Kesehatan Yang Membebaskan

Review Film Patch Adams (1998)

- 5 mins

cover film Patch Adams

Judul : Patch Adams

Sutradara : Tom Shadyac

Tanggal Rilis : 25 Desember 1998

Durasi : 115 menit

Genre : Biografi, Komedi, Drama

Pemeran : Robin Williams, Daniel London, Monica Potter

A doctor’s mission should be not just to prevent death… but also to improve the quality of life. That’s why you treat a disease, you win, you lose. You treat a person, I guarantee you, you win, no matter what the outcome.” – Hunter ‘Patch’ Adams –

Pernah mendengar Gesundheit! Institut? Jika belum pernah, sebaiknya anda segera mencari tahu. Gesundheit adalah sebuah institusi atau mungkin bisa disebut proyek, yang didirikan oleh seorang dokter kontroversial bernama Hunter “Patch” Adams pada 1971 di West Virginia. Apa yang spesial dari Gesundheit? Tentu saja idealisme yang dibawanya. Institusi ini berdedikasi untuk membangun pelayanan kesehatn yang lebih terfokus pada koneksi dan hubungan perasaan dengan pasien. Apa yang terjadi dibalik pendirian Gesundheit Institut lah yang dirangkum dalam film Tom Shadyac berjudul Patch Adams.

Film yang memang terinspirasi dari sebuah buku biografi mengenai Hunter Adams ini menceritakan kisah singkat bagaimana Hunter Adams mengembangkan pemikirannya mengenai kesehatan selama ia kuliah di Medical College of Virginia. Dimulai dari bagaimana depresi akibat tekanan sosial yang ia rasakan dari lingkungannya membuat Hunter Adams berkali-kali mencoba bunuh diri. Karena keadaan psikologisnya yang mengkhawatirkan itu ia lah 3 kali dalam setahun dibawa ke rumah sakit jiwa, yang mana ia akui sebagai tempat ia menemukan pencerahan akan jalan hidupnya. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit jiwa ataupun setelah itu sebenarnya masih belum jelas bagiku, namun dalam film, diperlihatkan bahwa Adams terinspirasi dari bagaimana ia membantu pasien-pasien lainnya selama di rumah sakit jiwa yang membuatnya setelah itu ingin menjadi dokter.

Patch Adams menjadi satu tantangan lagi bagi Robin Williams untuk memerankan tokoh yang benar-benar nyata. Ya, memang salah satu resiko dari sebuah film yang diambil dari kisah nyata adalah akurasi, dan dalam film ini, Hunter Adams yang sesungguhnya merasa film ini kurang memperlihatkan sepenuhnya apa yang yang ia pandang mengenai kesehatan yang komersil. Bahkan dengan terlihat sentimen, Adams pernah berkata mengenai Robin Williams, “He made $21 million for four months of pretending to be me, in a very simplistic version, and did not give $10 to my free hospital. Patch Adams, the person, would have, if I had Robin’s money, given all $21 million to a free hospital in a country where 80 million cannot get care.”, walau pada akhirnya ia klarifikasi bahwa ia bukannya tidak suka pada Williams. Meskipun begitu, terlepas dari kisah sesungguhnya seperti apa, Williams dalam film Patch Adams telah memberikan banyak inspirasi, motivasi, dan pembelajaran. Walaupun memang Williams dalam film tersebut hanyalah aktor, ia berhasil membungkusnya sehingga seakan “He is the man”.

Konsep dari film ini bagiku sangat mirip dengan Dead Poets Society, namun bila Dead Poets Society membawa tema pendidikan secara umum, Patch Adams secara spesifik ke tema kesehatan. Patch Adams, seperti Dead Poets Society, menjadi cermin realita yang secara tidak langsung sangat menyuperiorkan dokter bagai adanya sebuah strata sosial antara dokter dan pasien. Dokter yang merasa “paling tahu” terkadang bagai tidak memanusiakan pasien walau dengan hal-hal sederhana seperti tersenyum atau memanggil nama pasien. Orientasi dokter pun sering keliru karena hanya terfokus pada kesembuhan fisik, yang mana mungkin cukup diberi beberapa zat kimia sudah menjadi solusi, padahal semangat untuk sembuh dan keadaan emosional sesungguhnya menjadi faktor penting dalam kesehatan. Apalagi lihatlah bagaiman realita di Indonesia, terutama rumah sakit negeri, yang mana pelayanan kesehatannya sama sekali tidak memanusiakan pasien, entah karena birokrasi yang rumit ataupun dokter yang kurang ramah. Apapun alasannya, kesehatan, seperti pendidikan, adalah hal yang krusial dalam kehidpan, yang seharusnya bisa dilayani sebaik mungkin.

Seperti yang dikatakan Adams, menjadi sehat bukanlah sekedar terbebas dari penyakit, atau berumur panjang, tapi bagaimana kualitas hidup pun meningkat, dengan tawa dan senyuman. Maka dari itu, menjadi dokter bukanlah sekedar menyembuhkan penyakit, tapi bagaimana merawat dan melayani orang, seperti apa yang dikatakan Adams, “You treat a disease, you win, you lose. You treat a person, I guarantee you, you’ll win, no matter what the outcome”. Kasus dokter ini juga hampir mirip dengan kasus guru. Guru bukanlah sekedar pemberi ilmu, tapi seorang ayah dan teman sekaligus untuk murid, demikian halnya dengan dokter, yang bukan sekedar penyembuh penyakit, tapi seorang ayah dan teman sekaligus untuk pasien. Permasalahannya pun mirip, ketika sudah jarang orang yang benar-benar ikhlas dari hati ingin jadi guru, demikian pula dengan dokter. Patch Adams bisa menjadi contoh orang yang memiliki hasrat murni untuk menjadi dokter , sebagaimana perkataannya yang mengagumkan, ” Sir, I want to be a doctor with all my heart. I wanted to become a doctor so I could serve others… and because of that I’ve lost everything… but I’ve also gained everything. I’ve shared the lives of patients and staff members at the hospital. I’ve laughed with them. I’ve cried with them. This is what I want to do with my life.”

Dari segi plot, film ini mungkin hanya sedikit membingungkan pada awalnya, apalagi memang ketika tidak mengetahui kisah Adams yang sesungguhnya. Terlihat pada awal film, Hunter Adams memasuki rumah sakit jiwa dan mendadak setelah itu bisa masuk kuliah kedokteran. Memang itu bukan hal yang menjadi poin utama film, tapi demi kelengkapan kisah, alangkah lebih baik bila mencari tahu kisah sesungguhnya dengan lebih mendetail mengenai perjalanan Hunter Adams hingga dapat mendirikan Gesundheit! Institut.

Yang ku herankan adalah, film yang ku nilai sangat bagus ini hanya mendapat rating 6.6 di IMDb, membuatnya berada jauh di bawah Dead Poets Society yang menurutku berkualitas sama. Entah apa penyebabnya. Namun hal itu tidakmenjadi masalah, karena mau bagaimanapun film ini sesungguhnya bisa sangat menginspirasi siapapun yang menontonnya, terutama buat dokter atau calon dokter. Maka wahai para mahasiswa kedokteran, tontonlah Patch Adams dan renungkanlah ulang tujuan utama anda menjadi dokter.

“Now here today, this room is full of medical students. Don’t let them anesthetize you.

Don’t let them numb you out to the miracle of life. Always live in awe of the glorious mechanism of the human body. Let that be the focus of your studies and not a quest for grades… which’ll give you no idea what kind of doctor you will become.” – Hunter ‘Patch’ Adams

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora