Api menjilat-jilat lapar
Melahap yang dapat dibakar
Tak pandang buruk atau indah
Mau rumah atau sampah
Segala tak beda di matanya
Api membara tak bertuju
Ia makan tak pandang bulu
Membakar agar tetap membara
Menghangus agar tetap menyala
Berkobar hanya untuk terus ada
Api berkobar menyisa abu
Asap menguap mengumpul kelabu
Yang dikorbankan tidaklah sedikit
sedang hasil hanya rasa sakit
Mengubah segala jadi tiada
Api membara memancar energi
Panas dan cahaya jadi kreasi
Satu-satunya ia bisa berikan
Mungkin akar kebaikan
Agar perusak berbuah guna
Api merusak bila tidak terjaga
Karena ia makan tak pilih rasa
Suapi dengan seperlunya
Suapi pada tempatnya
Mungkin justru jadi permata
Api menyala di dalam tungku
Atau pada unggun kayu
Panasnya matangkan makanan
Atau hangatkan dinginnya malam
Gelap tersingkir oleh pelita
Api dalam hati juga serupa
Dipantik hasrat dan amarah
Dituruti semakin menjadi
Dibiarkan menyakiti diri
Setumpuk keinginan hadir menyiksa
Api hanya ingin terus hidup
Sehingga hidup untuk terus ingin
Ingin tak pernah bisa redup
Semakin diberi semakin ingin
Tanpa sadar menjadi derita
Api ego, nafsu, dan kepemilikan
Tak serta merta dipadamkan
Sumber energi di dunia
Tanpanya bak tak bernyawa
Dijaga hanya cukup menyala
Api hanyalah api
Hanya menjalankan fungsi
Baik buruknya tergantung porsi
Cukup diatur sesuai esensi
Sebagaimana hasrat di dalam diri