Musik, Anugrah Tuhan

Review Film Amadeus (1984)

- 7 mins

cover film Amadeus

Judul : Amadeus

Sutradara : Milos Forman

Tanggal Rilis : 6 September 1984

Durasi : 160 menit

Genre : Biografi, Drama, Musik

Pemeran : F. Murray Abraham, Tom Hulce, Elizabeth Berridge

He was my idol. Mozart, I can’t think of a time when I didn’t know his name. I was still playing childish games and he was playing music for kings and emperors. Even the Pope in Rome! I admit I was jealous when I heard the tales they told about him. Not of the brilliant little prodigy himself, but of his father, who had taught him everything.” – Antonio Salieri –

Tentu hampir semua orang di dunia pernah mendengar nama Mozart. Ya, dia adalah maestro penggubah musik yang menjadi legenda pada era klasik. Ia bagaikan telah dianugrahi sedemikian rupa jiwa musik dalam dirinya sehingga telah mahir bermain keyboard dan violin sejak umur 5 tahun. Satu-satunya yang bisa menyamai kemampuannya mungkin hanya Ludwig Van Beethoven yang hidup hanya selisih satu generasi dengannya. Kehidupan Mozart mungkin bisa menjadi inspirasi sendiri untuk siapapun yang mencintai musik, mungkin karena itulah akhirnya Milos Forman mencoba mengabadikan kisahnya dalam sebuah film yang berjudul Amadeus.

Film yang berdurasi dua setengah jam lebih ini bercerita mengenai kisah kehidupan Wolfgang Mozart (Tom Hulce) dari perspektif Antonio Salieri (F. Murray Abraham), seorang komposer istana yang mengabdi pada Kaisar Joseph II di Austria. Film ini dimulai dengan usaha bunuh diri Antonio Salieri karena merasa bersalah dan mengaku sebagai pembunuh Mozart. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit jiwa yang kemudian dipertemukan dengan seorang pastur yang membutnya bercerita keseluruhan kisah dari bagaimana ia bertemu Mozart hingga kematiannya. Salieri menceritakan bagaimana betapa ia sangat mencintai musik sejak kecil dan dengan itu taat pada Tuhan karena anugrah kemampuan musik yang ia miliki. Namun, semua ketaatan dan keimanan tersebut goyah ketika ia bertemu dengan Mozart, seorang komposer muda dengan watak dan sifat kurang baik yang jelas-jelas melampaui kemampuannya. Ia merasa tidak adil dengan Tuhan yang menganugrahi kemampuan musik pada orang yang tidak beretika seperti Mozart. Walaupun sebenarnya ia sangat kagum pada karya-karyanya, kebencian tumbuh di hatinya yang membuatnya berkali-kali berusaha menjatuhkan Mozart, hingga bahkan, berusaha membunuhnya. Dimulai dari gagalnya Mozart menjadi guru putri Elizabeth, hingga kematiannya diakibatkan terlalu lelah mengerjakan sebuah opera yang diberikan secara rahasia oleh Salieri.

Judul dari film ini memang menarik, seperti memiliki keindahannya sendiri. Amadeus sesungguhnya merupakan nama tengah Mozart, karena memang nama asli Mozart adalah Wolfgang Amadeus Mozart (walau akhirnya dibabtis menjadi Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart). Terlepas dari itu, Amadeus sendiri merupakan bahasa latin yang diartikan sebagai cinta dari Tuhan. Judul ini dikaitkan dengan bagaimana film menekankan bahwa anugrah musik yang dimiliki Mozard memang wujud cinta dari Tuhan yang menjadikan Mozart sebagai instrumen yang memainkan musik-Nya di dunia, yang kemudian membuat Salieri iri dan kemudian membenci Mozard dan Tuhan sekaligus. Judul ini sebenarnya, berserta keselurhan naskah ceritanya, diambil langsung dari karya drama teater Peter Shaffer pada 1979 yang memenangkan Evening Standard Drama Award dan the Theatre Critics’ Award di London. Itulah mengapa judul lengkap film ini adalah “Peter Shaffer’s Amadeus”.

Sebagai sebuah film yang mengambil kisah nyata, film ini sangat patut diragukan. Begitu banyak bagian pada film yang kontroversial terkait kebenarannya. Walau memang ada beberapa referensi yang dipakai, referensi itulah yang tidak bisa dikonfirmasi validitasnnya. Seperti mengenai kematian Mozart yang sampai sekarang masih misteri tersendiri dalam sejarah, karena begitu banyak teori konspirasi bermunculan terkait hal ini. Bahkan yang diceritakan dalam Amadeus pun bisa menjadi satu kemungkinan yang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, hal ini karena beberapa argumen tersendiri seperti suatu sumber yang mengatakan Salieri sebelum meninggal memang mengaku telah membunuh Mozart atau beberapa sumber lain yang mengatakan bahwa Mozart memang sering membuat iri musisi-musisi lainnya, termasuk Salieri sendiri. Apapun sumbernya, sebenarnya tidak ada catatan sejarah yang valid terkait hal ini, itulah mengapa benar atau tidaknya tidak bisa dipastikan. Bahkan sejarah hanya mencatat bahwa Mozart dan Salieri memang pernah bertemu, tapi tidak pernah tercatat bahwa keduanya bermusuhan.

Hal yang patut diragukan lagi adalah karakterisasi Mozart pada film yang cenderung memberinya banyak cap negatif, seperti penggoda perempuan, berantakan, mabuk-mabukan, tidak sopan, apalagi gaya tertawanya yang memberi kesan mengejek. Semua itu memang memiliki sumbernya masing-masing, seperti gaya tertawa Mozart yang dikatakan didasarkan pada sebuah surat yang ditulis oleh dua orang wanita yang pernah menemuinya. Namun tentu saja semua itu tidak bisa dipastikan validitasnya. Kemungkinan yang lain adalah bahwa gaya tawa itu hanya untuk meningkatkan sisi dramatisnya agar atmosfer kebencian Salieri bisa semakin dikuatkan dengan betapa kemampuan musik telah diberikan Tuhan pada orang tidak bermartabat seperti Mozart. Sangat disayangkan sebenarnya, karena secara tidak langsung film itu mencoreng nama baik Mozart dan membuat persepsi terhadapnya jadi kurang baik, terlepas dari kemampuan musiknya yang tidak tertandingi. Apalagi semua sumber yang dipakai bukanlah sebuah referensi sejarah yang valid.

Dengan semua inakurasi cerita pada film, karena diadaptasi dari sebuah karya Drama, tidak bisa ditentukan pasti apakah memang benar-benar kisah ini berbasis riset terhadap berbagai referensi sejarah yang akurat atau tidak. Terkadang karya drama memang banyak melakukan modifikasi dan improvisasi terkait suatu cerita demi mendapatkan unsur seni dan keindahannya. Itulah kenapa aku sendiri tidak terlalu menyalahkan Milos Forman terkait banyaknya ketidaksesuaian sejarah pada film ini. Walau mungkin karakter Mozart yang ditampilkan kurang baik, kita tetap bisa melihatnya dari sisi baiknya yang lain seperti bagaimana Mozart begitu mudah mengingat nada hanya dengan sekali dengar, atau bagaimana ia menulis sebuah opera seakan sudah tercetak di kepalanya.

Terlepas dari kisahnya, film ini dibawa oleh Forman dengan sangat baik. Musik latarnya selalu bernuansa klasik, membuat atmosfer era tersebut menjadi sangat terasa. Desain latar tempat dan kostumnya sendiri pun lebih membuka mataku akan budaya Eropa klasik. Memang terkadang entah kenapa logat berbicara dan ekspresi muka yang diperlihatkan terasa lucu di telinga dan mataku, membuatku merasa film itu seperti film komedi. Plot yang ditampilkan sebenarnya cukup bagus, karena sifatnya narasi dari Salieri di rumah sakit jiwa, sehingga cukup menjelaskan kisah dengan baik walau terkadang loncat-loncat. Ini salah satu kelebihan dari film bernarasi, terkadang bisa membantu penonton untuk lebih memahami alur cerita. Kenyataannya memang film ini dianugrahi 8 penghargaan sekaligus pada piala oscar 1985, berserta 33 penghargaan lainnya dari berbagai lembaga. Mungkin memang film memiliki banyak unsur lain yang bisa dinilai selain akurasi kisah, lagipula Amadeus hanya mengadaptasi sebuah karya Drama, bukan mengadaptasi kisah Mozart yang sesungguhnya.

Menonton Amadeus membuatku semakin sadar akan makna sebuah potensi yang dimiliki manusia. Memang terkadang bakat muncul begitu saja sejak lahir, semacam jiwa yang diterima begitu saja, entah karena pengaruh gen atau lingkungan yang terbentuk. Melihat orang-orang luar biasa seperti Mozart atau Beethoven yang telah pandai bermain musik sejak sangat kecil akan menimbulkan keraguan akan makna usaha keras. Mungkin aku memahami apa yang kiranya dirasakan Salieri dalam Amadeus, seakan seberapapun dia berusaha keras dan berdo’a, kemampuannya tak akan pernah bisa menandingi Mozart yang seakan “given”. Walaupun begitu, bukankah hidup bukan sekedar untuk berkompetisi atau mencapai sesuatu? Hidup pada akhirnya memang hanyalah proses yang perlu dinikmati, berusaha tanpa henti walau tetap kalah adalah sebuah kehormatan sendiri, bukannya menyerah dan mengalah pada rasa iri dan benci. Setiap individu memiliki perjuangannya sendiri-sendiri, alangkah tidak berguna membanding- bandingkan. Sayang memang banyak ketakterimaan diri pada kekalahan itu lah yang sering menjerumuskan orang pada keterpurukan dan kebencian. “Manusia hidup untuk mencintai dan membenci”, kata seseorang, yang mungkin sangat cocok pada beberapa kisah, termasuk film ini. Sudah sangat wajar bila cinta yang amat sangat berubah menjadi benci yang menumpuk. Kegagalan Salieri dalam menjadi yang terbaik dalam musik mengubah kecintaannya pada Tuhan menjadi sebuah kebencian.

Kurangnya akurat kisah sebuah film sebenarnya tidak terlalu masalah, karena semoga film-film seperti itu bisa membangkitkan rasa penasaran tersendiri bagi penonton agar tertarik pada sejarah dan mencari tahu lebih kisah sesungguhnya. Lagipula film ini membuatku semakin mengidolakan Mozart, walau aku tak tahu menahu tentang musik sedikitpun. Bahkan banyak percakapan di film terkait musik yang hanya berlalu saja di kepalaku tanpa memahami apa-apa. Sebenarnya tak mengapa, karena dari dua tipe manusia di dunia ini, pencipta dan penikmat, dalam hal musik aku cukup jadi penikmat saja, menikmati semua hasil karyanya sebagai penenang pikiran di tengah kejenuhan menulis. Ya suka atau tidak suka musik, film ini cukup baik untuk ditonton.

“I heard the music of true forgiveness filling the theater, conferring on all who sat there, perfect absolution. God was singing through this little man to all the world, unstoppable, making my defeat more bitter with every passing bar.” – Antonio Salieri –

(PHX)

Kembali
Aditya Firman Ihsan

Aditya Firman Ihsan

Just a seeker of truth

rss researchgate issuu facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora