmu. Kau hanya ingin manusia menikmati hidupnya. Kau hanya tawarkan pemanis. Mungkin memang hanya itu tugasmu. Sebenarnya bahkan bisa kukatakan kau berhasil, karena sampai sekarang apa yang kau kenalkan masih dirayakan oleh manusia, tentu dengan beragam moda dan bentuk yang berbeda.

Yang ku tahu, di balik tubuh biologis manusia dan mental psikologisnya, ada aspek lain dari diri manusia yang sejati, yang tidak bisa dimanipulasi, yang terlepas dari impuls-impuls tiada henti, yang tak hanya mencari kenikmatan atau kepuasan semu. Beberapa menamai itu jiwa, namun konsep jiwa sendiri sudah tereduksi saat ini, menjadi hanya bentuk abstrak dari mental psikologis. Tidakkah itu ironis? Jiwa pun bukan suatu hal yang bisa kuceritakan singkat. Mungkin lain waktu. Ku sendiri sesungguhnya pernah menulis surat pada si Psyche. Kau kenal ia bukan? Ya, yang diselamatkan salah satu pengikutmu, Pan. Kisahnya begitu terkenal bagi kami. Banyak renungan tersendiri atas apa yang sebenanrya ia representasikan.

Berbicara mengenai Pan, aku sedikit penasaran atas wujud pengikutmu Dio. Ku dengar mereka, para Satire, semuanya bertanduk dan berkaki kambing. Bahkan, ada juga yang berekor kuda. Ada apa dengan itu? Ku curiga sebenarnya mereka merepresentasikan hasrat hewani dari manusia. Bahkan, entah kau tahu atau tidak, wujud Pan jadi inspirasi untuk wujud iblis yang selalu digambarkan berkepala kambing saat ini. Ah kau hebat sekali Dio, jadi itu yang mau kau tunjukkan pada manusia? Bahwa para Satire, yang bersamamu menawarkan anggur kemana-mana, bernanyi riang, menari-nari, dan berpesta, sebenarnya memberi pesan bahwa semua itu hanyalah hasrat dasar makhluk, hasrat yang juga dimiliki oleh hewan, bahwa seharusnya manusia lebih dari sekadar hasrat-hasrat itu. Ah, tapi siapa juga yang bisa menangkap pesanmu Dio. Manusia akhirnya menerima begitu saja bahwa mereka memang binatang. Iya DIo. Saat ini, di era modern ku hidup saat ini, ilmu pengetahuan justru mengokohkan posisi manusia sebagai hanya binatang yang lebih cerdas, tak lebih dari itu. Konyol bukan? Entah lah, entah.

Mungkin cukup dulu dariku Dio. Tapi mungkin terkait masalah jiwa tadi, ku ingin sedikit menyampaikan sebuah puisi yang sangat bagus dari seorang pujangga Bernama Rumi. Kau mungkin menyukainya Dio seandainya kau bisa bertemu dengannya. Kau sebenarnya juga suka sastra bukan? Jelas, kau yang menginisiasi seni di Yunani. Berikut puisinya Dio, mungkin kau akan suka.

Semesta fenomenal ini sebenarnya hanya wujud yang mungkin namun telah menjadi sangat nyata bagimu, sedangkan semesta sejati makin tersembunyi.

Tak ubahnya debu berhamburan dipermainkan angin, bagaikan fatamorgana yang menghijab.

Yang tampak riuh ini sejatinya hampa lagi dangkal bak bebauan; yang tersembunyi itulah inti dan sumbernya.

Debu hanyalah tanda dari adanya angin: angin itulah yang bernilai dan tinggi derajatnya.

Mata yang tersusun dari tanah liat hanya akan menatap debu; untuk melihat angin diperlukan penglihatan yang berbeda.

Seekor kuda mengenal kuda yang lain karena mereka sejenis: hanya penunggang kuda dapat mengenali sesama penunggang.

Yang dimaksud dengan kuda itu ialah mata syahwatiah, sedangkan sang penunggang adalah
Cahaya Ilahiah; tanpa sang penunggang, kuda itu sendiri tak berguna.

Karena itu latihlah kudamu, agar dia sembuh dari kebiasaan buruknya; jika tidak, dia akan tertolak dari majelis Sang Raja.

Penglihatan si kuda mendapati jalan dengan bersumberkan pandangan Sang Raja; tanpa pandangan Sang Raja maka penglihatan si kuda kehilangan panduan.

Penglihatan si kuda akan selalu menolak panduan, kecuali ke arah makanan dan padang rumput.

Cahaya Ilahiah itulah yang seyogyanya jadi penentu arah bagi penglihatan si kuda, barulah jiwa dapat merindu Rabb.

Tak mungkin kuda tanpa pengendara dapat membaca tanda-tanda jalan. Hanya penunggang bermartabat Raja yang dapat mengenali jalan Sang Raja.

Tempuhlah arah selaras dengan dzawq (rasa jati) yang dikendarai oleh Cahaya, Cahaya itu pengendara terpercaya. Cahaya Ilahiah mengendarai cahaya dzawq, ini salah satu makna dari
Cahaya di atas cahaya

Puisi ini bagiku sendiri sangat mengagumkan Dio, mengilustrasikan dengan cukup jelas bagaimana manusia seharusnya. Hasrat biologis dan psikologis kita ibarat kuda, dan jati diri kita yang sesungguhnya adalah penunggangnya. Ini seperti yang kau tunjukkan bukan Dio, dengan memperlihatkan bahwa kaum Satire pengikutmu juga berwujud setengah kuda atau kambing. Kuda akan selalu hanya mengikuti insting dan nalurinya saja. Makan bila ingin makan, tidur bila ingin tidur. Manusia tentu lebih dari itu, yakni penunggangnya, yang seharusnya mengarahkan si kuda, memanfaatkan si kuda. Penunggang tetap lah memberi makan si kuda, namun penunjuk jalannya, pengendalinya, tetaplah sang penunggang. Manusia yang hidup hanya berdasar hasrat hanya seperti penunggang yang dikendalikan kudanya sendiri. Yah, begitulah. Ku rasa, kau Dio, sangat mengerti hal ini.

Sekian dariku. Semoga kelak kapan-kapan kita bisa berbincang-bincang secara langsung.

Selamat beranggur ria Dewa Pesta!

Manusia yang mempertanyakan hasrat,

Finiarel


That’s it. Ku rasa ku lebih puas sekarang. Jarang-jarang setelah menulis aku tidak terkena rasa siksa atas ide yang menumpuk bertemu lelah setelah 1 tulisan. Lucu memang, justru selagi menulis, ide-ide itu bermunculan untuk tulisan-tulisan berikutnya, membuatmu selalu merasa satu tulisan harus dilanjutkan tulisan lainnya, sedangkan ada titik jenuh atas waktumu sendiri. Seperti itulah hasrat ku rasa. Menulis pun berakar dari sebuah hasrat, karena ada rasa puas yang ku kejar dengan menyelesaikannya, meski ku tahu hasrat itu akan tumbuh lagi meskipun puas telah teraih. Apapun yang manusia lakukan memang, baik itu sekadar hobi, tanggung jawab, atau apapun lainnya, pada akhirnya tidak bisa lepas dari hasrat. Pada akhirnya, hasrat itu lah yang mendorong kita untuk terus hidup. Orang yang hasratnya atas hidup luntur hanya akan menyisakan hasrat untuk mati. Namun hasrat yang berlebih pun bukan tanda hidup yang bermakna, maka aku, selayaknya manusia, harus terus berusaha menjadi penunggang, yang bisa mengarahkan hasrat pada tempatnya, dan mengendalikannya pada batas yang seharusnya.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora