Sedikit Tentang Robin Williams

Mengenal sosok Robin Williams (1951-2014)

- 4 mins

Nama Robin Williams belum tentu pernah terdengar bagi khalayak umum, terutama di Indonesia. Tentu saja, sering kali ketika menonton film, kita belum tentu mengenali setiap sosok mereka sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Kita mungkin hanya mengenal seorang Robert Langdon di film Da Vinci Code atau seorang Neo di trilogi The Matrix, tapi apakah kita mengenal mereka sebagai Tom Hanks atau Keanu Reeves? Mungkin hanya beberapa yang cukup punya rasa ingin tahu atau ketertarikan pada setiap sosok aktor di balik layar, tanpa terkecuali Robin Williams. Untuk sedikit mengenal aktor sekaligus komedian ini, ingat Jumanji? Ya, salah satu film yang cukup lazim telah ditonton oleh mayoritas orang Indonesia. Tokoh utamanya lah, Alan Parrish, yang merupakan seorang Robin Williams berumur 44 tahun.

Jumanji (1995) hanyalah salah satu dari puluhan film yang Robin Williams mainkan, termasuk di dalamnya adalah Popeye (1980), Hook (1991), dan Night at The Museum (2006). Film-film yang ia mainkan rata-rata bergenre drama dan komedi, walau tetep ada satu-dua yang aksi ataupun misteri. Hal ini memang sangat sesuai dengan karakternya yang karismatik dan memang terkenal sangat pintar berimprovisasi. Tidak sedikit juga film yang ia mainkan merupakan rekonstruksi kisah nyata, seperti Awakenings (1990). Apa yang terkenal dari beliau adalah inspirasi dan motivasi yang muncul dari peran-peran yang ia mainkan, yang sangat sulit mengetahui apakah itu semua merupakan kata-kata dari naskah film atau improvisasinya sendiri.

Pria yang bernama lengkap Robin McLaurin Williams ini lahir pada 21 Juli 1951 di Chicago, Amerika Serikat. Talenta berhumornya mulai terlihat sejak ia kecil. Bahkan, ia terpilih dengan predikat “Funniest” oleh teman-teman sekelasnya ketika lulus SMA. Walaupun sempat menempuh studi sains politik di Claremont’s Men College, ia beralih pada studi teater di College of Marin, hingga akhirnya mendapat beasiswa di Julliard School, yang terkenal sebagai sekolah seni terbaik di dunia. John Houseman, salah satu gurunya di Julliard, mengatakan bahwa Williams menyia-nyiakan talentanya di Julliard dan menyarankan agar ia segera mengembangkan potensinya sendiri. Akhirnya ia memulai karirnya sebagai seorang stand-up comedian pada pertengahan 1970 di San Fransisco dan Los Angeles. Karirnya menanjak ketika ia ditawari bermain peran sebagai Mork dalam sebuah serial sitcom (situational comedy) berjudul Mork and Mindy pada 1978 hingga 1982.

Popeye (1980) adalah film besar pertamanya yang ia mainkan, yang kemudian diikuti berbagai film lainnya seperti The World According To Garp (1982) dan The Survivors (1983) hingga total ia telah bermain dalam 103 judul dengan beragai peran, mulai pengisi suara hingga pemeran utama. Dari semua itu, trademark yang ia miliki memang kemampuan uniknya dalam meniru berbagai suara dan berimprovisasi. Kemampuannya meniru suara diperlihatkan pada salah satu adegan Mrs. Doubtfire (1993) yang mana ia sebagai Daniel Hillard menunjukkan keahliannya ketika mencoba mencari pekerjaan. Selain itu memang berkali-kali pada beberapa film yang berbeda ia bisa mengeluarkan aksen dan suara yang benar-benar berbeda. Mengenai kemampuan improvisasi sendiri terbukti kuat pada Good Morning Vietnam (1987) yang mana adegan penyiaran radio dimainkan Williams sebagai Adrian Corouner tanpa naskah.

Di balik profesi awalnya yang merupakan komedian, aku sendiri mengenal Williams sebagai seseorang yang sangat berkarisma dan berwibawa. Hampir semua film Williams yang aku tonton sangat menginspirasi, terutama Dead Poets Society (1989) dan Patch Adams (1998). Entah kenapa begitu banyak pembelajaran hidup yang ku dapat dalam setiap perannya yang berbeda di film yang berbeda, walau entah semua itu hanya tulisan di naskah atau pikirannya sendiri yang ia tambahkan dalam perannya. Banyak pembelajaran hidup yang bisa dipetik dari tiap film yang ia mainkan, mungkin memang karena kebanyakan film yang ia mainkan sarat akan makna.

Robin Williams memang bukan presiden atau penemu, bukan juga direktur perusahaan atau pemimpin gerakan, namun hanya dengan hal sederhana yang ia lakukan sebagai aktor, ia telah menyebarkan banyak kebaikan dari tiap pesan yang ia sampaikan, disengaja atau tidak. Talentanya telah membuat berbagai sutradara dan produsen film terkagum dengan bagaimana ia mengimprovisasi tiap perannya. Dalam setiap komedinya pun, yang aku tidak pernah paham letak kelucuannya, Williams terkenal selalu bisa membuat terobosan yang bisa membuat orang terheran-heran. Walaupun ia hanya memenangkan piala oskar satu kali, seorang aktor seperti Williams punya karakteristik yang unik dan jarang ditemukan. Ia memang tidak sekeren Leonardo DiCaprio, Morgan Freeman, atau Johnny Depp, tapi ciri khasnya dalam bermain peran tidak dapat digantikan. Apalagi memang ia telah memberi banyak pembelajaran yang bermanfaat melalui tiap-tiap filmnya. Oleh karena itu, kematiannya pada 11 Agustus 2014 cukup membuat gempar, apalagi disebabkan oleh bunuh diri.

Sangat disayangkan memang, tapi takdir tidak pernah bisa ditebak. Apapun penyebab kematiannya, apa yang bisa kita lakukan adalah memberikan penghargaan terbaik dan rentetan doa agar semua yang telah ia berikan dalam hidup bukanlah sebuah kesia-siaan namun merupakan sebuah amal jariyah yang akan selalu terus mengalirkan kebaikan.

O Captain, my Captain!

May God be with you, Williams.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora