Pencarian Makna Eksistensi

Review Film Bicentennial Man (1999)

- 4 mins

cover film Bicentennial Man

Judul : Bicentennial Man

Sutradara : Chris Columbus

Tanggal Rilis : 17 Desember 1999

Durasi : 132 menit

Genre : Komedi, Drama, Fantasi

Pemeran : Robin Williams, Embeth Davidtz, Sam Neill

I try to make sense of things. Which is why, I guess, I believe in destiny. There must be a reason that I am as I am. There must be.” – Andrew Martin –

Jika mencari satu lagi film penuh makna yang bisa dipetik mengenai eksistensi kita sebagai manusia, Bicentennial Man bisa menjadi satu rekomendasi. Ia hadir menyiratkan berbagai isu yang selalu terbahas dalam kehidupan manusia selama berabad-abad. Dan juga, sekali lagi Robin Williams seperti dengan sengaja ditampilkan untuk meningkatkan kedalaman makna yang tersampaikan melalui kharisma dan wibawanya.

Film yang didanai langsung oleh Disney ini merupakan film yang terinspirasi, atau mungkin, ditarik, dari sebuah novel karya Isaan Asimov berjudul sama. Bercerita mengenai seorang, ups, sebuah, android, bernama Andrew (Robin Williams), yang secara unik memunculkan self-awareness atau kesadaran diri yang menjadi ciri khas utama manusia. Dari kesadaran ini lah, ia berusaha mencari jati diri dan tujuan eksistensinya dengan apapun yang ia bisa. Bermula dari memelajari buku-buku yang ia pelajari di rumah tuannya, kemudian menuntut, atau lebih halusnya, meminta kebebasan, agar ia bisa menjadi diri yang tidak terikat, yang mana sebelumnya ia adalah pelayan di rumah keluarga Martin, hingga berusaha mengubah dirinya menjadi semirip mungkin manusia. Perjalanan yang ia lakukan dari pertama kali “lahir” hingga “meninggal dunia” ia tempuh selama 200 tahun, yang sebenarnya menjadi asal kata Bicentennial di judul film ini, yang bermakna 2 abad.

Isaac Asimov sebagai pemilik cerita membawa konsep yang padat makna, yang kemudian berhasil ditransformasikan oleh Chris Columbus menjadi sebuah film yang cukup dinikmati dalam dalam 2 jam lebih sedikit. Kenapa bisa aku sebut film ini, atau kisah ini, padat makna, adalah karena ia membawa isu-isu yang selalu hangat menjadi pembahasan di masyarakat, seperti kebebasan, mortalitas, cinta, perbudakan, diskriminasi, hak, jati diri, atau kemanusiaan. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk membungkus semua itu dalam sebuah film tanpa mengalami kehilangan atau distorsi makna. Apalagi, diketahui bahwa di tengah-tengah produksi, Disney memotong anggaran produksi hingga 20 juta dollar Amerika, yang tentu membuat hilangnya beberapa konten dan konsep film yang seharusnya bisa dimaksimalkan. Namun, walaupun kemudian hal itu juga telah membuat Bicentennial Man gagal menembus Box Office, Chris Columbus telah melakukan yang terbaik untuk tetap mengoptimalkan film ini hingga tidak dapt dikatakan buruk.

Salah satu hal yang aku tertarik dari film ini adalah konsep yang dibawanya mengenai eksistensi kesadaran. Tidak dapat dipungkiri hal ini merupakan hal rumit yang telah mengalami banyak dialektika dan perdebatan, serta telah melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk memahaminya. Manusia memanglah makhluk yang kompleks, dan betapa luar biasanya karena sebenarnya kompleksitas itu terbentuk dari keutuhan manusia, lahir dan batin, fisik dan pikiran. Beberapa orang menganggap kompleksitas itu hanya muncul dari otak, yang tentu saja akan menafikan sensasi perasaan yang muncul dari hormon, laju jantung, dan saraf. Itulah kenapa Andrew tidak akan pernah merasa cukup bisa memahami manusia jika hanya berdasar pada otak dan pengetahuan yang ia miliki, yang akhirnya membuatnya memodifikasi dirinya sendiri agar memiliki saraf demi dapat merasakan sesuatu, sakit, sedih, dan lain sebagainya. Walau memang, suatu paradoks sendiri karena yang mengontrol dan mengolah semua perasaan itu sendiri adalah otak.

Selain itu, Bincentennial Man menyadarkanku akan satu hal yang ternyata menjadi dasar kebutuhan manusia dalam eksistensinya, sadar ataupun tidak, dan satu hal ini adalah kebebasan. Munculnya ego, amarah, nafsu, dengki, dan lain sebagainya sebenarnya bersumber tidak lain dan tidak bukan hanya dari hasrat untuk bebas, hasrat untuk menjadi “aku” sendiri, tanpa terikat apapun. Pada bentuk lebih konkretnya, manusia butuh pengakuan. Ini seperti apa yang Andrew ungkapkan pada sidang terakhirnya demi mendapatkan hak sebagai manusia, “To be acknowledged for who and what I am, no more, no less. Not for acclaim, not for approval, but, the simple truth of that recognition. This has been the elemental drive of my existence, and it must be achieved, if I am to live or die with dignity.”

Terakhir, isu mengenai mortalitas yang terbawa dalam film ini membuat kematian dapat dipandang menjadi hal yang sangat wajar. Ketidaksempurnaanlah yang bisa kita nikmati dan hayati. Apa yang perlu kita dapatkan bila kita panjang umur? Karena sesungguhnya dengan keterbatasan lah kita bisa memaknai semuanya dengan lebih baik, tiap detik, tiap momen, tiap nafas. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memaklumi apapun yang akan pergi dan berubah, dan mulai menikmati tiap momen. Well, because nothing lasts forever.

Walaupun memiliki makna yang dalam, film ini dibungkus sedemikian rupa hingga bisa menjadi sebuah tontonan keluarga. Itu lah mengapa film ini dirilis pada hari Natal. Pembawaan yang ringan untuk makna dan pembelajaran yang mendalam membuat film ini memang pantas ditonton bersama, apalagi jika diiringi diskusi ringan mengenai tujuan hidup masing-masing sebagai seorang manusia.

“Terrible wars have been fought where millions have died for one idea, freedom. And it seems that something that means so much to so many people would be worth having.” –

Andrew Martin

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora