Cie Doktor
Surat kepada Minerva menceritakan perjalanan studi doktoral hingga sidang
Ruangan ini mulai remang. Cahaya dari layar monitor di depanku menjadi sangat dominan, memberi kesan silau meski pancaran radiasinya sudah dibuat minimal. Maklum, posisi ruangan ini berada di sebuah pojokan, membuat suplai cahaya matahari relatif kurang. Namun, gelap ini bukan gelap biasa. Jarum jam yang tergantung di tembok sebelah kiriku hampir tegak vertikal ke atas, menunjukkan sinar matahari seharusnya berada pada puncaknya ke belahan bumi dimana ku berada. Kecuali, kalau matahari itu sendiri tertutup. Ya, sepertinya hujan akan turun lagi, seperti halnya hari kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, dan… kemarinnya lagi. Atau tidak? Aku ingat betul 3 kemarin yang lampau, cukup cerah sampai malam tiba, meski hanya diselingi gerimis halus di kala senja.
Ah ya, 3 hari yang lalu. Hari yang, entah bisa ku deskripsikan dengan cara apa, yang didalamnya aku merasa entah apa, tercampur baur oleh pikir dan tanya yang belum aku sapa. Mungkin aku merasa lega, mungkin juga hanya sedikit bahagia, mungkin berbalur rasa bangga, atau mungkin adonan dari semua. Entah. Duduk di sini, di ruangan yang cukup luas untuk belasan orang namun hanya terisi oleh ku seorang, di pojokan kampus ITB yang membawa memori 1 dekade, dengan suara konstan rintik hujan yang perlahan mengiringi pikiran melayang, menghadirkan kembali semua pertanyaan dan renungan yang mungkin sempat tenggelam dalam kesibukan, dalam target-target kecil yang menghadang, atau rutinitas keseharian, yang akhirnya sedikit terlepaskan 3 hari yang lalu.
Mendadak, ku tetiba terbayang olehnya. Entah apa kabarnya sekarang. Suratku yang terakhir belum terbalas lagi. Biasanya ia yang selalu cerewet tanpa aku perlu membalas. Mungkin kali ini aku saja yang kembali menyuratinya, membiarkan isi pikiranku tertuang padanya, paling tidak daripada berputar kosong di dalam kepala, yang terkadang tidak berujung apa-apa. Rintik gerimis cepat berubah menjadi deru keras hujan yang deras seiring aku membuka jendela microsoft word. Sedikit air putih hangat dan lofi hip hop mix “the answer is in the stars” melengkapi perjalananku menyusuri jalan sepi renungan masa lalu di tengah remangnya ruangan dan dinginnya suasana hujan, untuk ku transformasi menjadi jejak memori.
Bandung, 11 November 2022
Hai Minerva, dalam semesta abstrak jiwa,
Apa kabarmu di sana? Entah tengah sibuk apa, namun semoga semua baik-baik saja. Sudah lama ku tak mendengar (atau membaca) darimu lagi. Semoga kau tidak jadi membenciku setelah suratku yang terakhir, mengingat kau berkali-kali mengecamku karena tidak menulis lagi. Biarlah aku yang menulis untukmu kali ini, karena aku sendiri mungkin hanya ingin bercerita kecil dengan ini. Yah, tak bisa dipungkiri ku merindukanmu. Bukankah dulu hampir tiap tahun selalu ada surat darimu kawan? Tahun ini jadi terasa berbeda, karena suratmu terkadang, meskipun tidak terlalu ku harapkan, yang mengingatkanku atas banyak yang terlupakan, memberi tahuku atas apa yang ku abaikan, dan menegurku atas apa yang ku tinggalkan. Terima kasih untuk itu by the way kawan.
First of all, ku ingin memberi kabar padamu bahwa 3 hari yang lalu ku sudah melewati sidang disertasi. Mungkin bukan hal yang terlalu berbeda, dan lagipula aku juga secara resmi belum wisuda, namun sidang itu menjadi seperti titik konklusi, atas apa yang telah terlalui, 4 tahun ini. Tentu itu bukan akhir, karena banyak yang masih perlu diukir, dengan banyak PR terlampir. Ku juga bukan mau mengemis ucapan selamat darimu, apalagi berharap hadiah berbungkus kertas lucu. Tidak. Sama sekali tidak. Ku bahkan ada sedikit merasa tak pantas atas apa yang ku capai ketika sidang, dengan begitu banyak kekurangan, seperti klimaks yang terlalu cepat datang. Mungkin aku terburu-buru, mungkin semua itu banyak berbalut palsu, mungkin seharusnya aku memang butuh waktu, namun skenario semesta membawaku ke titik itu, dengan semua kausalitasnya yang penuh lika-liku. Izinkan aku bercerita atas itu.
Mundur ke 4, atau bahkan 5, tahun yang lalu, ketika studi S3 masih berada pada tahap rencana, dengan banyak timbang sini timbang sana. Kala itu tidak banyak opsi hidup tersedia di hadapanku. Well, mungkin banyak, namun tidak ku perhatikan. Bekerja di industri adalah hal yang entah kenapa ku hindari, dan ku tolak sepenuh hati, hingga bahkan tidak masuk opsi. Bukanku menutup diri, namun ada banyak hal yang ku cari, dengan banyak tanya menyiksa hati, sementara banyak hal belum ku ketahui, banyak hal yang masih perlu dipelajari. Lulus magister menjadi persimpangan sesungguhnya, karena aku tidak menemui cabang apa-apa ketika lulus sarjana, dengan adanya jalur cepat langsung S2. Gelar baru tentu menambah daya tawar, namun sama sekali bukan itu yang ku lihat. Meski mungkin ku tak membatasi arah, aku tetap melihat satu tuju di awal langkah, bahwa aku butuh memuaskan aktualisasi pikiranku yang semakin lama semakin hanyut dalam gulita. Di saat yang sama, sisi remajaku telah merasakan cinta, yang membawa segala keidealan kembali ke realita, untuk segera bersama membangun keluarga, yang tentu butuh nafkah halal dari kerja. Diingat lagi jadi terasa aneh ya Va? Ku merasa seperti terbelah saat itu, namun pada akhirnya ku jalani dua-duanya. Aku berusaha bekerja tetap di akademia, jadi dosen, peneliti, atau entah apa, selama ku masih tetap bisa banyak berpikir dan membaca, namun tetap dapat sesuatu untuk kebutuhan rumah tangga. Pada akhirnya, setelah S2 aku tak kemana-mana, hanya mengisi waktu dengan beragam acara, dengan terus mencari lowongan kerja ataupun S3, selagi menjadi asisten di beberapa, sehingga aliran tabungan masih ada.
Semester pertama tanpa status mahasiswa berisi banyak wira-wiri, dengan beragam perjalanan dan konferensi, hingga akhirnya ku mendapatkan informasi itu. Informasi terkait sebuah workshop di Palembang. Tak ada yang spesial dari workshop itu, membahas hal biasa, dengan format yang biasa, diikuti oleh orang yang biasa, namun konon, katanya workshop ini menyediakan kesempatan, untuk bisa terdaftar ke Delft. Ku tak tahu awalnya apa itu Delft Va, hingga kemudian aku ketahui bahwa Delft seperti bapaknya ITB. Ku semangat. Apapun itu, ini kesempatan. Selama bukan ke industri, kesempatan seperti ini selalu pantas untuk dicoba. Lagipula saat itu aku tak punya rencana lain, aku tak punya stepping stone apapun selain mengikuti apa saja yang terhampar di depanku, tentu dengan arah yang sesuai. Mungkin itulah pada akhirnya pentingnya orientasi. Yang selalu menganggap kita hidup butuh langkah-langkah yang jelas, atau bahkan perencanaan yang rinci terkadang bagiku menyesatkan Va. Bagaimana mungkin memiliki rencana yang rinci di tengah ketidakpastian masa depan. Yang kita butuhkan hanya orientasi dan prinsip, yang cukup menjaga haluan dan kekuatan. Well, somehow, it always works for me. Bukankah begitu Va? Tentu kau sangat kenal bahwa aku adalah orang yang tidak punya mimpi atau tujuan besar. Yang ku punya hanya prinsip dan orientasi, bahwa aku harus bisa menjawab pertanyaan yang muncul di kepalaku, dan bahwa apapun yang ku lakukan, ku harus tetap berada dalam arah mencari kebenaran. Yah, dan sampai sekarang pun aku masih begitu.
Anyway, kala itu aku langsung coba ikut workshop itu, meski sebenarnya pemilihan tanggal workshopnya sangat mepet dengan Idul Adha. Well, at least itu akhirnya memberiku pengalaman merayakan hari raya sendirian di tempat asing. Ku bahkan tak ingat kala itu ke Palembang dengan biaya apa, karena pasca mahasiswa, ku tak bisa lagi mencari bantuan dana. Mungkin yang ini ku pakai mandiri, entah, ku lupa. Workshop itu diisi oleh 2 pemateri dari Delft sendiri. Ku lupa satunya lagi, namun yang satu adalah Wim van Horssen, orang yang tingginya membuatku harus mendongak untuk menatapnya, yang bahkan kepalanya pernah terbentur karena bangunan di Indonesia bukan didesain untuk orang dengan tinggi seperti itu.
