Yang Penting Bertahan Hidup
Review Film The Pianist (2002)

Judul : The Pianist
Sutradara : Roman Polanski
Tanggal Rilis : 28 Maret 2003
Durasi : 150 menit
Genre : Biografi, Drama, Perang
Pemeran : Adrien Brody, Thomas Kretschmann, Frank Finlay
“If I’m going to die, I prefer to die in my own home. I’m staying put.” – Wladyslaw Szpilman –
Kejadian Holocaust yang terjadi selama perang dunia kedua memang termasuk salah satu kejadian yang bisa menyesakkan nafas setiap kali mengingatnya. Terlepas dari simpang siur yang terjadi, usaha jerman untuk membersihkan etnis Yahudi dengan cara-cara yang tidak manusiawi merupakan salah satu kekejaman yang sulit diterima akal apapun alasannya. Sudah banyak saksi atau bukti yang mencatat peristiwa sejarah ini, termasuk dari orang-orang yang selamat langsung dari Holocaust. Salah satunya adalah Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yahudi yang selamat dari kondisi brutal itu, yang kemudian kisahnya diabadikan oleh Jerzy Waldroff dalam bentuk semi-otobiografi. Kisah yang awalnya berjudul Śmierć miasta sebelum di translasi dalam versi Inggris menjadi “The Pianist” ini lah yang selanjutnya diadaptasi oleh Roman Polanski menjadi sebuah film dengan judul yang sama seperti versi inggrisnya.
Apa yang menjadi isi dari Śmierć miasta atau The Pianist adalah apa yang didapatkan oleh Jerzy Waldroff dari Szplilman yang menceritakan langsung semua kisahnya sesaat setelah perang dunia II berakhir. Itulah kenapa novel yang dtulisnya merupakan semi-otobiografi. Tentu saja dengan demikian apa yang diceritakan oleh Spzilman merupakan memori yang masih segar di kepalanya. Maka ketika ada beberapa hal yang berubah dalam film, penyebabnya di Jerzy Waldroff sendiri yang menuliskan hal berbeda, atau Roman Polanski yang memang, seperti film adaptasi kisah nyata pada umumnya, melakukan banyak improvisasi untuk menyesuaikan beberapa hal dalam film. Apapun itu, kisah nyata yang ditampilkan di The Pianist cukup menggambarkan perjalanan Szpilman selama perang dunia II.
Apa yang dikisahkan film Pianist sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dari apa yang tercatat dalam sejarah, termasuk kisah Szpilman sendiri. Film The Pianist bermula dengan diserangnya stasiun Radio di Warsaw ketika permainan piano Wladyslaw Szpilman (Adrien Brody) tengah disiarkan. Penyerangan itu merupakan awal masuknya Jerman ke Warsaw, Polandia, yang mana memulai perang dunia II pada 1939. Tidak perlu menunggu waktu lama sebelum akhirnya semua yahudi, termasuk Szpilman, ditandai dengan eblem bintang david di lengannya dan dikumpulkan dalam Ghetto. Kehidupan yahudi di dalam Gettho begitu minim dan sengsara, apalagi dengan tindakan SS (Schutzstaffel) yang semena-mena. Dalam keadaan seperti itu, Szpilman berusaha keras bekerja sebagai pianis di sebuah tempat makan untuk menghidupi 5 keluarganya. Setelah beberapa waktu, beberapa dari Yahudi di situ, termasuk semua keluarganya, dideportasi ke Treblinka, yang mana saat ini diketahui sebagai kamp pemusnahan pada kala itu. Izhak Heller (Roy Smiles), salah satu polisi Yahudi, menolongnya dengan menariknya dari barisan. Setelah terpisah dari keluarganya, ia pun menjadi buruh yang kemudian membantu menyelundupkan senjata untuk perlawanan. Kemudian dengan beberapa bantuan, ia berhasil keluar dari Ghetto dan bersembunyi hingga perang berakhir. Setelah berkali- kali menghindar, seorang SS bernama Wilm Hosenfeld (Thomas Kretschmann) akhirnya menemukannya, namun alih-alih membunuh atau menangkapnya, Wilm justru memberinya makanan berkali-kali. Hingga akhirnya ketika perang berakhir, Szpilman bisa bertahan dan hidup normal kembali menjadi pianis.
