Bener Kok Dosen, Tapi...

Surat Minerva tentang realita menjadi seorang dosen

- 17 mins

Hari ini sabtu. Seperti biasa, aku masih terpaku dengan 2 layar di hadapanku, dengan tangan berdansa bergantian di atas papan tuts dan tetikus di sebelahnya, diiringi nada menyejukkan sekaligus merisaukan “The Ideals and the Reals” dari album soundtrack Persona 5 Royal. Lagu ini berada dalam kondisi loop sehingga terputar tanpa henti, memberi ketenangan sedikit dalam diri, meski fakta di balik lagu ini justru menyayat hati. Ya, lagu ini berbicara tentang yang ideal dan yang nyata, dua aspek yang tidak pernah bisa berjabat tangan, yang menyiksa dan mengkhawatirkan, yang mengganggu namun tak bisa dihilangkan. Sebagai manusia, kita selalu berpikir dan memegang suatu prinsip ideal, yang dengannya tujuan dan semangat hidup tercipta, dan dorongan untuk melakukan sesuatu memberi energi dalam hari-harinya. Sayang, manusia harus selalu berhadapan dengan yang riil, yang nyata, yang tak pernah ideal, membuat konflik abadi selalu berkecamuk dalam diri, mencipta ribuan emosi, dari bahagia hingga depresi. Banyak yang lebih mencoba mengabaikan itu, dan membiarkan emosi itu jadi pengisi hari-hari, dengan terus berekspektasi, meski terkadang lelah membuat usaha tidak mengiringi. Aku mungkin salah satunya, mungkin juga tidak. Yang ku tahu, aku hidup untuk terus mengejar yang ideal itu, dengan terus berkonsiliasi, berkonsolidasi, bukan berkompromi, atau menyerahkan diri, pada realita. Yang nyata, ketika itu tidak ideal, harus selalu ditolak, dilawan, dan diperbaiki, meski tentu, tidaklah semudah membalikkan telapak kaki. Begitu juga mungkin kehidupanku saat ini, dipenuhi perang antar ideal melawan yang real. Well, bukan aku tersiksa dengan ini, bukan. Tapi lagu ini hanya mengingatkan akan banyak hal yang terjadi dalam hidupku.

Pikiranku terus melayang dengan nada-nada halus sekaligus ngebeat itu, kombinasi yang langka untuk sebuah nada, sementara entah bagaimana caranya, tanganku masih bergerak-gerak klik sana dan klik sini bersama tetikus kecil, seakan sudah terprogram otomatis.

Tring. Notifikasi kecil diiringi suara kecil muncul di pojok kanan bawah layar, memberi tahu datangnya satu surel, membuyarkan sedikit lamunanku sebelumnya, dan menghentikan gerak tanganku di papan tuts seketika. Biasanya notifikasi di laptop tidak disertai suara, namun mungkin aku lupa, atau ini sesuatu yang berbeda. Aku pun membukanya. Yang membuat mataku terfokus justru bukan alamat pengirimnya, namun subyek dari surel itu. :TO: PHX”. Mataku memutar, finally, batinku. Setelah cukup lama tak ada kabar dan tak membalas suratku, akhirnya ia muncul juga. Aku tinggalkan sejenak apa yang tengah ku kerjakan, dan membaca isi surat itu.


Kosmik, 7 Januari 2023

Dear Finiarel, di …. wherever you are

Hai fin,

Maaf baru bisa menyapa lagi sekarang. Kau tahu eksistensiku tak menentu di sini. Ini sabtu yang cerah bukan? Hari yang menyenangkan untuk jalan-jalan sepertinya. Atau tidak? Ah ya aku lupa kamu seorang workaholic, yang bahkan lebih suka di depan laptop ketimbang piknik atau bertamasya. Kau tak mengenal hari libur kan? Ya, sampai kau menikah, weekday atau weekend, adalah hal yang sama, karena kamu memiliki begitu banyak daftar hal yang ingin kamu kerjakan sehingga bersantai ataupun main ataupun hal lain yang kamu kategorikan tidak bermanfaat tidak akan kamu lakukan, kecuali jika kamu memang tertarik dengan itu. Itu kebiasaan bagus kawan, sangat mengefektifkan waktu sedemikian sehingga tidak boleh ada sedetikpun terlewat tanpa manfaat atau produktivitas. Tak heran begitu banyak pencapaian yang kau hasilkan, at least sebagai pribadi, meski banyak yang tak terlalu rekognisi. Kau jadikan pencapaian itu hanya untuk afirmasi diri saja, bukan untuk dipertontonkan, meski terkadang kau kecolongan juga, berusaha agar karyamu dikenal, meski hanya sedikit. Well, itu perasaan yang wajar. Sulit juga murni sama sekali ikhlas melakukan sesuatu tanpa sedikitpun berharap pengakuan. It’s just the nature. But, so far you’re doing great, aren’t ye? Pikiran-pikiran yang mengganggu keikhlasanmu terblokade otomatis dengan tidak ada akses bagimu ke media sosial. Paling jauh, ya status Whatsapp, dan itu pun aku tau tidak banyak.

