Kesetiaan pada Prinsip
Review Film Braveheart (1995)

Judul : Braveheart
Sutradara : Mel Gibson
Tanggal Rilis : 24 Mei 1995
Durasi : 178 menit
Genre : Biografi, Drama, Sejarah
Pemeran : Mel Gibson, Sophie Marceau, Patrick McGoohan
“Aye, fight and you may die. Run, and you’ll live… at least a while. And dying in your beds, many years from now, would you be willin’ to trade ALL the days, from this day to that, for one chance, just one chance, to come back here and tell our enemies that they may take our lives, but they’ll never take… OUR FREEDOM!” – William Wallace –
Dorongan untuk melakukan sesuatu dalam hidup memang membutuhkan semacam objek yang pantas diperjuangkan sepenuh hati. Apapun objeknya, semua tergantuk subjeknya, setiap orang bisa berbeda-beda. Namun dari semua hal yang diperjuangkan manusia untuk hidup, hanya satu yang pasti sama untuk seluruh manusia di semua tempat dan waktu, yaitu kebebasan. Dari dulu hingga sekarang, kebebasan selalu menjadi sumber utema konflik dan selalu bisa mendorong orang untuk berjuang sepenuh hati. Itu juga lah yang terjadi pada masa terjajahnya Skotlandia oleh inggris pada awal abad 14 akibat ketidakstabilan kekuasaan yang terjadi di Skotlandia, yang akhirnya oleh Mel Gibson ditransfomasi ke layar lebar dalam sebuah film, Braveheart.
Braveheart sebenarnya merupakan sebutan untuk Robert the Bruce, seorang bangsawan (noble) yang kala itu banyak berkontribusi dalam pembebasan Skotlandia dari penindasan Inggris. Namun, film Braveheart tidaklah menceritakan kisah Robert, tapi kisah Willam Wallace, seorang prajurit biasa yang kemudian menjadi salah satu pemimpin pemberontakan untuk melawan penindasan Inggris. Tapi apalah arti sebuah judul, karena bila ingin dimaknai lain, film ini memang bercerita mengenai kuatnya hati untuk memperjuangkan sesuatu, a brave heart, bagaimana perjuangan Wallace berawal dari dendam akibat cinta yang direnggut hingga menjadi sebuah perang untuk kebebasan.
Film ini awalnya mengisahkan bagaimana keadaan ketika krisis kekuasaan di Skotlandia, yang membuat raja Inggris, Edward The Longshanks, datang memanfaatkan momen dan merebut kekuasaan, serta menerapkan hukum-hukum yang menindas seperti Prima Nocta (Setiap pengantin perempuan boleh ditiduri oleh bangsawan di tanah terkait pada malam pertama pernikahannya). William Wallace, yang sejak kecil menyaksikan langsung kekejaman Longshanks, pergi merantau bersama pamannya dan kembali ketika remaja untuk berencana menikah dan hidup normal seadanya. Namun karena akhirnya kekasihnya, Murron (Catherine McCormack), dibunuh oleh tentara Inggris karena melawan ketika akan diperkosa, William mengamuk dan memutuskan untuk melawan penindasan Inggris. Dibantu oleh sahabat sejak kecilnya, Hamish, (Brendan Gleeson), dan beberapa rakyat Skotlandia lainnya, William menggalang kekuatan dari seluruh Skotlandia dan terus menerus melakukan perlawanan terhadap Inggris. Selama perjuangannya, William banyak mendapat banyak pendukung, termasuk menantu dari Longshanks sendiri, Putri Isabelle (Sophie Marceau). Walau sempat melakukan banyak perlawanan, karena banyaknya pengkhianatan dari para bangsawan, William akhirnya tertangkap oleh kerajaan Inggris dan dihukum disiksa di depan publik hingga mati.
Jika dilihat dalam beberapa aspek film, Braveheart memang pantas diacungi jempol. Tidak sedikit yang mengagumi kemampuan Mel Gibson dalam mendireksi film ini sendiri sekaligus menjadi aktor utamanya. Bagaimana pertempuran Stirling dan Falkirk serta pengepungan York ditampilkan memperlihatkan secara penuh bagaimana keadaan perang terjadi pada abad pertengahan. Tidak banyak yang perlu dikomentari karena memang film ini pantas untuk dinikmati, apalagi bagi para penggemar film perang klasik. Namun sayangnya, karena ini sebuah film berdasarkan kisah nyata, akurasi cerita adalah poin yang tidak bisa diabaikan begitu saja, sedangkan Braveheart termasuk salah satu film sejarah yang memiliki akurasi rendah.
Cukup banyak hal-hal yang ditambahkan dan dilebih-lebihkan pada cerita yang tidak sesuai dengan sejarah. Salah satu contohnya adalah kisah cinta William dengan Putri Isabelle. Hal tersebut tidak pernah tercatat pada sejarah manapun. Apalagi jika dikatakan pada film Isabelle mengandung anak dari William, yang artinya kelak akan jadi Edward III, sedangkan Edward III sendiri lahir 10 tahun setelah kematian William. Andrew Morray, tokoh sejarah yang banyak membantu William selama perang kemerdekaan Skotlandia, tidak ditampilkan sama sekali dalam film, padahal Morray berperan penting dalam semua perjuangan William, termasuk pada pertempuran Stirling. Bangsawan Lochlan, Craig, dan Mornay yang beberapa kali muncul di film termasuk ketika akan bertempur di Stirling juga tidak pernah ada dalam sejarah.