The Pianist merupakan film mengenai holocaust berbasis kisah nyata kedua yang ku tonton setelah Schindler’s List (1993). Tentu keduanya tidak bisa dibandingkan secara langsung, karena pembawaan dan sudut pandang yang dibawa jelas berbeda. Schindler’s List, yang disutradarai Steven Spielberg, lebih menekankan suasana sedih, dingin, dan mencekam yang diperlihatkan melalui pengambilan gambar dari sudut-sudut yang tidak biasa, pembawaan karakter, dan pewarnaan film yang hitam putih, selain itu kekejaman jerman pun diperlihatkan lebih jelas, kontras dengan The Pianist, yang mana dibawa oleh Roman Polanski lebih berwarna dan lebih memperlihatkan harapan. Sudut pandang The Pianist pun langsung dari seorang Yahudi yang merasakan sendiri semua kekejaman yang dilakukan oleh Jerman, membuat seakan kita bisa merasakan langsung apa yang ia rasakan selama masa itu, yang secara tidak langsung akan membuat kita bersyukur banyak hidup dengan aman dan tenteram pada masa ini. Walau memang Schindler’s List termasuk sebuah film yang luar biasa, yang mana memenangkan 7 penghargaan oscar sekaligus, bukan berarti The Pianist kalah hebat. Film Roman Polanski ini juga memenangkan 3 piala oscar dalam kategori aktor utama terbaik, sutradara terbaik, dan screenplay terbaik dari kisah adaptasi, selain 54 penghargaan lainnya yang juga dimenangkan dalam berbagai festival dan kategori. Terlepas dari itu, suatu fakta menarik menyatakan bahwa Spielberg awalnya menawarkan Polanski untuk mengerjakan Schindler’s List, 10 tahun setelah ia membuat The Pianist, namun menolaknya.
The Pianist jelas memiliki ciri khasnya sendiri dalam menggambarkan Holocaust. Hal ini karena sosok Szpilman yang hanya merupakan pemain musik biasa yang ingin bertahan hidup. Dalam prosesnya, secara tidak langsung kisah ini mengungkap usaha perlawanan yang dilakukan oleh yahudi Polandia melalui penyelundupan senjata, penyusupan logistik, bantuan dari luar, mobilisasi kekuatan, dan lain sebagainya. Walau akhirnya perlawanan ini bisa mudah ditundukkan, perjuangan mereka jelas suatu hal yang sangat ksatria. Dengan penindasan yang dilakukan oleh SS pada Yahudi, jelas mental sekuat apapun akan mudah ciut dan kehilangan harapan, namun perlawanan seperti yang diperlihatkan dalam The Pianist menunjukkan prinsip kuat bahwa lebih baik mati berjuang daripada hidup dalam penindasan. Toh mereka juga telah mendengar kabar angin bahwa kelak mereka akan dimusnahkan. Hal inilah yang kemudian membuat Szpilman sangat merasa bersalah dan egois karena hanya bisa bersembunyi. Sebenarnya Szpilman sempat membantu para pemberontak ketika masih di dalam Gettho, termasuk dengan menyelundupkan senjata, namun akhirnya keinginan Szpilman untuk membebaskan diri lebih besar dan membuatnya nekat kabur dan mencari perlindungan sana- sini.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Szpilman bukanlah tindakan pengecut. Berjuang untuk bertahan hidup bukanlah hal yang salah, walaupun terlihat egois, karena terkadang untuk sekedar semangat mempertahankan hidup, tidak semua orang memilikinya. Memiliki keinginan untuk hidup berarti memiliki keinginan untuk masa depan yang lebih baik. Kan ketika akhirnya perang dunia II berakhir, Szpilman bisa lebih bermanfaat dengan kembali menghibur ribuan orang Polandia dengan permainan pianonya melalui radio. Apalagi dalam bertahan hidup itu, perjuangan yang dilaluinya tidaklah mudah. Mulai dari menghindari diri dari SS hingga mencari makan. Perjalanan sekarat Szpilman untuk bertahan hidup sejak Jerman mulai kalah pada 1943 mengingatkanku pada film Into The Wild (2007), yang mana ketika Chris McCandless terjebak di alaska karena terpenjara aliran sungai yang terlalu deras, makanan menjadi hal yang cukup sulit untuk didapatkan. Bedanya, Chris pada Into The Wild kehabisan makanan di alam sedangkan Szpilman kehabisan makanan di tengah puing-puing kota. Tentu saja apa yang dialami Szpilman lebih tragis, apalagi ketika ia satu per satu membongkar setiap rumah yang ditemuinya hanya untuk setetes air atau sekaleng makanan. Itulah mengapa adegan ketika satu-satunya kaleng sari buah yang ia temukan tumpah setelah sekian lama ia simpan, menjadi hal yang bisa membuat geram.