Anyway, kau benar-benar tak berubah berarti jika setelah menikah sabtu-sabtu gini masih senang bekerja, apapun itu. Well, aku ingat sih kau sendiri pernah bilang bahwa tiada hari libur bagimu kecuali keluarga menghendaki. Pada akhirnya kau hanya memilih hari ahad sebagai waktu yang didedikasikan penuh untuk istri dan anakmu, karena toh sabtu kan mereka bersama mertua.

Hey Fin, emangnya apa sih yang kamu kerjakan? Well, selain proyek pribadi tentunya, yang memang menjadi rutinitas sejak dulu. Apakah dosen memang pekerjaannya sebanyak itu? Eh ya, aku belum memberi selamat padamu. Congrats buddy! Kamu akhirnya menjadi dosen setelah sekian lama menunggu dan sekian kali mencoba. Jika aku tidak salah ingat, percobaanmu mendaftar dosen ada sekitar 4 kali, 2 ke UGM, 2 ke ITB, dan semuanya tidak keterima. Ups, sorry, bukan maksudku untuk menekankan ketidakteriamaannya. At least, melihat sisi baiknya, kamu jadi tahu betapa buruknya sistem rekrutmen dosen, paling tidak di kampus negeri yang besar. Tanpa bermaksud menggeneralisasi, konon kampus lain punya sifat serupa. Yah, dengan semua isu yang beredar ketika kamu mendaftar, juga info yang kau peroleh ketika akhirnya hasilnya keluar, gambaran terkait rekrutmen dosen menjadi sangat negatif di matamu. Aku tidak akan mengingatkanmu terkait detail kejadiannya, you know more, namun atas sakit hati yang kau rasakan di saat-saat itu, I hope you pass that.

Fenomena seperti itu, entah benar atau tidak, bukankah jadi terasa ironis Fin? Kampus, atau perguruan tinggi, seharusnya menjadi lembaga paling menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas, sehingga aspek seperti kemampuan harusnya menjadi kriteria utama ketimbang some sort of;…what…exclusive privilage? I don’t know. Yang jelas tidak ada keterbukaan apapun terkait apa yang sebenarnya menjadi pertimbangan dan kenapa seseorang itu tidak diterima, yang sebenarnya harusnya jadi hal yang baik untuk dilakukan bukan? Memberi pengumuman begitu saja siapa yang diterima dan siapa yang tidak tanpa ada feedback apa-apa seperti memberi nilai akhir mata kuliah begitu saja tanpa ada penjelasan dan hasil koreksi. Ya, dalam pemberian nilai memang memberi koreksi, -koreksi ya, bukan sekadar evaluasi -, menjadi hal yang penting sebagai feedback untuk perkembangan. Koreksi yang dimaksud di sini ya tentu saja komentar atas apa yang salah dan apa yang benar dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Konon juga, banyaknya yang tidak diterima di UGM disebabkan oleh tes psikologi, yang yaa, maklum punya fakultas psikologi sendiri, memang jauh lebih rumit dari di ITB. I even wonder about that Fin, what is wrong with your psychology? Are you a mad distressed guy? Ah sudahlah, yang jelas ku tahu rekrutmen-rekrutmen itu memberi satu noda besar awal di hatimu terhadap dunia pendidikan tinggi, yang sebenanrya sudah berisi banyak noda-noda kecil hasil pengamatanmu selama jadi mahasiswa. Hanya saja, you just don’t expect it to be worse.