Well Va. Awalnya, Wim tidak memberi kesan banyak selain bahwa ia berasal dari Belanda dan tinggi badannya. Sebelum itu, aku jarang berinteraksi dengan orang asing selain ketika konferensi di Malaysia beberapa pekan sebelumnya. Akan tetapi, mengetahui bahwa workshop itu adalah ajang “seleksi” dari Delft untuk memilih beberapa kandidat untuk diterima sebagai mahasiswa S3 di sana membuatku menaruh perhatian penuh pada apapun yang ia berikan, termasuk beberapa “tugas” yang tergolong sukar. Tentu tujuanku sendiri adalah stands-out, agar aku terlihat olehnya. Mungkin terasa menjilat, tapi jika itu yang memang kompetisinya, maka I’ll take my chance. Di ujung workshop, ada sesi “wawancara” yang well, mungkin juga bagian dari seleksi. Aku gak tahu usahaku berhasil atau tidak, hingga kemudian setelah acara aku mendapat email follow-up darinya yang berujung pada sebuah LoA!
Minerva, kau harus tahu bagaimana perasaanku saat itu. Membaca email itu di kamar kosku di lantai 2 membuatku merasa seperti ingin loncat ke bawah dengan kegirangan. It feels like a whole new world is presented to me! Beragam bayang-bayang mengenai kira-kira hidup 4 tahun di belanda mulai bermunculan tanpa terkendali di kepala dengan banyak pertimbangan ini itu, yang bahkan membuatku juga membayangkan melewatkan 4 tahun itu bersama istri. Well, kau tahu lah bagaimana orang yang kelewat senang dan akhirnya get carried away memikirkan yang terlalu jauh. Menyenangkan sekali kala itu. Aku bahkan langsung mengabari keluarga dan “si dia”. Tentu semua langsung berekspektasi tinggi, yang … mungkin ternyata terlalu cepat untuk dirayakan.
Yang ku dapat kala itu hanya surat penerimaan, namun tentu aku harus tetap membayar biaya kuliah dan juga untuk tinggal di sana. Delft tidak menyediakan bantuan sayangnya, sehingga aku harus mencari sumber dana. Ini tahap berikutnya Va. Tentu kala itu, aku sudah cukup senang dengan 1 step terlampaui sehingga bisa berharap banyak pada 1 step lagi. Betapa kuatnya yang namanya harapan, padahal 1 step yang tersisa ini pun bukan langkah yang mudah untuk dilalui. Tapi ya kau tau sendiri Va betapa at some points aku bisa sangat overconfidence. Bahkan dalam mengusahakan LoA Delft itu sendiri pun aku kala itu cukup percaya diri karena ketika di Palembang aku cukup mampu menonjolkan diri. Yah, jelas ada buruknya punya perasaan seperti ini, karena seperti yang istriku blang sekarang, overconfidenceku di masa lampau tu sudah menyerupai sombong. Of course, people change my friend.
Kau bisa tebak berikutnya Va. Salah satu yang terlintas tentu saja adalah LPDP yang terkenal itu. Satu opsi utama yang harus sangat diperjuangkan. Akan tetapi, aku mendapat LoA itu pada akhir September, yang sudah sangat lewat dari pendaftaran LPDP tahun itu yang sudah tutup bulan Juli, sehingga aku harus menunggu untuk pendaftaran tahun berikutnya. Namun tentu saja aku pelajari dulu semua persyaratannya dari tahun itu, dan ya, universitas sekelas Delft tentu saja dibiayai LPDP. Selagi menunggu, beberapa alternatif lain aku pelajari. Sayang, ketika cukup banyak kesempatan tersedia untuk beasiswa S2, tidak banyak pilihan tersedia untuk beasiswa S3, sehingga pada akhirnya tidak ada jalan lain selain LPDP.
Aku tak terlalu ingat apa yang kemudian terjadi pada hari-hari penantian itu, selain beberapa musibah yang terjadi beruntun pada awal 2018, yakni bapak terjatuh dari loteng hingga akhirnya tulang belakangnya patah dan kakak iparku yang tetiba terkena kanker dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu yang sangat singkat. Ini sepertinya tidak terlalu terkait dengan S3, atau mungkin terkait ya? Entah, yang jelas somehow kejadian-kejadian ini berujung pada keluarnya lampu hijau dari ibu padaku untuk menikah tahun itu. Sungguh misterius, begitu tiba-tiba, dengan semua yang mendahului, aku sendiri bingung perlu bersyukur atau tidak atas itu. Yang jelas bagiku itu seperti semacam closure tersendiri, karena dalam bayanganku tentu saja aku jadi bisa secara halal mengajak istri ke Belanda, dan menjalani S3 bersama.
Namun, yah. Kau tahu sendiri Va, yang namanya realita jarang sekali bisa beresahabat dengan yang ideal. Mei 2018, info pengumuman LPDP tahun itu keluar. Dengan semangatnya aku segera langsung buka dan pelajari,… untuk kemudian menemukan Delft sudah tidak masuk lagi dalam daftar universitas yang dibiayai. Tanda tanya besar sekaligus sedikit kekecewaan menjadi kelabu pekat di kepala. Tidakkah kau bsa bayangkan itu Va? Betapa aku menanti sejak LoA terbit untuk bisa segera mendaftar beasiswa, dengan semua excitement dan semangat yang ada, hanya untuk mengetahui 6 bulan berikutnya bahwa beasiswa itu pun out of reach? Well, hard to describe the feeling. Tentu aku tak bisa terlalu lama tenggelam dalam kebingungan, karena pada akhirnya aku harus melakukan sesuatu dengan LoA yang sudah ku punya dan ya, Wim pun menunggu juga.
Apa yang ku lakukan kemudian Va? Entah. Karena sebenanrya semua alternatif lain sudah pernah ku cari sebelumnya dan memang tidak tersedia. Lantas apa? Menyerah? Well, the fact is masih ada satu opsi tersisa, yakni melakukan skema sandwich jikalau bisa, yang mana setengah waktu dihabiskan di Indonesia dan setengah lagi di Belanda. Untuk itu, berarti aku cukup mendaftar sebagai mahasiswa ITB, dan kemudian menjalani riset jarak jauh bersama Wim. It’s not a bad idea, mengingat tidak banyak opsi yang ku punya. Maka setelah beberapa koordinasi dan diskusi, keputusan diambil selagi memantapkan hati. Ya kau tentu ingat Va, di waktu yang bersamaan aku juga sambil mengurus ini itu untuk pernikahan yang akan diadakan pada bulan Juli. Everything happens so fast jika dipikir lagi sekarang. Dulu semua tidak terasa karena aku bahkan tidak sempat berpikir panjang dengan semua hal yang beruntun terjadi tanpa banyak opsi. Pilihan-pilihan taktis harus diambil tanpa pertimbangan berlebih. Pada akhirnya titik-titik dalam hidup memang akan terus seperti demikian, kembali ke kemustahilan perencanaan jangka panjang yang terlalu penuh perincian. Ketika orientasi yang dijaga, maka lika-liku serumit apapun akan menuju arah yang sama. Ku ingat analogi terkait ini adalah sebagaimana kita hidup adalah berlayar di samudra kehidupan dunia yang luas dengan begitu banyak kemungkinan. Yang bisa dijadikan patokan bagi sang pelaut hanya orientasi dari kompas dan petunjuk langit.
Betapa banyak skenario kehidupan ditentukan oleh beragam faktor ku alami beberapa kali Va. Ketika akhirnya keputusan untuk melanjutkan S3 di ITB terambil, aku segera menghubungi Bu Intan selaku kaprodi pasca untuk menanyakan pendaftaran, yang ternyata…. waktu pendaftaran tingkat prodi sudah terlewat dan tes seleksi juga sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Dang!
Well, gladly, bu Intan cukup baik untuk kemudian memberikan kesempatan khusus untukku. Entah apa alasannya. Aku segera diminta mengerjakan tes pada esok harinya, sendirian. Well, aku tidak punya banyak waktu persiapan so I take the chance. Materi tesnya sebenanrya hanya beberapa topik S2, namun sebagian sudah cukup terlupa tanpa dibaca kembali. Yah, I do what I can, and eventually, walaupun tidak semua soal selesai ku kerjakan dalam kurun 5 jam, aku tetap diterima. Langkah selanjutnya, ya tetap mencari beasiswa! Aku daftar di ITB bukan berarti lantas jadi bebas biaya. Perbedaan mendasarnya dalam hal itu hanya di biaya hidup dan tentu besar tuisinya. Dan, paling tidak khusus ITB ada satu opsi kecil bernama beasiswa voucher, yang secara khusus diberikan untuk meringankan biaya tuisi pascasarjana. Ya, aku ajukan beasiswa tersebut, with one… risk. Pengumuman beasiswa voucher adalah beberapa pekan setelah batas pembayaran semester (lebih tepatnya tengah semester malah). So, it is a gambling. Kalau aku tidak dapat beasiswa itu, maka aku harus memikirkan bagaimana mendapatkan 15 juta tiap semester untuk menjalani S3 selama 3-4 tahun. Di kondisiku kala itu yang masih serabutan tanpa pekerjaan tetap. Apalagi, aku saat itu akan segera menikah yang berarti juga harus memikirkan uang persiapan nikah ini itu dan juga kelak untuk nafkah. TENTU SAJA itu resiko yang sangat mengkhawatirkan Va! Somehow, aku aktifkan Trump card mematikan yang aku punya: overconfidence! Well, at some point ini memang sangat berguna untuk menghancurkan semua keraguan. Aku terlalu gengsi untuk menyerah dan akhirnya I take that high risk.
Aku selesaikan pendaftaran, kemudian aku menikah, lalu aku jadi mahasiswa S3 ITB secara resmi, semua di waktu yang berdekatan. Aku ingat kemudian ketika sidang terbuka, dimana sebenarnya aku harus menyiapkan semacam bukti pembayaran (aku agak lupa detailnya, yang jelas itu terkait dengan biaya), padahal aku masih menunggu pengumuman beasiswa. Well, memoriku agak kabur, tapi istriku yang mengingatkan, bahwa kala itu ia menemaniku bolak balik Sabuga – FMIPA (yang notabene harus naik turun tangga dan jalan yang cukup jauh) untuk koordinasi terkait hal ini. Ku ingat seseorang yang membantuku banyak kala itu. Bu Ani namanya, ku lupa jabatannya apa, namun yang jelas beliau mengurusi akademik mahasiswa. Sejak S2 aku dan istri sudah dibantu banyak juga oleh beliau terkait program fast track, dan ketika mulai S3 itu, bu Ani kembali membantu kami, dengan “menjamin” bahwa aku keterima beasiswa voucher. Jaminan itu dari fakta bahwa ternyata bu Intan langsung yang memberi rekomendasi. Well, tanpa kebaikan kedua orang ini aku mungkin harus pusing dengan 15jt x 8 semester (120 jt). Yeah, and there I was, kembali menjadi mahasiswa ITB untuk ketiga kalinya, dengan membuang harapan untuk menjadi “lulusan Delft”.
Fyuh, aku sedikit mendorong kursiku dan menghempaskan kepala ke sandarannya. Memikirkan itu semua, mengingat itu semua, mengangkat kembali memori itu semua, membawa kembali betapa cukup banyak ketidakpastian yang dihamparkan dalam hidupku Atau tidak? Entahlah. Banyak atau tidaknya mungkin akan terbiaskan olehku sendiri sebagai yang mengalami, karena mungkin ada sekian banyak manusia lainnya yang jauh mengalami lika-liku ketidakpastian hidup lebih banyak. Yang jelas, untuk satu hal ini, ku hanya menjadi sadar bahwa aku bisa S3 adalah sama sekali bukan karena kemampuanku sendiri, namun atas jalinan kompleks sebab akibat dari sekian banyak faktor baik intensional maupun non-intensional, baik secara langsung maupun tidak, yang membangun sebuah skenario dan narasi besar sedemikian sehingga semua jaring-jaring faktor itu memungkinkan aku untuk S3 di ITB. Yah, mungkin bukan hal yang terlalu spesial, tapi satu langkah kecil ini kelak juga menajdi pemantik dasar rantai sebab-akibat lainnya dalam hidupku yang mungkin pada suatu titik memungkinkan terjadinya suatu hal yang besar. Begitulah… Hujan masih terlihat turun dari celah jendela. Suaranya semakin halus dan kalah dengan musik lofi yang ku mainkan sehingga hampir seperti terasa sudah reda bila tidak menengok keluar. Langit mulai semakin gelap dengan jarum jam terus turun ke bawah, menandakan waktu sore akan segera tiba. Aku beranjak sejenak untuk mengisi kembali cangkir dengan air putih hangat. Aku sudah minum teh pagi ini dan ya ada batasan tertentu untuk minum yang manis-manis karena pada akhirnya yang berlebihan tidak pernah baik, sehingga beberapa gelas air putih cukup untuk menemani.
Aku tarik napas panjang, merapatkan kursiku ke meja, dan kembali mengetik.
Begitulah Va. Cukup panjang hanya untuk sebuah cerita memulai S3. Aku tahu kau sebenarnya pun sudah mengetahui sebagian cerita itu. Kau bahkan menyinggungnya di suratmu sebelumnya. Tapi, ya, aku hanya ingin cerita saja. Maaf ya Va. Kamu hanya jadi tempat tuangan memori. At least, aku butuh tempat untuk menaruh semua memori ini agar sedikit mengkristal ketimbang melayang-layang di kepalaku, menunggu mengendap atau terlupakan oleh memori-memori baru di tahun-tahun berikutnya kehidupanku.
Sebenarnya meskipun terasa lancar, kala aku masuk S3 di ITB masih ada rasa yang kurang di hati. Somehow. Di balik semua cerita itu, ada kegelisahan lain yang begejolak dalam diri selama masa transisi sejak dapat gelar M.Si. Ada yang ku cari di matematika, namun setelah 5 tahun belajar dari masuk S1, yang ku cari belum juga menemukan titik terang. Aku ingat dulu banting stir dari awalnya sangat tertarik untuk masuk fisika ketika TPB hingga kemudian akhirnya masuk matematika karena aku melihat hal yang lebih fundamental di matematika. Kau kan tahu Va bahwa tujuan hidupku dulu (sampai sekarang juga mungkin) adalah mencari kebenaran, dan dalam masa memilih jurusan kuliah, kebenaran yang kucari ku harapkan ada di ilmu yang paling murni. Ya, fisika adalah sains murni, namun di balik itu ada yang lebih mendasar, yakni matematika. Awalnya aku tak yakin apa yang benar-benar ku cari, namun perjalanan panjang menempuh kuliah membuka mataku atas banyak hal. Sayangnya, dalam konteks matematika, aku malah semakin merasa buta. Ada yang tidak diajarkan di perkuliahan terkait matematika, khususnya di landasannya, di fondasinya, di filsafatnya, yang justru adalah apa yang aku cari dan ingin ketahui. Aku mencoba belajar sendiri, namun tentu untuk hal seabstrak itu, butuh ketekunan dan kefokusan yang tinggi, sedangkan proses otodidakku selalu adalah produk sampingan, yang akan selalu kalah dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Aku butuh pengondisi yang baik agar aku sendiri terpacu lebih untuk meluangkan waktu untuk itu, apalagi untuk mendalami ilmu yang abstrak. Aku ingat sempat membaca intens teori himpunan dan segala yang terkait dengannya. Namun karena sifatnya otodidak, aku tidak punya arah yang jelas. Mungkin memang itu pada dasarnya inti perkuliahan yang sesungguhnya. Yang belajar memang kita sendiri, namun kurikulum dan dosen itu sebagai pengarah, bukan pemberi ilmu. Kau tau sendiri aku selama S1 lebih banyak belajar dari baca buku teks sendiri ketimbang mendengarkan dosen.
Ketika lulus S2 va, maka aku sempat berpikir untuk melanjutkan S3 secara spesfik di bidang fondasi. Sayangnya, bahkan untuk kesana saja sulit. Tidak ada tempat untuk diskusi, tidak ada akses, tidak ada koneksi. Bidang fondasi matematika adalah area kering yang jarang terjamah, paling tidak di Indonesia. Di ITB, hanya ada satu dosen yang dulunya ketika S3 mendalami apa yang dikenal dengan teori model, tapi ya beliau tidak menekuni itu selama menjadi dosen. Well, ya aku mencoba berdiskusi dengan beliau dan juga beberapa dosen, hanya untuk memperoleh kenihilan terkait kemungkinan kesempatan yang bisa ku ambil. Tentu ini semua sebelum aku mengetahui Wim dan Delft. In the end, ketika akhirnya ada kesempatan, meskipun itu tidak sepenuhnya ideal, it’s still better than nothing. Wim adalah matematikawan yang sangat praktikal karena bidang beliau juga matematika terapan dan risetnya pun kebanyakan adalah masalah-masalah riil. Mengikuti beliau tentu sangat bertentangan dengan keidealan yang kucari, tapi itu sendiri tidaklah buruk. Mungkin aku jadi terkesan pragmatis. Tapi dalam hal ini aku selalu ingat apa yang orang tuaku sendiri selalu ingatkan: jadilah air. Ya Va, air, tidak kaku dan mengalir ke arah yang memang mungkin untuk dilalui. Bukan lantas menjadi tidak punya pendirian, karena air masih punya wujud, masih ada yang dituju, air hanya merelakan dirinya mengikuti jalan yang ada ketimbang memaksakan diri, berbeda dengan benda padat yang terlalu keras pada pendirian, atau udara yang terlalu membebaskan diri sehingga tidak punya arah. Lagipula, selama bidangnya matematika, aku masih bisa korelasikan sendiri. Mungkin malah aku jadi lebih punya insight lebih luas atas apa yang aku cari. Anggap saja ini jalan memutar saja, karena pada akhirnya sampai detik ini pun, aku masih mempelajari fondasi matematika. Yang terjadi selama setahun masa transisi itu adalah aku menjadi semakin taktis dalam membuat keputusan. Apa yang ada dijalani saja.
Di sisi lain, aku mau mengakui hal yang mungkin sebenarnya konyol Va. Kau tau aku punya gengsi yang sangat tinggi. Somehow, kesedihan batal ke Delft itu sebagian karena aku gagal kuliah di luar negeri. Meski sebenanrya pada kala itu aku bertarung mendamaikan perasaan itu dengan mencoba sedikit skeptis, “apa yang aku cari di luar negeri?” Pertanyaan ini sempat terlontar beberapa kali ketika aku “curhat” dengan beberapa orang termasuk dosen. Aku seperti mencari justifikasi bahwa kuliah S3 di Indonesia pun juga adalah hal yang bagus. Aku bahkan juga menjadi kesal dengan pengagungan tinggi pada orang yang “lulusan luar negeri”, karena itu kemudian jadi seperti mengesampingkan orang-orang yang akhirnya hanya diberi kesempatan kuliah di dalam negeri. Siapapun, terutama akademia, akan dilihat tempat studi S3-nya, sehingga akan dengan mudah disebut, “lulusan Belanda”, “lulusan Amerika”, dll. Perasaanku saat itu kacau balau hanya karena hal yang… well terasa sepele. Dalam konteks matematika, sebenarnya salah satu justifikasi terbaikku adalah bahwa dengan semua buku yang bisa diakses dengan banyak cara, matematika tidak butuh banyak hal lain yang membuat luar negeri jadi privilege selain pembimbingnya sendiri. Dan yah, aku sedikit bisa mendamaikan hal itu dengan memegang bahwa meski aku di ITB, aku riset tetap sama Wim di Delft. Walau, ya orang-orang doesn’t care those details. Yang diliat terkadang hanya yang memang terlihat di permukaan. However, just let it be. Sebagai introvert, aku memang hanya suka membayangkan apa yang orang lain pikirkan, meskipun mungkin tidak berlaku general. Anyway, apakah apa yang ku khawatirkan dulu itu akan terjadi atau tidak, aku belum bisa melihat, karena gelar doktornya aja baru ku dapatkan 3 hari yang lalu. Ha! Tapi aku sudah tidak mau ambil pusing.
Setelah resmi jadi mahasiswa S3, yang selanjutnya ku cari adalah celah untuk bisa “sandwich” ke Delft. Well, gladly, ITB saat itu punya program yang disebut sebagai WCU (yang sampai sekarang selalu mendapat kesan di kepalaku sebagai WC umum, padahal yang benar adalah World Class University). Inti Well, entah WCU sendiri bisa disebut program atau tidak, tapi WCU yang jelas memiliki beberapa program, yang salah satunya adalah program Sanwich, yakni bantuan dana untuk ke universitas luar negeri untuk keperluan studi S3. That’s it, sesuai, pas! Sayangnya, aku tidak bisa langsung mendaftar karena program itu dikhususkan untuk yang mahasiswa S3 tahap 2 (sudah lulus proposal), sedangkan ya tentu ketika baru masuk aku masih tahap 1, dengan beberapa kewajiban seperti menyelesaikan beberapa mata kuliah dan proposal disertasi. Ya, jadi aku hanya bisa mendaftar kelak untuk keberangkatan tahun berikutnya lagi, yakni 2020.
Dari 2018 tengah aku memulai kehidupan sebagai mahasiswa S3 ITB, tidak banyak hal yang terjadi. Well, ku hanya menjalani rutinitas harian untuk memenuhi kewajiban-kewajiban, tentu sambil tetap mencari sampingan karena aku saat itu sudah mulai punya tanggungan. Agar tidak bosan, mengingat aku sejak S1 terbiasa punya organisasi, aku juga mencoba aktif di KAMIL (Keluarga Mahasiswa Islam) Pascasarjana yang ya tanpa alasan spesifik selain bahwa itu satu-satunya organisasi untuk mahasiswa S3 dan yaa, ada hal lain yang mau ku coba juga terkait lingkungan sosial (I won’t talk about that here, but I know you know what I mean Va). Ya satu keanehan yang terjadi terkait ini hanyalah bahwa kemudian saat pergantian pengurus aku termasuk salah satu kandidat ketua. Like, whattt?! Pertama, aku bukan “kader” karena bahkan baru kali itu aku aktif ke organisasinya secara resmi; Kedua, … eh gak ada kedua sih, karena yang pertama sudah cukup jadi sumber keanehan. Well, ya sepertinya masa laluku tidak dilihat oleh mereka. So, why not. Hm? Ya iyalah aku gak menang Va. Ya kali. Tapi eventually aku tetep jadi salah satu badan pengurus harian (BPH), yakni jadi ketua departemen akademik dan profesi. Anyway, itu menambah sedikit kesibukan sepanjang 2019. Well, gak sedikit sih, tapi ya begitulah.
Tengah 2019, Wim datang lagi ke Indo, tapi kali ini ke Yogyakarta. Tentu saja aku samperin (cie). Itu kesempatan emas bagiku untuk diskusi intens. Dan yah, it works. Selama di Yogya, progres risetku seperti dapet nitro yang membuat segalanya mulus dan kencang. Corenya ada di diskusi rutin sebenarnnya. Hal yang tidak bisa ku dapatkan dengan hubungan jarak jauh. Yah, seperti itulah interaksi manusia. Baik pada teman, keluarga, atau pasangan, hanya interaksi rutin yang bisa menambah kualitas hubungan. Eaa. Forget it. Wim pun sebenarnya cerita juga bahwa biasanya pun mahasiswa S3 beliau di Delft bisa tiap hari berdiskusi dengannya. Menyenangkan sekali membayangkan itu, sekaligus menyedihkan sekali karena aku tidak bisa mengalaminya. Hiks. Paling tidak kemudian aku jadi lebih bertekad untuk bisa mendapatkan program sandwich agar bisa visit ke Delft.
Di sisi lain, pada tengah 2019 itu anak pertamaku lahir. Dan yaa, alokasi waktuku menjadi sangat super ultra ketat. Bagaimana tidak Va, lihatlah dulu semester akhir 2019 aku ngapain saja: (1) kuliah S3; (2) asisten peneliti di RC-OPPINET; (3) pengurus SPI; (4) BPH KAMIL; (5) menjadi suami; (6) menjadi ayah (7) menjadi diriku sendiri. Wew. Hey jangan anggap remeh nomor 7 Va. I need time for myself, untuk belajar hal lain, untuk baca buku, untuk berpikir, dan syalala lainnya. Dan semua itu pun harus dijalani dengan seimbang tanpa bisa ada yang diduakan. So, yaa, I’m struggling that time. Satu level baru dalam kehidupan. Menjalani banyak kewajiban secara pararel sebenarnya bukan hal baru, mengingat dulu ketika S1 pun aku ikut banyak unit dan kegiatan. However, this is different. Yang membuat beda sebenarnya nomor 5 dan 6, karena itu merupakan alokasi terbesar dalam waktuku. But, I’ve passed it anyway. Akhir 2019 pun aku berhasil mendaftar Sandwich untuk keberangkatan 2020. And yeah, aku menyelesaikan kepengurusan di KAMIL (hanya untuk kemudian dipilih sebagai “ketua alumni” SPI, dan ini pun satu cerita sendiri) and I’m ready for 2020 untuk lebih fokus lagi ke studi.
Daaaan, you know where this leads to. Kita semua tahu apa yang terjadi tahun 2020. Right. Covid. That Damn Covid! Untuk kedua kalinya, aku gagal ke Belanda. Up to this point, I think you understand how… disappointing Covid is for me. Yah tentu saja banyak dampak lain dari Covid, tapi dalam studi S3ku, it affects a lot. Aku butuh diskusi banyak dengan Wim sedangkan pada akhirnya yang bisa kulakukan adalah diskusi tiap 2 pekan secara online. It is not really effective. In fact, it is very ineffective. Bukan berarti pembimbingku yang di ITB, pak Theo, kurang membantu, tapi Wim yang bisa mengarahkan lebih jauh terkait riset yang kujalani akan dibawa kemana. Lagipula, topik riset yang ku kerjakan di S3 adalah topik dari Wim so he knows more. Sebenarnya sebelum Covid sendiri, diskusi rutin 2 pekanan itu pun belum dilakukan karena memang diskusi dengan Wim mau difokuskan nanti ketika ke Delft. Ya ketika Covid datang dan akhirnya aku tidak bisa berangkat, ya Wim menawarkan untuk diskusi online saja. Lebih tepatnya, aku baru mulai bimbingan rutin sama Wim itu Oktober 2020, setelah beberapa pertimbangan, selain ya bimbingan dengan pembimbing di Indonesia. Yah it helps. But somehow, ketika beliau terlibat lebih banyak dari sebelumnya, beliau punya banyak target yang membuatku semakin sadar bahwa progresku saat itu belum apa-apa.
Mahasiswa S3 normal di Delft biasanya ditargetkan menerbitkan 4 paper di jurnal bereputasi (dan ini gak sekeadar bereputasi, tapi Q1, top 25%) dalam kurun studi 4 tahun. Di ITB, kewajibannya hanya 1 paper, dan itu pun terkadang kualtias jurnalnya tidak terlalu dilihat. Ketimpangan ini yang membuatku lebih paham lagi privilege kuliah di luar negeri. Meski begitu, aku tetap berusaha mengejar kualitas setara dengan Delft, dan ya tentu saja Wim juga menginginkan demikian. Sayangnya, aku mengejar itu dengan fasilitas yang berbeda. Paling tidak dari segi supervisi. Ketika mahasiswa Delft bisa rutin diskusi dengan Wim sehingga lebih cepat dapat feedback atas apa yang dikerjakan, aku hanya bisa diskusi secara terbatas 2 pekan sekali dan itupun online. Frekuensi diskusi ini sangat sangat mempengaruhi, karena pada dasarnya proses studi S3 dalam bentuk riset adalah proses siklis rutin mengerjakan mandiri dan diskusi dengan pembimbing ataupun teman sejawat. Wim cerita terkait hal ini karena ia sendiri pun berharap aku jga bisa ke Delft. Prosesku pun menjadi sangat sangat lambat. Karena ketika aku mengerjakan suatu hal, aku harus menunggu 2 pekan berikutnya untuk mendapat komentar atau bertanya yang tidak ku pahami. Wim sebenanrya sampai mengingatkanku untuk tidak masalah mengirimnya email di tengah-tengah pekan bila ada yng ingin ditanyakan.