Holocaust memang sebuah peristiwa yang dapat menggugah jiwa kemanusiaan siapapun, bahkan seharusnya pada jiwa-jiwa SS sendiri. Mereka pun hanya lah manusia biasa, yang terdoktrin secara keras untuk loyal pada Hitler. Maka sebenarnya kejadian-kejadian yang mana anggota SS berbuat baik bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi, termasuk apa yang dilakukan Hosenfeld pada Szpilman ketika menemukannya dalam reruntuhan rumah. Patut dikagumi memang tindakan seorang kapten SS yang lebih mengutamakan jiwa kemanusiaannya ketimbang loyalitas buta pada Jerman. Orang seperti dia bahkan patut diberi predikat pahlawan. Karena sungguh, dalam perang, jiwa-jiwa yang lembut namun berprinsip kuatlah yang akan menjadi seorang petarung yang tangguh. Sangat disayangkan ketika akhirnya Hosenfeld meninggal di kamp penjahat perang Soviet pada 1952, walau Szpilman sudah berusaha keras untuk menemukan dan menyelamatkannya. Paling tidak namanya bisa dibersihkan melalui novel Jersy Waldroff yang menyebarluaskan tindakan baiknya dan juga mencantumkan catatan- catatan Hosenfled selama 1942-1944.
Ketidakpahamanku akan musik membuatku kehilangan sedikit ‘jiwa’ dari film ini. Sebagaimana ditulis oleh beberapa reviewer lainnya, film ini memperlihatkan bagaimana ketika seorang pemain musik dipisahkan oleh musik itu sendiri secara paksa dan bagaiman perasaannya ketika kembali dipertemukan oleh musik itu. Hal itu lah yang seharusnya terjiwakan secara emosional (yang tidak terlalu ku rasakan) ketika awal-awal SS masuk Warsaw membuatnya harus menjual pianonya dan ketika ia kembali menemukan piano ketika ia bersembunyi di sebuah apartemen dekat tembok Gettho. Ia bahkan bisa membayangkannya bermain nada tanpa harus menekan sungguhan tuts-tuts piano. Mungkin aku sedikit merasakan hal itu ketika ia diminta memainkan nada oleh Hosenfeld untuk pertama kali setelah sekian lama tidak menyentuh piano. Ada semacam alunan emosi yang terkuak sedikit terasa ketika Polanski sedikit ‘memperlambat’ adegan itu. Mungkin musisi sungguhan akan mengerti perasaan emosional ini, dan mungkin itulah yang menjadi jiwa film ini selain kenyataan Holocaust yang membuatnya berjudul The Pianist. Aku sendiri lebih melihat film ini sebagai kisah seseorang Yahudi yang bertahan hidup dari Holocaust tanpa menyoroti profesi orang tersebut sebagai pianis. Aku awalnya sedikit bingung dengan judul film ini karena hal mengenai pianis yang diperlihatkan dalam film hanya sekedar bagaimana ia kerja di radio pada awalnya, kemudian kerja di rumah makan di Gettho, dan terakhir bermain kembali piano ketika bertemu Hosenfeld. Ah, mungkin hanya karena aku memang tidak paham musik maka aku melewatkan beberapa hal. Walau begitu, tetap banyak pembelajaran yang ku dapat dari film ini dan masih banyak unsur lain di film yang bisa dinikmati walaupun tidak mengerti musik.
Dengan semua itu, The Pianist memang layak untuk ditonton, walau tentu saja tidak untuk semua umur. Kekejaman yang begitu vulgar diperlihatkan, seperti bagaimana ketika seorang SS menembak kepala seorang gadis Yahudi tepat di dahi atau bagaimana ketika SS melempar begitu saja orang tua yang tak mampu berdiri dari lantai dua sebuah rumah, membuat film ini sangat tidak pantas ditonton anak yang belum baligh. Namun untuk kalian yang merasa sudah cukup dewasa, tonton dan pelajarilah apa makna kemanusiaan dan kehidupan melalui kisah sederhana seorang pianis Yahudi yang hanya ingin melanjutkan hidup di tengah perang yang diperlihatkan secara komprehensif dalam The Pianst.
“Here, sell this. Food is more important than time.” – Wladyslaw Szpilman –
(PHX)