Eventually, justru ketika kamu mencoba pilhan yang berbeda, seperti Universitas Telkom, justru yang terjadi seperti one lucky shot. Kau keterima, tanpa harus percobaan berulang, ataupun drama apapun. Sebenarnya ya cukup logis, mengingat universitas Telkom adalah kampus swasta, di luar lingkup yang kamu alami sebelumnya. Yah, entahlah Fin. Aku hanya penasaran, kenapa waktu itu kamu tetiba terpikirkan untuk mendaftar Universitas Telkom Fin? Not very likely of you. Apa kau so desperate? Yaa, tapi sebenarnya bukan pilihan yang buruk juga karena universitas itu termasuk perguruan tinggi swasta terbaik. Ya kalaupun desperate, aku yakin itu untuk dua kampus besar itu. Dulu kamu begitu berjuang keras untuk keduanya karena kamu ingin di ITB dan ibumu ingin UGM, so you tried both, even twice. Yang nyata dari hidup memang tidak pernah sebanding dengan yang ideal bukan Fin? Kurang ideal apa coba, kamu pure blood dari ITB, dengan kapabilitas yang tidak buruk juga. Then why? Yeah you know why, but… whyy? Aku pun greget ketika mendengar ceritamu terkait itu, ya cerita yang kau dapatkan dari dosenmu atas kenapa kamu tidak lolos di ITB.

Masalah pure blood or not pun sebenarnya bukan hal yang baik bukan? Entahlah kenapa ego bisa menguasai dunia akademik. Satu ketidakidealan lainnya.

Bagaimana perasaanmu ketika diterima di Telkom fin? Maaf, Universitas Telkom, tapi memang cukup panjang. Oke Tel-U. Yeah, dengan beberapa kekurangan yang ada di dalamnya, you seem fine. Ku tahu kau sempat kebingungan di awal-awal bukan? Karena banyak hal yang tidak diinfokan atau disosialisasikan sehingga kau banyak harus diadaptasi dan belajar sendiri. But that’s not really a problem ain’t it? Apalagi untuk orang sepertimu, yang memang sangat terbiasa eksplorasi mandiri.

Yang membuatmu kaget tentu bukan kekurangan kecil seperti itu bukan? Ku yakin justru menjadi dosen itu sendiri yang suprising. Tetiba kau harus mengajar, harus meneliti, juga harus pengabdian, dengan ini itu administrasinya. Penelitiannya pun harus kau sesuaikan lagi karena kau disana dituntut untuk terkait dengan informatika (ya maklum prodi informatika) sedang kau merupakan pure mathematician. Well, not exactly pure, but you know what I mean. Apa kau kewelahan? Untungnya kau sudah punya latar dan pengalaman sebelumnya, dengan keisenganmu yang selalu menuruti rasa penasaran sampai jauh dan mencoba ini itu. Sebenarnya menjadi terasa sebuah skenario tersendiri memang, melihat pada 2020 kamu mengikuti program Bangkit dari Google hanya purely dari iseng dan pensaran, yang justru kemudian membuatmu jadi terjun jauh lebih dalam lagi ke dunia AI, machine learning, dan segala hal-hal yang ngehits terkaitnya. Kau jadi punya banyak bekal dan ilmu terkait itu and voila, Tel-U buka pendaftaran dosen di Informatika. Yeah, good for you buddy. Dan kau pun jadi dengan mudah eksplorasi lebih jauh lagi dengan penelitian-penelitian terkait.

Terkait itu Fin, tidakkah kau merasa…..terasingkan? I mean, apa yang sebenanrya kau cari? Duh maaf kalau pertanyaan yang selalu ada dalam setiap kontemplasimu ini ku keluarkan lagi. Tapi, bukannya tujuanmu dari awal adalah mencari “kebenaran”? Tujuan yang akhirnya membuatmu mendalami matematika sebagai ilmu yang kau anggap paling dasar. Kau pun memilih jalur dosen karena itu adalah pekerjaan yang memungkinkanmu menggapai itu kan, dengan kecocokan tujuan dan “isu” fleksibilitas kerjanya. Kenapa sekarang kau justru banting setir ke teknologi? Tidakkah pula harus ku ingatkan bahwa dulu kau membenci teknologi?!

Entah kenapa, aku tidak kaget. Very typical. Bukan Minerva jika tidak mempertanyakanku seperti itu. Sekilas, tetiba pikiranku sudah melayang jauh ke dalam memori masa lalu ketika aku masih begitu idealis melihat teknologi. Di masa itu, aku tentang keras teknologi dengan menolak menggunakan smartphone dan motor. Aku memilih jalan kaki atau angkot kemana-mana dan cukup menggunakan telepon genggam Nokia monokromatik tua yang masih dapat berfungsi. Aku tidak menafikan kebermanfaatan dari teknologi tentu, namun terkadang sinar fungsionalitas teknologi yang memukau menyilaukan kita semua dari segala efek negatifnya, yang jelas-jelas ada tanpa bisa dinafikan atau dipungkiri. Masalahnya, paradigma yang tertanam adalah, apabila muncul dampak negatif lain dari teknologi, maka kelak perlu dicari lagi solusi juga dengan teknologi, yang pada dasarnya seperti gali lubang tutup lubang. Siklus ini terjadi sejak awal peradaban sehingga bisa dibilang semua masalah yang dihadapi umat manusia sekarang adalah masalah yang diciptakan manusia sendiri. Dari diriku yang sekarang, terlihat bahwa aku kala itu begitu naif, karena teknologi merupakan konsekuensi langsung dari sifat natural manusia, yakni lembam, sehingga selalu mencari jalan termudah untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak ada grand design besar sebenanrya teknologi ini kelak buat apa, selain pelan-pelan berusaha mempermudah apapun itu, termasuk dalam menyelesaikan masalah yang manusia buat sendiri. Begitulah. Memori akan semangat yang berkobar-kobar dari idealisme anti-teknologi kala itu seperti terputar kembali dengan jelas.

Banyak yang telah terjadi sehingga pikiranku pelan-pelan mulai “melunak”. Tak bisa dipungkiri. Banyak sekali idealisme membara di masa lampau yang sekarang hanya seperti cahaya hangat api perapian. Namun, mungkin itu yang cukup. Mungkin memang kita tidak memerlukan semangat yang terlalu berkobar, karena api yang terlalu besar pada akhirnya berbahaya dan berpotensi merusak. Kita butuh api, tapi api dalam takaran yang cukup, sehingga api itu dapat kita ekstraksi manfaatnya, baik melalui hangatnya atau cahayanya. Satu hal bijak yang ku pelajari dalam hidup adalah bagaimana mengatur titik tengah itu, titik yang “pas”, titik yang tepat sehingga aku tidak kehilangan idealismeku, namun tidak juga termanifestasi dalam sikap yang berlebih. Aku tetap memegang prinsipku bahwa teknologi itu merugikan, yang salah satu manifestasi nyatanya saat ini adalah pengasinganku dari media sosial. Akan tetapi, untuk bisa melakukan sesuatu, aku harus kuasai dia. Bagaimana mungkin kita bisa manfaatkan api bila kita tidak tahu cara menjinakkan api? Aku tidak tahu apakah jalanku ini benar atau tidak, karena memang benar seperti yang Minerva katakan, aku menjadi seperti terasingkan dari jalanku yang awal. Entahlah.

Apa yang terjadi setelah itu hanya pikiran kosong. Entah kenapa blank, dengan mataku menatap tak fokus ke belakang monitor. Hal itu terjadi beberapa detik sebelum akhirnya ku alihkan mataku kembali ke monitor. Aku putuskan untuk melanjutkan membaca.

Fin, tidakkah kau pernah merenungi jalanmu yang seakrang? Mungkin sudah, mungkin belum, entah. Namun coba lihat kembali ke belakang semua perjalananmu. Mengembangkan teknologi bukanlah salah satu dari apa yang kau gelisahkan dari dulu. Kau bahkan ragu dan sangat menyangsikannya. Kau selalu pertanyakan apa yang manusia tuju dengan semua teknologi ini selain pemenuhan nafsu alamiahnya. Kemana kita menuju Fin? Sudahkah kau jawab itu? Apa kita ingin dunia ini serba mudah untuk ditinggali? Atau apa Fin? Apa??

….

Maaf. Ku tahu kau seharusnya punya alasan terkait itu, walau ku ragu itu alasan yang kuat. Yang bisa kutebak adalah bahwa kau berharap bisa melakukan sesuatu dari dalam. Yah, dikotomi klasik tentang perubahan. Jika tidak bisa mengubah dari luar sistem, maka masuklah ke dalam sistem dan ubah dari dalam. Apa kau sudah mencapai kesimpulan dasar bahwa mustahil melakukan sesuatu pada teknologi jika kau berjarak darinya? Aku tidak mengatakan kesimpulan itu keliru Fin. Hanya saja…. Ah sudahlah. Ku hanya berharap kau tidak menjadi sangat pragmatis. Meski ku tahu itu tak bisa dipungkiri, bahwa keputusanmu untuk mencoba ke Tel-juga didorong oleh istri dan anakmu yang harus kau hidupi ke depannya sedangkan kala itu hampir 2 tahun kau belum punya pekerjaan tetap.

Mungkin ku sarankan kau kembali melihat tujuan besar hidupmu Fin. Karena sebagaimana gurumu dulu pernah katakan, pertajam dirimu di satu hal, maka kau akan bisa melihat semuanya dengan lebih baik. Kau terlalu terbiasa belajar ini itu segala macam sehingga sering kali belok jauh. Well, tidak masalah jika belok ini hanya sebatas meluangkan waktu baca, nulis, atua semacamnya. Tapi ini, kau jadi dosen di sana, itu berarti jalanmu sudah tetap kecuali kau kelak memutuskan keluar atau pindah. Karirmu jadi terpaku di satu tempat itu, yakni informatika. Kalaupun kau ingin tetap mempertahankan identitasmu sebagai matematikawan Fin, tidak akan banyak yang bisa kau lakukan. Aturan ini itu terkait dosen telah mengikatmu. Kau harus memilih. Tidakkah kau ingat yang disosialisasikan kemarin Fin? Bagaimana dosen harus memilih satu keahlian, yang tidak jauh dari bidang ijazah S3 dan juga tidak jauh dari bidang program studi tempat mengajar. Matematikawan mengajar di informatika? Ya pilihanmu hanya sains data, AI, sains komputasi, atau yang semacamnya. Lantas bagaimana pencarianmu terkait kebenaran itu? Apa itu akan kau anggap sampingan?

Belum lagi tugas-tugas lainmu sebagai dosen Fin. Hah! Aku pun kaget ketika mengetahui itu. Bagaimana mungkin dosen diberi tugas dengan variasi yang sangat tinggi. Awalnya sih terasa biasa. Ya, kau hanya diminta mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat, meski itu sendiri pun bukan hal yang bisa dianggap baik. Tiga komponen itu saja sebenarnya sudah memakan waktu, eh kemudian kau diminta jadi panitia ini itu, dengan segala urusan teknis dan administratif yang….hey, tidakkah mreka pikir dosen itu dewa segala bisa? Ingat nasihat Wim, pembimbing S3mu itu, sehari sebelum kau sidang doktor Fin. Ia bilang, “apapun yang diminta darimu sebagai dosen, selalu perjuangkan 50% waktumu untuk penelitian. Bila sudah sampai mengurangi waktumu meneliti, maka kau harus tolak semua itu”. Well, kata-kata luar biasa. Wajar saja di Belanda atau negara maju lainnya penelitiannya melesat. Segala pekerjaan dibagi pada orang berbeda, bukan dipusatkan ke satu profesi bernama dosen. Tentu, di Indonesia itu agak sulit dilakukan, tapi paling tidak kau bisa mengusahakan Fin. Coba lihat sudah termakan berapa banyak waktumu untuk peneltiian sekarang. Sudah kritis itu Fin. Tridharma, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, seharusnya milik perguruan tinggi, bukan milik dosen, yang berarti seharusnya ada sistemasi yang baik bagaimana ketiga itu terwujud secara merata tanpa harus dibebankan ke setiap individu.

Sekali lagi Fin, yang ideal sulit sekali berjabat tangan dengan yang real. Ku hanya berharap kau terus mempertahankan idealismemu Fin, meski hanya dalam hati, sehingga celah sekecil apapun untuk mewujudkannya akan kau ambil. Dipikir-pikir, bisa saja kau “membangkang” kan Fin. Sepertinya banyak tuh dosen-dosen yang mengerjakan tugas-tugasnya apa adanya, dan bahkan ada yang “kabur” meskipun sangat halus. But wait, kau jangan tiru mereka. Aku katakan itu tadi hanya sebagai ironi realita saja. Etos kerjamu harus dipertahankan Fin, meski memang itu selalu backfire ke kamu, karena ketika kamu selalu melaksanakan tugas semaksimal mungkin, maka orang-orang akan menjadikan itu alasan untuk selalu memberi tugas ke kamu. See? Budaya kita sudah rusak seakar-akarnya, karena itu bahkan hal yang selalu terjadi Fin, dan lucunya juga terjadi di dunia akademik, yang sekali lagi, harusnya menjunjung integritas dan profesionalisme yang tinggi.

