Di antara semua waktu,
senja adalah yang paling ku puja.
Dia mungkin tak sesegar pagi
atau sesunyi dini hari,
apalagi sesemangat siang,
tapi ia selalu bisa
memberiku damai dan tenang,
entah di atap gedung CAS,
di pojokan labtek III,
di sunken court,
di sepanjang boulevard,
ataupun di plaza widya,
kala lelahku berkemahasiswaan,
kala capekku mengurusi himpunan,
atau kala jenuhku tersiksa kegelisahan.
Ya,
senja merupakan momen
yang selalu mengingatkanku,
untuk selalu siap menyambut kelam,
dan meninggalkan
terang.
(phx, 2016)