Well Va, ada faktor lain juga yang bermain di sini. Mengerjakan studi/riset sendiri secara online secara mandiri, apalagi dari rumah karena Covid, membuat distraksi lebih mudah menguasai. Jangan lupa Va bahwa 2020 itu juga masa anakku mulai MPASI dengan segala macam lika-liku masalahnya. Berada di rumah tentu saja membuatku tidak bisa begitu saja cuek atas apa yang terjadi pada anak dan istriku sehingga tantangan distraksi jadi jauh lebih besar. Lebih-lebih lagi, aku pada awal 2020, entah keidean dari mana, tetiba ikut program Bangkit dari Google dan akhirnya mendalami machine learning. Ketika Covid datang, banyak bantuan kursus online dimana-mana, yang membuatku jadi gila-gilaan belajar ini itu dari data sains, machine learning, frontend & backend, bahkan hingga android app development. Buanyak sekali sertifikat pelatihan yang ku dapat sepanjang 2020 itu. Mungkin kau bertanya mengapa. Ya alasannya selain bahwa aku memang penasaran, aku pakai mode “survive” sejak menikah, sehingga agak sedikit lebih pragmatis dalam belajar. Teknologi data dan yang terkait mulai ngetren pada saat itu, ditambah lagi Covid yang memicu akselerasi digital. Ya why not belajar data sains dan semacamnya yang mungkin kelak bsa jadi sedikit nilai plus untuk membuka jalur lain dalam kehidupan. Apakah itu berarti aku mulai open to industry? Well, at that point, yes. Ketika aku lulus dari progarm Bangkit, aku malah sempat cari-cari lowongan. Konyol? Yah, begitulah mode survival Va. Aku saat itu belum punya pekerjaan tetap, dan yah kau mungkin tau kisah dimana aku ditolak sekian kali mendaftar dosen dan PNS.
Bagaimana dengan S3-ku? Yah tentu saja jadi sangat melambat. Well, aku saat itu tetap rutin mengerjakan, tidak pernah sedikitpun aku tinggalkan. Hanya saja, jadi melambat, karena alokasi waktunya semakin sedikit, plus distraksi, plus feedback yang frekuensinya terlalu lama. Plus, ada banyak masalah di rumah yang tidak bisa ku ceritakan. Ya intinya itu masa dimana aku seperti hilang semangat untuk S3. Aku bahkan merasa 2020 itu adalah tahun yang terasa sangat cepat, karena tiba-tiba berlalu begitu saja tanpa aku melakukan apa-apa. Ya, efek Covid yang mungkin subliminal. Anyway, yang tetap memacuku untuk terus menyelesaikan S3 adalah beasiswa yang semakin mendekati deadline. Begitulah Va. Beasiswa voucher hanya untuk 3 tahun, yangberarti 2021 tengah sudah terputus. Pada saat 2020 aku masih cukup optimis dengan syarat dari ITB yang bisa dikatakan minimalis. Tapi semua berubah ketika aku menyadari Wim ingin lebih…..
Aku terhenti sejenak. Mendadak memoriku seperti menipuku. Ada yang terlewat dari apa yang sebenarnya terjadi. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu itu, namun terus berusaha memikirkannya tidak sedikitpun berujung pada pencerahan dalam ingatan. Dalam saat-saat seperti inilah arsip bermain peran. Aku buka browser di laptopku dan membuka laman surel. Aku buka beberapa tab sekaligus untuk laman surel yang sama, namun setiap tab aku masukkan kata kunci berbeda pada bagian pencarian. And here we are. Selama sekian menit mataku naik turun mengamati ratusan surel percakapanku dengan pembimbing. Ada kelebihan tersendiri sebenarnya berkomunikasi via surel. Selain lebih rapih, pengarsipannya lebih baik ketimbang hasil komunikasi via media chatting seperti Whatsapp yang bisa menghasilkan ribuan percakapan tak terstruktur dimana satu informasi terselip bisa sangat sukar ditelusuri.
Beberapa surel ku buka, selagi berusaha menyusun alur narasi di kepala atas apa yang sesungguhnya terjadi di masa lampau. Memoriku perlahan teraliri kembali, dengan kepingan-kepingan puzzle kejadian sedikit demi sedikit mengisi ruang kosong kealpaan. I see. Aku mulai ingat. Ya, betapa perjalanan yang sangat… well panjang. Tapi tentu panjang atau tidaknya ini hanya bisa dipahami dalam perspektifku sebagai yang mengalami, karena jika melihat semua proses ini dari luar dan tak memahami detailnya seperti yang ku rasakan sekarang dengan melihat dari kacamata masa depan setelah melewati sidang, proses itu terlihat sangat pendek dan sederhana. Aku susun linimasa yang rapih untuk melihat perjalanan itu secara runtut. Aku buka microsoft word dan mengetik kembali.
On second thought Va. Aku merasa ada yang kurang dari ceritaku sebelumnya. Jadi mungkin aku coba tuliskan yang lebih runtut kal ini. Oke aku memulai S3 di ITB pada Juli 2018. Semester pertama dihabiskan langsung mengambil semua kelas yang menjadi syarat wajib, selagi mempelajari ajuan topik yang diberikan Wim sebelumnya. Wim hanya mengajukan topik umum, yakni apa yang dikenal dengan Masalah Batas Bergerak, dengan beberapa referensi. So, aku habiskan waktu-waktu awalku untuk mempelajari semua referensi itu dan mencoba menguasai domain problem yang ku hadapi. Semester kedua, awal 2019, aku masih melakukan hal yang sama, ambil satu dua kelas, dengan fokus mengulik topik dari referensi-referensi melalui review paper dan buku. Harusnya kala itu aku sudah mulai susun proposal namun aku belum bisa memutuskan masalah spesifik yang akan aku kerjakan. Pak Theo sendiri pun belum bisa memutuskan, hingga akhirnya pada Mei 2019 (sudah dekat banget akhir semester sebenarnya) Pak Theo menghubungi Wim dan voila, aku menerima problem pertamaku yang bisa aku kerjakan. Aku mulai kerjakan sebisaku. Pak Theo dekat itu kalau gak salah juga pergi ke Belanda, sehingga ketika balik membawa pulang beberapa ide awal dari Wim. Proposal pun aku susun dan selesaikan. Satu tahun pertama S3, check.
Semester ketiga, tengah 2019, dengan semua syarat matkul kelas sudah terpenuhi, aku tinggal fokus riset. Juli-Agustus Wim ke Jogja dan aku mendapat banyak feedback di sana. Setelah itu, aku kerjakan terus sejauh yang ku bisa, dengan semua ekstensi dan ide yang ku kembangkan sendiri. Sampai saat ini aku belum diskusi rutin dengan Wim. Jadi bisa dikatakan di tahun pertama dan kedua S3 ini aku murni ngerjakan hanya dengan Pak Theo, dengan target-target yang kami siapkan sendiri (tanpa tahu apa yang dipikirkan Wim). Akhir 2019 ke awal 2020, aku mulai siapkan program Sandwich untuk keberangkatan ke Belanda pada tengah 2020. However, Maret 2020 Covid melanda dan lockdown besar. Juli 2020, lockdown mulai terangkat sedikit sebenarnya, namun masih tidak memungkinkan untuk berpergian. Pihak Delft sendiri lagi melarang tamu untuk datang. So, Juni 2020 resmi surat dari Wim bahwa aku harus menunda ke Delft ke tahun depannya. Sementara itu, semester keempat aku masih mencoba mengerjakan semua yang bisa kukerjakan, dengan mengikuti beberapa seminar dan konferensi untuk syarat S3. Sampai titik ini, PDLK (sebutan untuk tahap progres di S3 matematika) ke-2 sudah terpenuhi, yang mana PDLK 1 adalah seminar nasional, PDLK 2 adalah seminar internasional. Dari 4 PDLK, aku kurang 2 lagi, dan 2 PDLK yang terakhir ini mengharuskan publish ke prosiding internasinal (PDLK III) dan submit ke jurnal internasional (PDLK IV). Untuk PDLK III sebenarnya syaratnya sudah aku penuhi karena sudah ada prosiding yang ku punya, tinggal pelaporan saja, jadi technically, aku hanya kurang PDLK IV. Namun sayang, justru tahap terakhir ini yang kemudian seperti dibelokkan jauh dari target. Ibarat dalam suatu perjalanan, tujuan akhir sudah terlihat, tapi untuk mencapai kesana harus berbelok jauh yang jaraknya lebih jauh dari apa yang sudah ditempuh sebelumnya. At least, tahun kedua S3 aku masih anggap lancar, selain masalah Covid.
Semester kelima, aku memasuki tahun terakhir beasiswa. Melihat progres yang ku telah lalui, tntu saja aku optimis bisa lulus sebelum beasiswa putus. Ya 2 tahun ini aku sudah selesai semua syarat sampai PDLK III. Toh tinggal submit 1 jurnal lagi, dan sisa 1 tahun itu waktu yang harusnya cukup… Sayang, itu menjadi sebuah pandangan yang tootally wrong. Oh ya, selama Covid, aku bimbingan dengan Pak Theo sendiri juga cukup jarang, karena well, masih belum terbiasa dengan komunikasi daring. Oktober 2020, pak Theo mulai mencoba mengadakan bimbingan via Zoom, dan November 2020, beliau mulai mencoba mengajak Wim terlibat. Dan di sinilah semua berubah, ketika Wim has joined fully the team. Secara pribadi aku sudah mengerjakan beberapa hal, namun yang Wim lihat hanya 1, yakni problem spesifik yang ia tawarkan di awal, sebut saja problem A. 1 problem lagi yang kukerjakan, sebut saja problem B, diakui oleh beliau namun butuh banyak perbaikan. Problem A kemudian ku susun rapi dalam bentuk paper, dengan harapan memang tinggal perbaikan sedikit dan kemudian bisa disubmit ke jurnal. Somehow, ketika melihat itu, Wim merasa itu sudah cukup dan malah memintaku untuk mengerjakan problem lain lagi, sebut saja problem C. Padahal, sebenarnya problem A itu sudah 95% selesai. Well, aku hanya bisa manut. Aku bertekad problem C ini bisa ku selesaikan dengan cepat.
