Suara Di Tengah Konflik
Review Film Good Morning Vietnam (1987)

Judul : Good Morning Vietnam
Sutradara : Barry Levinson
Tanggal Rilis : 23 Desember 1987
Durasi : 121 menit
Genre : Biografi, Komedi, Drama
Pemeran : Robin Williams, Forest Whitaker, Tung Thanh Tran
Untuk review kali ini mungkin aku tidak akan mengawalinya dengan kutipan apapun, karena hampir aku tak bisa menemukan kutipan yang “pas” dalam film berjudul Good Morning, Vietnam. Satu lagi film Robin Williams ini berisi sebagian besar komedi yang, sebenarnya cukup sulit untuk dimengerti bila tidak benar-benar memahami konteks budaya dan keadaan yang terkait. Kali ini Williams murni menunjukkan talentanya sebagai seorang aktor komedian.
Good Morning Vietnam adalah sebuah film yang mencoba memperlihatkan satu sisi spesifik dari perang vietnam,lebih tepatnya ketika pasukan Amerika masih menduduki Vietnam selatan. Sisi ini mengambil bagaimana seorang penyiar radio, Adrian Crouner (Robin Williams), bertugas pada stasiun radio di Saigon (sekarang Ho Chi Minh) pada 1965-1966. Crouner sendiri sebenarnya memang merupakan tokoh nyata. Terlepas dari kecocokan dengan kisah Crouner yang sesungguhnya di dunia nyata, Good Morning Vietnam memperlihatkan bagaimana gaya bicara Crouner dalam mengisi radio cukup kontroversial dan mengejutkan. Hal tersebut sebenarnya berdampak positif pada moral pasukan di Saigon, namun karena sebuah ketidaksengajaan, kedekatan Crouner dengan seorang aktivis Viet Cong membuatnya terusir dari Saigon.
Film ini merupakan hibrida yang cukup unik. Ia sebenarnya masih dapat dilabeli film perang, walau mungkin porsinya tidak sebanyak unsur komedinya. Selain itu, unsur pengungkapan fakta real tetap masuk karena film ini mengungkap tidak sedikit hal-hal nyata yang terkait dengan perang Vietnam pada latar film tersebut. Apalagi, film ini memang terinspirasi dari tokoh yang benar-benar ada dan nyata, Adrian Crouner, membuat genre biografi pun juga masuk dalam film. Bagaimana ketertarikan Crouner dengan seorang gadis pribumi pun tidak kalah memasukkan unsur drama pada film. Maka bagai dicampur aduk, film ini merupakan hibrida banyak genre sekaligus, walau tetap, memang unsur komedinya lah yang ditonjolkan. Hal tersebut lah yang menjadi poin plus film ini. Karena memang , jarang ada film perang yang dibawa dengan komedi, bercampur dengan drama dan kisah nyata. Campuran ini juga diperkuat oleh peran yang dibawa oleh Williams yang memperlihatkan seorang komedian namun tetap berkarisma.
Terlepas dari itu, beberapa hal bisa ku tarik dari film ini. Pertama, bahwa hiburan pada suasana perang sangat dibutuhkan sebagai media propaganda dan peningkatan moral dan semangat pasukan, maka kehadiran stasiun radio di tengah-tengah area konflik menjadi hal yang krusial. Mental pasukan ketika bertugas merupakan salah satu komponen paling penting ketimbang kekuatan ekstrinsiknya. Aku jadi ingat perkataan seorang jendral bahwa jauh lebih penting mengirim seorang prajurit yang bahagia ketimbang prajurit yang perkasa. Maka Good Morning Vietnam telah menunjukkan pentingnya siaran radio yang berkualitas untuk mensuasanakan atmosfer wilayah konflik agar lebih meningkatkan mental seluruh komponen yang terkait.
Kedua, daya humor memang sangat ditentukan oleh wawasan, budaya, dan pemahaman konteks. Sungguh, seseorang yang benar-benar tidak paham beberapa hal mengenai keadaan kala itu tidak akan paham apa yang Crouner katakan selama ia menyiarkan radio. Aku sendiri sangat kesulitan memahami makna sesungguhnya dari humor-humor yang disampaikan Crouner. Misalnya seperti lagu rock yang diputar oleh Crouner dipermasalahkan karena lagu bergenre rock pada kala itu dianggap subversif dan bisa memicu pembangkangan, atau seperti ejekan Crouner pada Roosevelt ketika ia mencoba memberikan prediksi cuaca, atau masih banyak lainnya yang secara kontekstual tentu akan tidak mudah dipahami oleh orang Indonesia. Hal yang membuatku kagum di sini adalah fakta bahwa Robin Williams mengimprovisasi semua yang diucapkannya selama bagian penyiaran radio tanpa skrip. Betapa potensi Williams sebagai komedian yang kreatif sangat terbukti di sini. Disarankan untuk yang menonton film ini tidak terlalu memikirkan humor yang ada, namun jika penasaran, bisa melakukan riset setelah film berakhir.
Mengenai unsur biografi dalam film sendiri, Adrian Crouner yang asli mengatakan bahwa film ini hanya akurat 45% dibandingkan keadaan yang sesungguhnya. Memang, seperti yang telah saya sampaikan juga dalam review yang lain, salah satu tantangan terberat dari film yang menceritakan kisah nyata adalah menjaga keseimbangan antara keakuratan terhadap realita dengan improvisasi dan modifikasi yang dilakukan sebagai bumbu tambahan untuk membungkus film. Mungkin dalam hal ini, Barry Levinson memang tidak berniat terfokus pada akurasi, namun lebih menonjolkan komedi dan dramanya, sehingga bisa dimaklumi jika memang film ini sedikit berbeda ketimbang keadaan real yang terjadi.
Sebagai film yang menunjukkan dengan gamblang bagaimana Williams berimprovisasi, disarankan bagi para pecinta Komedi atau penggemar Robin Williams untuk menambahkan film ini dalam daftar nonton. Tidak perlu terlalu terfokus pada humornya, karena mungkin bagi kita, hampir semua humor itu tidak bermakna, maka cobalah fokus pada hal lain, matikan ekspektasi dan nikmati aksi Robin Williams di Good Morng Williams.
(PHX)