Jika dituliskan satu per satu ketidaksesuaian kisah Braveheart dengan sejarah sesungguhnya, akan tercipta daftar yang cukup panjang. Mel Gibson sendiri pun mengakui bahwa kisah Braveheart banyak mengalami modifikasi dari kisah sesungguhnya untuk menambah efek drama. Hal ini patut disayangkan sesungguhnya, karena film berbasiskan sejarah seharusnya bisa menjadi media pembelajaran yang baik, tidak sekedar untuk menghibur. Ketidaksesuaian yang banyak terjadi akan justru membuat orang-orang jadi salah paham terhadap sejarah. Sosok Robert The Bruce sendiri pada film menjadi terlihat semi- antagonis, padahal ia merupakan Pahlawan Nasional di Skotlandia. Dalam hal ini banyak orang skotlandia yang protes pada film.
Perang kemerdekaan Skotlandia sesungguhnya terjadi dua kali, yaitu pada 1296-1328 dan pada 1332-1357. Apa yang terjadi pada Braveheart adalah perang yang pertama, yaitu awal- awal krisis kekuasaan terjadi di Skotlandia. Ketika William lahir, Skotlandia tengah diperintah oleh Raja Alexander III yang membawa kedamaian dan kestabilan di Skotlandia waktu itu, namun sayang kecelakaan jatuh dari kuda merenggut nyawanya dan membuat kekuasaan jatuh pada cucunya, Margaret, yang masih kecil. Sialnya lagi, Margaret tidak lama kemudian juga meninggal karena sakit dan membuat Skotlandia berada dalam kevakuman kekuasaan. Hal ini mengakibatkan para bangsawan Skotlandia berseteru dan akhirnya memanggil Raja Edward I dari Inggris untuk menengahi. Walau akhirnya terpilih John Balliol sebagai raja baru Skotlandia, Edward memanfaatkan posisinya kala itu untuk mengambil alih karena Raja John adalah raja yang lemah. Hingga akhirnya Skotlandia kalah dari Inggris pada pertempuran Dunbar dan memulai penjajahan Inggris ke Skotlandia.
Apa yang terjadi di Braveheart sebenarnya bisa membantu kita lebih memahami sistem feodalisme, sistem yang menjadi pegangan utama kerajaan-kerajaan abad pertengahan. Pada kala itu, sistem kekuasaan didasarkan atas pembagian tanah-tanah, yang mana pada tiap tanah kekuasaan, ada keluarga bangsawan yang memerintah apapun yang terjadi di area tanah itu. Ia punya hak penuh, baik dalam hal militer, pajak, aturan sendiri, dan lain sebagainya, selama tetap tunduk pada aturan-aturan Raja. Sistem ini sebenarnya asal mula kapitalisme, hanya saja dalam bentuk tanah, bukan modal kapital. Yang menyingkirkan feodalisme adalah revolusi industri pada abad 18 yang membuat faktor produksi tidak lagi terpusat pada tanah, namun mesin-mesin lain yang bisa dikuasai dengan uang. Kekuasaan atas tanah itulah yang membuat perang-perang dan politik pada abad pertengahan selalu bermain antara bangsawan, seperti yang juga terjadi pada Braveheart, yang mana William tetap membutuhkan dukungan-dukungan para bangsawan untuk dapat menaklukkan Longhanks. Tetap saja, sama seperti uang, tanah pada akhirnya bisa menjadi alat siap yang mudah pada kala itu, yang membuat William kalah pada akhirnya.
Selain feodalisme dan sejarah, banyak makna juga bisa dipetik dari film ini, apalagi mengenai perjuangan untuk kebebasan. Sangatlah jarang orang yang memiliki hati setegar William seperti yang dikisahkan pada film. Apalagi ketika tidak ada pendorong ataupun pijakan seseorang untuk mau bertahan pada idealisme apapun yang terjadi. Mungkin memang, kesetiaan sejati adalah kesetiaan pada prinsip, bukan pada penguasa, pada harta, pada rakyat, atau pada posisi. Ketika kita bisa membangun sebuah prinsip yang kokoh dan setiap padanya, semua tindakan berikutnya akan mengikuti. Apa yang diperjuangkan William bukanlah orang- orang Skotlandia, tapi kebebasan itu sendiri. Dalam hal ini sangat diperlihatkan betapa pentingnya memegang prinsip dalam hidup untuk menghadapi segala sesuatu, termasuk rasa sakit atau bahkan kematian itu sendiri.
Ya terlepas dari semua itu, terutama ketidakakuratan sejarahnya, film ini tetap aku beri nilai baik. Namun karena aku termasuk orang yang menonton film untuk belajar, maka aku cukup kecewa pada Mel Gibson yang lebih mementingkan hal lain ketimbang keakuratan sejarah. Berilah Braveheart nilai 7 dari 10 untuk semua itu. Walau sebenarnya, ketidakakuratan kisah dapat mudah diatasi bagi orang-orang yang punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi hingga tentu akan melakukan konfirmasi ke sumber-sumber lain setelah menonton dan tidak menelan mentah-mentah semua yang didapat dari film. Tapi untuk mereka yang tidak punya rasa ingin tahu, ketidakakuratan kisah bisa menjadi sebuah bentuk pembodohan publik. Ya sangat disayangkan memang. Mungkin aku hanya bisa mengingatkan saja buat siapapun yang menonton film berbasiskan kisah nyata agar mengonfirmasi terlebih dahulu semua informasi yang didapat sebelum ditelan mentah-mentah, atau mungkin cukup anggap itu sebagai sebuah fiksi.
“Now tell me, what does that mean to be noble? Your title gives you claim to the throne of our country, but men don’t follow titles, they follow courage. Now our people know you. Noble, and common, they respect you. And if you would just lead them to freedom, they’d follow you. And so would I” – William Wallace –
(PHX)