Ya, rencana dan tekad itu terkadang tidak selalu berbuah hasil yang diharapkan. Problem C ku kerjakan full dari November 2020, dan kau tahu Va, baru dianggap “selesai” pada Oktober 2021. Hampir satu tahun! Itu bukan karena aku menunda-nunda atau bagaimana, tapi ya karena sejak Wim joined the team, target-target membesar namun frekuensi bimbingannya cuma 2 pekan sekali. Wim memakai standar Delft. Beliau seperti tidak akan terima aku lulus hanya 1 paper internasional. Dan standard beliau adalah jurnalnya harus top rank, jadi hasilnya harus bagus banget. Yah, jadi ketika aku menembus Juli 2021, itulah ketika beasiswa tidak lagi mengalir. Aku mencoba apply untuk beasiswa baru. Saat itu namanya ganti jadi GTA (Ganesha Talent Assistantship), yang esensinya sama dengan beasiswa voucher. But somehow, aku tidak diterima. So that’s it untuk tahun ke-3 S3, riset yang semakin menggila dengan target yang membesar dengan semakin terlibatnya Wim.
Sedikit konteks untuk tahun ke-4 ini, tahun 2021 ada 2 perubahan besar dalam hidupku. Pertama, aku diterima sebagai dosen di Universitas Telkom (Tel-U). Ya, setelah menempuh sekian lamaran dan tolakan, akhirnya aku punya pekerjaan tetap. Sangat membantu, karena paling tidak aku punya pegangan 5 juta per bulan. Efek sampingnya, aku jadi harus lebih ketat dalam mengatur waktu karena aku jadi punya kewajiban lain seperti mengajar dan juga penelitian di sana selain S3. Penelitian di Tel-U pun harus berkaitan dengan teknologi sehingga aku harus banyak penyesuaian. Untungnya, aku 2020 kan memang koleksi banyak sertifikat terkait skill2 teknologi. Ya itu salah satu hikmah. Aku juga diterima di Tel-U karena punya daya tawar itu. Perubahan kedua, aku mulai pindah ngontrak sendiri karena memang dari awal tidak mau lama-lama bersama mertua. Dulu ketika hidup bersama mertua, banyak keringanan dalam hidup aku dan istri dapatkan, karena di sana ada ART yang membantu bersih-bersih. Selain itu, tentu biaya hidup juga sudah tertanggung untuk tempat tinggal dan juga makanan. Ketika kami memutuskan untuk kontrak, jelas tantangannya berubah besar, baik dari segi waktu dimana aku harus mulai membantu istri dalam mengurus rumah juga dari segi finansial karena harus bayar kontrakan (beserta ini itunya seperti listrik internet, dll). So, ketika beasiswa putus, itu bukan hal kecil, karena 15 juta per semester berarti harus menyisihkan 2.5 juta per bulan, which is setenah dari gajiku di Tel-U. See? Semua makin ketat. Untungnya Pak Theo mencoba membantu dengan melibatkanku sebagai anggota riset beliau sehingga aku ada pemasukan tambahan. Ya selebihnya, stress levelku dalam menjalani S3 mulai tinggi dan aku mulai tidak tenang. Aku ingat kala itu aku berusaha mencari celah agar bisa publish paling tidak 1 paper syart agar bisa lulus di ITB minimal. Riset dengan Wim bisa dilanjutkan belakangan. Ya itu pun bukan hal yang mudah karena aku tidak mungkin tiba-tiba submit tanpa sepengetahuan Wim, kecuali aku punya hasil mandiri yang tidak melibatkan beliau, which I don’t have. Dalam “keterburu-buruan” untuk ingin segera lulus itu pun aku sampai mengambil langkah yang ternyata fatal. Setelah lulus sebagian besar matkul dan tersisa matkul sidang dan disertasi, kedua matkul ini aku langsung ambil pada semester 6 (awal 2021) dengan keyakinan bahwa aku bisa sidang pada tahun itu, yang ternyata tidak tercapai. Akhirnya ketika masuk semester 8, awal 2022, karena umur matkul hanya 2 semester, kedua matkul tersebut, sidang dan disertasi, hangus dan dapat E langsung. Tentu ini fatal karena membuat anjlok Ipku. Well, meskipun kecewa, there’s nothing I can do. Berharap saja nanti yang dilihat adalah IP bersih.
Dan begitulah 2021. Ketika Oktober 2021 progresku pada problem C sudah cukup jauh. Wim baru kemudian mau melirik lagi draf problem A yang sebenanrya tinggal penyempurnaan. Sayangnya, itu pun pakai hambatan dulu. Ada hasil di problem A yang Wim tidak setuju sedangkan aku sendiri punya alasannya. Sekian bulan aku habiskan hanya untuk bisa menyesuaikan hasilnya agar Wim setuju (padahal itu tinggal 5% lagi). Barulah kemudian paper ini final dan bisa disubmit April 2022. Man! Lama sekali. Itu kelegaan terbesarku. Paper ini disubmit di jurnal Q1, yang memang ditargetkan Wim dari awal. Aku sebenanrya pun masih khawatir karena sering mendengar kabar proses review yang bisa berbulan-bulan, sedangkan aku butuh status accepted untuk bisa sidang. Selagi menunggu review, aku kembali mengerjakan problem B, yang ternyata lebih lancar dan cepat (sebenanrya karena sudah tinggal dikit juga). September 2022 aku sudah siap paper dari problem B untuk disubmit juga. Alhamdulillahnya, paper yang problem A diterima pada Juni 2022, yang ya tergolong sangat sangat cepat! Wim bercerita bahwa itu pentingnya presisi dalam menulis paper (yang sebelumnya menghabiskan waktu 6 bulan dari Oktober 2021-Maret 2022 hanya untuk penyempurnaan hasil). Beliau mengatakan tidak masalah lama dan detail dalam menulis, tapi hasil memuaskan, sehingga reviewer pun tidak banyak komentar. Well, I won’t argue with that. I just… have limited time here dengan setiap semester yang bertambah berarti uang harus keluar.
Dengan 1 paper diterima, aku bisa langsung sidang dong. Tapi eit, tidak semudah itu juga. Pak Theo mengerti Wim punya target lain dan untuk menghargai Wim, Pak Theo menyarankanku untuk menyelesaikan 1 paper lagi. Ya syukurnya problem B selesai dengan lebih cepat sehingga September 2022 sudah siap submit. Aku pun langsung bergeser lagi ke problem C, yang juga sudah mau selesai. Dengan 3 hasil di tangan, Pak Theo baru memberi lampu hijau untuk sidang. Finally! Sebelumnya pak Theo mau mengusahakanku tahun itu untuk bisa visit ke Delft setelah gagal berangkat 2 tahun. Harapannya dengan ke Delft, aku bisa akselerasi progres sehingga punya lebih banyak hasil sebelum sidang (ya kalau bisa 4 paper seperti standard Delft). Akan tetapi saat itu pun pemberi dananya masih tidak megizinkan keberangkatan ke luar negeri. Soo, batal lagi deh. Uangnya pun kemudian dipakai untuk mengundang Wim ke Indonesia, yang kemudian waktunya dipaskan agar bisa turut hadir saat aku sidang. Tanggal pun ditetapkan, awal November. Aku sudah bergidig membayangkan sidangku (meski tanggal itu ditetapkan jauh 1 bulan sebelumnya), karena Wim hadir dan aku harus menggunakan bahasa Inggris. Aku menguatkan hati dan mengembalikan gengsiku. Ya, gengsi bahwa meskipun aku lulusan ITB, kualitasku bisa seperti lulusan Delft, dengan sidang pun pakai bahasa Inggris, pembimbing dari Delft, dan hasil 3 paper (meski yang publish baru 1).
Bahkan sebenarnya ketika rencana Wim untuk datang ke Indonesia mulai dibicarakan, Pak Theo tiba-tiba mengatakan aku bisa berangkat ke Belanda setelah Wim pulang, yakni sekitar pertengahan November. Itu begitu mendadak sebenarnya dengan pikiranku juga harus terfokus pada sidang. Wim juga bahkan kemudian sudah sampai mempersiapkan tempat tinggal di sana. Sayang, untuk kesekian kalinya lagi, itu pun harus batal karena pengurusan Visa tidak bisa mendadak. Dengan mulai dibukanya penerbangan internasional, orang-orang seperti mulai berbondong2 pergi, sehingga untuk mengurus visa paling tidak harus 3 bulan sebelum. Setelah penyesuaian, akhirnya direschedule lagi agar aku mungkin bisa berangkat Juni 2023. Yah, semoga.
Apa yang ku pelajari dari ini semua Va? Entah. I’m not sure. Yang jelas, aku kembali terus merasakan apa yang memang selama ini selalu terjadi kepadaku, yakni bagaimana selalu berusaha menjadi air, mengusahakan yang terbaik atas semua kemungkinan di depan mata, namun stay liquid atas jalur apa yang akhirnya tersedia. Aku sendiri pun sebenarnya tidak terlalu banyak tertekan atas apa yang telah terjadi. Well, tekanan itu jelas ada, terutama dari orang tua. Aku ingat banget Va ketika 2021 hampir setiap saat orang tuaku menanyakan status S3ku, yang semakin membuatku tidak bisa menikmati prosesnya. Tapi memang semua itu bagaimana hati menanggapi. Di sisi lain, entah kenapa Wim selalu membuat kesan seakan-akan masih banyak yang perlu dikerjakan, sehingga titik akhir itu tidak pernah terasa nampak bagiku. Yang membuatku tidak punya pilihan banyak selain menikmati segala prosesnya, karena semakin aku memikirkan ujung perjalanan yang tak kunjung terlihat, justru semakin menyiksa aku sendiri. Meskipun aku tidak bisa sepenuhnya menghilangkan bayangan atas akhir perjalanan, namun S3 ini terus menerus menempaku untuk benar-benar secara totalitas fokus pada proses. In the end, I never thought I will eventually menghasilkan 3 paper. Dipikir-pikir pun, ketiga paper itu semua selesai dalam 2 tahun kurang lebih (dari tengah 2020 sampai akhir 2022), sehingga mungkin kalau Wim terlibat lebih awal, atau ada kesempatan lebih untuk bisa berdiskusi secara langsung, hasil yang bisa kuberikan mungkin akan lebih. So, overall, ini hasil yang cukup memuaskan. Bagaimana menurutmu Va?
Ku terdiam. Melihat balik apa yang sudah berlalu memberi dua kesan yang bertentangan tapi ada secara bersamaan. Semua proses itu terasa begitu singkat dan sederhana sekaligus terasa begitu panjang dan penuh lika-liku. Aku menarik napas panjang, dengan beragam visual seperti menciptakan slideshow dalam pikiranku, tentang bagaimana semua itu telah terlewati, termasuk masa-masa dimana “tuntutan” orang tuaku dalam bentuk pertanyaan terus menerus membuat jiwaku sempat break sejenak. Bulu romaku berdiri, diiringi aliran rasa yang seakan kembali dari masa lalu. Yang membuat itu terasa berat adalah karena ibuku tidak terlalu peduli pada konsep kualitas hasil akademik, sehingga ketika dijelaskan terkait target paper, jurnal Q1, dll, beliau kurang menaruh perhatian dan hanya terfokus ingin aku segera lulus. Aku melihat di luar jendela bahwa hujan mulai mereda. Tetiba udara terasa dingin, sehingga jaket yang tersampir di sandaran kursi segera ku kenakan. Untuk kesekian kalinya, aku isi kembali cangkirku dengan air hangat. Ya, walaupun tidak benar-benar ku hitung, kebutuhan minum 8 gelas per hari itu aku coba jalankan sekonsisten mungkin. Setelah membenarkan posisi duduk, tanganku kembali menari di atas papan tuts.
Aku sebenarnya tidak yakin apakah aku sudah berjuang semestinya, karena pada faktanya dalam keselurhan perjalanan itu, aku masih bisa melakukan hal-hal lain, dari menikmati walkthrough game, nonton series, berorganisasi, menulis, belajar ilmu lain, dan banyak lainnya, yang membuatku merasa sebenarnya proses yang ku alami tidak separah itu. Akan tetapi, aku jadi sadar bahwa sebenarnya yang diuji dariku atas perjalanan S3 ini bukan lah kemampuan akademik, bukanlah ketangguhan untuk terus riset, bukanlah kapabilitas untuk mencari solusi atas apa kesulitan yang kutemui. Bukan. Namun, yang diuji dariku justru adalah keseimbangan hidup dan penerimaan ego. Aku menempuh S3 secara pararel dengan begitu banyak hal lain dalam hidup, sehingga aku belajar untuk terus memaksimalkan proses namun dengan kadar yang cukup sehingga bisa seimbang dengan kebutuhan atau kewajiban lainnya. Yang terpenting adalah tidak meninggalkan sama sekali atau tidak mengerjakannya setengah mati sampai meninggalkan banyak hal lainnya. Titik tengah itu adalah yang utama. Lagipula, usahaku juga ada batasannya, karena sejauh-jauh aku memaksimalkan progres risetku, aku hanya akan tetap dapat feedback dalam 2 pekan yang terkadang kalau terlalu banyak inisiatif bisa menjadi sia-sia. Mungkin saja seharusnya aku bisa lebih efektif mengatur waktu, tapi aku tidak tahu. Apakah ada kemungkinan yang lebih baik dari apa yang sudah ku tempuh, aku tidak tahu. Misteri terbesar dalam hidup adalah kita tidak tahu versi “terbaik” bagi diri kita. Yang kita tahu hanya apa yang sudah kita lakukan. Apakah itu sudah usaha yang terbaik, kita tidak pernah tahu. Terkait hal ini, ku teringat sebuah kutipan penting “bagaimana mungkin kita menyesali satu-staunya hidup yang kitta ketahui?”
Yah, and here we are at the end of the story. Well, almost the end. Apa yang tersisa adalah persiapan sidang, dan khusus ini Va, everything is happened so fast. Setelah Maret 2022 paper pertama disubmit, Juni langsung ada tanggapan dari reviewer untuk revisi yang sangat minor, sehingga dalam 1 pekan pun sudah bisa dikirim balik. Sebulan kemudian, Juli 2022, paper pertama secara resmi diterima. Syarat utama untuk sidang pun terpenuhi, aku segera mulai membuka kembali file buku disertasi, yang sebenarnya sudah pernah aku cicil namun perlu banyak tambahan dan penyempurnaan. Sebenarnya sejak dapat tanggapan Juni, meski belum accepted, aku sudah mulai mencoba menyelesaikan buku disertasi. Pak Theo pun cukup responsif dan mulai memberi feedback pada buku. Draf komplit pertama dair disertasi selesai pada bulan Agustus. Pada kala itu aku masih ingin menargetkan wisuda Oktober, namun ternyata pak Theo sendiri ingin aku menambah lebih banyak hasil dan sekalian lulus April 2023 saja, yang menurut beliau sama saja karena tidak akan nambah biaya selama sidangnya sebelum akhir tahun. Lagipula memang untuk bisa wisuda Oktober, aku harus sidang paling lambat awal September, yang sudah cukup mepet dalam posisiku kala itu.
Draf awal buku Disertasiku tidak banyak bisa diperiksa oleh Pak Theo karena kesibukan beliau. Pada saat itu, sudah ada rencana Wim untuk bisa ke Indonesia akhir Oktober atau awal November, sehingga pak Theo ingin aku sidang saat Wim di Indonesia (yang membuatku jadi overthinking). So, karena waktunya sempit, Pak Theo menyuruhku untuk submit dulu buku itu ke fakultas agar bisa segera direview oleh tim penguji. Dan aku kumpulkanlah pengajuan sidang dengan buku Disertasi ke fakultas pada awal September 2022. Semua ini selagi aku mengerjakan problem B yang ternyata cukup cepat selesai pada akhir September, sehingga awal Oktober sudah bisa submit paper lagi. Tengah Oktober, review dari Tim Penguji sudah didapatkan, yang sebenanrya bisa diprediksi akan cukup banyak karena draf itu prematur. Tapi tak apalah, namanya dikejar waktu. Dalam waktu sekitar sepekan aku selesaikan semua revisi sesuai komentar penguji. Sebenarnya itu pun tidak komplit karena penguji hanya bisa mengomentari beberapa bagian saja (salah satu penguji bahkan ngomel ke aku karena waktu reviewnya termasuk terlalu cepat). Pekan ke-2 Oktober, revisi dikirim. Pekan ke-3 Oktober, respon persetujuan diterima. Syarat-syarat sidang pun harus segera dipenuhi. Yang membuatku kaget adalah tiba-tiba diputuskan aku langsung sidang terbuka!
Bagaimana aku tidak kaget Va. Yang umum dilakukan sebelumnya adalah sidang tertutup terlebih dahulu, dimana yang hadir Cuma Tim Penguji dan Tim Pembimbing dan disitu disertasi dibedah dan diuji habis-habisan. Hasil sidang tertutup tentu adalah penyempurnaan total disertasi karena sudah dibedah mendalam, yang baru kemudian diajukan ke Sidang Terbuka untuk dipromosikan ke publik. Apa yang ditanya di sidang terbuka biasanya adalah “formalitas” karena lebih fokus pada mengumumkan hasil ke publik. Memang kemudian aku dengar ada perubahan aturan, tapi yang ku tangkep adalah bahwa sidang terbukanya menjadi opsional, tidak selalu dan tidak harus dilakukan. Lebih tepatnya hanya dilakukan untuk hasil-hasil yang dianggap bagus untuk dipromosikan. Tapi, dalam bayanganku, sidang tertutup akan selalu dilakukan. Maka dari itu, ketika mendengar bahwa aku langsung sidang terbuka tanpa sidang tertutup, aku kaget, bingung mau senang atau panik. Senang karena prosesnya jadi lebih singkat, tidak perlu dibantai di sidang tertutup dulu; panik karena itu berarti sidang terbukaku bisa jadi seperti sidang tertutup, karena itu satu-satunya kesempatan Tim Penguji untuk membedah disertasiku. Selain itu, tanpa melalui proses sidang tertutup, aku khawatir buku disertasiku kurang sempurna.
Tapi Va, itulah yang terjadi. Aku sampai bingung apakah ini prosedur yang benar ataukah ada tangan lain yang bermain. Yang jelas, aku yakin salah satu alasannya adalah karena kedatangan Wim ke Indonesia. Entah agar Wim bisa lebih efektif mengikuti proses sidangnya (tanpa harus 2x sidang), atau karena terkejar waktu yang mepet karena Wim hanya 1 pekan di Bandung. Sampai sekarang pun aku masih tidak tau jawabannya. Bahkan salah satu pembimbing, pak Agus, menanyakan apakah ini tidak dipermasalahkan oleh FMIPA karena seharusnya prosesnya gak seperti ini. Well, aku tidak bisa jawab karena mungkin saja pak Theo yang punya andil.
Entah kenapa pada masa-masa sempit itu aku melihat pak Theo yang justru sangat semangat dengan sidangku, sementara aku bergidik dalam banyak kekhawatiran. Beliau sampai sudah mengatakan mau mengundang aku dan ortuku makan-makan pada malam setelah sidang, yang membuatku jadi khawatir ada kesan “terlalu cepat senang”. Undangan pak Theo itu membuatku jadi harus mengabari ortu lebih awal, yang di luar ekspektasiku ternyata juga sangat semangat dan langsung mau pesan tiket ke Bandung! Ah. Aku tidak tahu mau senang atau makin panik. Aku mau membuat mereka bangga tapi di sisi lain aku yakin ortuku tidak akan mengerti apa yang aku hasilkan di S3. Well, ibuku kemudian mengatakan bahwa bapakku lah yang sangat semangat dan menganggap itu momen paling penting yang harus dihadiri. Aku pun jadi ingat masa ketika bapakku sendiri yang sidang doktor dimana aku, ibu, dan mas Andi pun turut hadir di sana. Well tak apalah. Ini berarti aku harus tunjukkan yang terbaik. Dalam hal itu, Pak Theo pun mengingatkanku bahwa sidang tebruka adalah ajang promosi, jadi yang kita prsentasikan harus sesederhana mungkin agar publik paling tidak dapat gambaran besarnya.
Pekan ke-4 Oktober, tanggal ditetapkan. Aku segera mengurus semua keperluan, dibantu istriku untuk urusan konsumsinya. Selama 2 pekan itu jantungku berdetak kencang. Somehow aku tidak pernah setegang itu sebelumnya. Biasanya aku mulai tegang ketika dekat-dekat dengan waktunya, seperti ketika menikah dimana aku tidak bisa tidur pada malam sebelumnya. Namun, dengan itu aku jadi lebih punya waktu untuk menenangkan diri. Ditambah lagi, kedatangan Wim pada awal November mengalihkan sedikit pikiranku, karena justru aku malah mengerjakan problem lain yang tidak aku taruh di disertasiku (yakni penuntasan problem C). Kehadiran Wim adalah ajang bagiku untuk akselerasi progres, seperti ketika di Jogja, maka aku manfaatkan waktu sebisa mungkin. Ya semua itu jadi pengalih yang cukup baik karena dengan itu aku tidak tersiksa pada overthinking yang terlalu lama. Sampai-sampai, dengan sidang di hari Selasa (8 Nov), aku baru mengerjakan slide untuk sidang pada Jum’at sebelumnya. Pada hari Jum’at itu pak Theo memintaku untuk rehearsal dan aku pun mendapat banyak masukan yang somehow sangat sangat bermanfaat. Sabtu-Minggu aku habiskan untuk latihan dan penyempurnaan. Yang meyebalkan adalah, karena disertasiku bisa dikatakan diproduksi terlalu cepat, bahkan sampai dekat sidang, aku masih menemukan kesalahan tulis di disertasiku (yang kemudian jadi bahan omelan tim Penguji). Tapi ya begitulah. Herannya, meskipun aku mulai tidak tenang jauh-jauh hari, semakin dekat ke hari sidang aku justru semakin lebih tenang.
Entah menurutmu bagaimana Va dengan ceritaku, tapi bagiku itu semua terjadi dengan sangat cepat. Ketika paper pertama diterima pada Juni 2022, aku sudah berpikir minimalis dengan “tak apa lah aku S3 cukup dengan 1 paper, toh di jurnal Q1”. Never slips to my mind that ketika hari sidang, aku bisa cukup bangga bahwa sebenanrya ada 3 paper yang dihasilkan, dengan 1 publish, 1 submit, dan 1 draf, dan semuanya cukup yakin berkualitas jurnal Q1. Yang ketiga ini bisa cukup yakin ku sampaikan karena memang ketika sepekan sebelum sidang aku sempurnakan secepat mungkin hasil ketiga itu selagi Wim di Bandung.
Hari H sidang. Aku sudah tidak mau ambil pusing banyak hal. Aku coba pikirkan hal-hal sederhana. Aku bahkan sudah tidak ingin pedulikan penguji. Aku hanya ingin aku terlihat memuaskan di mata orang tua dan siapapun yang hadir. Kalau penguji menanyakan hal teknis, toh yang hadir tidak akan paham. Sebenarnya pun, karena budaya (yang aku juga kaget mengetahuinya), aku bisa menanyakan ke tim penguji kira-kira apa yang akan ditanyakan pada sidang terbuka. Terkait itupun sebenarnya aku sangat sungkan karena aku tidak melewati sidang tertutup, sehingga sangatlah tidak pantas jika lantas aku menanyakan tim penguji atas apa yang akan ditanyakan. Budaya itu ada karena tim penguji sudah selesai membedah dan menguji pada sidang tertutup, sehingga sidang terbuka cukup hanya formalitas saja. Meskipun begitu, akku tetap coba tanyakan ke tim penguji dengan bahasa tidak langsung, yang,,, tidak mendapatkan respon yang eksplisit sehingga aku harus tetap menerka apa yang sebenarnya akan ditanyakan. Overall, aku pun kaget dengan performaku hari itu. Aku termasuk orang yang bicara sangat cepat, apalagi ketika grogi. Pada hari itu, untuk pertama kalinya, aku bisa kontrol itu. Pertanyaan tim penguji tidak semua bisa kujawab, tapi I don’t care, yang terpenting adalah sikapku dalam menjawab itu. Ku ingat nasihat Wim pada pekan sebelumnya bahwa, yang utama adalah sikap akademik kita, yakni menjawab dengan bertanggung jawab. And that’s it, semuanya selesai before I realize it. Mendadak semua terasa sangat lapang.
Fyuh. Aku menghela napas. What a story, batinku. Mungkin orang lain yang membaca akan melihat ini curhatan tidak jelas yang berisi narasi biasa seorang mahasiswa S3, tapi secara personal jelas kisah ini sangat berbeda dimataku sendiri. Ku harap Minerva tidak bosan membaca ini. Aku lempar tatapanku ke arah keluar jendela, mengistirahatkan mataku dari melihat layar. Ah, hujan di luar mulai mereda. Aku mulai mempertimbangkan untuk mencukupkan ini semua dan segera pulang sebelum langit mulai menangis kembali, namun segera mengurungkan lintasan pikiran itu ketika rintik air mulai turun kembali. Betapa anehnya cuaca sekarang. Aku putuskan untuk selesaikan surat ini. Mataku kembali ke layar.
That’s it Va. Aku pribadi sebenarnya masih merasa kurang pantas atas sidang yang ku lalui, karena mungkin, sebagaimana pak Theo dan Wim sendiri katakan, seandainya waktunya ditambah sedikit, hasil yang ku dapatkan akan lebih banyak, bahkan mungkinn bisa 4 paper sehingga setara lulusan Delft. Lagipula semua memang terasa terburu-buru. Anyway, what’s done has been done. Tentu ada banyak lagi renungan yang tertinggal di balik ini semua, karena justru kelulusan doktor ini menghadapkanku pada banyak kemungkinan di masa depan, dengan beragam pertanyaan seperti biasa. Tapi, mungkin itu untuk lain waktu kawan. Biarlah kali ini aku hanya murni bercerita.
Senang rasanya kembali merekam jejak seperti ini, meskipun agak sedikit susah payah karena aku sudah lama tidak konsisten menulis. Ketika menulis ini aku semakin sadar Va, betapa kebiasaanku menulis dulu, untuk sekadar menuangkan isi pikiran pada berbagai situasi, menjadi rekaman masa lalu yang terkristalisasi, yang bisa kubaca dikemudian hari, sebagai narasi memori atau bahan untuk refleksi. Ku ingat ketika aku menulis buku “1463 Hari Anggota KM ITB”, aku cukup membuka catatan-catatanku di buku diary maupun media sosial, dimana semua terekam rapih. Dipikir-pikir, betapa rajin juga diriku kala itu Va. Membuat status facebook secara rutin dalam berbagai keadaan, dan menyempatkan menulis catatan walau mungkin tidak harian. Sekarang, aku sudah tidak punya media sosial, plus semakin jarang juga menulis catatan, sehingga aku harus mengorek sisa-sisa surel dan mengais endapan potongan-potongan ingatan untuk bisa melihat secara utuh seluruh prosesnya secara lengkap.
Well, aku berterima kasih Va, meski entah apakah akan kau baca. Aku tunggu balasan darimu segera, bila kau memang masih hadir di sana.
Salam Kawanmu,
Finiarel
Aku langsung menutup laptopku.
Aku tetiba merasa sangat lelah. Kemampuanku untuk menulis panjang sepertinya semakin melemah. Mungkin aku harus mulai kembali menetapkan arah, untuk konsisten menulis dengan gairah. Entahlah. Tidak semudah itu mengembalikan kebiasaan yang lama dorman oleh kesibukan.
Aku menghela napas. Betapa banyak yang telah berubah, apalagi jika gambaran tentang diriku di masa lampau kembali hadir selintas. Namanya waktu, perubahan adalah sebabnya berlalu. Aku tidak tahu mengarah kemana, tapi satu titik ini, sidang doktor ini, menjadi salah satu pijakan, untuk lebih banyak kemungkinan di masa depan.
(PHX)