Perdosenan mungkin awalnya bagaikan negeri impian bagimu dulu ketika awal masuk kuliah (atau bahkan sejak SMA?), dimana kau lihat dosen adalah profesi yang sangat ideal untuk dijalani. Apalagi yang kau jadikan panutan dulu adalah orang-orang seperit pak Hendra Gunawan dan pak Iwan Pranoto, yang memang versi “langka”. Bahkan sampai sekarang, kau masih mengagumi mereka bukan? Bagaimana mereka memegang idealisme dan prinsip secara bijak dengan menyesuaikan diri dalam sistem. Yah, mungkin ditengah ketidakidealan, kau memang harus tetap terus melihat ke yang ideal, minimal contoh nyatanya, orang-orang yang masih memegangnya, agar kau tetap terjaga dan terbawa arus realita.

Ah Fin, tentu yang ku sebutkan tadi belum seberapa bukan Fin? Banyak sekali hal-hal yang sebenanrya keliru namun karena membudaya jadi terasa biasa, seperti bagaimana memanfaatkan anggaran untuk keperluan yang tidak sesuai, bagaimana orientasi berkegiatan apapun jadi sangat terpaku pada “so-called KUM”, bagaimana mahasiswa diperdayakan, dan segala macam hal lainnya yang ku yakin menimbulkan sangat banyak pertanyaan di kepalamu. Well, mungkin seperti biasa, semua pertanyaanmu harus kau tahan dulu di kepala Fin, sampai waktu yang tepat. Mempertanyakan terlalu cepat hanya akan membuatmu justru keluar dari sistem. Bukankah kau sekarang pun berhasil masuk jadi struktural kan Fin? Oh ya benar, pekan kemarin kau baru saja sertijab jadi Kepala Urusan Kemahasiswaan. Yah, semoga langkahmu dipermudah Fin. Sekali lagi ku ingatkan, tetap berpegang pada idealismemu. Ingat kembali obrolanmu sama Faisal di Salman Fin, bahwa dunia itu tengah rusak, dengan beragam kebobrokan di berbagai sisi, dan dunia akademik pun termasuk salah satunya namun yang paling bisa dikompromikan. Kenapa? Karena minimal dunia akademik lebih memberimu suatu derajat kebebasan ketimbang merkea yang di birokrasi atau korporasi, dimana terkadang kebobrokan itu bisa terjadi di depan mata tanpa bisa kau cegah. Kau rasakan sendiri bukan, bahwa meskipun banyak kekurangan, sebagai dosen kau masih bisa melakukan sesuatu. Ya Fin, jaga itu. Selalu jadi idealis, sejauh apapun realita melukai dan menyiksamu.

Salam,

“Idealisme menjadi kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda”

Kawanmu, Minerva


Sekali lagi seketika pikiranku kosong ketika melihat akhir surat itu. Aku seperti tidak tahu mau berpikir apa. Apa yang ia katakan juga aku rasakan sebenanrya, meski kemudian lebih banyak terpendam tanpa aku apa-apakan dengan banyaknya kesibukan. Aku pejamkan mata sejenak, selain karena mataku agak sedikit perih dengan layar yang cukup terang, aku juga ingin membiarkan pikiranku sedikit melayang.

Pelan-pelan bayang-bayang pikiran membentuk jadi rasa kesal. Ya, aku jadi kesal sendiri dengan kemampuanku mengatur waktu yang sepertinya semakin buruk, meski ada faktor juga karena kesibukan yang selalu bertambah. Di sisi lain, aku juga seperti tidak punya banyak pilihan selain langkah-langkah ekstrim seperti keluar dari informatika dan mencari lowongan dosen lain di matematika, atau seperti memilih freelance dengan semua kemampuan yang ada sehingga lebih punya banyak kontrol. Akan tetapi, tentu langkah-langkah ekstrim seperti itu punya banyak sekali resiko yang justru bisa berbalik merugikanku dalam konteks tujuan besar hidup. Pada akhirnya, yang bisa ku lakukan sekarang adalah bertahan, melangkah pelan-pelan, dengan tetap terus menjaga idealisme dan mata jauh ke tujuan besar di depan.

Entah apa yang ada di depan. Entah apa selanjutnya. Entah apa berikutnya. Aku tak tahu. Standarnya? Mengejar gelar profesor, selesai. Namun dengan realita yang ada, itu pun hanya akan terus diiringi tanda tanya. Terus melangkah, akan selalu jadi jalan terakhir, ketika cabang pilhan selalu tertutup.

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora